Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kekesalan


__ADS_3

Meriska mendengus kesal menekuk wajahnya. Dengan terpaksa meriska turun dari mobilnya sendiri.. Ramon dengan tidak tahu malunya seenaknya saja mengatur seolah mobil itu miliknya.


Prakkkk!


Meriska membanting pintu mobil membuat Ramon terkekeh melihat wajah kesal Meriska yang sangat lucu dimatanya. "Untung dia bukan pacarku, ihh...." Ujar Ramon bergidik ngeri.


Ramon masih di tempatnya menunggu beberapa menit hingga Meriska masuk ke dalam lift. Merasa Meriska sudah aman, Ramon pun melajukan mobil Meriska menuju apartemen miliknya.


.....


Ditempat lain, waktu sudah menunjukkan pukul empat pagi. Zein ngotot mengantar Alika hingga di depan pintu rumah meski Alika sudah berkali-kali melarangnya.


"Zein sebaiknya kamu pulang deh! aku takut Papa belum tidur dan mengusir kamu dari sini."


"Tidak sayang, aku tidak mau kejadian kemarin terulang kembali. Aku harus memastikanmu masuk dengan selamat baru aku pulang."


Zein tetap kekeh dengan pendiriannya. Ia tidak mau lagi kejadian buruk menimpa Alika.


Alika menekan bel agar ART membuka pintu rumah, namun ternyata Hendrik sendiri yang sedang menunggunya di ruang tamu. Dalam hati Alika berdoa mudah-mudahan Papa dan Mamanya sudah tertidur.


Ting.. tong.. ting.. tong..


Hendrik membuka pintu rumah. Saat melihat Alika kembali ke rumah dengan selamat, ia tersenyum kemudian memeluk putrinya. Tapi senyum itu tidak bertahan lama saat melihat Zein berdiri di belakang Alika. Matanya langsung melotot menatap tajam wajah Zein. Hendrik segera melepaskan pelukannya kemudian mengusir Zein dari rumahnya.


"Ngapain kamu masih disini? sana pulang." Bentak Hendrik.


Zein menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Tadinya dia sangat berharap Hendrik akan melunak jika dia membawa Alika pulang dihadapannya, tapi kenyataan tidak seindah impiannya, lagi-lagi dia diusir oleh Hendrik.


"Baiklah calon mertua, aku hanya memastikan Alika pulang dengan selamat." Ujar Zein kemudian segera berbalik menuju mobilnya.


Alika melongo mendengar ucapan Zein.


"Kenapa bengong? ayo masuk!"


Hendrik berbalik lebih dulu masuk ke dalam rumah. Sedangkan Alika masih bergeming menjernihkan pikirannya. "Aku nggak salah denger kan? Zein hilang calon mertua? berani sekali dia." Monolog Alika.


"Ngapain masih diluar?"


Suara Hendrik yang sudah berada di ruang tamu kembali membuatnya tersentak. Alika segera berjalan masuk kedalam rumah kemudian mengunci pintu.


"Pah aku istirahat ya.." Pamit Alika kemudian segera berlalu dari hadapan Hendrik.


"Hm." Jawab Hendrik sambil melihat punggung putrinya yang semakin menjauh.


Alika menuju kamarnya di lantai dua, menaiki anak tangga satu persatu masih dengan pikirannya yang kosong.


Saat di dalam kamar ia langsung menuju kamar mandi. Alika menyalakan keran air untuk mengisi bathtub kemudian mengisi sabun aroma terapi yang membuat pikiran jadi relaks. Alika membuka pakaiannya kemudian masuk ke dalam bathtub, ia menutup mata sambil menikmati aroma terapi dari wangi sabun yang benar-benar membuat pikirannya tenang. Untuk sejenak ia melupakan masalah hubungannya dengan Zein yang belum mendapatkan restu dari orang tuanya.


Setelah satu jam di dalam kamar mandi, Alika keluar kemudian memakai baju tidurnya. Baju tidur yang tipis berbahan satin berwarna peach sebatas lutut dan leher membentuk huruf v. Alika membaringkan tubuhnya menatap langit-langit, seketika perlakuan Dirga padanya mengganggu pikirannya.


"Kenapa kamu tega Dirga, setelah apa yang ku lakukan padamu, kau menghianatiku dan sekarang kau memaksaku kembali." Gumamnya.


Drrtt...


Suara getar ponselnya di atas nakas menyadarkannya dari lamunan. Raut wajahnya berubah saat melihat nama yang tertera dilayar ponselnya 'Zein menyebalkan'. Alika tersenyum menyadari julukan yang ia berikan pada Zein.


"Halo." Jawab Alika setelah melihat wajah Zein yang segar dengan rambut basah. Sepertinya Zein juga baru mandi.


"Sayang, kamu belum tidur?" Tanya Zein memperhatikan Alika di layar ponselnya.

__ADS_1


"Belum."


"Kenapa belum tidur? ini sudah hampir pagi."


"Bagaimana mau tidur kalau kamu telpon?"


"Hehehe... ia juga ya? Aku merindukanmu."


"Aku juga."


Alika mengubah posisi tidurnya miring kemudian meletakkan ponselnya di bantal sebagai sandaran.


"Kamu habis mandi ya? wanginya sampai di sini."


"Bisa aja kamu."


"Cantik."


"Gombal."


"Dan indah." Puji Zein dengan wajah yang memerah.


"Apanya yang indah? kenapa wajahmu memerah, kamu sakit Zein?"


"Kamu yang indah sayang.. aku juga tidak sakit."


"Ohh.. Syukurlah, tapi wajahmu beneran merah Zein. Coba kamu pegang mungkin kamu demam."


"Mana bisa aku pegang? tanganku tidak sampai sayang."


"Pegang dulu, panas atau tidak?"


"Nggak, nanti kamu marah kalau aku pegang."


"Kamu tidak sedang menggodaku kan, dengan mengubah posisi tidur seperti itu?"


"Siapa yang menggodamu, aku capek memegang ponselnya."


"Oh, aku pikir kamu sengaja, tapi aku suka melihatnya."


"Maksudnya?!"


"Tuh.." Zein menunjuk layar ponselnya.


Melihat Zein menunjuk sesuatu membuatnya memperhatikan dirinya sendiri.


"A.... Zein kamu mesum!" Teriak Alika sambil meremas bajunya menutupi dada.


Pantas saja wajah Zein memerah sejak tadi. Matanya berbinar melihat sesuatu yang seolah menantangnya. Apalagi Alika menyuruh memegangnya. Zein semakin terbakar gairah.


"Hahaha.. Kenapa ditutup sayang? aku suka melihatnya, kamu seksi." Goda Zein.


"Dasar mesum!"


Tut.. tut.. tut...


Alika memutuskan sambungan telepon begitu saja. Kini wajah Alika yang memerah seperti buah cerry karena malu. Mengingat bagaimana Zein menatapnya sejak tadi membuatnya ingin segera berlari dan bersembunyi.


"Alika... Alika.. yah ditutup." Panggil Zein di balik telepon.

__ADS_1


Belum puas melihat wajah Alika yang memerah, Zein kembali mengetik pesan di ponselnya kemudian mengirimnya pada Alika. '[Sayang... kenapa ditutup telponnya, aku belum memegangnya..]'


"Aaaa...." Teriak Alika kembali melempar ponselnya ke kasur, ia kemudian menutup wajahnya dengan bantal dan selimut. "Malu.. malu.. aku benci kamu Zein." Kesal Alika.


Sementara di kamar lain Zein begitu puas mengerjai Alika.


"Hahaha... Wajahnya pasti makin memerah." Tebak Zein kemudian mengambil bantal sebagai sandaran kepala. Sekali lagi ia geleng-geleng kepala menatap langit-langit mengingat bagaimana ekspresi wajah Alika saat itu. "Sungguh menggemaskan." Gumamnya.


...........


Pagi yang cerah menyapa seluruh kota, tapi itu tidak berlaku bagi Zein dan Alika, mereka baru saja tidur dan tidak sempat sarapan. Bahkan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan tapi mereka masih berada di alam mimpi.


Hari ini akan ada meeting di kantor Alika. Beberapa minggu lalu Zein meminta Ramon untuk bekerja sama dengan perusahaan Alika. Bukan dengan tujuan mencari untung tapi hanya untuk tetap berada di dekat calon istrinya. Semenjak pertunangannya diputuskan dengan Hendrik, ia lebih posesif menjaga Alika dan tidak ingin memberikan kesempatan pada pria lain untuk mendekati istrinya.


Meriska sudah dikantor mempersiapkan bahan meeting sambil menunggu kedatangan Alika, tapi bosnya belum juga muncul.


"Alika mana sih, ini sudah jam berapa? sebentar lagi meeting." Kesal Meriska. Dia sudah coba menghubungi Alika namun ponselnya tidak aktif.


Meriska menuju ruang meeting, menurutnya menunggu Alika lebih baik sambil melihat siapa saja yang sudah hadir disana.


Saat didalam ruangan, Meriska duduk di samping Ramon. Mereka baru berdua didalam. Ia melirik Ramon yang sudah lebih dulu duduk di sana dengan wajahnya juga panik sambil mencoba menelpon seseorang. Kali ini penampilannya lebih keren dari biasanya, wajahnya yang cukup tampan serta berwibawa dapat menarik lawan jenisnya dengan mudah. Hanya saja Ia sangat cuek seakan tidak perduli dengan wanita yang mendekatinya. Menurutnya wanita sangat merepotkan dan terlalu menuntut.


Sadar dirinya diperhatikan oleh Meriska. Ramon memperbaiki dasinya kemudian membalas lirikan Meriska.


"Khemm!"


Dehaman Ramon membuat Meriska salah tingkah dan memalingkan wajahnya.


"Kamu nggak usah lirik saya terus, aku memang tampan, jika kamu suka tembak aja langsung."


Meriska langsung mendelik tajam. "Ihh.. narsis!" Cibir Meriska kemudian segera memalingkan wajahnya fokus membuka berkas yang akan dia presentasikan.


"Dasar gadis galak!" Gumam Ramon.


"Apa kamu bilang?" Meriska menatap Ramon dengan mata melotot, kali ini dengan ekspresi mata lebih tajam bagai seekor singa yang siap memakan mangsanya.


"Tidak, tidak ngomong apa-apa, suwerr.." Elak Ramon menggelengkan kepalanya lalu menaikkan angka dua jari.


"Terserah kamu lah.. aku tidak mau berdebat denganmu. Ini masih pagi, buang-buang tenaga tau." Pasrah Meriska.


"Bosmu mana? kenapa hanya sendiri?" Tanya Ramon.


"Nggak tau, aku sudah hubungi berkali-kali tapi ponselnya tidak aktif. Kamu sendiri, bosmu mana?" Meriska balik bertanya.


"Sama, lose contact." Jawab Ramon kemudian berpikir.


"Apa jangan-jangan mereka..." Serentak keduanya dengan mata melotot dengan pikiran masing-masing.


"Jangan-jangan mereka apa?"


Deg!


Jantung keduanya berdetak dengan kencang karena gugup. Suara yang sangat familiar tiba-tiba terdengar ditelinga mereka.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!


__ADS_2