Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Calon Pacar


__ADS_3

"Alika." Sapa Dirga membuat Alika seketika berbalik melihat siapa yang sedang menyapanya.


"Dirga." Lirih Alika.


Alika memasang senyum terpaksa saat melihat Dirga di depannya bersama dengan Vanesa.


"Kamu dengan siapa?" Tanya Dirga.


"Kenalkan ini Sander teman aku," Jawab Alika, "Sander kenalkan ini Dirga relasi kantor aku." Ujar Alika memperkenalkan mereka.


"Relasi kantor? apa maksud kamu Alika?" Dirga mengernyitkan keningnya, "Aku bukan relasi kantornya, tapi aku adalah pacarnya. " Tegas Dirga.


"Oh, jadi ini mantan pacar Alika? aku akan membuatnya jauh dari Alika." Batin Sander, "Heh, nggak usah ngaku-ngaku bro! Alika bilang dia tidak punya pacar, kalau sudah jadi mantan nggak usah ngarep lagi." Ujar Sander dengan nada mengejek Dirga sambil memperhatikan penampilannya.


"Kurang ajar!" Umpat Dirga langsung mengeluarkan bogeman mentah ke wajah Sander.


Bug!


"Brengsek!"


Sander tersenyum licik memegang ujung bibirnya yang berdarah. Ia langsung berbalik membalas satu kali bogeman ke wajah Dirga.


Bug!


Dirga menghapus darah yang juga keluar dari ujung bibirnya. Tatapan mata Dirga dan Sander sangat tajam sebagai ingin membunuh satu sama lain. Dirga ingin kembali membalas pukulan Sander, namun Vanesa langsung mencegahnya.


"Hentikan! apa kalian tidak malu berkelahi di depan umum?" Geram Alika melihat tingkah keduanya. Alika Ia langsung menahan tangan Sander agar⁰ mereka berhenti, "Ayo kita pergi dari sini." Kesal Alika menarik tangan Sander untuk keluar.


"Alika." Cegah Dirga.


Alika berbalik menatap Dirga, "Apa lagi? kamu sudah memiliki Vanesa untuk apa lagi kamu memanggilku?" Kesal Alika berbalik.


"Aku ingin kita memperbaiki hubungan kita." Bujuk Dirga.


"Sudahlah percuma! Kamu itu sudah jahat banget sama aku. Aku tidak mau liat muka kamu lagi! Jika suatu saat kita berteman lagi, anggap saja kita tidak saling kenal." Alika menunjuk wajah Dirga dengan rahang keras penuh kebencian.


"Maafkan aku Alika, Aku harap suatu saat kamu akan membuka hati kamu lagi untukku." Ujar Dirga.


"Itu tidak akan pernah terjadi Dirga!" Alika berbalik melirik Vanesa, "Kamu juga, kenapa diam saja? apa kamu tidak memiliki sedikit harga diri? kenapa tidak marah saat Dirga berusaha kembali padaku sementara dia telah melakukan itu padamu?" Cecar Alika pada Vanesa.


Vanesa hanya menunduk, dalam hati tentu saja ia sangat marah pada Dirga. Tapi Dia juga tidak bisa berbuat apa-apa. Jika dia terlalu banyak menuntut pada Dirga, maka dia akan di pecat sementara keluarganya juga butuh makan.


"Ayo kita pergi." Alika menarik tangan Sander keluar dari rooftop. Ia masuk ke dalam ruangan restoran lalu mencari meja kosong.


Sander hanya mengikuti sambil meringis karena merasa perih di wajah dan bibirnya.


"Kita akan kemana?" Tanya Sander.

__ADS_1


"Duduk di sana aja. Aku ingin obati luka di wajahmu." Tunjuk Alika di salah satu meja kosong.


Sander mendengus kesal, makan malam yang romantis yang ia rencanakan, hancur begitu saja akibat ulah Dirga. "Awas kau Dirga, aku akan membalasmu nanti." Batin Sander.


Alika duduk di salah satu kursi begitupun dengan Sander. Alika mengambil obat yang selalu ia bawa di dalam tasnya.


"Tahan ya? ini akan sedikit perih, tapi itu tidak akan lama." Alika membersihkan darah di ujung bibir Sander lalu mengolesnya dengan salep.


Sander menatap wajah Alika dengan lekat. Posisi wajah keduanya begitu dekat tapi Alika tidak menyadarinya. Saat kedua bola mata mereka bertemu, Alika langsung mengalihkan pandangannya .


"Lebih baik kita pulang, Maaf untuk kejadian tadi. Dia mantan pacar aku." Ujar Alika.


"Tidak masalah, tapi aku masih ingin mengajakmu pergi. Temenin aku ke acara ulang tahun temenku ya? anggap saja sebagai permohonan maaf kamu, gimana?" Melas Sander.


"Baiklah." Pasrah Alika.


Mereka keluar dari Restoran dengan mengendarai mobil Sander menuju salah satu hotel tempat teman Sander sedang merayakan ulang tahunnya.


Setelah beberapa menit, mereka tiba di depan lobi, Sander memberikan kunci mobilnya pada valet lalu masuk bersama Alika di dalam.


"Apa nggak masalah aku memakai baju seperti ini?" Tanya Alika kurang percaya diri. Alika menunduk memperhatikan penampilannya.


"Tidak apa-apa, kamu tetap cantik dengan baju itu." Puji Sander.


Mereka bergandengan tangan seperti sepasang kekasih sedang memasuki pesta. Alika yang merasa risih di perhatikan segera melepaskan tangannya. Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh isi ruangan. Pesta yang sangat meriah di dalam ballroom hotel dan lebih dominan tamu laki-laki.


Alika hanya mengangguk lalu mengikuti langkah kaki Sander.


"Hai bro, selamat ulang tahun, semoga makin sukses dalam bisnis." Ujar Sander memgulurkan tangan kanannya.


Roby tersenyum lalu membalas uluran tangan Sander kemudian berpelukan saling menepuk pundak. Roby sangat senang sahabatnya datang di acara ulang tahunnya.


"Makasih bro, eh siapa cewek cantik yang kau bawa, jangan bilang kau dan Monika sudah putus dan menggantinya dengan gadis secantik ini." Tanya Roby.


"Kenalin namanya Alika." Sander memperkenalkan Alika kemudian berbisik di telinga Roby, "Dia calon pengganti Monika. Bagaimana cantik dan berkelas bukan?" Bisik Sander.


"Aku salut padamu, kamu sangat pandai memilih wanita, tapi yang satu ini aku sangat kagum padanya. Entahlah tapi sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana ya? aku lupa." Puji Roby.


Roby mengingat-ingat dimana dirinya pernah bertemu dengan Alika. Dalam beberapa menit, ia menggeleng karena benar-benar tidak ingat. Tapi dia juga sangat yakin jika dirinya pernah bertemu dengan Alika sebelumnya.


"Sudah, kau tidak mungkin pernah bertemu dengannya." Ujar Sander.


Roby makin penasaran, Ia mendekati Alika lalu bertanya langsung padanya. Mungkin saja Alika mengingat dimana mereka penah bertemu.


"Aku sangat yakin pernah bertemu denganmu Alika, apa kamu juga tidak mengingatnya?" Tanya Roby makin penasaran dimana ia pernah melihat Alika.


Alika tersenyum lalu menggeleng. Ia tidak mau asal menebak dan membuatnya dalam situasi rumit karena ia belum mendapatkan informasi apapun dari Sander.

__ADS_1


"Maaf, mungkin anda salah orang." Sergah Alika.


"Ah, ia mungkin saja. Tapi jangan panggil anda dong..! otu terlalu formal untukku. Mulai sekarang kita adalah teman, panggil aja aku Roby." Pasrah Roby tapi pikirannya masih saja terus berusaha mengingat.


"Baiklah Roby." Uajr Alika.


"Eh, dimana yang lain?" Tany Sander.


"Itu di sana!" Tunjuk Roby, "Kalian duluan aja, nanti aku nyusul. Alika, jangan sungkan disini, nikmati pestanya." Roby l?meninggalkan mereka dan menyambut kedatangan tamu yang lain.


"Ayo kita gabung dengan teman-temanku." Semangat Sander.


Sander merasa sangat bangga bisa membawa wanita yang cantik dan anggun melebihi Monika di pesta itu. Meskipun hanya memakai pakaian seadanya, tapi aura kecantikan Alika melebihi wanita yang ada di sana.


"Hai bro." Sapa Sander pada tiga orang pria dan satu orang wanita. Mereka adalah teman baik Sander.


Mereka saling menyapa satu sama lain. Sander memperkenalkan Alika sebagai pacarnya agar teman-temannya tidak mengganggu Alika. Setelah mereka berkenalan, Sander dan Alika ikut duduk di kursi yang kosong.


"Cewek yang beda lagi nih." Ujar Ferdy.


"Iya, ini cewek yang keberapa ya?" Ujar Willy.


"Yang pastinya, yang ini lebih cantik dari sebelumnya." Puji Gery.


"Apaan sih kalian! jangan digangguin anak orang. Kalau dia pulang dan nangis gimana? Jangan dengerin omongan mereka Alika. Mereka itu sudah mabuk." Sela Prisilla.


Alika tersenyum ke arah Prisilla. Sebenarnya ia tidak perduli dengan perkataan teman-teman Sander. Mereka mau berkata apapun tentang keburukan Sander ia sama sekali tidak tertarik.


Tidak lama kemudian, Roby ikut bergabung dan menarik salah satu kursi kosong.


"Saatnya kita berpesta." Semangat Roby.


Willy menuangkan wine ke dalam gelas masing-masing kemudian mereka mengangkat gelas untuk bersulang. Setelah itu mereka meminumnya.


"Thanks bro! Pesta ini tidak ada apa-apanya tanpa kehadiran kalian. Ayo kita bersulang lagi."


Mereka kembali bersulang kemudian meminum wine hingga beberapa kali.


Alika tidak terbiasa minum minuman beralkohol, meskipun Ia berada diluar negeri, tapi dia masih sangat menjaga dirinya agar tidak terjerumus dengan pergaulan bebas dan mabuk-mabukan. Ia hanya ikut bersulang tanpa meminum wine yang ada di gelasnya.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❀️

__ADS_1


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! πŸ™πŸ™πŸ™


__ADS_2