Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Sudah Biasa


__ADS_3

"Wajah kamu biasa aja kali, nggak usah kaget begitu." Meriska masih kesal dengan sahabatnya ini. Gara-gara Alika tidur dengan Zein, ia juga terpaksa tidur dengan Ramon, dimana tadi pagi terjadi insiden yang sangat memalukan dan menurunkan harga diri Meriska dihadapan Ramon.


"Kenapa nggak? Kamu kan lagi berduaan dengan Zein."


Deg!


Alika terkejut mendengarnya. Ternyata Meriska tahu jika semalam dirinya bersama Zein di dalam kamar hotel.


"Pasti Ramon yang bilang kan?" Kesal Alika. Ia merasa malu karena kelakuannya diketahui oleh sahabatnya.


"Siapa lagi kalau buka dia. Gara-gara kamu, aku harus tidur satu kamar dengannya karena kamar di hotel ini sudah full." Kesal Meriska.


"Hahahaha..." Alika tertawa keras hingga sakit perut, "Kalian tidak melakukan apa-apa kan?" Tanya Alika setelah puas tertawa.


"Ya nggak lah! gw masih perawan ting-ting." Kesal Meriska sambil memukul paha Alika, "Yang aku ratusan malah kamu, kalian sudah melakukan itu semalam kan?" Ejek Meriska.


"Kepo! mau tau aja, atau tau banget?" Tanya Alika.


"Tau ah!" Kesal Meriska kemudian beranjak membuka isi kopernya.


...................


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Acara pertunanngan akan segera di mulai. Alika sudah siap dengan gaun warna gold dengan brukat dan hiasan berlian. Bagian belakang rambutnya dicepol keatas dengan hiasan jepitan berwarna gold.


"Kamu sangat cantik Alika." Puji Meriska karena pangling melihat kecantikan Alika.


"Makasih bestie, tapi sayang semua ini percuma karena hatiku tidak bahagia." Ujar Alika memasang wajah sedih.


"Jangan sedih dong..! aku yakin, semuanya akan berakhir dengan indah. Zein tidak akanengkin ngeluarin calon istrinya direbut orang. Eh, kamu tau nggak? tadi itu, aku mendengar Ramon bicara pada anak buahnya. Sepertinya mereka sedang merencanakan sesuatu deh, sesuatu yang akan membatalkan acara pertunanngan ini." Ujar Meriska sambil memperbaiki tatanan rambutnya.


Mua yang tadinya memake-up Alika sudah keluar dari kamar setelah mereka selesai mengerjakan pekerjaannya. Kini hanya tinggal Meriska dan Alika di dalam kamar menunggu panggilan dari Belinda. Tapi sampai sekarang Belinda belum juga memanggilnya, sedangkan acara akan dimulai tiga puluh menit lagi.


"Kok sampai sekarang kita nggak di panggil turun ke ballroom ya?" Tanya Meriska sambil melihat jam tangannya.


"Mana aku tau." Jawab Alika menaikkan kedua bahunya.


"Kamu tunggu sebentar disini ya? aku akan ke ballroom."

__ADS_1


"Mau ngapain?"


"Mau ngecek aja." Ujar Meriska kemudian segera keluar dari kamar Alika.


Meriska memasuki lift menuju ballroom, ia mengedarlan pandangannya ternyata keluarga Andrew belum datang. Meriska menghampiri Belinda yang sedang panik.


"Tante." Sapa Meriska.


"Meriska, Alika mana?" Tanya Belinda.


"Masih dikamar Tante." Jawab Meriska, "Kenapa acaranya belum dimulai?" Lanjut Meriska.


"Keluarga nak Andrew belum datang. Apa yang terjadi ya? seharusnya acara sudah dimulai." Cemas Belinda.


.....................


Di kamar lain, masih hotel yang sama.


Zein dan Ramon berdiri didepan pintu kamar Andrew. Setelah merasa aman dan keluarga Andrew sepertinya masih sibuk didalam kamar masing-masing, Ramon segera mengetuk pintu.


Tong.. tong.. ting.. tong..


"Kau!" Pekik Andrew saat membuka setengah pintu kamarnya. Ia baru saja bangun, bahkan sikat gigi juga belum sempat.


Zein langsung mendorong pintu kemudian masuk tanpa permisi. Duduk bersandar di sofa sambil menyampirkan tangannya kesamping sandaran.


Andrew mendengus kesal melihat Zein masuk tanpa permisi dan tidak memiliki sopan santun. Ia kemudian melipat kedua tangannya didada, bersandar di dinding karena tidak ingin duduk disofa.


"Bagaimana rasanya akan bertunangan? apa tidurmu nyenyak?" Tanya Zein, "Nggak usah dijawab pasti nyenyak bukan? Tidurku dan Alika juga nyenyak setelah kami melewati malam yang panjang." Lanjut Zein.


"Apa maksudku?"


Ramon mengambil ponselnya kemudian memperlihatkan CCTV hotel, Zein masuk kedalam kamar Alika setelah itu Alika ikut masuk. Entah apa yang terjadi didalam, tapi melihat Zein keluar saat pukul lima lewat tiga puluh menit. Itu artinya mereka melewati malam bersama.


"Brengsek!" Geram Andrew mengepalkan kedua tangannya kemudian menarik kerah baju Zein. Ia tidak percaya jika mereka melakukan hal diluar batas.


"Jangan marah, kami sudah biasa melakukannya. Mungkin saja benihku sudah tumbuh didalam perut Alika." Ujar Zein berbohong, "Kamu tau? Kami bahkan pernah tinggal satu apartemen selama dua bulan. Dan kamu pasti tau dong! apa yang pria dan wanita dewasa lakukan jika hanya berdua? kalau kamu tidak percaya, Tanya aja pada om Hendrik. Bahkan mereka sendiri yang mengusulkan kami tinggal bersama." Jelas Zein sambil melepaskan tangan Andrew secara kasar.

__ADS_1


Andrew mundur dan tertegun mendengar penuturan Zein. Ia tidak menyangka jika ternyata hubungan mereka sudah seperti suami istri.


"Bohong! kau pasti berbohong agar aku membatalkan pertunangan ini, hah?!" Bentak Andrew.


"Aku tidak memaksamu untuk percaya, tapi aku rasa sebagai dokter yang terhormat, kamu bisa berpikir dengan jernih. Sampai kapanpun Alika tidak akan pernah mencintai orang lain. Oiya.. aku lupa," Zein berbalik pada Ramon, Ramon berikan padanya." Pinta Zein.


Ramon memperlihatkan foto Andrew dengan pacarnya di depan kamar Hotel. Seorang gadis yang selalu menarik perhatiannya, namun sangat sulit ia dapatkan restu dari kedua orangtuanya karena gadis itu tidak sederajat dengannya.


"Bagaimana jika kedua orang tuamu melihat ini?"


"Brengsek! dari mana kalian dapatkan ini?" Geram Andrew. Ia tidak ingin menyakiti hati gadis itu. Gadis polos yang tergoda dengan pesona seorang dokter tampan seperti Andrew.


"Tidak penting aku mendapatkannya dari mana. Dia sudah tahu jika hari ini kamu akan bertunangan. Jika kamu tidak ingin mempermalukan keluarga besarmu, maka kau harus menuruti perintahku." Jelas Zein dengan datar.


"Kau mengancamku?"


"Anggap saja begitu."


"Brengsek! kau menggunakan dia untuk mengancamku?" Bentak Andrew.


"Apa kau pikir aku akan diam saja? kau akan menjadikan Alika tunanganmu sementara kau masih memiliki wanita lain diluar sana?" Sentak Zein tidak kalah keras suaranya dengan Andrew.


Andrew diam.


"Aku berikan dua pilihan! tidak datang ke acara itu, atau kau akan kehilangan gadis ini." Ancam Zein.


"Apa yang akan kau lakukan padanya?" Teriak Andrew.


"Yang pastinya kau akan kehilangan dia untuk selama-lamanya."


Andrew bergeming, memikirkan ancaman Zein. Ini pilihan yang sangat sulit baginya. Jika dia tidak datang, maka keluarganya akan malu, tapi jika dia datang, maka ia akan kehilangan gadis yang selalu bersamanya. Andrew memang tidak pernah bilang mencintai gadis itu, tetapi ia juga tidak bisa kehilangannya. Benar-benar laki-laki egois bukan? dia ingin Alika tapi tidak ingin melepaskan gadis yang ada difoto itu.


.


.


Bersambung.....

__ADS_1


Semua keluarga tampak sibuk dengan persiapan pertunangan Andrew dan


Sementara di tempat lain. Keluarga Zein sudah datang, Hutama, Prayoga, Feronica, Zaskia.


__ADS_2