
"Aku belum bisa membuka hati untuk orang lain. Kita liat aja nanti, apakah Zein dapat menyembuhkan luka di hatiku." Lirih Alika.
"Zein pasti bisa, Aku yakin Dia Pria yang baik. Aku nggak mungkin salah menilai orang." Ujar Meriska.
"Kamu menyendir Aku? maksudnya Aku salah menilai Dirga?" Kesal Alika.
Dari awal Alika pacaran dengan Dirga, Meriska sudah tidak menyukai Dirga. Menurutnya tipe cowok kayak Dirga gampang tertarik dengan wanita.
Sebelum pacaran dengan Alika, Dirga memiliki banyak pacar dan langsung memutuskan pacarnya setelah bertemu dengan Alika. Dirga terus mengejar cinta Alika dengan cara yang lembut dan romantis. Tapi menurut Meriska cara Dirga terlalu berlebihan.
"Ah, sudahlah! emang itu kenyataannya kan? Lupain Dirga, dari dulu Dia memang cowok yang nggak bener." Balas Meriska.
"Nggak usah di ingetin, Aku juga tau. Harusnya kamu itu hibur Aku yang lagi patah hati, bukannya mengingatkan kesalahan Aku." Kesal Alika.
"Ya maaf. Aku akan urus semua masalah Dirga di kantor. Kamu fokus aja dengan Zein. Sekarang kita kemana nih? Mau pulang atau kemana?" Tanya Meriska.
Cekling! cekling!
Suara pesan masuk di ponsel canggih Alika. Alika mengambil ponselnya dari dalam tas lalu melihatnya.
"Dari siapa?" Tanya Meriska.
"Asisten Monika, mereka mengajak kita untuk bertemu. Mereka setuju dengan kontrak kerja sama yang kita ajukan." Jelas Alika.
Alika kembali membalas pesan Nura asisten Monika. Setelah beberapa menit saling membalas pesan, Alika kembali menyimpan ponselnya.
"Kita temui Monika yuk! kebetulan dia ada di kota ini." Ajak Alika.
"Monika? bukannya Dia masih di luar negeri?" Tanya Meriska.
"Dia baru beberapa hari di kota ini. Dari pada menunggu Dia datang ke Milan. Lebih baik kita selesaikan kontrak kerjanya lebih dulu, agar pekerjaan kita cepat beres," Jelas Alika, "Gimana?" Tanya Alika
"Nggak masalah, Aku juga bawa laptop jadi bisa kita selesaikan kontraknya." Jawab Meriska.
"Kalau begitu, ayo! tunggu apalagi?" Semangat Alika.
"Ah, Kamu mengacaukan waktu liburan." Keluh Meriska.
"Hehehe, ini demi kemajuan perusahaan. Nggak boleh ngeluh mumpung ada kesempatan. Setelah mereka tanda tangan kontrak, buat jadwal pemotretannya. Setelah itu kamu hanya menunggu kedatangan mereka di Milan. Selesai deh!" Semangat Alika.
"Kamu ini! paling cepat kalau masalah uang. Sudah lupa ya kalau lagi sakit hati?" Ejek Meriska.
__ADS_1
"Lupakan dulu masalah sakit hati, lebih baik urus uang yang bisa menghidupkan cacing di perut kita." Balas Alika.
"Kamu sudah ijin Zein untuk pergi nggak." Tanya Meriska.
Alika menggelengkan kepalanya.
"Kamu ini gimana sih! Kamu harus ijin Zein sebelum pergi. Gimana kalau dia cariin kamu?" Tanya Meriska.
"Mau ijin bagaimana? Aku nggak punya nomor ponselnya." Jawab Alika.
"Kalian benar-benar pasangan yang aneh! kalian ini sudah tunangan, masa nomor telpon aja nggak punya." Kesal Meriska.
"Masa Aku yang minta nomor ponselnya lebih dulu, bisa kegeeran Dia. Sudah! ayo kita berangkat." Ketus Alika langsung berdiri dan menarik tangan Meriska.
"Kemana?" Tanya Meriska.
"Kehotel tempat Monika nginap. Nura dan Monika sudah menunggu kita di sana." Jawab Alika.
Mereka segera keluar dari Restoran. Alika dan Meriska naik taksi menuju hotel. Setelah dua puluh menit, taksi yang mereka tumpangi akhirnya tiba di hotel.
Alika dan Meriska segera turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam hotel. Meriska pun menekan tombol naik yang ada di sebelah kanan lift. Tidak lama kemudian, lift terbuka lalu mereka berdua aqmasuk ke dalam. Meriska menekan lantai 15 menuju kamar Monika.
Ting tong! ting tong!
Nura membuka pintu dan mempersilahkan mereka masuk. Kamar yang ditempati Monika adalah president suite room. Sehingga mereka dapat melakukan meeting di sofa yang cukup besar.
Mereka saling bersalaman dan menempelkan pipi kiri dan kanan lalu bersamaan duduk di sofa. Tidak lama kemudian Monika keluar dari kamar bersama Sander.
Alika dan Meriska saling melirik. Sudah dapat mereka tebak, apa yang baru saja mereka lakukan di dalam. Tapi mereka tidak mau mencampuri urusan orang lain. Alika dan Monika berdiri sambil tersenyum menyambut kedatangan Monika dan Sander. Setelah berjabat tangan mereka kembali duduk dan mulai meeting.
"Maaf, memanggil Anda ke sini. Monika ada pemotretan satu jam lagi, jadi kami tidak memiliki waktu untuk bertemu diluar." Ujar Nura.
"Nggak masalah, kebetulan restoran tempat kami makan nggak terlalu jauh dari sini." Balas Alika tersenyum manis.
"Oke, lebih baik kita mulai sekarang, biar nggak terlalu lama." Sela Meriska sambil membuka laptopnya.
Meriska memulai meeting memperlihatkan produk yang akan mereka pasarkan. Setelah itu Meriska dan Alika bergantian menjelaskan apa saja yang harus Monika lakukan selama terikat kontrak dengan perusahaan Alika. Meriska juga menjelaskan hak apa saja yang di dapatkan Monika selama bekerja sama dengannya.
Monika dan Nura mengangguk tanda mengerti. Ia sangat tertarik dengan penawaran yang Meriska dan Alika ajukan. Selain mendapatkan uang dari hasil penjualan dan kontrak, Monika juga mendapatkan fasilitas berupa apartemen yang akan mereka tempati di Milan dan juga mobil.
"Jika ada pertanyaan masalah kontrak, silahkan di tanyakan sekarang." Ujar Meriska mengakhiri meetingnya.
__ADS_1
Mata Sander tidak berhenti menatap Alika. Wajah cantik alami yang Alika miliki sangat berbeda dengan Monika. Sander juga kagum dengan kepintaran Alika yang sesekali membantu Meriska menjelaskan. Bahkan Sander tidak menyadari jika Monika melihatnya menatap Alika. Kecantikan Monika dulu juga sangat alami. Tapi setelah menjadi model, ada beberapa bagian wajahnya yang telah dia operasi untuk mendapatkan kecantikan yang sempurna, seperti bibir dan hidung.
"Gadis yang sempurna, cantik, smart, alami, dan hebat karena memiliki perusahaan sendiri di usia yang masih muda. Bagaimana ya rasanya jika Dia jadi milikku." Batin Sander. Ia semakin penasaran dengan sosok Alika. Banyak pertanyaan yang ada di benaknya.
"Kamu kenapa melamun?" Tanya Monika sambil menepuk paha Sander.
"Tidak sayang, Aku hanya ikut mendengar penjelasan mereka." Jawab Sander mengelak.
"Cuma itu? tidak berniat macam-macam kan?" Selidik Monika penuh curiga.
"Nggak dong sayang." Jawab Sander lalu mencium tangan Monika didepan mereka.
Alika mengumpat dalam hati. Bisa-bisanya Monika dan Sander memperlihatkan kemesraan di depannya yang lagi patah hati.
"Sepertinya tidak ada masalah, kami setuju dengan surat kontrak kerjanya." Ujar Monika.
"Baiklah, Aku sudah mengirim surat kontaknya di email Nura. Jika Anda sudah tanda tangan, kami akan segera menyiapkan perlengkapan pemotretannya di Milan." Jelas Meriska.
"Oke, senang bekerja sama dengan perusahaan Anda Nona Alika." Ujar Nura.
"Kami juga sangat senang, terimakasih." Jawab Alika.
Mereka kemudian saling berjabat tangan. Begitupun dengan Sander, tapi saat memegang tangan Alika, Sander mentapnya matanya dan tidak ingin melepasnya.
"Kami pamit, Permisi." Ujar Meriska agar Sander segera sadari dengan apa yang ia lakukan.
Meriska dan Alika segera keluar dari kamar setelah berpamitan. Mereka masuk ke dalam lift lalu keluar di lobi.
.....
"Kamu kenapa sih liatin Alika terus? Apa kamu suka dengannya?" Tanya Monika dengan ketus.
"Tidak sayang, Aku hanya kagum dengan kepintannya. Hanya sebatas itu." Jawab Sander.
"Bener hanya itu?" Tanya Monika memastikan.
"Iya sayang..! masa Aku suka dengannya. Kan sudah ada kamu di hatiku." Goda Sander sambil mengedipkan sebelah matanya.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....