Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kedai


__ADS_3

Zein memarkirkan mobilnya di parkiran yang kosong, menurutnya kedai itu lumayan ramai pengunjung karena memang makanan di sana sangat enak. Sudah dua tahun ia tidak ke perkebunan dan mampir di kedai itu. Zein hampir saja melewatinya karena bangunan dalam perjalanan sudah banyak yang berubah.


"Kita makan dulu baru bicara lagi." Ujar Zein sebelum membuka seat belt dan pintu mobil.


Alika ikut turun kemudian mengikuti Zein masuk ke dalam kedai.


Zein mengedarkan pandangannya di setiap mencari meja yang kosong, hingga tertuju pada meja yang dikelilingi empat kursi. Ia segera ke sana kemudian menarik satu kursi berhadapan dengan Alika.


Alika mengambil ponsel di dalam tas sling bagnya, Ia mengambil gambar selfi berlatar belakang dalam kedai. Sebuah pemandangan yang tidak ia dapatkan dari Cafe atau restoran di kota.


Zein menyandarkan bahunya, sebelah lengannya tersampir di pegangan kursi, dengan mata lekat menatap lawan bicara. "Kau mau pesan apa?"


Alika masih sibuk dengan ponselnya, memilih gambar kemudian mengupload kedalam jejaring sosia miliknya.


"Alika!"


"Hmm"


"Kau mau makan apa? aku sudah sangat lapar."


"Samakan saja dengan pesananmu."


Alika menjawab tanpa mengangkat kepala menatap lawan bicara. Ia terlalu sibuk membalas komentar Meriska tentang keberadaannya kini.


Zein memesan beberapa makanan kesukaannya kemudian kembali melihat makhluk yang tidak mau bersuara didepannya.


Zein menyipitkan matanya, tiba-tiba saja muncul ide jahil di kepalanya. Secepat kilat menyambar ponsel ditangan Alika berpindah ke tangannya. Memasukkan ke dalam saku celana kemudian duduk dengan santai tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Manik Alika melotot dengan tajam setajam silet. Bagaimana tidak, lagi seru-serunya bercanda dengan Meriska dan teman-temannya di salah satu grup wechatnya, Zein langsung menghancurkan segala kesenangannya.


Alika berdiri, menatap Zein dengan


Ia hendak berdiri dari tempat duduknya tapi pelayan datang membawakan makanan untuk mereka.


"Silahkan." Kata pelayan kemudian pergi melayani meja lainnya.


"Balikin ponselku nggak?" Kesal Alika.


"Nggak, makan dulu baru aku balikin." Balas Zein kemudian mulai mengambil sendok lalu menikmati makanannya.


Alika mendelik, mengerucutkan bibirnya sambil mengambil sendok kemudian ikut makan bersama Zein.


Selang beberapa menit makanan Zein habis. Zein memainkan pipet di dalam gelas memutarnya searah dengan jarum jam sambil menunggu Alika menghabiskan makanannya. Menatap Alika dengan lekat dan dalam, seakan menebak perasaan apa kiranya yang di sembunyikan Alika di dalam hatinya.

__ADS_1


"Kau belum menjawab pertanyaanku, apa kau berencana untuk kembali pada Dirga? aku hanya butuh jawaban 'ya atau tidak'! jangan balik bertanya." Tegas Zein masih terus memutar pipet secara pelan.


Khuk.. khuk.. khuk..!


Alika tersedak, langsung minum tanpa menggunakan pipet lagi karena sudah tidak tahan dengan tenggorokan yang kering. Tentu saja dia terhenyak tidak menyangka Zein akan mengulang pertanyaan yang sama.


"Apa perlu aku jawab sekarang Zein? aku lagi makan." Kesal Alika setelah menyimpan segelas teh manis disamping piring yang sudah hampir kosong.


"Jawab saja sambil makan."


Rasa penasaran Zein sudah tidak bisa tertahan lagi. Ada sesuatu yang mengganjal di hatinya sebelum memastikan semuanya akan berjalan sesuai dengan keinginannya.


"Itu yang sedang aku pikirkan, maksudku.. aku sedang berusaha melupakan masa laluku bersamanya. Aku memang bertemu dengannya beberapa hari yang lalu. Dia ingin kembali dan memulai semuanya dari awal. Tapi itu bukan pembicaraan yang penting lagi untukku. Waktu terus berjalan, dan aku tidak ingin menoleh kebelakang lagi." Jawab Alika dengan jujur tanpa ingin menyembunyikan apa-apa.


Zein tersenyum tipis, menunduk sejenak menyembunyikan wajahnya yang berbinar. Jawaban yang ia tahu sudah pasti artinya 'tidak' membuat hatinya sedikit lebih tenang. Tapi tetap saja kehadiran Dirga yang selalu datang tiba-tiba membuat hatinya selalu gundah.


Alika balik mengamati perubahan Zein, raut wajahnya seketika berubah.


"Apa kau cemburu, Zein?!"


Zein mengalihkan pandangannya, tidak mungkin ia mengatakan jika dirinya mulai cemburu, dan menaruh sedikit hadapan pada Alika. Sebelum dia melangkah lebih jauh, dia harus memastikan hati Alika sekarang untuk siapa, Apakah masih pada Dirga, Frans, atau dirinya. Ah, tentu saja Zein mengharap itu dirinya.


"Sudah aku katakan, jawab saja pertanyaanku, dan jangan balik nanya!"


Alika menyelesaikan makannya dengan meneguk segelas es teh tanpa memakai pipet. Mengabaikan sifat jaim dan feminimnya


"Apa kau masih mencintainya?"


Zein kembali bertanya memastikan bagaimana perasaan Alika pada Dirga saat ini, dengan wajahnya yang serius, kali ini ia menunggu jawaban yang bisa membuat hatinya tenang.


Alika termenung, diam-diam dalam hati bertanya untuk apa Zein ingin tahu masalah dirinya dan Dirga. Bukankah mengetahui bahwa mereka sudah putus saja itu sudah cukup.


"Ada apa Zein? kenapa kau bertanya seperti itu?"


Zein diam, pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulutnya. Dalam hati mengumpat dirinya sendiri, kenapa dia tidak bisa menahan diri dan sedikit lebih sabar.


Zein mengembalikan raut wajahnya menjadi datar, menegakkan punggung, melipat kedua tangannya kemudian bersandar pada kursi dengan santai. "Aku hanya ingin tahu." Ujarnya sambil menaikkan sedikit bahunya.


"Apa itu perlu?"


"Tentu saja, ku tidak ingin menikah dengan orang yang hatinya untuk orang lain."


Alika kembali diam, ia juga berpikir hal yang sama. Tidak mau menikah dengan orang yang hatinya bukan untuknya. Maju sedikit menopang dagunya dengan satu tangan.

__ADS_1


"Bagaimana jika aku juga bertanya, apa kau masih mencintai Monika? apa yang akan kau jawab Zein?"


Alika masih mempertahankan nada suaranya dengan intonasi yang datar, maniknya mencari kejujuran di balik mata hazel yang berjarak hanya beberapa senti dari wajahnya.


"Kau sudah tau jawabannya kan? aku sedang berusaha melupakannya."


"Begitu juga denganku Zein!" Kali ini Alika menekankan nada suaranya. "Aku hanya butuh waktu untuk memulai lembaran baru, yang sayangnya orang itu adalah kau. Pria kaku dan dingin yang susah aku tebak. Aku tidak tau apa kau juga mau memulainya bersamaku atau tidak."


Zein langsung melebarkan tatapannya. Alika sudah mulai menarik anak panah dari busurnya. Siap-siap akan melepaskan tepat di jantung hatinya suatu saat nanti. Zein tersenyum tipis berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak lebih kencang.


"Bagaimana kalau aku bilang mari kita coba. Kita mulai dari sekarang!"


Alika bergeming, niatnya hanya memancing ekspresi wajah Zein yang datar namun ternyata Zein menyambut ucapannya dengan senyuman manis yang belum pernah ia lihat.


"Kau yakin, Zein? bukankah aku bukan wanita dalam kriteriamu? aku wanita barbar yang selalu membuat masalah, kenapa sekarang kau berubah pikiran?"


"Mau bagaimana lagi, aku tidak punya pilihan lain! sayangnya wanita yang akan menjadi istriku adalah kau, jadi aku akan memulai lembaran baru bersamamu."


Zein kembali mengingatkan Alika dengan kata-katanya sendiri. Perasaannya sedikit tenang. Tidak lama kemudian pinselny berdering. Ia mengambil ponselnya di saku celana kemudian menekan tombol hijau yang tertera dilayar.


"Halo."


"Lalian sudah dimana?"


"Aku sudah di kedai, Kek."


"Baiklah, hati-hati di jalan."


"Iya Kek."


Zein menutup ponselnya. Mengambil dompet kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang kertas dari dalamnya.


Zein Menaikkan tangannya memanggil pelayan. Tidak lama kemudian pelayan datang dan menerima uang dari Zein. Setelah membayar, mereka keluar dari kedai kemudian menuju parkiran mobil, kali ini Zein berinisiatif membuka pintu untuk Alika layaknya seorang laki-laki yang gentleman.


Alika menyembunyikan senyumnya, langsung masuk ke dalam mobil dan duduk dengan tenang.


.


.


Bersambung.....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2