
Meriska mendelik tajam menatap Ramon tanpa bicara. Yang membuatnya semakin kesal karena Ramon dengan arogan duduk disampingnya tanpa permisi.
"Mau pulang nggak." Tanya Ramon sekali lagi tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kau tau? kau pria paling menyebalkan yang pernah aku temui dibuka bumi ini, Ramon!"
"Lalu, aku harus bilang wow gitu?!"
"Ihh.. kau tidak liat aku masih kelelahan, aku harus mengatur napasku agar bisa berjalan menuju mobil." Kesal Meriska sambil memukul pundak Ramon.
"Tapi tidak pakai lama juga kali. Ini sudah setengah jam kau duduk di sini. Aku masih banyak urusan setelah kita pulang. "
"Apa peduliku dengan urusanmu."
"Kalau kamu tidak segera berdiri, aku tinggal nih..!" Ancam Ramon.
"Tinggal aja kalau berani, Aku aduin Zein biar kamu dipecat!" Jawab Meriska dengan santai.
"Siapa takut," Ramon segera berdiri, mengibas pasir yang lengket di celana kainnya, "Aku hitung satu sampai tiga, jika kamu tidak berdiri, maka aku akan meninggalkanmu sendirian dan melewati hutan yang menyeramkan disana. Oiya, aku dengar-dengar disana banyak hantu dan hewan buasnya, bahkan beberapa kejadian aneh sering terjadi, tapi aku tidak khawatir sih, kamu kan wanita tangguh. Kamu pasti tidak takut kan?"
Ramon menyunggingkan senyum tipis saat melihat ekspresi wajah Meriska yang mulai takut. Ia kemudian segera menghitung sambil melangkah.
"Satu... dua... ti.."
"Tunggu...."
Meriska segera berdiri kemudian berlari menyusul Ramon. Tanpa sadar menarik lengan Ramon kemudian merangkulnya menuju mobil.
Alika dan Zein yang melihat mereka hanya geleng-geleng kepala.
"Kamu dan Ramon hampir sama, sama-sama licik, suka ambil kesempatan di saat orang lain tak berdaya." Ejek Alika.
"Mana buktinya."
"Tuh, liat aja wajah jahil Ramon yang tersenyum saat Meriska menarik tangannya. Entah apa yang dikatakannya pada Meriska hingga membuatnya ketakutan."
"Hehehe... kamu makin pintar membaca situasi," Zein mengusap puncak kepala Alika kemudian mendaratkan kecupan disana, "Ayo kita pulang, mereka pasti sudah menunggu di mobil."
Zein berdiri kemudian mengulurkan tangannya untuk membantu Alika ikut berdiri. Disaat mereka berbalik untuk pulang, tiba-tiba anak buah Hendrik datang menghampiri keduanya.
"Nona kami disuruh Tuan untuk menjemput Nona pulang." Ujar anak buah Hendrik.
"Tidak, Dia akan ikut bersamaku pulang. Bilang pada Tuan Hendrik, aku akan mengantar Alika pulang." Tegas Zein.
"Tapi Tuan.."
"Jangan membantahku, atau aku akan membantaimu disini." Bentak Zein.
Anak buah Hendrik menunduk tidak berani. "Baiklah, tapi kami tetap akan mengikuti Anda sampai dirumah."
"Terserah."
Zein menarik tangan Alika melangkah menuju mobil. Sedangkan anak buah Hendrik tetap mengikuti mereka.
__ADS_1
Setelah mereka masuk ke dalam mobil, Mobil Roll royce limosin yang Zein kendarai melaju cukup kencang melewati jalanan yang cukup sunyi karena sudah hampir tengah malam, di ikuti beberapa mobil di belakangnya termasuk mobil Meriska yang dikendarai oleh Ramon.
"Mobil kamu cukup nyaman." Puji Ramon setelah mereka meninggalkan area pantai.
"Kalau nggak nyaman, sudah lama aku jual." Ketus Meriska.
"Kamu kalau ngomong denganku bisa nggak sih, nggak ketus kayak gitu? Jadi cewek itu harus bertutur kata lemah lembut biar enak didengarnya." Nasihat Ramon.
Meriska mendelik kemudian menggelengkan kepalanya. "Nggak bisa." Jawab Meriska dengan santainya.
Ramon melirik Meriska kemudian kembali fokus melihat jalanan. "Pantesan jomblo terus, mana ada cowok yang mau deketin cewek nyebelin." Ejek Ramon.
Meriska tidak terima, bisa-bisanya Ramon mengatakan dirinya 'nyebelin'. "Eh, kamu nggak sadar ya?! kamu juga jomblo, mana ada cewek yang suka dengan cowok nyebelin." Ejek Meriska agar Ramon juga tahu diri.
"Aku beda, aku jomblo karena aku terlalu sibuk, males berurusan dengan wanita yang super ribet. Apalagi tuh sahabat kamu." Ramon menunjuk mobil Zein di depannya.
"Kenapa emangnya dengan sahabatku?" Pancing Meriska.
"Hah, nggak apa-apa."
Ramon segera menggelengkan kepalanya hampir saja ia keceplosan dengan mengatakan yang tidak-tidak tentang Alika. "Duh..! nih mulut kenapa nggak ada rem-remnya? bisa dipecat beneran aku, jika aku katakan Alika menyebalkan dan menyusahkan." Batin Ramon.
Satu jam diperjalan membuat Alika mengantuk, berkali-kali menguap membuka mulutnya lebar-lebar.
"Kalau ngantuk ya tutup mata, jangan di tahan sayang..! tidurlah, aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai."
Zein mengelus pipi Alik dengan lembut membuat Alika tersipu malu dengan wajah yang memerah.
Alaika menutup mata kemudian menuju kealam mimpi. Sedangkan Zein kembali fokus ke jalanan sambil menggenggam tangan Alika dengan satu tangan.
Dua jam perjalanan akhirnya mereka tiba di kota, Ramon langsung mengantar Meriska ke apartemennya. Meriska yang juga tertidur di dalam mobil seperti Alika dimobil Zein, tidak sadar jika mobil sudah terparkir dengan sempurna di apartemennya.
"Hei, bangun! kita sudah sampai." Panggil Ramon.
"Hei, Meriska. Woi, bangun woi!" Panggil Ramon kembali dengan nada suara lebih tinggi.
Meriska tidak bergeming ia tetap dengan posisi menutup mata dengan mulut sedikit terbuka.
Melihat Meriska susah dibangunkan, ide jahil kembali muncul di otak licik Ramon. Ia mengambil air mineral dari dalam botol ke tangannya, kemudian mengibasnya ke wajah Meriska.
"Kebakaran.. kebakaran..." Teriak Ramon dengan jahil.
Meriska tersontak bangun membuka mata dengan wajah panik dan linglung.
"Kebakaran... tolong.. air.. air.." Meriska ikut berteriak berusaha meminta pertolongan. Tanpa sadar, Ia mengusap wajahnya yang penuh dengan air.
Untung mereka di dalam mobil dengan kaca tertutup. Jika tidak, tetangga bisa mendengarnya dan mengira terjadi kebakaran sungguhan.
"Hahahaha... Wajah kamu sangat lucu."
Ramon tertawa terpingkal-pingkal, wajahnya memerah, sedangkan kedua tangannya memegang perutnya yang sakit.
Mendengar suara tawa Ramon, kesadaran Meriska mulai kembali. Ia melotot dengan tajam seolah ingin membunuh Ramon. "Ihhh... Ramon..!" Teriak Meriska membuat Ramon langsung menutup kedua telinganya.
__ADS_1
"Apa sih, jangan teriak kencang-kencang, kamu mau kita digrebek satpam yang lagi patroli lalu dikawinin?" Jahil Ramon, Ia sengaja memancing kekesalan Meriska.
Meriska semakin Geram, ia memukul pundak dan lengan Ramon secara brutal tanpa ampun.
"Eh, kamu kenapa sih? kamu sudah gila ya? atau kamu kehabisan obat?" Tanya Ramon sambil mengelus semua bekas pukulan Meriska.
"Dinikahin Ramon, bukan dikawinin."
"Ah, mau dinikahin atau dikawinin sama aja." Sergah Ramon.
"Beda, dinikahin itu didepan penghulu, kalau dikawinin diatas ranjang." Meriska segera mengoreksi ucapan Ramon.
"Kamu maunya yang mana?"
"Ya dinikahin-lah..!"
Tanpa sadar Meriska terpancing ucapan Ramon. Ramon memang jagonya berkelik dan memutar kata hingga lawan bicaranya bingung.
"Baiklah, ayo ke penghulu."
"Ngapain?"
"Loh, katanya mau dinikahin?!"
"..."
Meriskan menyipitkan matanya curiga Ramon sedang menjebaknya dengan kata-katanya sendiri, kemudian berteriak sekencang-kencang.
"Ramon..!"
"Jangan teriak-teriak, kupingku sakit banget, lama-lama aku jadi budeg berdekatan dengan gadis bersuara cempreng seperti kamu."
"Siapa suruh nyebelin!" Meriska menurunkan nada bicaranya.
"Sudah, sekarang turun, kamu bisa naik sendiri ke apartemen kamu kan? jangan bilang mau dianter lagi."
"Hah?! yang seharusnya turun, itu kamu! ini mobil aku." Meriska mengingatkan Ramon sambil memukul lengannya.
"Hehehe... ia juga ya? Kamu turun dulu, besok mobil kamu aku balikin." Ujar Ramon saat menyadari mobil yang ia kendarai bukan mobil Zein atau mobilnya.
"Nggak, jika kamu bawa mobil aku, aku pake apa ke kantor besok?" Kesal Meriska.
"Besok aku jemput."
"Ck?!"
.
.
Bersambung.....
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya!