Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Menjaga Jarak


__ADS_3

..........


Satu minggu kemudian.


Monika dan sander berada di dalam penjara. Beberapa hari yang lalu setelah mendapatkan penyiksaan dari Zein, Ramon dan anak buahnya membawa mereka ke kantor polisi sesuai dengan perintah Zein. Bersamaan dengan keberadaan Hendrik dan pengacaranya yang berada di sana untuk melaporkan kasus pembunuhan Alan.


Orang yang mereka suruh untuk menabrak Alan jatuh ke jurang pun sudah di tangkap. Mereka mengakui perbuatannya dan menyebut di suruh oleh Sander.


Sementara mereka di dalam penjara, Zein dan Alika akan ke perkebunan Kakek Hutama. Selain karena memikirkan keselamatan Alika untuk menjauh dari jangkauan orang suruhan Sander, Zein juga akan membicarakan masalah pernikahannya.


Sekarang sudah pukul sebelas siang, sebentar lagi waktu untuk makan siang. Alika keluar dari kamarnya menuju dapur. Sebelum membuka kulkas untuk mengambil bahan makanan, ia menoleh ke arah ruang tamu mencari keberadaan Zein dan Ramon.


"Mereka kemana? ah, mungkin di ruang kerja Zein." Monolog Alika, baru saja ia mendengar Zein dan Ramon sedang serius membahas sesuatu, sekarang mereka sudah menghilang.


Alika kemudian mengambil bahan makanan dari dalam kulkas. Ia akan memasak beberapa menu untuk makan siang mereka.


.............


Sementara Ramon hanya bisa melaporkan beberapa fakta tentang Alika dimasa lalu.


"Maaf Zein, baru kali ini aku kesulitan mencari informasi tentang seseorang. Nona Alika sangat pandai menyembunyikan identitasnya, aku hanya mendapatkan informasi jika saat SMA dia pernah masuk ke dalam perguruan taekwondo dan mendapat juara 1 seni beladiri tingkat internasional dan pernah menjuarai debat antar universitas di korea. Selain itu dia menguasai beberapa cabang olah raga, seperti berkuda, memanah, dan..."


"Dan apa?"


"Dia juga seorang sniper yang handal. Tidak banyak yang tau tentang ini kecuali Tuan Hendrik, Belinda bahkan tidak mengetahuinya karena Tuan Hendrik takut ia menghawatirkan Alika. Ada beberapa mafia yang menginginkan Alika di dunia gelap, tapi Hendrik sangat pandai menyembunyikannya. Seandainya Alika tidak cerdas mungkin dia sudah..."


"Jangan bicara lagi." Zein memicing, menekan pelipisnya yang mulai berdenyut kemudian mengusap keningnya yang sedang mengerut, "Kenapa Alika memilih jalan yang membahayakan dirinya? apa hidup normal seperti gadis lain dia tidak bisa?" Ujar Zein datar.


"Hendrik dan Alan yang membuatnya menjadi gadis yang kuat. Dengan begitu dia dapat menjaga dirinya jika sedang dalam bahaya. Bedanya dia dengan Alan adalah Alika banyak bicara sedangkan Alan lebih pendiam dan sering menyendiri." Ramon memberikan jeda ucapannya, "Alika juga pandai bermain musik."


"Kalau itu aku tau, biola kan?"


"Biola dan piano. Sebenarnya dia juga pandai menyanyi. Bayangkan jika Alika memainkan piano sambil bernyanyi pasti sangat mengagumkan bukan?" Ramon membayangkannya, maniknya melirik keatas membuat Zein langsung menepuk pundaknya.


"Ramon! Berhentilah membayangkan Alika, atau matamu akan aku cungkil." Kesal Zein.


"Hehehe, tadi kan aku ajak kamu juga." Canda Ramon.


Zein merapatkan punggungnya disandaran kursi empuknya, mencari posisi yang nyaman lalu menutup mata untuk sekilas. Pikirannya mulai kalut takut terjadi sesuatu dengan Alika.

__ADS_1


"Kenapa aku merasa takut kehilangannya? nyawa Alika dalam bahaya jika dalam situasi seperti ini. Apa Om Hendrik tidak menyadarinya?" Lirih Zein. "Ah, Ini bahaya! aku tidak boleh jatuh cinta padanya." Gumam Zein.


"Kenapa tidak? dia tunanganmu, akan jauh lebih baik jika kalian saling mencintai sebelum menikah, iya kan?"


Zein membuka matanya, perkataan Ramon bagaikan alunan musik di indera pendengarannya. "Tapi Alika masih mencintai Dirga brengsek itu!"


"Itu tantangan Bos! semakin banyak cobaan, semakin kuat ikatan cinta seseorang."


"Hah?! kau makin pandai berkata-kata tanpa bukti Ramon!"


"Baca di google bos, aku lagi cari tau definisi cinta dari mbah google!"


"Jadi, sudah sampai dimana pelajaran cintamu dengan google? kenapa nggak cari pacar langsung biar lebih nyata?"


"Nggak ada waktu bos!"


"Waktu baca mbah google ada kan? kenapa nggak manfaatin itu?"


"Ah, susah menjelaskannya." Ramon memukul pegangan kursinya karena kesal, Zein sedang memojokkan dirinya.


...............


Kedua bola mata Zein dan Ramon melotot dan terkejut saat Alika masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. Memanggil mereka untuk makan siang lalu kembali keluar tanpa basa-basi.


"Ada apa dengannya?" Monolog Zein, namun suaranya dapat di dengar oleh Ramon.


"Lagi dapat kali bos!" Jawab Ramon tanpa mengalihkan pandangannya setelah punggung Alika menghilang di balik pintu.


Zein menyipitkan matanya penuh selidik, "Kok kamu tau?" Tanya Zein dengan wajah serius.


"Ya elah bos, aku cuma tebak! kalau cewek nggak jelas moodnya, biasanya itu lagi dapet, jadi jangan coba-coba mendekat atau membuatnya kesal, bisa panjang urusannya." Jelas Ramon.


"Kau bicara seperti punya pacar saja. Apa sifat perempuan yang lagi dapet juga salah satu yang kau baca di google?" Tanya Zein.


"Hmm."


Hening untuk beberapa menit, Ramon kembali berbicara, "Apa kau sedang memikirkan Alika?" Selidik Ramon.


Zein mendengkus kesal, betapa ia tahu bagaimana Ramon mengenalnya dengan sangat baik. Ramon pasti dapat membaca dengan jelas ekspresi yang di keluarkan oleh wajah tampannya.

__ADS_1


"Entahlah, aku rasa sekarang dia sedang menjaga jarak dariku. Semakin ingin Alika menjauh dariku, semakin ingin pula aku menempatkannya disampingku. Aku bahkan memanfaatkan tanganku yang sakit ini agar dia tetap di sini bersamaku." Ujar Zein.


"Apa kau pernah melakukan sesuatu yang membuatnya marah?"


Zein bersandar di kursi, otaknya berpikir dengan keras mengingat kejadian beberapa hari yang lalu ia marah karena Alika memanggil Frans untuk membuka perban di tangannya.


Tujuan Alika baik karena ingin Frans memeriksa langsung lukanya, jika Alika yang membukanya seperti biasa, ia tidak tahu apa perbannya sudah bisa di lepas atau tidak. Terbukti ternyata Zein sudah tidak memerlukan perban lagi karena lukanya sudah mulai kering.


Tapi Zein masih ingin tangannya di perban, karena jika dia sudah sembuh, Alika tidak akan mau menyuapinya ketika dia makan dan minum. Alika juga pasti menolak membantunya melakukan sesuatu yang harus ia kerjakan dengan tangan kanannya.


Yang semakin membuat Zein marah karena setelah Frans membuka perban di tangannya, Frans menerima tawaran Alika untuk makan siang. Setelah makan siang mereka duduk di sofa sambil bercanda, sedangkan Zein masuk ke ruang kerjanya dengan hati yang tidak menentu dan kesal.


"Bos! kau baik-baik saja?"


Panggilan Ramon membuat Zein kembali sadar dari lamunannya. Ia menghela napas kasar kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Aku bisa gila memikirkan Alika Ramon. Kenapa hatiku kesal saat dia berdekatan dengan laki-laki lain? aku tidak sedang jatuh cinta padanya kan?"


"Itu salah satu ciri-ciri cinta bos! bisa dibilang kau sedang cemburu, hehehe!"


Ramon mulai mengejek Zein. Sudah lama ia tidak melihat wajah Zein seperti itu, kadang tersenyum tipis, serius, datar dan senang dan penuh ekspresi. Semenjak ditinggal Monika wajahnya selalu murung dan jadi pemarah tanpa ekspresi.


"Sialan kau! ayo kita makan, sebelum Alika masuk kesini dan membanting pintu." Ajak Zein kemudian beranjak dari kursinya.


Mereka berjalan menuju meja makan, Alika sedang duduk menunggu sambil memainkan ponselnya.


Alika mengambilkan makanan untuk Zein kemudian meletakkannya di hadapan Zein.


Zein mendelik, biasanya Alika langsung menyuapi dirinya tapi sekarang tidak lagi. Ia baru sadar jika tangannya sudah tidak memakai perban lagi. Dari pada terjadi peperangan di hadapan Ramon, dia memilih mengalah dan mulai makan dengan menggunakan tangan kanannya.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2