Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Bermain Hati


__ADS_3

"Awas ya kalau sampai kamu bermain hati di belakang aku. Aku tidak akan memaafkanmu." Ancam Monika.


"Nggak mungkin sayang..! Sudah, jangan cemburu seperti itu! aku mau pergi sebentar, ada urusan dengan teman-teman aku. Kamu ada pemotretan kan?" Ujar Sander.


"Ia pergilah, aku mau siap-siap dulu." Ujar Monika lalu kembali masuk ke dalam. Sementara Sander keluar dari kamar hotel dan segera mengejar Alika.


.............


Meriska dan Alika keluar dari hotel dan mereka sedang menunggu taksi.


Saat Sander melihat Meriska dan Alika masih di depan hotel. Ia segera mempercepat langkahnya menghampiri mereka.


"Hai, Kalian masih di sini?" Sapa Sander sambil tersenyum.


"Kami sedang menunggu taksi." Sahut Alika membalas senyuman Sander.


"Mau aku antar?" Tanya Sander.


"Makasih, sebentar lagi taksinya pasti datang." Tolak Alika.


"Ayolah, jangan menolak. Tunggu sebentar ya? aku ambil mobil dulu." Semangat Sander kemudian segera menuju basement mengambil mobilnya.


"Kenapa aku curiga dengan sikap Sander ya? sepertinya dia suka sama kamu deh!" Pikir Meriska.


"Kamu tuh kebiasaan banget, selalu curiga dengan orang lain. Mungkin dia memang hanya ngin mengantar kita." Sergah Alika.


"Justru kamu yang terlalu baik sama orang lain. Aku peringatkan kamu untuk berhati-hati dengannya. Jangan mudah termakan rayuan gombalnya. Ingat! dia pacar Monika." Pesan Meriska.


"Ia aku tau, kamu tenang aja, cukup Dirga yang menipuku dengan rayuan mautnya. Tidak dengan yang lain." Jelas Alika.


"Baguslah kalau kamu tau. Ayo, sepertinya itu mobil dia." Ajak Meriska.


Saat Sander memarkirkan mobil di depan lobi. Ia membukakan pintu depan untuk Alika. Alika berbalik melihat Meriska dan meminta persetujuan lalu Meriska hanya mengangguk.


Sander memasang saat beltnya lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Mau diantar kemana?" Tanya Sander melirik Alika yang duduk di sampingnya.


"Di hotel Cavalieri." Sela Meriska.


Sander tersenyum, tapi Ia kecewa karena bukan Alika yang menjawabnya.


"Apa kamu juga turun di hotel Cavalieri?" Tanya Sander.

__ADS_1


"Meriska aku langsung pulang aja ya?" Ujar Alika berbalik ke arah Meriska.


"Iya." Singkat Meriska.


Alika kemudian menoleh ke arah Sander. "Jika tidak merepotkan, aku turun di apartemen Venesia." Ujar Alika.


"Dengan senang hati cantik." Goda Sander mengedipkan matanya lalu kembali fokus ke jalanan.


Meriska bergidik ngeri mendengar godaan Sander yang ditujukan pada Alika. "Dasar playboy cap kadal! sudah punya pacar masih juga menggoda wanita lain." Batin Meriska kesal lalu mengalihkan pandangan keluar jendela.


Dua puluh menit berlalu Meriska turun di hotel. Ia berpamitan dengan Alika lalu mengucapkan terimakasih pada Sander.


Kini tinggal mereka berdua di dalam mobil. Sander kembali melajukan mobilnya menuju apartemen. Saat melewati toko bunga, Ia mampir sebentar lalu membelikan sebuket bunga untuk Alika. Awalnya Alika mengira Sander mampir untuk membelikan Monika bunga, tapi Alika sangat terkejut saat Sander tiba-tiba memberikan bunga itu untuknya.


"Ini untuk kamu yang cantik, secantik bunga ini." Goda Sander.


"Maaf, tapi saya tidak bisa menerima bunga ini. Monika lebih berhak dari pada saya." Tolak Alika.


"Alika ini untuk kamu, aku membeli khusus untukmu, ini tidak ada hubungannya dengan Monika. Terima ya? " Bujuk Sander.


"Maaf Sander, tapi saya benar-benar tidak bisa. Apa kita sudah bisa jalan? jika tidak, Aku akan turun dan cari taksi untuk pulang." Tolak Alika kembali.


"Semakin kamu menolakku, semakin aku penasaran dan menginginkanmu Alika," Batin Sander, "Baiklah aku tidak akan memaksamu. Aku akan antar kamu pulang. Maafkan aku." Pasrah Sander lalu menyalakan mesin mobilnya.


"Apa semua cowok romantis itu playboy? Dulu Dirga yang romantis ternyata memiliki wanita lain di belakangku. Sekarang Sander juga terang-terangan romantis dan kenyataanya memiliki Monika. Ya Tuhan.. apa masih ada satu cowok yang setia di dunia ini? jika ada berikanlah satu untukku." Batin Alika.


"Hei, kenapa kamu melamun? jika kamu tidak mau menerima bunga yang aku beri, tidak masalah! aku hanya ingin jadi teman kamu. Boleh kan?" Tanya Sander yang mulai pendekatan dengan cara berteman lebih dahulu dengan Alika.


Alika hanya mengangguk sambil fokus melihat arah jalanan. "Kenapa arahnya lain?" Tanya Alika heran mengerutkan dahinya.


"Aku masih ingin ngobrol denganmu. Bagaimana kalau kita ngobrol di sana." Tunjuk Sander ke salah satu taman.


"Maaf Sander, lain kali saja, karena saya harus pulang. Saya harus mengerjakan sesuatu di Apartemen." Tolak Alika.


"Sepertinya kamu selalu menolak tawaranku Alika, apa kamu tidak merasa nyaman denganku?" Tanya Sander.


"Bukan seperti itu, Saya memang harus segera pulang. Lain kali saya akan mengajakmu minum kopi untuk mengganti hari ini." Ujar Alika, Ia sudah bosan dengan tingkah Sander.


"Janji ya?" Melas Sander.


"Iya janji! Sudah cepetan antar saya pulang. Saya nggak mau telat." Ujar Alika pura-pura memiliki urusan di Apartemen yang harus ia selesaikan secepatnya. Ia hanya tidak mau Zein lebih dulu pulang darinya.


Sander memutar kembali setir mobil menuju apartemen.

__ADS_1


Setelah sampai di lobi, Sander segera turun lalu membuka pintu mobil untuk Alika.


"Jadi Alika tinggal di apartemen mewah ini? apa mungkin dia mengenal pacar Monika? Ah, mana mungkin? Di sini kan pemilik apartemen banyak. Ya, aku yakin itu tidak mungkin!" Batin Sander.


Sebenarnya Sander ingin menanyakan ke Alika apa ia mengenal Zein. Tapi Dia juga takut jika Alika bertanya yang macam-macam dengannya.


Alika keluar dari mobil sambil pura-pura tersenyum lalu mengucapkan terima kasih pada Sander.


Sander makin besar kepala melihat senyum manis dari Alika. Senyum manis yang mampu membuat jantungnya berdetak semakin kencang.


Tanpa mereka sadari Zein dan Ramon melihat mereka dari lobi lewat jendela kaca. Zein mengepalkan kedua tangannya karena tidak senang melihat Alika dekat dengan laki-laki lain, apalagi laki-laki yang dilihatnya adalah laki-laki yang bersama dengan Monika saat itu.


"Zein, itukan Alika dan pacar Monika? kenapa mereka bisa bareng? apa mereka memiliki hubungan?" Tanya Ramon untuk memastikan dia tidak salah mengenal orang.


"Itu memang dia, mana aku tahu mereka memiliki hubungan atau tidak? itu tugas kamu mencari tahu semuanya." Kesal Zein.


"Ah, bertambah lagi kerjaan aku." Batin Ramon.


"Ngapain diam saja? ayo jalan!" Bentak Zein menjalankan kursi rodanya mengikuti Alika menuju lift. Sedangkan Ramon yang baru sadar, berlari kecil mengejar Zein sebelum Zein masuk kedalam lift.


Sander memegang dadanya saat Alika masuk kedalam Apartemen. Baru kali ini ia merasakan hal yang berbeda saat berdekatan dengan wanita. Mungkin karena Alika satu-satunya wanita yang menolak bunga pemberiannya sehingga dia merasakan hal yang berbeda. Ia kembali masuk kedalam mobil lalu menenangkan jantungnya. Setelah merasa cukup, Sander melajukan mobilnya kembali menuju tempat teman-temannya berkumpul.


...........


Alika menekan tombol naik di samping pintu lift bersamaan dengan Zein dan Ramon yang tiba-tiba muncul di sampingnya.


Deg!


"Kamu bikin kaget aja." Kesal Alika sambil memegang dadanya.


Zein diam saja, wajahnya masih memerah menahan emosi.


Mereka bertiga memasuki lift tanpa berbicara. Mereka hanya saling melirik dengan pemikiran masing-masing.


"Gawat! aku harus segera pergi setelah mengantar Zein. Sepertinya perang dunia akan segera di mulai. Bom sudah terpasang dan siap meledak kapan saja." Batin Ramon sambil melirik wajah datar dan dingin Zein yang memerah menatap Alika.


"Kenapa Zein menatapku seperti itu? apa ada yang salah dengan penampilanku?" Batin Alika lalu menunduk memperhatikan penampilannya


.


.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2