Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Tidak Merasa Takut


__ADS_3

Monika mendelik tajam menatap Alika, mengingat video pertunangan Zein dengan Alika membuat hatinya sakit dan ingin memaki habis Alika.


"Heh, Alika! apa salahku padamu, hah? kau yang merebut Zein dariku, kenapa kau yang menamparku? Apa kau cemburu melihatku bersamanya? sampai kapanpun Zein tidak akan pernah mencintaimu. Aku tidak akan tinggal diam karena kau telah berani merebutnya dariku." Geram Monika.


"Heh, aku tidak pernah merebut siapapun darimu! apa kau sadar kau yang telah pergi meninggalkannya? wanita macam apa kau ini? kau begitu tega meninggalkan orang yang mencintaimu demi pria lain, sementara dia sedang sakit dan butuh perhatian. Aku rasa memang kau tidak pantas bersamanya. Kau lebih pantas bersama Sander di dalam penjara." Cecar Alika.


"Kau." Monika menunjuk wajah Alika dengan mata nyalang dan wajah memerah.


"Aku kenapa?" Alika menantang Monika dengan mendekatkan wajahnya sambil berkacak pinggang. Dia tidak merasa takut sedikitpun berhadapan dengan Monika. "Apa kau pikir aku takut padamu? Dengarkan aku baik-baik Monika, bagiku kau tidak lebih dari pecundang yang bersembunyi di ketiak Sander. Aku pastikan kalian berdua akan mendekam di penjara seumur hidup." Ancam Alika.


"Apa maksudmu?" Tanya Monika.


"Kau dan Sander yang membunuh Kakakku Alan dan kalian akan menanggung akibatnya." Tegas Alika.


"Kau yng akan menanggung akibatnya karena telah memisahkan aku dan Zein. Aku pastikan akan membunuhmu sama seperti aku menyingkirkan Kakakmu." Ancam Monika.


"Aku yang lebih dulu membunuhmu jika itu kau lakukan." Sela Zein penuh kemenangan.


"Ayo kita pergi dari sini."


"Tunggu." Meriska langsung menghampiri Monikan, dan...


Plak!


Satu tamparan Meriska layangkan di pipi Monika. Monika tidak menyangka jika Meriska akan melakukan itu padanya. Selama menjalani kontrak kerja sama, Meriska selalu baik dan menuruti kemauannya.


"Itu untukmu karena kau telah memisahkan aku dan Alan. Kau menghancurkan semua impian dan masa depanku. Apa kau tidak memikirkan akibat dari perbuatanmu? Alanku pergi untuk selamanya dan kau bahagia diatas penderitaan orang lain. Dasar tidak punya hati!" Geram Meriska.


"Apa-apaan ini!? apa kalian sedang menjebak aku?" Kesal Monika sambil memegang pipinya.


"Sudah cukup! Ayo kita pergi." Ajak Zein sambil menggenggam tangan Alika, " Ramon, urus Monika dan Sander. Pastikan mereka berada di tempat biasa malam ini. Aku ingin berikan sedikit pelajaran untuk Sander sebelum dia masuk penjara." Perintah Zein.


"Baik Tuan." Ujar Ramon langsung memberikan aba-aba pada anak buahnya untuk membawa Monika.


"Lepaskan, Zein! apa yang akan kau lakukan padaku?" Berontak Monika.


Zein menyeringai licik membuat Monika sedikit mundur. "Kamu akan tahu nantinya." Jawab Zein.


Mereka keluar dari Cafe. Alika ikut Zein masuk menuju mobil, sedangkan Frans mengantar Meriska kembali ke kantor.


"Kau yang bawa mobilnya." Pinta Zein.


"Aku?" Tunjuk Alika pada dirinya sendiri.


"Iya, kamu! kenapa? apa kamu nggak liat, aku belum sembuh total? Ramon dan anak buahku sedang mengurus Monika." Jelas Zein.


Alika mengerucutkan bibirnya, ia menghentakkan kakinya menuju pintu kemudi. Setelah masuk ia membanting pintu.

__ADS_1


Zein mendelik hampir terkekeh, wajah Alika yang kesal sangatlah lucu di matanya.


"Jangan manyun begitu, kayak anak TK nggak dapat mainan aja. Cepat jalan!" Ejek Zein.


"Kenapa kau duduk di belakang? emangnya aku ini supir kamu?" Kesal Alika karena Zein masuk di kursi belakang.


"Sekali-kali nyupirin calon suami nggak apa-apa kan? seharusnya kamu bangga bisa nyupirin aku. Banyak wanita di luar sana yang menginginkan satu mobil denganku."


"Jadi supir kamu dibanggain! aku mah ogah!"


Alika melajukan mobilnya dengan kecepatan diatas rata-rata. Saat melintasi jalanan sunyi, mereka dikejutkan dengan dua mobil yang sedang berusaha untuk menghentikan mereka.


"Zein, sepertinya monil yang di belakang mengejar kita deh! coba kamu liat." Uajr Alika sambil melirik kaca spion samping kiri dan kanan.


Zein menoleh ke belakang. Mobil itu memang sedang mengikutinya. Ia juga tidak tahu siapa pemilik mobil itu. Zein segera mengambil pistol yang ada dibawah kursinya u tuk berjaga-jaga. Sedangkan Alika masih fokus ke arah jalanan untuk menghindari mereka.


"Alika, Apa kau takut?" Tanya Zein khawatir.


Alika hanya menggelengkan kepalanya sambil fokus.


"Bagus, sekarang tepikan mobilnya di tempat yang sunyi. Kita akan melawan mereka."


"Apa kau sudah gila Zein!? kita nggak tau jumlah mereka berapa? kamu masih sakit, aku nggak mau kau kenapa-napa."


"Kamu tenang aja, sebentar lagi juga Ramon dan anak buahku datang. Kita harus tau apa keinginan mereka."


"Begini saja! Kamu tunggu di mobil biar aku yang turun menghadapi mereka. Apapun yang terjadi nantinya, jangan membuka kaca mobil apalagi turun sebelum aku memintamu. Sekarang tepikan mobilnya." Perintah Zein.


"Ayo Alika, kita bisa kecelakaan jika tidak berhenti." Tegas Zein.


Mobil yang mengejar mereka membuka kaca mobil lalu menembak ban mobil Alika. Mobil-pun oleng ke kiri dan ke kanan.


"Alika menurutlah! ingat apa kata Papa kamu. Sekarang, Injak remnya sebelum kita mati konyol di sini!"


Ciiitttt....!


Alika menghentikan mobilnya. Tidak lama kemudian seseorang datang dengan pistol ditangannya mengarah pada Alika di depan.


"Turun!" Bentak orang itu.


Zein langsung membuka jendela lalu menembak orang itu.


Dor!


Orang itu meninggal di tempat. Temannya marah kemudian mereka berenam ikut turun sambil memegang senjata di tangan masing-masing. Semuanya mengarahkan senjata pada Alika dan Zein.


"Turun!" Perintah salah satu diantara mereka.

__ADS_1


Zein memegang pintu mobil, sebelum keluar, Ia kembali memperingati Alika. "Ingat! apapun yang terjadi denganku. Jangan keluar dari mobil, mengerti?"


Alika hanya mengangguk, tapi perhatiannya tertuju pada enam orang yang ada diluar mobil.


Zein kemudian membuka pintu mobil dengan perlahan sambil mengarahkan ke lawan pistol ditangannya.


"Apa mau kalian?" Bentak Zein.


"Ternyata hanya pria cacat! serahkan pada kami gadis itu, dan kami akan melepaskanmu." Ujar salah satu dari mereka.


Zein menyeringai, ternyata mereka menginginkan Alika. Tapi dia belum tahu, siapa yang sedang bermain-main dengannya.


"Kalian ingin gadis itu? langkahi dulu mayatku!"


Zein langsung memukul tangan mereka dengan tongkat. Senjata yang mereka pegang semuanya jatuh karena kecepatan memukul Zein yang terlalu cepat.


Mereka langsung maju melawan Zein dan terjadilah perkelahian diantara mereka.


Bug! bug! bug!


Alika khawatir melihat keadaan Zein, Ramon dan anak buahnya belum juga datang sementara Zein sudah mulai lelah dan sudut bibirnya mulai berdarah. Tongkat yang di pegangnya juga sudah lepas. Alika takut kaki Zein akan kembali sakit jika dibiarkan berdiri terlalu lama. Apalagi sesekali kakinya digunakan untuk menendang lawan.


Alika meringis saat melihat Zein jatuh dan dipukuli bagian perutnya. Ia mengepalkan kedua tangannya. Kesabarannya untuk menunggu sudah habis karena Zein sudah mulai terluka.


"Ah, bodo amat dengan larangan Zein! Jika bukan aku yang menyelamatkannya, dia bisa mati konyol digebukin di sana. Ramon mana lagi, kenapa dia lama sekali?" Monolog Alika.


Alika segera keluar dari dalam mobil lalu mendekati Zein yang sedang duduk di jalan.


"Bos, target sudah keluar." Ujar salah satu dari mereka kemudian menyingkir dari Zein.


"Hahaha, bagus! bawa dia!" Perintah yang di panggil bos oleh mereka.


"Zein kau tidak apa-apa?" Tanya Alika sambil memegang bibir Zein yang berdarah.


"Dasar keras kepala! kenapa keluar? kau dalam bahaya Alika."


"Aku tidak peduli, aku menghawatirkanmu. Kau berdarah dan kakimu sakit."


"Sekarang masuk kembali ke dalam mobil! aku akan mencegah mereka mendekatimu." Perintah Zein.


"Tidak semudah itu Nona cantik, kamu harus ikut dengan kami." Sela bos mereka kemudian memberikan kode agar anak buahnya menangkap Alika.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


"Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2