Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Meminta Penjelasan


__ADS_3

Zein menuju meja makanan, Dia hanya mengenakan pakaian santai karena tidak ingin keluar dari apartemen, baju kaos di padukan celana pendek serta rambutnya yang sedikit basah membuatnya tampak lebih segar. Meskipun Zein lumpuh ia selalu bersih dan menjaga penampilannya.


Dalam hati Alika mengagumi sosok di depannya, bau parfum maskulin menusuk indra penciuman Alika menambah nilai plus Zein di matanya. Zein memang sempurna tapi belum ada rasa cinta untuknya selain kekaguman.


Manik Alika terpaku pada pemandangan yang ada di depan matanya. Alika menarik napas dalam-dalam menghirup wangi tubuh Zein. Entah sejak kapan bau parfum itu menjadi candu untuknya.


"Apa dengan menatapku kau akan kenyang? cepat ambilkan makanan untukku!" kesal Zein, perutnya sudah sangat lapar. Ia harus menunggu Alika memasak sambil melakukan terapi di dalam kamarnya.


Alika masih bergeming.


"Alika!" bentak Zein membuat bahu Alika terangkat karean tersentak kaget.


"Apa sih! bisa nggak kalo ngomong nggak usah bentak-bentak?" Kesal Alika.


"Kalo aku ngomong pelan, kamu nggak bakalan denger!" Balas Zein mengejek.


Alika hanya diam kemudian mengambilkan makanan untuk Zein.


Setelah mereka sarapan, Zein mengajak Alika ke ruang kerjanya. Alika membersihkan meja makan terlebih dulu lalu mengikuti Zein.


Alika masuk ke dalam ruang kerja Zein. Ia mengedarkan pandangannya di setiap sisi ruangan. Kursi kerja yang sangat empuk, meja yang besar serta sofa panjang yang terletak tidak jauh dari meja kerja Zein. Berkas-berkas yang bertumpukan diatas meja, serta rak lemari yang berisi buku-buku bisnis, akuntan, dll.


Alika memilih duduk di sofa yang agak jauh dari meja Zein lalu meletakkan ponselnya di sofa sisi kanan. Niatnya ingin berjaga-jaga dari amukan Zein, tapi Zein malah menjalankan kursi rodanya mendekat.


"Kau tahu kenapa aku memanggilmu ke sini?" Tanya Zein memulai pembicaraan.


Alika menunduk lalu menggeleng.


"Jangan pura-pura tidak tahu Alika! Jelaskan! kenapa kau pergi dengan Sander tanpa ijin dariku! kau masih ingatkan statusmu sekarang tunanganku? apa menurutmu pantas jika kau pergi dengan pria lain, apalagi masuk ke dalam kamar hotel berdua?" Cecar Zein.


"Aku.." Alika ingin bicara namun Zein masih melanjutkan kata-katanya.


"Apa kau tau bagaimana aku menghawatirkanmu di sana? Sander itu bajingan! Dia akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkan wanita yang dia inginkan."


Alika menggelengkan kepalanya, Ia bukannya tidak bisa menjawab tapi, ia bingung karena Zein menghujaninya dengan pertanyaan.

__ADS_1


"Jawab dengan jujur, apa yang telah kau lakukan dengan Sander di dalam kamar? apa itu juga salah satu caramu untuk membatalkan perjodohan kita?" Lanjut Zein. Tenaganya untuk memarahi Alika semakin bertambah karena baru saja menghabiskan sarapannya.


"Ah, kenapa tadi aku buatkan sarapan untuknya ya? lihat sekarang! dia memakiku penuh semangat!" Batin Alika.


"Jawab Alika, jangan diam saja!?" Bentak Zein.


"Ini juga baru mau jawab! Biarkan aku berpikir pertanyaan mana lebih dulu yang harus aku jawab. Kau tau kenapa? karena pertanyaanmu terlalu banyak, melebihi tes masuk ke universitas negeri." Jelas Alika.


Zein menghela napas berat. Alika benar-benar sedang menguji kesabarannya.


Alika menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan, dirinya juga butuh tenaga ekstra untuk menjawab semua pertanyaan Zein.


"Oke, sekarang aku mulai jawab. Aku pergi dengan Sander karena aku ingin menyelidiki kematian Kak Alan. Aku pergi tidak sendiri Zein, ada Meriska yang selalu bersamaku. Aku di dalam hotel karena Sander sedang mabuk dan aku juga tidak bisa mengantarnya pulang, apa kata Monika nantinya jika Sander pulang bersamaku dalam keadaan Mabuk, dan..." Ujar Alika, tapi ucapannya terpotong oleh Zein.


"Kau memikirkan perasaan Monika, sedangkan aku tidak?"


Zein makin Kesal memukul pegangan kursi rodanya dengan kedua tangannya.


Zein mendengus kesal. Bisa-bisanya Alika memikirkan perasaan Monika dari pada perasaannya.


"Dengerin dulu Zein! kalau kamu marah terus, aku nggak mau jelasin lagi." Alika melipat kedua tangannya di depan dada.


"Dan aku harus menyelesaikan rencanaku. Aku juga masih terikat kontrak kerjasama dengan Monika, makanya aku tidak mau dia tau jika aku dan Sander pergi bersama. Aku dan Sander juga tidak melakukan hal yang tidak-tidak di kamar, aku masih tersegel kok! Justru kalian lah yang hampir menggagalkan rencanaku." Ungkap Alika.


"Rencana untuk berciuman kan? jika aku tidak segera masuk, apa kau akan melakukannya?" Geram Zein. Ia tidak bisa membayangkan jika Sander menyentuh bibir Alika, memegang tangannya saja darahnya sudah mendidih hingga ke ubun-ubun, bagaimana jika sander melakukan yang tidak-tidak.


"Aku tidak serendah itu Zein! tanpa kalian datangpun aku masih bisa menjaga diri, apalagi hanya menghadapi orang yang mabuk seperti Sander. Nggak usah marah berlebihan deh!" Sergah Alika. Ia tidak terima jika orang lain merendahkan dirinya.


"Bagaimana aku tidak marah Alika! kamu pergi diam-diam. Apa salahnya meminta bantuanku. Aku juga tidak akan menolaknya."


"Maaf."


"Lalu, apa rencana kamu berhasil?"


"Tentu saja. Sebelum kalian datang, aku sudah merekam pengakuan Sander. Dia dan Monika menyuruh orang lain untuk membunuh Kak Alan."

__ADS_1


"Monika juga terlibat?"


"Iya, Dialah dalang yang sebenarnya. Aku akan mengirim bukti rekamannya ke ponselmu. Kamu bisa dengar sendiri dari mulut Sander."


Alika mengambil ponselnya lalu mengirim rekaman pembicaraannya dengan Sander ke ponsel Zein. Setelah itu, Ia menyandarkan kepalanya dan membiarkan Zein mendengarnya.


Zein memutar isi rekaman itu. Dengan wajah serius dan menahan amarah, ia menyimak sampai selesai.


Zein mengepalkan kedua tangannya. Kebenciannya pada Monika semakin bertambah. Ia tidak menyangka selama ini Monika hanya memanfaatkan dirinya. "Aku tidak menyangka Monika tega menghilangkan nyawa orang lain demi ambisinya. Kenapa Tuhan baru menunjukkan sifat Monika yang sebenarnya. Kenapa tidak sejak dulu saja, sebelum aku mengharapkan dirinya menjadi milikku." Batin Zein.


Hati Zein kembali tidak tenang saat mendengar Alika dan Sander jadian. Zein menatap wajah Alika dengan lekat, ingin rasanya ia bertanya, "Apa kau benar-benar jadian dengan Sander?" Tapi lidahnya keluh. Ia masih saja mempertahankan egonya.


"Maaf, karena aku pergi tanpa ijin darimu. Aku tau, aku salah. Itu sengaja aku lakukan karena aku pikir kamu akan melarangku Zein! ini urusanku, aku masih bisa mengatasinya sendiri."


"Tentu saja aku akan melarangmu. Kenapa tidak bicara padaku dulu baru melakukan sesuatu? Kau tau bagaimana cemasnya aku? membayangkanmu bersama laki-laki lain dalam satu kamar, hatiku sangat sakit."


Alika mengernyitkan keningnya. "Apa dia bilang? hatinya sangat sakit? apa dia sedang cemburu? ah, mana mungkin pria kaku sepertinya bisa cemburu?" Batin Alika.


"Mulai sekarang jangan melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu. Biarkan aku yang membantumu. Kau tau? ini belum berakhir. Sander akan terus mendekatimu jika kamu tidak segera mengakhirinya." Ujar Zein. Setelah mendengar rekaman itu, ia lebih fokus pada kata pacaran antara Sander dan Alika. Hatinya sakit, lebih sakit saat mendengar Monika akan menguasai hartanya setelah mereka menikah.


"Apa yang harus aku akhiri!?" Tanya Alika bingung.


"Bukankah kalian sudah pacaran!?" Zein balik bertanya.


"Ya ampun.. Zein..!" Alika menepuk jidatnya sendiri, "kamu sadar nggak sih! Sander itu sedang mabuk. Dia nggak mungkin ingat dengan kata-katanya sendiri. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah mau pacaran dengan pembunuh Kakakku sendiri." Ujar Alika.


"..."


"Apa kamu sedang cemburu Zein?"


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏


__ADS_2