
Zein hanya diam, dalam hati ia sangat puas melihat kehancuran Monika. "Ini belum seberapa Monika, kau akan menderita dan menyesali semua perbuatanmu padaku dan Alan." Batin Zein.
"Tidak mungkin kau tunangan dengan Alika, Zein! sejak kapan kalian saling mengenal? apa kalian memiliki hubungan di belakangku?" Geram Monika tidak percaya.
Monika memukul dada Zein karena merasa dikhianati. Hatinya sangat sakit melihat Zein tersenyum memasang cincin pertunangan di jari manis Alika, mereka juga berpelukan dalam waktu yang lama membuat Monika semakin iri dan cemburu.
"Hanya beberapa minggu, setelah itu kami tunangan. Bagaimana? kau percaya kan kalau aku dapat melakukan apapun yang tidak kau sangka? termasuk mencebloskan mu ke dalam penjara-pun aku tidak akan berpikir dua kali. Kita sudah lama saling mengenal, tapi kenapa masih saja kau lupa sifatku yang tidak suka dengan penghianat. Dan saat ini kaulah penghianat itu. Jadi, tunggulah saat-saat kehancuranmu bersama selingkuhanmu itu." Tegas Zein dengan wajah datar dan dinginnya.
"Tidak Zein jangan lakukan itu padaku, aku mohon batalkan pertunangan ini. Kau tidak mencintainya kan? kau hanya milikku Zein, Milikku!" Ungkap Monika sambil memegang wajah Zein agar menatap matanya.
Zein kembali diam menatap mata Monika dengan lekat, namun entah mengapa rasa cintanya yang dulu ada kini hilang begitu saja. Ia tiba-tiba mengingat wajah Alika yang selalu membuatnya kesal. Zein menyunggingkan senyum di ujung bibirnya, lalu menjauhkan tangan Monika dari wajahnya.
"Kau berubah Zein." Lirih Monika.
"Kau yang mengubahku seperti ini."
"Kau tidak mempertahankan aku dan cinta kita."
"Kau yang pergi dariku dan selingkuh."
"Kenapa kau tidak percaya padaku?"
"Karena kau tidak bisa di percaya."
"Aku tidak selingkuh dengan Sander, kami hanya kebetulan mengerjakan proyek yang sama." Sergah Monika.
"Hehehe, kau pembohong besar Monika, aku memiliki banyak mata-mata di luar sana, sembunyi dalam lubang semut-pun aku masih bisa menemukanmu. Salahnya kamu adalah kau sembunyi di kamar hotel. Apa perlu aku tunjukkan perbuatan menjijikkanmu dengan Sander di kamar itu? Kau salah karena meremehkan kemampuanku, meskipun aku cacat, tapi otakku masih berfungsi dengan baik. Sudahlah waktu pertemuan kita sudah habis. Ini terakhir kalinya kita bertemu. Jika suatu saat kau melihatku, anggap saja kita tidak saling mengenal." Jelas Zein.
"Aku nggak mau hubungan kita berakhir Zein. Aku mohon jangan tinggalkan aku. Aku janji akan berubah." Melas Monika.
"Aku tidak suka di janji Monika dan hubungan kita sudah berakhir!" Tegas Zein.
Zein berdiri dari kursinya, Ia berjalan menuju pintu keluar, di saat Zein akan membuka pintu Monika langsung mencegah dan memeluknya.
...........
# Diluar ruangan VVIP.
Alika sangat gelisah. Meriska dan Frans sedang bercanda sambil tertawa namun Alika tidak menghiraukannya. Ia terus melihat ke arah pintu ruangan Zein dan Monika.
"Kenapa mereka lama sekali? ini sudah satu jam lebih, pelayan juga belum membawa makanan untuk mereka. Apa yang mereka lakukan berdua di sana?" Batin Alika penasaran.
"Khemm." Dehaman Frans membuyarkan lamunannya.
__ADS_1
Alika segera menoleh dan salah tingkah.
"Kalau hati kamu tidak tenang, kenapa harus gengsi, pergilah! lihat apa yang terjadi di dalam sana." Ujar Meriska.
Alika berpikir, ia bingung antara ingin kesana dan tidak. Jika ia masuk ke dalam sana, apa yang akan dikatakan Zein. Mungkin dia akan berpikir jika Alika sedang mengikutinya atau sedang cemburu padanya. Zein bisa saja besar kepala karena itu.
Alika menggelengkan kepalanya. "Tidak."
"Kenapa? apa perlu aku temenin?" Tanya Frans.
"Tidak usah." Tolak Alika.
"Bagaimana jika mereka melakukan yang tidak-tidak? biar bagaimanapun kamu tunangannya, kamu nggak boleh di perlakuan seenaknya oleh Zein. Walaupun tidak ada cinta diantara kalian tapi kamu berhak marah jika dia selingkuh karena dia tunanganmu." Jelas Frans sengaja membuat hati Alika semakin panas.
"Ahh, kalian membuatku makin Kesal! aku akan kesana." Alika makin geram.
Alika langsung berdiri menatap tajam pintu ruangan VVIP. Ia terus berjalan tanpa menyadari Meriska dan Frans juga ikut di belakangnya.
Alika membuka pintu ruangan Zein dengan ragu-ragu, tapi Frans dan Meriska mengangguk untuk meyakinkannya. Disaat pintu terbuka, mereka tercengang melihat Monika dan Zein.
Zein dan Monika tidak sadar jika di depan pintu ada Alika, Meriska dan Frans sedang berdiri menatap mereka berdua.
Beberapa menit kemudian, Monika melihat Alika di depan pintu, Ia tersenyum penuh kemenangan memeluk Zein. Sedangkan Zein dalam posisi membelakangi Alika.
Wajah Monika langsung berubah kesal, kini Alika yang tersenyum mengejeknya. Alika segera menyeretnya masuk ke dalam. Jika di kantor Alika masih menahan amarah padanya, sekarang tidak lagi karena di dalam ruangan hanya ada mereka.
Plak! plak!
Alika langsung melayangkan tamparan di pipi kiri dan kanan Monika.
Zein terkejut karena Alika masuk tanpa bicara apapun, begitupun dengan yang lainnya.
Monika memegang wajahnya yang memerah, bekas tamparan yang Alika layangkan cukup keras dan nyerinya berdengung hingga ke telinga.
Monika mengangkat tangannya untuk membalas namun Zein segera menahannya.
"Lepaskan aku Zein! Dia telah berani menamparku." Geram Monika.
"Jangan sekali-kali menyentuh wajahnya dengan tangan kotormu itu. Aku tidak akan tinggal diam jika seseorang berusaha menyakitinya." Tegas Zein menggenggam pergelangan tangan Monika lalu menghempaskannya.
Deg!
Ucapan Zein begitu menyakitkan hati Monika, rasa sakitnya lebih perih dari tamparan yang Alika berikan padanya. Dulu Zein juga selalu membelanya, tapi sekarang Zein membela orang lain dari pada dirinya.
__ADS_1
"Aww, kau menyakitiku Zein. Kau lebih membela perempuan ini dari pada aku?" Geram Monika.
Monika meringis memegang pergelangan tangannya dengan tangan yang lain.
Alika melihat Zein, kedua kancing baju Zein masih terbuka dan dia sama sekali tidak menyadarinya. Tidak lama kemudian Ramon datang dan melihat semuanya.
Zein melihat Ramon yang sedang memberikan kode untuknya, tapi dia belum mengerti apa maksud Ramon. Akhirnya Ramon memegang kancing bajunya sendiri dan Zein baru sadar maksudnya. Ia segera mengancing bajunya tapi Alika sudah terlanjur melihatnya.
"Kau dalam masalah lagi bos!" Batin Ramon.
Monika mendelik tajam menatap Alika, mengingat video pertunangan Zein dengan Alika membuat hatinya sakit dan ingin memaki habis Alika.
"Heh, Alika! apa salahku padamu, hah? kau yang merebut Zein dariku, kenapa kau yang menamparku? Apa kau cemburu melihatku bersamanya? sampai kapanpun Zein tidak akan pernah mencintaimu. Aku tidak akan tinggal diam karena kau telah berani merebutnya dariku." Geram Monika.
"Heh, aku tidak pernah merebut siapapun darimu! apa kau sadar kau yang telah pergi meninggalkannya? wanita macam apa kau ini? kau begitu tega meninggalkan orang yang mencintaimu demi pria lain, sementara dia sedang sakit dan butuh perhatian. Aku rasa memang kau tidak pantas bersamanya. Kau lebih pantas bersama Sander di dalam penjara." Cecar Alika.
"Kau." Monika menunjuk wajah Alika dengan mata nyalang dan wajah memerah.
"Aku kenapa?" Alika menantang Monika dengan mendekatkan wajahnya sambil berkacak pinggang. Dia tidak merasa takut sedikitpun berhadapan dengan Monika. "Apa kau pikir aku takut padamu? Dengarkan aku baik-baik Monika, bagiku kau tidak lebih dari pecundang yang bersembunyi di ketiak Sander. Aku pastikan kalian berdua akan mendekam di penjara seumur hidup." Ancam Alika.
"Apa maksudmu?" Tanya Monika.
"Kau dan Sander yang membunuh Kakakku Alan dan kalian akan menanggung akibatnya." Tegas Alika.
Kau yang akan menanggung akibatnya karena telah memisahkan aku dan Zein. Aku pastikan akan membunuhmu sama seperti aku menyingkirkan Kakakmu." Ancam Monika.
"Aku yang lebih dulu membunuhmu jika itu kau lakukan." Sela Zein penuh kemenangan.
"Ayo kita pergi dari sini." Ajak Alika.
"Tunggu." Meriska langsung menghampiri Monikanl, dan...
Plak!
Satu tamparan Meriska layangkan di pipi Monika.
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏