
Sander terus memperhatikan Alika. Begitupun dengan Roby, entah kenapa ia merasa wajah Alika memang tidak asing untuknya.
"Alika kenapa tidak diminum?" Tanya Sander.
Sander kini sudah setengah mabuk. Ia tidak sadar telah menghabiskan beberapa gelas wine yang selalu Willy tuang ke dalam gelasnya.
"Aku tidak minum minuman seperti ini." Tolak Alika.
"Ayolah Alika, satu gelas tidak akan membuatmu mabuk kok!" Bujuk Sander.
"Tidak, aku tidak suka minuman seperti ini." Tolak Alika kembali.
"Baiklah aku tidak akan memaksamu." Pasrah Sander.
"Kalau dia nggak mau kamu aja yang menggantikannya minum." Ujar Roby.
Willy kembali menuangkan wine untuk Sander hingga ia benar-benar mabuk.
Sedangkan Roby mengambil gambar Alika lewat ponselnya secara sembunyi-sembunyi. Ia penasaran dan memutuskan akan mencari tahu nantinya. Sebenarnya ia juga sangat kagum dan tertarik dengan Alika, saat Sander mengatakan Alika calon pacarnya dia sangat senang, masih ada kesempatan untuk mendekati Alika dan Roby merasa sanggup untuk bersaing dengan Sander.
Sebenarnya Roby juga mengundang Zein dan Ramon ke acara ulang tahunnya. Tapi selama Zein lumpuh, ia tidak terlalu suka dengan pesta. Ia hanya mengirim pesan selamat ulang tahun untuk Roby dan meminta maaf karena tidak bisa ikut merayakannya.
Sudah dua jam Alika dan Sander berada di pesta. Alika meminta untuk pulang karena takut Sander tidak akan sanggup mengendarai mobilnya.
"Oke, teman-teman kami pulang duluan. Sampai jumpa lagi bro." Pamit Sander kemudian menggenggam tangan Alika positif. Wajahnya sudah memerah karena pengaruh alkohol.
Willy menggelengkan kepalanya melihat tingkah Sander seolah dia sedang memperlihatkan pada mereka jika Alika adalah miliknya.
Roby tersenyum saat Alika segera menarik tangannya dari genggaman Sander. Roby dapat memastikan jika Alika merasa tidak nyaman di sentuh oleh Sander.
Setelah berpamitan, mereka keluar dari ballroom menuju lobi. Sander merasa pusing karena terlalu banyak minum.
"Alika kamu sangat cantik, aku jatuh cinta padamu saat kita pertama kali bertemu." Racau Sander.
Alika geleng-geleng kepala, lalu tersenyum dalam waktu sekejap, ide di kepalanya tiba-tiba muncul begitu saja. "Apa kamu bisa menyetir?" Tanya Alika.
"Tidak, antar aku ke kamar aja. Aku mual." Ujar Sander sambil memegang perutnya. Cata berjalannya juga sudah tidak bisa berdiri dengan tegak.
Alika berpikir sejenak lalu menuju resepsionis. Ia memesankan Sander satu kamar, setelah itu ia membawanya masuk ke dalam lift.
........
Apartemen Zein.
Zein sedang memeriksa laporan perusahaan bersama Ramon di ruang kerjanya. Saat mereka lagi serius, tiba-tiba satu pesan masuk ke ponsel Zein.
Anak buah Zein yang bernama Thomas baru saja mengirim foto Alika sedang memapah Sander masuk ke dalam kamar hotel.
Zein mengernyitkan keningnya. Netranya yang hitam dan tajam menatap ponselnya tanpa berkedip. Bisa-bisanya Alika pergi bersama Sander tanpa memberitahunya terlebih dulu. Apalagi mereka masuk ke dalam kamar hotel. Zein mengepalkan kedua tangannya. Wajahnya memerah karena menahan emosi. Entah kenapa melihat Alika bersama laki-laki lain, ia tidak bisa terima dan perasaannya tidak bisa tenang.
"Zein, ada apa?" Tanya Ramon penasaran melihat raut wajah Zein tiba-tiba berubah.
__ADS_1
"Ramon ayo kita pergi, sekarang! sebelum Sander melakukan sesuatu pada Alika." Zein langsung menjalankan kursi rodanya keluar dari Apartemennya.
"Ada apa?" Tanya Ramon sambil mengikuti kursi roda Zein memasuki lift turun ke basement.
Zein menyerahkan ponselnya pada Ramon.
Ramon tidak ingin percaya dengan apa yang ia lihat, tapi anak buahnya juga tidak mungkin salah memberikan informasi pada mereka. Ramon segera mengambil ponselnya lalu menghubungi Thomas sambil menyalakan speaker ponselnya.
"[Halo]" Jawab anak buah Zein.
"[Kenapa bisa mereka ada di sana?]" Tanya Ramon.
"[Mereka dari acara ulang tahun Roby. Sander mabuk dan mengajak Nona Alika chek-in.]" Lapor Thomas.
"Brengsek! Lebih cepat lagi Ramon!" Geram Zein mendengarnya.
"[Tetap awasi mereka, kami akan segera ke sana.]" Perintah Ramon lalu menutup sambungan teleponnya.
Ramon melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sementara Zein semakin tidak tenang. Alika adalah tanggung jawabnya setelah mereka bertunangan. Jika terjadi apa-apa dengan Alika, maka Zein lah yang harus bertanggung jawab pada keluarga dan Kakeknya.
"Lebih cepat lagi Ramon! fokus ke jalanan. Berhentilah melirikku." Kesal Zein.
Ramon hanya diam dan fokus melihat ke depan.
"Kenapa aku sangat menghawatirkan gadis barbar itu? saat aku melihat Monika bersama sander aku memang sangat marah, tapi kenapa kali ini kemarahanku lebih besar melihat Alika? kenapa juga dia mau pergi dengan Sander. Ah, dia bikin aku kesel aja." Batin Zein. Zein memukul sandaran kursi dengan kepalan tangannya membuat Ramon seketika terkejut.
"Tenanglah." Ujar Ramon menenangkan, sedangkan dia sendiri juga sangat menghawatirkan tunangan bosnya.
Saat mereka tiba di kamar, Alika memapah Sander duduk di sofa. Alika juga ikut duduk di samping Sander lalu dengan ragu-ragu ia mulai bertanya.
"Sander, apa kamu baik-baik aja?" Selidik Alika.
"Hm" Singkat Sander mengangguk.
"Boleh Aku bertanya?" Tanya Alika.
"Boleh dong sayang..! asal kau mau jadi pacarku, aku akan menjawab semua pertanyaanmu." Racau Sander.
"Baiklah, aku mau jadi pacar kamu, tapi kamu harus jujur padaku, tidak ada yang boleh kamu sembunyikan dariku. Bukankah mengawali hubungan harus berkata saling jujur?" Ungkap Alika.
Sander kembali mengangguk tanda mengiyakan.
Alika menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya dengan perlahan.
"Baiklah, apa kamu kenal dengan Alan?" Tanya Alika gugup.
Sander langsung berbaik menatap Alika dengan lekat. Ia tidak menyangka jika Alika mengenal Alan.
"Alan.. teman pacar Monika?" Gumam Sander mengingat Alan sahabat Zein.
"Ia, Alan yang itu, Aku mantan pacarnya, Aku ingin balas dendam padanya karena dia telah memutuskan aku karena wanita lain. Tapi aku tidak pernah lagi bertemu dengannya. Sejak kami putus aku kehilangan kontak dengannya. Apa kamu tau dia dimana sekarang?" Tanya Alika sambil mengambil ponselnya dari dalam tas tanpa sepengetahuan Sander.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu mencarinya untuk balas dendam."
"Kenapa?"
"Karena aku sudah membalasnya."
"Apa maksudmu? aku tidak mengerti?"
"Hahaha, aku telah membunuhnya untukmu dan Monika."
Deg!
Alika terkejut mendengar pengakuan Sander. "Kenapa kamu yang membunuhnya?" Selidik Alika.
"Kamu ingin tahu?"
"Iya"
"Tapi kita pacaran dulu." Racau Sander kembali.
"Oke, kita pacaran."
Sander mendekatkan wajahnya ke Alika. Alika segera mundur karena berpikir Sander akan menciumnya.
"Karena dia memiliki bukti perselingkuhan Monika, dia juga memiliki rekaman percakapanku dan Monika." Bisik Sander.
"Emangnya apa yang kalian bicarakan?"
"Hehehe, tentang Monika memanfaatkan Zein dan akan menguasai hartanya setelah mereka menikah." Ungkap Sander.
"Masa sih? apa kamu sendiri yang membunuh Alan?"
"Aku dan Monika membayar orang lain untuk menabrak mobilnya hingga jatuh ke jurang. Dan.. boomm.. mobilnya beneran jatuh di jurang dan meledak." Ujar Sander langsung berbaring di kursi.
"Baiklah, sepertinya aku harus pulang. Sampai jumpa lagi Sander." Pamit Alika. langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas.
"Alika jangan pergi sayang..! ayo kita bersenang-senang." Melas Sander dengan separuh kesadarannya.
"Lain kali saja, aku masih ada urusan."
"Ayolah sayang..! bukankah kita sudah pacaran? kita bebas melakukan apa saja. Aku janji tidak akan meninggalkanmu seperti Alan dan Dirga. Aku tipe pria setia." Racau Sander.
Sander menarik tangan Alika mendekat padanya. Bersamaan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka karena kedatangan tiga orang tak diundang sedang menatapnya dengan amarah.
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏