Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Sandera


__ADS_3

Setelah kepergian Hendrik dan Belinda, Alika menemani Zein masuk ke dalam kamarnya. Alika mengambil obat dan air minum diatas nakas air kemudian menyuapi Zein.


Setelah itu, Alika keluar dari kamar Zein menuju kamarnya untuk istirahat.


Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Ramon sedang menunggu Zein di basement apartemen. Zein harus memastikan Alika sudah tidur terlebih dahulu sebelum ia keluar. Tidak lama kemudian Zein masuk ke dalam mobil.


Ramon segera melajukan mobilnya menuju ruang bawah tanah di salah satu rumah kosong milik Zein. Disana sudah ada Monika, Sander, orang yang menabrak Alan kejurang, dan orang suruhan Sander untuk menculik Alika. Mereka di tempatkan di ruangan yang berbeda-beda. Monika bahkan tidak mengetahui jika Sander juga di sandera oleh Zein di sana.


Saat mereka turun dari mobil, dua puluh orang anak buah Zein berbaris sambil menunduk menyambut kedatangan mereka. Zein dan Ramon hanya mengangguk sambil berjalan menuju ruangan Sander.


"Buka pintunya." Perintah Zein.


Anak buah Zein membuka pintu ruangan yang ukurannya hanya sepuluh kali sepuluh.


Sander memicingkan matanya menatap tajam mata Zein yang juga menatapnya dengan tatapan membunuh.


"Lepaskan ikatannya!" Perintah Zein.


Anak buah Zein langsung melepaskan tali yang mengikat kedua tangan Sander.


"Seharusnya kau sudah mati di tangan orang suruhanku Zein!" Geram Sander mendekati Zein dan langsung melayangkan bogemannya.


Dengan gerakan cepat Zein menghindar lalu memukul perut Sander dengan tangannya yang tidak sakit.


Bug!


"Kalau aku masih hidup kenapa?" Balas Zein.


"Aku akan memiliki Alika. Aku akan mendapatkannya sama seperti aku merebut Monika darimu."


"Nggak akan ku biarkan kau menyentuhnya! Kau sudah mendapatkan Monika, kenapa masih mengganggu Alika? dia calon istriku dan tidak akan kubiarkan orang lain memilikinya. Termasuk kau, bajingan!"


"Karena aku sudah bosan dengan Monika. Kau boleh kembali memilikinya. kali ini aku akan melepaskannya untukmu."


"Hehehe, sampai kapanpun aku tidak akan menerima sampah yang telah kau buang."


Zein terbiasa tidak terintimidasi, percakapannya dengan Sander tetap menjadikannya seorang yang dominan, tenang, datar dan dingin. Dia bahkan tidak terpengaruh dengan suara Sander yang sudah meninggi.


"Bukankah kau sangat mencintai Monika?"


"Aku memang mencintainya, tapi itu dulu. Sekarang dia tidak berarti apa-apa lagi bagiku. Kau dan Monika sama menjijikkan! Perbuatan kalian pada Alan tidak akan aku maafkan! Kenapa kau begitu tega membunuhnya, ha!?".

__ADS_1


"Karena dia mengetahui sesuatu yang aku rencanakan."


"Rencana untuk memanfaatkanku setelah menikahi Monika? mengambil alih semua milikku atas nama kalian? jangan bermimpi terlalu tinggi, aku bersumpah akan membawa kalian ke penjara."


Deg!


Sander tersentak tidak menyangka Zein telah mengetahui semuanya. Percuma saja dia membunuh Alan saat itu. Jika jadinya seperti ini, rencananya terbongkar sebelum mendapatkan keinginannya.


"Kenapa kau diam? apa kau kaget mendengarnya? Baiklah akan aku tunjukkan satu bukti yang akan membuatmu sadar siapa sebenarnya wanita yang sedang kau kejar."


Sander memicing, "Apa maksudmu?"


Zein melirik Ramon yang bersandar di dinding sambil menyilangkan kakinya. Kedua tangannya bersedekap terlipat di depan dada dengan santai memperhatikan mereka.


"Ramon, putarkan rekamannya." Perintah Zein.


Ramon mengambil ponselnya kemudian memutar rekamannya hingga Sander dapat mendengarnya dengan jelas.


"Alika!" Lirih Sander sambil mendengarkan suaranya dan Alika. Rahangnya mengeras, giginya saling bergesekan dan kedua tangannya mengepal.


"Pengecut! kau menjebakku? kau memanfaatkan Alika untuk mendapatkan rekaman itu?" Geram Sander setelah rekaman selesai dan Ramon menyimpan ponselnya di saku celana.


"Hahaha, untuk apa aku memanfaatkannya? Seandainya saja aku tau dia akan melakukan itu, aku orang pertama yang akan melarangnya."


"Tentu saja, karena dia adalah adik Alan yang telah kau bunuh, bajingan!"


Bug!


Zein kembali memukul perut Sander. Kali ini pukulannya lebih keras dari sebelumnya. Sander berusaha membalas tapi Zein tidak memberinya kesempatan untuk menyentuh dirinya.


Sander mulai lemah, tubuhnya terbentur di dinding hingga tersungkur.


"Hanya sebatas itu kemampuanmu? aku bahkan belum sembuh total tapi kau sudah kalah. Bagaimana jika aku tidak sakit? mungkin kau sudah tidak bernyawa di tanganku." Tegas Zein dengan wajah dinginnya. Mengintimidasi Sander penuh penekanan. Jika tidak mengingat perkataan Hendrik untuk membuat Sander menderita di dalam penjara, mungkin Zein benar-benar akan membunuhnya.


Sander hanya diam memegang perutnya yang terasa nyeri. Dalam hati mengumpat Zein yang menyiksanya tanpa ampun. Ini belum sebanding dengan apa yang telah ia lakukan pada Alan dan Zein.


Zein melihat jam tangan mewah di pergelangan tangannya. "Ayo Ramon, sekarang waktunya menyiksa Monika." Ujar Zein menyunggingkan senyum tipis diujung bibirnya.


"Apa yang akan kau lakukan pada Monika, ha?! jangan gila Zein! apa kau lupa jika kau sangat mencintainya?" Teriak Sander saat Zein dan Ramon menuju pintu.


"Siapa bilang aku masih mencintainya. Aku akan menyeretnya ke dalam penjara bersamamu. Bukankah kalian pasangan yang tak terpisahkan? di dalam penjara-pun kalian akan aku satukan!" Tegas Zein tanpa berbalik pada Sander.

__ADS_1


Zein segera keluar sebelum mendengar Sander berteriak kembali. Ia menuju ruangan Monika yang sedang duduk di lantai dengan tangan terikat tali dan mulut yang di balut dengan lakban agar Monika tidak berteriak.


"Buka semua ikatannya" Perintah Zein.


Anak buahnya membuka ikatan Monika. Monika segera berdiri memeluk Zein, tapi Zein tidak membalas, menaikkan tangannya yang sakit agar tidak tersentuh oleh Monika.


"Kau terluka Zein?" Tanya Monika memperhatikan telapak tangan Zein. Tangannya berusaha menggapainya namun lagi-lagi Zein menghindar.


"Jangan menyentuhku, kau tidak pantas untuk itu." Tegas Zein melepaskan tangan Monika.


Monika melepaskan pelukannya karena Zein tidak membalas.


"Zein kenapa kau berubah secepat ini?"


"Sudahlah, aku ke sini hanya untuk memastikan perasaanku, ternyata semuanya memang sudah hilang. Aku sudah tidak merasakan apa-apa lagi saat kau memelukku. Itu lebih baik karena sebentar lagi kau dan Sander akan aku kirim ke penjara." Jelas Zein.


"Tidak Zein, Aku mohon jangan lakukan itu padaku. Aku sangat mencintaimu, aku janji tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku akan berubah dan memperbaiki diri."


"Sudah terlambat." Tolak Zein.


Zein kembali melihat jam tangannya, sudah dua jam ia pergi takut jika Alika bangun dan mencarinya. "Ramon antar aku pulang, aku takut Alika bangun dan mencariku." Perintah Zein.


Monika memutar tubuh Zein yang sedang membelakanginya karena bicara dengan Ramon. "Apa maksudmu Zein?! kau dan Alika tinggal bersama? kenapa kau lakukan itu? kau tega!" Kesal Monika sambil memukul dada Zein. Pikirannya sudah kemana-mana membayangkan Zein dan Alika melakukan hubungan diatas tempat tidur sama seperti yang biasa dia lakukan bersama Sander.


"Kenapa aku tidak tega? kau juga tinggal bersama Sander di hotel? Alika calon istriku, dia yang merawat aku, jadi wajar jika kami tinggal bersama. Sedangkan kau.." Zein menunjuk wajah Monika, "Kau tinggal bersama Sander dengan satu alasan yaitu saling memuaskan, iya kan?" Zein menaikkan sebelah alisnya dengan mata memicing serta senyum tipis di ujung bibirnya.


"Zein!" Monika tidak terima.


"Ayo, Ramon. Setelah mengantarku, bawa mereka ke kantor polisi. Om Hendrik dan pengacaranya sudah dalam perjalanan kesana." Perintah Zein.


Mereka segera keluar, langkah kakinya tidak lagi bisa Monika hentikan. Kisah cintanya kini sudah berakhir. Semua kenangan bersama Monika ingin segera ia buang. Menyesal, itu pasti yang ia rasakan karena memberikan cintanya pada orang yang salah.


Ramon mengantar Zein pulang ke apartemennya. Setelah itu kembali mengurus Sander dan Monika.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2