Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Merindukan


__ADS_3

Beberapa hari telah berlalu, Zein sama sekali tidak memiliki kesempatan bertemu dengan Alika. Sudah berkali-kali ia ke sana mengunjunginya, berkali-kali pula diusir oleh dua penjaga yang berdiri di depan pintu ruang rawat inap Alika.


Selama kepergian Alika hatinya hampa, ada ruang di relung hatinya yang kosong. Ia mengambil ponselnya menatap gambar Alika dan dirinya saat di rumah sakit.


"Apa kabarmu sekarang, apa kau baik-baik saja? maaf karena aku belum bisa menjengukmu. Aku harap kamu sudah sembuh dan tersenyum lagi. Aku merindukanmu." Lirih Zein sambil mengusap layar ponselnya kemudian menciumnya.


Tok.. tok.. tok..


Ramon mengetuk pintu ruang kerja Zein. Selama kembali di Mansion, Zein lebih betah mengurung diri diruang kerjanya atau didalam kamar daripada ke kantor. Jika ke kantor, kerjaannya hanya marah dan memaki karyawan. Karena sudah kesal, Ramon melarangnya masuk kantor untuk sementara waktu, kasihan karyawan yang di maki hanya karena masalah kecil yang masih bisa diperbaiki, namun Zein terlalu membesar-besarkannya hingga memecat mereka.


"Masuk." Teriak Zein tanpa menoleh.


Ramon masuk dengan sejumlah kertas yang bertumpukan ditangannya, meletakkan diatas meja kemudian duduk dikursi depan meja Zein.


"Kau lagi." Zein mendesis kesal, Ramon selalu saja datang membawakannya pekerjaan. Pekerjaan yang kemarin saja belum dia sentuh, sekarang Ramon menambahkan lagi dengan jumlah yang lebih banyak.


"Kau pikir siapa lagi yang berani datang menemuimu selain aku, hah?!"


Zein membuang muka, kembali menatap layar ponselnya.


"Kau merindukannya Zein?" Tanya Ramon dengan nada datar.


Zein mendengus kesal, Ramon selalu saja tau isi hatinya.


"Kau benar-benar mencintainya?"


Kalimantan Ramon bertanya dengan intonasi yang lebih tinggi.


"Lebih baik kau diam, aku sedang tidak ingin bicara." Kesal Zein tanpa melihat Ramon.


"Tapi pekerjaan kita banyak Zein!"


"Kau kerjakan saja sendiri." Jawabnya dengan santai dengan menaikkan kedua bahunya.


Sumpah demi apapun wajah Ramon seketika memerah menahan emosi yang sudah di ujung kepala. "Kau benar-benar membuatku naik darah! Ayo kita ke rumah sakit. Aku sudah mengatur semuanya."


Zein langsung mengangkat kepalanya menatap Ramon, maniknya yang hitam mencari kebohongan dari mata Ramon tapi tidak menemukannya. Matanya memicing tajam dengan raut wajah yang tegas. "Kau tidak bercanda kan? agar aku mau membantumu bekerja?"


"Hmm." Ramon mengangguk, "Mau nggak? kalau nggak mau, kerjakan semua berkas yang aku bawa ini." Ujar Ramon mengetuk setumpukan berkas diatas meja Zein.


"Ayo kita ke rumah sakit. Tapi kali ini aku tidak mau gagal lagi."


"Aku yakin seratus persen berhasil. Tapi bagaimana dengan ini?" Tunjuk Ramon pada berkas yang dihadapannya kembali. Hanya itu cara satu-satunya agar Zein mau menyelesaikan pekerjaannya, Kepalanya sudah hampir pecah karena pekerjaannya makin hari semakin bertambah, sementara Zein tidak perduli sama sekali. Dipikirinnya hanya mencari cara untuk bertemu dengan Alika secepatnya.

__ADS_1


"Aku akan mengerjakan ini setelah menemui Alika." Semangat Zein.


"Awas saja jika kau ingkar! aku tidak akan membantumu lagi."


"Iya, aku janji."


Zein segera berdiri, menarik tangan Ramon segera keluar dari kamarnya. Saat di ruang tamu, mereka bertemu dengan Feronica dan Zaskia.


"Zein, mau kemana?" Tanya Feronica.


"Ada urusan penting dikantor Mah."


Feronica mengernyitkan keningnya, tidak mungkin Zein sesemangat itu jika ada urusan di kantor. "Beneran Ramon?"


"Bener Tante. Kami pergi dulu." Pamit Ramon.


"Ah, paling mau ketemu Kak Alika lagi Mah. Kak Zein kan sekarang bucinnya Alika, hehehe.. Apa lagi yang membuatnya semangat selain Alika, ia kan?" Tebak Zaskia menjulurkan lidahnya keluar saat Zein menatapnya dengan tajam.


"Bucin apaan sih?" Tanya Feronica.


"Bahasa anak muda jaman now. Kak Zein budak cintanya Alika, hehehe..." Jawab Zaskia mengejek Zein yang sedang melotot.


"Dasar cerewet!" Ujar Zein kemudian keluar dari Mansion diikuti Ramon di belakangnya.


"Selamat berjuang bucin, hehehe..." Teriak Zaskia sebelum Zein benar-benar menghilang di balik pintu.


Hanya butuh beberapa menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Mereka segera masuk kemudian menemui dokter yang menangani Alika.


................


Alika sudah sadar sejak dua hari yang lalu. Diam-diam mengharapkan kedatangan Zein menjenguknya. Setiap kali pintu terbuka, wajahnya langsung terangkat mengira Zein yang datang.


"Kamu liat apa sayang?" Tanya Belinda mengikuti arah pandangan Alika ke pintu masuk.


"Hah? nggak ada Mah." Jawab Alika dengan Gugup.


"Jika kamu butuh sesuatu, bilang aja ke Mama."


Karena penasaran, Alika memberanikan diri untuk bertanya. "Mmm.... Mah, kenapa Zein tidak pernah datang menjenguk Alika?"


Belinda yang sedang mengupas buah apel diam sejenak, memikirkan jawaban yang tepat yang dapat Alika terima.


"Zein masih di perkebunan menemani Kakek Hutama sayang. Disini kan sudah ada Mama dan Papa yang nemenin kamu." Jawab Belinda kemudian menyuapi Alika sepotong kecil buah apel.

__ADS_1


Alika kembali diam, dalam hati sangat kecewa dan meragukan jawaban Belinda. "Masa sih? Kakek sudah mulai sembuh, masih bisa Zein tinggal untuk menjenguk aku, tapi kenapa Zein tidak kesini walau hanya sebentar?" Lirih Alika.


"Ya mana Mama tau sayang..! mungkin Zein sibuk dan tidak punya waktu untuk menjengukmu."


"Tidak mungkin Mah! apa terjadi sesuatu dengannya? apa dia juga terluka karena menyelamatkan aku? aku masih ingat saat aku sadar di tepi sungai, Zein memelukku dengan erat, dia sangat khawatir Mah! tapi setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." Jelas Alika.


"Dia baik-baik saja. Sudah jangan memikirkan Zein lagi, lebih baik kamu fokus dengan kesehatan kamu agar kita segera kembali ke Milan."


"Mah, kenapa cara bicara Mama sangat aneh? biasanya Mama paling semangat kalau bicara tentang Zein. Apa ada yang Mama tutupi dari Alika?"


"Tidak ada sayang.. istirahatlah, sebentar lagi dokter pasti akan datang memeriksamu."


Belinda membantu Alika berbaring kemudian memperbaiki selimutnya. Tidak lama kemudian Dokter datang bersama dua suster yang berada di sampingnya.


"Dokter saya keluar sebentar mau nelpon Papa Alika." Pamit Belinda sambil mengambil ponselnya dari dalam tas.


"Silahkan Bu." Jawab Dokter.


Belinda langsung keluar dengan memegang ponsel di tangannya. Penjaga yang berdiri di depan pintu hanya diam dalam melaksanakan tugasnya. Selagi yang masuk di dalam ruangan bukan Zein, semuanya aman-aman saja.


"Selamat sore Nona Alika." Sapa pria yang memakai seragam dokter.


Sedangkan kedua perawat yang menemaninya memilih duduk di sofa menunggu dokter menyelesaikan pekerjaannya.


Deg!


Alika seketika membuka mata, suara yang begitu familiar mengalun merdu ditelinganya. Pemilik suara yang beberapa hari sangat dirindukannya sejak dia sadar dari koma. Memperhatikan wajah dokter dengan seksama hingga mengambil kesimpulan kali ini dokternya lebih tampan dari yang biasa memeriksanya. Hanya sedikit brewok dan kumis tipis di wajahnya namun tidak menutupi ketampanan dokter itu.


Alika mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Belinda namun tidak menemukan, ia hanya melihat dua suster yangs sedang sibuk bermain ponsel di sofa.


"Kau..." Alika menunjuk wajah dokter yang hendak memegang tangannya.


"Sssttt...." Zein meletakkan jari telunjuknya di mulut agar Alika bicara pelan.


Zein menggem tangan Alika lalu menciumnya. "Apa kau tidak merindukanku?"


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️

__ADS_1


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


..


__ADS_2