Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Pergi Untuk Kembali


__ADS_3

Dirga buru-buru keluar dari ruangannya. Saat melewati kursi kerja Vanesa, Vanesa menghentikan langkah kakinya.


"Pak Dirga, bapak mau kemana? sebentar lagi ada meeting di restoran Osteria dengan klien dari Singapura." Ujar Vanesa.


"Apa meetingnya bisa di undur? aku ada urusan yang lebih penting." Kesal Dirga.


"Maaf Pak, sepertinya tidak bisa karena mereka akan kembali ke negaranya setelah meeting." Jawab Vanesa.


Dirga menghela napas kasar. Ia harus menunda bertemu dengan Alika.


"Baiklah, ayo berangkat sekarang."


"Sekarang?" Tanya Vanesa heran.


"Iya, kapan lagi? kalo bisa majukan meetingnya sekarang juga." Perintah Dirga.


Dirga langsung keluar dari perusahaan bersama Vanesa, Ia masuk ke dalam mobilnya lalu menuju restoran Osteria. Ia menunggu klien datang selama tiga puluh menit sambil memesan makanan untuknya dan Vanesa. Selama kembali dari Roma, hubungan keduanya menjadi renggang akibat pertengkaran di hotel.


Saat mereka selesai makan, Klienpun datang dan mereka memulai meeting.


Setelah dua jam, meeting mereka selesai. Dirga langsung ke perusahaan Alika, sedangkan Vanesa kembali ke kantor dengan mengendarai taksi.


Setelah tiga puluh menit, Dirga tiba di perusahaan, Ia memarkirkan mobilnya lalu masuk ke dalam menuju ruangan Alika. Di perusahaan milik Alika semua karyawan mengenal dirinya sebagai kekasih dari Alika. Ia tidak perlu meminta ijin siapapun jika ingin ke ruangan Alika termasuk Meriska.


Meriska yang melihat Dirga melintasi ruangannya yang hanya berdinding kaca tersenyum mengejek. Sudah dapat ia pastikan jika Alika dan Dirga akan berdebat hebat didalam melihat wajah Dirga yang memerah karena emosi.


Tok, tok, tok!


Dirga mengetuk pintu lalu masuk ke dalam sebelum Alika mempersilahkannya masuk.


"Alika! apa maksud semua ini?" Bentak Dirga.


Dirga membanting dokumen yang ia pegang diatas meja, membuat Alika tersentak mengangkat kepalanya menatap wajah Dirga.


Alika mencibir menatap wajah Dirga yang sedang marah. Ia menyadarkan bahunya di kursi kebesarannya. Memainkan pulpen mahal yang ia pegang dengan santai. Dia harus tenang menghadapi sikap Dirga.

__ADS_1


"Kenapa? apa kamu nggak terima?" Ejek Alika.


"Tentu saja!" Kesal Dirga.


"Aku rasa itu sudah sangat jelas Tuan Dirga! Saya tidak ingin melanjutkan kerja sama dengan perusahaan yang Anda pimpin. Beberapa hari lagi kontrak akan berakhir, dan secara otomatis semua proyek yang kita kerjakan bersama juga sudah selesai. Untuk proyek yang baru, saya tidak bisa lagi menyerahkannya pada Anda." Jelas Alika.


"Alika, aku tahu kamu marah padaku. Jangan mencampur adukkan masalah pribadi dengan bisnis. Bisakah kamu bekerja secara profesional?" Bujuk Dirga.


"Menurutku aku sudah profesional, dulu aku bekerja sama denganmu karena kita memiliki hubungan, jika tidak! mungkin aku sudah bekerja sama dengan perusahaan lain." Sergah Alika.


"Sayang...! jangan melakukan ini, aku janji tidak akan mengecewakan kamu lagi. Berikan aku kesempatan memperbaikinya kesalahanku." Bujuk Dirga.


Ia berdiri di samping kursi lalu menggenggam tangan Alika.


Alika menggeleng. "Tidak Dirga, aku tidak bisa. Bagiku sekarang kita bukan siapa-siapa lagi. Aku sudah tidak ingin berhubungan denganmu apa lagi berbisnis denganmu. Pacaran saja kamu bisa menghianatiku, bagaimana mungkin dalam berbisnis aku dapat mempercayai mu." Tolak Alika menarik tangannya


Dirga menahan tangan Alika dalam genggamannya. "Sayang..! aku mohon Aku tidak ingin kita putus dan memutuskan kerjasama kita. Katakan apa yang harus aku lakukan agar kamu berubah pikiran." Melas Dirga.


"Kamu nggak perlu melakukan apapun, karena aku tidak akan merubah keputusan ku." Tegas Alika.


"Hehehe, kamu bilang aku mimpi? tapi itu kenyataannya Dirga. Ah, percuma saja aku menjelaskannya padamu. Sampai kapanpun kamu nggak akan percaya. Sekarang tanda tangani berkas itu, setelahnya kita tidak ada urusan lagi!"


Alika menunjuk kertas di atas mejanya.


"Jangan memaksaku, sampai kapanpun aku tidak akan tanda tangan."


"Baiklah, terserah kamu saja. Tapi setelah ini aku tidak ingin kau dan Vanesa menginjakkan kaki di perusahaan ini lagi. Silahkan keluar dari ruanganku! aku masih banyak kerjaan." Tegas Alika.


"Kau berani mengusirku, Alika? Apa sudah tidak ada sedikitpun rasa cinta yang tersisa di hatimu? Dua tahun kita bersama apa itu tidak berarti apa-apa untukmu? kenapa kau begitu tega? manusia melakukan kesalahan itu wajar. Aku akui kesalahanku, dan aku juga menyesal. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak melakukannya lagi. Aku janji akan melakukan apapun untuk membahagiakan kamu. Apa itu semua belum cukup?" Ungkap Dirga.


"Sudah selesai dramanya? Sudah berapa lama kau menyusun kata-kata seperti itu. Ah, aku lupa jika kamu memang pandai bersilat lidah. Manis di depan ternyata beracun dan mematikan! aku tidak tahu ada berapa banyak kebohongan yang telah kau lakukan."


"Aku tidak seperti itu Alika!"


"Ternyata selama dua tahun kita tidak mengenal dengan baik Dirga. Jangan memutar balikkan keadaan. Seharusnya kamu sadar diri, jika kamu yang membuat aku seperti ini. Kamu yang tidak menganggapku ada karena selingkuh di belakangku. Sekarang aku memberimu kebebasan, lakukan apapun yang ingin kau lakukan di luar sana. Masih banyak Vanesa yang lain yang kau butuhkan, tapi tidak dengan aku. Jujur aku masih mencintaimu tapi kita sudah tidak mungkin bersama. Aku tidak akan memungut sampah yang sudah aku buang." Jelas Alika.

__ADS_1


"Kamu mengatakan aku sampah?" Geram Dirga.


"Tentu saja. Siapa lagi yang ada di ruangan ini selain kamu." Kesal Alika.


Dirga mengepalkan kedua tangannya. Ucapan Alika sangat melukai hatinya.


Alika menekan intercom yang tersambung ke tempat security. Lalu memanggil mereka untuk mengusir Dirga keluar dari ruangannya.


"Oke, sekarang aku pergi, tapi aku akan kembali. Suatu saat nanti kita pasti bertemu Alika, Aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu kembali, dan pada saat itu kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menjadi milikku." Ancam Dirga.


"Kau tidak akan sanggup melakukan apapun padaku Dirga, kau pria paling brengsek yang pernah aku temui. Rasa hormat dan kasih sayangku padamu sudah hilang semenjak aku melihatmu bersama Vanesa. Aku sangat membencimu. Bahkan rasa benciku sekarang ini jauh lebih besar dari pada rasa cintaku. Dasar penghianat!" Balas Alika.


Dirga keluar dari ruanga Alika dengan wajah kesal dan langkah lebar.


Pakk!


Dirga membanting pintu ruangan Alika dengan keras membuat karyawan yang lain tersentak kaget termasuk Meriska.


"Hahhh, sepertinya aku harus bekerja keras untuk menghibur Alika, mereka pasti habis berantem. Tapi itu lebih baik dari pada berhubungan dengan Dirga. Aku harus segera melihat keadaannya." Gumam Meriska lalu beranjak dari kursinya.


Setelah kepergian Dirga, Alika menghela napas berat, tak terasa air matanya kembali berlinang. Sakit hatinya tidak akan pernah usai selama Dirga berada di sekelilingnya.


Tidak lama kemudian, Meriska mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan Alika. Dengan langkah perlahan-lahan ia mendekati Alika tang sedang menunduk dengan bahu yang bergetar. Meriska dapat mendengar dengan jelas suara tangis Alika.


"Kamu baik-baik saja?" Tanya Meriska sambil membelai lembut rambut Alika.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2