Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Sembunyi


__ADS_3

Langkah mereka terhenti di salah satu ruang VVIP restoran. Zein menarik kursi untuk Alika duduk, kemudian menarik kursi untuknya.


Alika lagi-lagi kagum dengan sikap zein yang menurutnya sangat berubah seratus delapan puluh derajat. Dari sikap yang kaku menjadi sangat romantis. Perlakuan Zein bahkan lebih menyenangkan dari pada perlakuan Dirga padanya selama mereka pacaran. Bagaimana tidak jika Alika diperlakukan bagaikan putri raja yang dikelilingi kemewahan yang berlimpah, dihormati dan dilayani oleh banyak orang.


Setelah mereka duduk, para pelayan berbaris meletakkan makanan satu persatu diatas meja. Hanya butuh waktu beberapa detik, makanan telah tertata dengan indah di depan mata.


Netra Alika seketika berbinar, maniknya bergerak memperhatikan isi piring satu persatu. Bibirnya kemudian tersenyum, semua hidangan itu adalah makanan favoritnya.


"Ayo dimakan sayang..! jangan diliat aja, perutmu tidak akan kenyang jika hanya menatap makanan itu." Ujar Zein kemudian menunjuk meja makan dengan dagunya.


"Apa ini nggak berlebihan Zein?" Tanya Alika berbinar. Baru kali ini dia diperlakukan oleh seorang pria bagaikan seorang putri raja di negeri dongeng.


Zein memegang tangan Alika yang berada diatas meja. Mengusapnya dengan lembut kemudian menyatukan jemari mereka menjadi satu.


"Kamu pantas mendapatkannya sayang...! Kau wanita spesial di dalam hidupku, aku akan selalu berusaha untuk membahagiakanmu." Ujar Zein dengan nada selembut mungkin.


Alika seketika merona, wajahnya memerah bagai buah cerry. "Dari mana kau tau semua makanan favoritku?" Tanya Alika heran.


"Rahasia sayang...!"


"Ah, biar aku tebak." Alika memajukan wajahnya mendekat, kedua tangannya berada diatas meja dan matanya memicing menatap Zein penuh selidik. "Kau pasti tau dari Meriska kan?" Tebak Alika.


"Kok kamu tau?" Zein balik bertanya, kali ini tebakan Alika sangat tepat.


"Hehehe, kalau dari Mama dan Papa nggak mungkin kan? satu-satunya orang yang masih mendukung hubungan kita cuma Meriska." Jelas Alika.


"Kamu memang sangat pintar sayang..! nggak salah aku memilih kamu sebagai calon istriku. Sekarang ato kita makan, kamu sudah sangat lapar kan? cacing di perut kamu sangat menggangguku tadi." Zein mengusap puncak kepala Alika lalu mengambil piring dan mengisinya dengan makanan. "Silahkan Tuan putri. Kali ini biar aku yang melayani pujaan hatiku." Zein meletakkan piring yang telah di isi makanan ke depan Alika.


Alika tersenyum memperlihatkan giginya yang putih. "Makasih Zein..! aku nggak nyangka ternyata kamu bisa semanis ini. Kamu tau? Dulu aku pikir aku akan menikah dengan pria kaku dan hidupnya monoton dan membosankan, ternyata aku salah. Kamu pria yang sangat baik, bertanggung jawab dan penuh kejutan."


Lagi-lagi ia mendapatkan perlakuan manis dari Zein. Ia mengambil sendok dan garpu kemudian mulai menikmati makanannya.


Setelah beberapa menit, mereka selesai makan. Zein dan Alika kemudian keluar dari ruangan VVIP menuju lift. Disaat yang sama Hendrik juga keluar dari Restoran bersama kliennya menuju lift.


Mata Alika membola melihat Hendrik sedang berbicara dengan kliennya sambil berjalan kearahnya. Mereka juga akan masuk ke dalam lift yang sama dengan Alika.


"Gawat!" Pekik Alik.

__ADS_1


Alika segera menarik tangan Zein menuju koridor kecil disamping lift. Mendorong tubuh Zein hingga bersandar di dinding. Tanpa ia sadari tubuh mereka saling bersentuhan, hanya wajahnya saja yang berjarak lima centimeter. Alika menutup mata karena takut ketahuan, detak jantungnya memompa lebih cepat karena gugup.


Zein dapat merasakan detak jantung Alika yang berdebar cukup kencang, begitupun jantungnya yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Napasnya mulai memburu dengan posisi sedikit menunduk menatap bibir Alika yang menggoda. Zein mengangkat dagu Alika membuatnya membuka mata. Tatapan mereka kembali bertemu.


"Kau makin mesum sayang...! jika kau ingin, kita bisa melakukannya dikamar." Goda Zein mengedipkan sebelah matanya.


"Ssstttt..." Alika meletakkan telunjuk dibibirnya sendiri. Berharap Zein menutup mulutnya karena Hendrik sudah berdiri di depan lift.


"Ah, rupanya kau sudah tidak sab...." Ucapan Zein seketika terhenti.


Tanpa berpikir panjang dan mengabaikan ejekan Zein, Alika menutup mulut Zein dengan bibirnya. Jika Zein bicara terus, maka mereka bisa ketahuan oleh Hendrik. Hanya dinding yang menjadi pemisah antara mereka dengan Hendrik.


Mata Zein membola mendapat serangan tiba-tiba dari Alika. Bagai mendapatkan jackpot, dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini. Ciuman Alika yang awalnya hanya berniat menutup mulut Zein agar diam. Kini diambil alih oleh Zein.


"Ciumanmu sangat payah, sayang..!" Zein kembali bersuara, berhenti sejenak dan membiarkan Alika menarik napas, Kemudian melanjutkannya kembali dengan dirinya yang mendominan.


"Apa kalian mendengar sesuatu?" Tanya Hendrik pada dua kliennya.


"Dengar apa Tuan?" Kliennya balik bertanya karena tidak mendengarkan apapun.


"Sepertinya ada orang selain kita disini." Ujar Hendrik penuh curiga dengan mata memicing sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


Alika semakin menutup matanya saat mendengar suara sepatu Hendrik semakin mendekat. Dalam hati ia berdoa semoga Tuhan menolongnya dengan tidak membiarkan Hendrik menemukannya. satu langkah lagi Hendrik akan menemukan mereka.


Dag! dig! dug!


Suara jantung Alika semakin kencang. Pikirannya ketakutan dengan Hendrik, tapi tubuhya terbuat dan sangat menikmati permainan Zein. Sedangkan Zein dengan penuh gairah semakin memperdalam ciumannya dibibir Alika.


Ting!


Pintu lift terbuka.


"Mari Tuan!" Ajak klien Hendrik untuk masuk ke dalam lift.


Hendrik berbalik melihat lift yang terbuka kemudian mundur kembali mengikuti kliennya masuk ke dalam lift.


"Mmppphhh..." Alika memukul dada Zein agar Zein berhenti menciumnya.

__ADS_1


Zein memundurkan wajahnya, memberi sedikit jarak agar Alika dapat bicara.


Alika menarik napas dalam-dalam, mengelus dadanya yang masih deg-degan meski Hendrik sudah masuk kedalam liat menuju lobi.


"Dasar mesum!" Rutuk Alika dengan mata melotot.


"Loh, kok jadi aku sayang..! kan kamu yang mulai duluan! aku hanya berinisiatif untuk membalasnya, tapi aku sangat suka jika kamu seagresif tadi, lebih menantang! sekarang kamu harus tanggung jawab karena membuatnya bangun!" Ujar Zein kemudian menunduk melihat kebawah.


"Ihh.., kamu apaan sih! Tanggung jawab apa? aku menciummu karena kamu tidak mau diam Zein! Papa baru saja di sini dan hampir menemukan kita. Untung saja liftnya segera terbuka, jika tidak, habis kamu Zein!" Alika mencubit perut Zein.


"Aww sakit sayang..!" Zein pura-pura kesakitan sambil mengusap bekas cubitan diperutnya,


"Habis kamu nggak percaya sih! Papa tadi ada disini."


"Hahaha... Jadi tadi itu kita sedang bersembunyi? seumur hidup aku tidak pernah sembunyi dari masalah sayang! aku malah lebih suka menantang masalah, jika Ramon sampai tau kau mengajakku sembunyi karena melihat Om Hendrik, aku pastikan dia akan menertawakanku sampai jungkir balik menahan sakit perut." Ungkap Zein. Dapat dia bayangkan bagaimana malunya jika Ramon menertawakan dirinya.


"Ia, karena aku tidak mau Papa dan kamu ribut karena aku."


"Ah, masa sih? aku nggak percaya ada Om Hendrik, kamu pasti hanya alasan dan cari kesempatan agar mencium calon suami kamu yang tampan ini kan?" Goda Zein, memicingkan matanya mendekat ke wajah Alika sambil menaikkan sebelah alisnya.


"Ihh.. narsis! Papa beneran ada Zein. Kalo nggak percaya liat aja cctv hotel." Kesal Alika.


"Hehehe, Nggak usah sayang, aku percaya dengan kamu. Apa sekarang kita sudah aman?" Zein mulai membelai rambut Alika.


Alika mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari mata Zein.


"Sekarang bisa dilanjutin dong?"


"Lanjutin apaan?"


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2