
"Lebih baik memberitahu sekarang Zein, sebelum terlambat dan Om Hendrik lebih marah lagi padamu." Ungkap Lucas.
"Benar Zein, sudah waktunya mengabari mereka dan juga Kakek Hutama. Aku yakin sekarang ini Kakek sedang menunggu kalian pulang." Lanjut Ramon.
"Kakek sedang sakit. Aku tidak bisa mengatakan ini padanya. Terlalu berbahaya untuk kondisi jantungnya," Jelas Zein.
Tidak lama kemudian dua suster keluar dari IGD mendorong brankar yang diatasnya Alika sedang terbaring tidak sadarkan diri dengan selang infus di tangannya.
Zein, Ramon dan Lucas segera berdiri dan mendekat melihat keadaan Alika secara langsung. Mereka sangat prihatin melihatnya, apalagi Zein, ia tidak melepaskan genggaman tangannya pada Alika hingga mereka berhenti di depan pintu ICU. Zein mencium puncak kepala Alika sebelum suster membuka pintu ICU.
Saat suster mendorong brankar masuk, Zein tidak pernah mengalihkan pandangannya sedikitpun dari Alika. Rasa penyesalannya begitu besar, kenapa dirinya tidak melihat Alika keluar dari rumah saat itu.
Setelah suster membawa Alika masuk, mereka kembali memasang nebulizer di hidung Alika, memasang pacemaker di dadanya kemudian menghubungkan ke layar monitor hingga mengeluarkan suara detak jantung Alika. Setelah itu memperbaiki selimut dan menyuntikkan obat ke dalam botol infusnya.
Zein hanya bisa melihatnya di balik dinding kaca. Tidak ada yang mengetahui bagaimana kalut dan sedih perasaannya saat ini. Tangannya terangkat menyentuh kaca seolah sedang membelai Alika. Matanya tak berkedip dan mulai berair, sungguh pemandangan yang sangat tidak ia inginkan. Tidak pernah terbayangkan olehnya akan berakhir seperti ini. Mungkin ini ujian yang harus mereka lalui sebelum menikah.
Melihat kesedihan Zein, Ramon mendekat, memegang pundaknya dan membujuk Zein untuk pulang.
"Zein, sebaiknya kau pulang dan istirahat, biar aku dan Lucas yang menjaganya."
"Aku tidak mau Ramon, kalian aja pulang. Aku tidak akan bisa tidur sebelum dia sadar." Lirih Zein tanpa mengalihkan pandangannya dari Alika.
"Kau juga butuh istirahat dan luka goresan di kakimu juga butuh diobati. Kalau kau tidak mau pulang, aku akan memanggil dokter untuk mengobati lukamu."
Tanpa menunggu jawaban Zein, Ramon segera menemui dokter kemudian memintanya mengobati luka dikaki Zein.
Dokter pun meminta Zein untuk masuk ke IGD tapi Zein menolaknya. Ia tidak ingin pergi kemana-mana dan meninggalkan Alika. Akhirnya dokter mengobatinya di kursi depan ICU, beruntung luka Zein hanya goresan kecil tapi tetap saja butuh obat agar lukanya cepat kering dan tidak infeksi.
Setelah selesai mengobati Zein, dokter kembali ke ruang ICU, mengontrol keadaan Alika yang sudah empat jam tapi belum juga sadar.
__ADS_1
...............
Didepan ruang ICU.
"Ramon, mana ponselku."
Ramon mengambil ponsel Zein yang sempat ia ambil di tepi sungai sebelum mereka kembali naik ke bukit. Mengeluarkan dari saku celananya kemudian menyerahkan pada Zein.
Zein menghubungi Prayoga dan menceritakan apa yang Alika alami. Ia juga menceritakan siapa yang ia curigai di balik kejadian itu.
Prayoga menyalahkan Zein karena terlambat bertindak dan menjauhkan orang itu dari Alika. Tapi semua sudah terjadi, Alika sekarang terbaring di rumah sakit, Ia hanya bisa berdoa dan berharap semoga Alika baik-baik saja.
Saat itu juga Prayoga dan Feronica langsung menuju rumah sakit karena mereka sangat menghawatirkan Alika.
.........
Setelah sambungan telepon terputus, Zein kemudian menghubungi Hendrik, memberitahukan keadaan Alika yang sebenarnya tanpa ada ia tutup-tutupi. Entah sudah berapa kali dirinya meminta maaf tapi Hendrik tidak terima. Zein sudah berjanji akan menjaga Alika dengan baik, tapi kenyataannya Zein tidak bisa memenuhi semua itu.
Hendrik menghubungi sekertarisnya untuk memesan tiket ke Roma saat itu juga. Tapi sayang sudah tidak ada lagi penerbangan malam itu. Mau tidak mau dia harus naik penerbangan pertama pukul lima pagi.
Setelah menempuh perjalanan beberapa jam di pesawat, akhirnya mereka tiba di Roma. Mereka segera masuk ke dalam mobil menuju rumah sakit yang berjarak cukup jauh dari bandara. Butuh lima jam untuk sampai di sana karena letak rumah sakitnya lebih dekat dari perkebunan.
Saat sampai di rumah sakit, mereka langsung menuju ruang ICU. Zein telah memberi tahu Hendrik jika sekarang Alika sudah dipindahkan di ICU.
Langkah keduanya terhenti begitu melihat Zein dengan wajah sendu dan mata yang berair menatap Alika tanpa berkedip. Tangannya terus mengusap dinding kaca tanpa menyadari sekitarnya. Ini adalah kesalahan terbesarnya, dan mungkin akan menjadi penyesalan seumur hidup jika Alika pergi meninggalkannya.
Prayoga dan Feronica yang sedang duduk di kursi tunggu segera berdiri menghampiri mereka dan saling memberikan kekuatan.
Dengan perlahan Belinda dan Hendrik melangkah mendekat. "Zein, dimana Alika?" Tanya Belinda saat melihat Zein berdiri di depan ruang ICU.
__ADS_1
Zein tidak menjawab, Ia hanya berbalik kemudian kembali menatap Alika. Memberikan isyarat bahwa Alika berada di dalam sana.
Belinda dan Hendrik mendekati dinding kaca, mengikuti arah pandangan mata Zein. Mereka sangat syok melihat anaknya terbaring dengan beberapa peralatan medis di tubuhnya.
"Hiks, hiks, Kau apakan anakku Zein? kenapa kau membiarkan orang lain menyakitinya, hah?! kenapa kau memberinya penderitaan seberat ini? aku mempercayakan anakku padamu, tapi apa seperti ini balasan yang kau berikan pada Tante? Jika kau tidak suka padanya, setidaknya jangan membuatnya terbaring lemah seperti ini di rumah sakit. Kembalikan saja Alika pada Tante. Kami masih bisa menjaganya dengan baik."
Belinda tidak sanggup menerima kenyataan, berbalik memeluk Hendrik untuk menenangkan dirinya. Sebagai seorang ibu yang sangat mencintai anaknya, tentu saja ia tidak ingin anaknya sakit dan menderita.
"Maafkan Zein Tante, Om. Aku tau, aku yang salah karena lalai menjaga Alika, tapi percayalah aku juga tidak menginginkan ini terjadi. Aku menyesal karena semua ini harus menimpa Alika. " Ujar Zein. Raut wajahnya sendu dan penuh penyesalan.
Hendrik dapat melihat kesedihan yang mendalam lewat manik Zein. Tapi sebagai orang tua dia harus mengambil langkah dan bertindak tegas.
"Apa kata dokter?"
Suara bariton Hendrik mengalun ditelinganya dengan datar membuat Zein tersentak dan berbalik menatap lawan bicara. Kali ini ia dapat merasakan Hendrik sedang menahan amarah yang begitu besar padanya. Tidak ada lagi keteduhan dalam maniknya.
Zein menghela napas berat, mulai menjelaskan dengan detail dan rencana dirinya akan memindahkan Alika ke rumah sakit pusat.
"Tidak usah! Kau tidak mencintai dan perduli dengannya. Mulai saat ini jauhi Alika! Kau tidak layak untuknya. Aku sendiri yang akan memindahkan dan merawatnya. Jangan menemuinya lagi karena mulai saat ini pertunangan kalian aku batalkan." Tegas Hendrik dengan wajah yang memerah karena amarah yang terlalu besar untuk Zein.
Deg!
.
.
Bersambung....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏