Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Pencarian


__ADS_3

Virda tersentak, seketika matanya terbuka mencari Alika. Wajahnya menjadi pucat seakan tidak ada lagi aliran darah disana. "Alika! kamu dimana? jangan membuatku panik." Panggi Virda berlari kecil mengelilingi sekitarnya tapi Alika tetap tidak kelihatan.


Virda melihat seorang perempuan memakai jaket dan topi dengan masker di wajahnya sedang berlari. Menoleh ke belakang sebentar kemudian kembali berlari lebih kencang.


"Hei tunggu! Siapa kamu, dimana Alika?" Virda berlari dan terus mengejarnya hingga wanita itu menghilang karena kecepatan larinya melebihi Virda.


Virda kembali ke tepi bukit mencari Alika tapi ia tidak menemukannya, ia hanya menemukan gelang dan bekas kaki yang terseret di pinggir bukit.


"Alika! Alika!" Teriak Virda panik, semakin lama semakin mengencangkan suaranya sambil melihat kebawah. Aliran sungai tetap tenang, tidak ada tanda-tanda jika Alika di sana. "Astaga... apa mungkin Alika jatuh di bawah sana? tidak! apa yang harus aku katakan pada Tuan Zein dan Tuan Hutama." Monolog Virda, ia menutup mulutnya tidak percaya sambil menggelengkan kepalanya.


Air mata Virda mulai menetes, merasa bersalah karena telah mengajak Alika ke bukit. Ia segera berlari menuju rumah Hutama. Mengetuk pintu dengan tergesa-gesa dan disambut oleh pelayan.


"Virda, ada apa? kenapa kamu keringatan?" Tanya Lala, salah satu ART di rumah Hutama yang juga mengenal Virda.


"Tolong panggilan Tuan Zein, bilang ini tentang Nona Alika. Cepatlah! ini sangat penting."


Virda menarik napas, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi rongga di paru-parunya. Tangannya gemetar dan wajahnya pucat. Perasaannya sangat takut untuk menyampaikan kabar ini, tapi itu harus dia lakukan.


Zein keluar menemui Virda yang masih gemetar. Terdiam untuk sejenak memperhatikan gadis yang sedang menggulung ujung bajunya dengan wajah dipenuhi air mata.


"Siapa kamu?" Tanya Zein menautkan kedua keningnya.


Suara bariton Zein begitu merdu mengalun di telinga Virda. Baru kali ini dia berbicara dan memandang wajah Zein dengan dekat. Virda Tidak berani mengangkat kepala terlalu lama, kembali menunduk sambil berpikir harus memulai dari mana.


"I..itu Tuan Zein." Ujar Virda dengan gugup.


"Itu apa? kalau ngomong yang jelas. Alika mana? jangan mencari alasan untuk bertemu denganku, aku sedang sibuk!" Tegas Zein dengan wajah datar dan dinginnya. Ia mengira jika gadis yang ada di hadapannya hanya mencari alasan untuk bertemu dengannya. Tapi setelah memeriksa kamar Alika, ternyata Alika memang tidak ada disana. Ia mulai khawatir, maka dari itu ia memutuskan untuk menemui gadis yang sedang mencarinya di luar.


"Mmm..itu..anu.." Virda masih gugup, tidak bisa menghilangkan rasa takutnya.


"Cepat ngomong, aku tidak punya banyak waktu." Bentak Zein mulai menaikkan nada bicaranya.


"Nona Alika menghilang di tepi bukit, kemungkinan besar dia jatuh di jurang." Ungkap Virda dengan menahan napas. Rasanya tidak dapat menghirup oksigen dengan baik saat melihat wajah Zein yang memerah.


"Apa? jangan bercanda, tidak mungkin! tunggu sebentar."


Zein tidak percaya karena Alika tidak berpamitan padanya. Ia segera masuk kedalam rumah menyuruh semua ART mencari keberadaan Alika. Tidak lama kemudian mereka berkumpul, tidak ada satu orangpun yang melihat keberadaan Alika di sana. Zein mulai panik, jujur ia sangat khawatir, tidak menyangka jika orang yang ia curigai akan bertindak lebih cepat darinya.


Zein kembali keluar dengan langkah lebar. Menemui Virda dan meminta untuk mengantarnya kebukit. Wajahnya memerah menahan amarah. Kenapa Alika keluar dari rumah tanpa sepengetahuannya. Marah, dan khawatir bercampur jadi satu, itulah kesimpulan yang dapat Virda lihat di balik wajah tampan Zein.

__ADS_1


Zein mengambil ponselnya kemudian menghubungi Ramon, memintanya segera ke perkebunan dengan membawa beberapa anak buahnya untuk mencari keberadaan Alika. Tidak mungkin ia mencarinya seorang diri.


Dalam perjalanan menuju bukit, beberapa warga ikut bersama mereka karena melihat Virda dan Zein berjalan dengan sangat cepat. Setelah mengetahui alasannya, mereka juga ingin ikut membantu mencari Alika.


Sekarang mereka sudah berada di bukit. Semuanya bergantian memanggil nama Alika.


"Kenapa Alika bisa sampai ke bukit? darimana dia tau tempat ini?" Tanya Zein panik. Berkacak pinggang, sesekali mengusap wajahnya dengan kasar. Dia menyesal karena tidak melihat Alika keluar dari rumah. Seharusnya dirinya menemani Alika kemanapun ia ingin pergi. Tapi menyesal untuk sekarang percuma. Alika kini menghilang, setetes air mata keluar diujung matanya.


Virda menunduk tidak berani menatap mata Zein yang tajam namun tetap terpancar kesedihan yang mendalam disana.


"Hikss, hikss.. Maaf Tuan! ini semua salah saya, saya yang mengajaknya jalan-jalan ke tempat ini. Awalnya kami hanya bercerita, tapi saat saya berbaring dan menutup mata, Dia berteriak memanggil saya kemudian... saat saya membuka mata dia sudah tidak ada. Tapi..."


"Tapi apa? cepat katakan."


"Tapi aku melihat seseorang berlari ke arah sana. Aku sudah berusaha mengejarnya tapi gagal, larinya terlalu cepat."


"Apa dia perempuan?"


"Sepertinya begitu Tuan. Maaf, karena aku tidak melihat wajahnya dengan jelas! orang itu memakai topi dan masker. Dari postur tubuhnya, saya sangat yakin kalau dia seorang gadis." Jelas Virda.


"Itu pasti Dia." Lirih Zein.


Zein mengambil gelang itu kemudian ketepi jurang, melihat bekas tanah yang tidak rata, ia dapat menyimpulkan jika Alika didorong dan terjatuh.


"Brengsek! aku tidak akan melepaskan mu." Geram Zein pada wanita yang mendorong Alika.


Zein mendekati warga meminta membantunya mencari Alika di sungai.


"Pak, bagaimana saya bisa turun kesana ya? kemungkinan besar Alika jatuh ke sungai."


"Sangat susah untuk turun Tuan. Tidak ada jalan menuju kesana."


"Aku tidak perduli, bagaimana pun caranya aku harus ke bawah."


"Tapi, itu berbahaya Tuan. Jalan satu-satunya kita harus turun dengan tali. Tapi siapa yang berani turun?"


"Cepat cari tali karmantel atau pergilah ke rumah Kakek dan minta perlengkapan panjat tebing. Aku sendiri yang akan turun." Perintah Zein tidak ingin membuang-buang waktu.


Salah satu dari warga segera berlari menuju rumah Hutama. Tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di sana kemudian mengambil perlengkapan yang Zein minta.

__ADS_1


Sambil menunggu tali datang, Zein menghubungi Ramon.


"[Halo.]" Jawab Ramon dibalik ponsel.


"[Kau dimana?]"


"[Sudah di jalan.]"


"[Lebih cepat lagi Ramon, Kemungkin Alika jatuh ke sungai. Aku akan turun mencarinya disana. Kau dan yang lainnya menyusul. Jika tidak ada signal, kita ketemu di titik awal. Oke?]"


"[Oke]"


"[Dimobil ada tali karmantel kan?]"


"[Ada.]"


"[Bagus, tapi kalau bisa kau mampir beli lagi. Lebih banyak yang turun mencari, itu lebih baik. Aku ingin menemukannya sebelum malam tiba. Cepatlah!]"


"[Iya.]"


"[Ramon kau sudah dapat yang ku perintahkan.]"


"[Sudah Tuan, Dia pernah ke Milan dua hari setelah keberangkatan kita. Dan sekarang dia berada di sekitar perkebunan.]" Ramon memanggil Zein Tuan, karena di dalam mobil ada anak tiga orang anak buahnya.


"[Brengsek! Sudah keduga, dia yang mendorong Alika. Suruh dua orang anak buah kita mencarinya. Aku tidak ingin dia lolos untuk kali ini.]"


"[Baik bos.]"


Sambungan telepon terputus, bersamaan dengan kedatangan warga yang membawa tali karmantel untuk Zein.


.


.


Bersambung.....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2