
Ramon mengepalkan tangannya tidak percaya dengan apa dilihatnya, ia tidak menyangka jika Zaskia sangat mencintai Richard. Ia segera menghampiri Richard dan memberinya sedikit pelajaran.
Bug!
Ramon memukul perut Richard. Sedangkan Richard hanya tersenyum.
"Rupanya lo liat semuanya." Ujar Richard memegang perutnya yang sakit akibat pukulan keras Ramon.
Semenjak ia tahu jika Ramon menyukai Zaskia, Richard semakin menjauhi Zaskia, ia tidak ingin terjadi perkelahian antara dirinya dan Ramon hanya untuk memperebutkan seorang gadis. Tapi buktinya sekarang semua itu tetap terjadi.
"Kenapa lo buat dia menangis? Bentak Ramon.
"Kenapa lo marah? bukannya lo senang? lo suka dengan Zaskia kan? lo sudah bebas mendekatinya karena gw sudah melepasnya." Ujar Richard. Ia tau sudah lama Ramon mencoba mendekati Zaskia namun Zaskia tidak pernah menanggapinya.
Ramon diam, ia tidak menyangka jika sahabatnya mengetahui perasaannya pada Zaskia.
"Kenapa diam? gw tau lo suka padanya dan diam-diam selalu memperhatikannya. Dari tatapan lo saat melihatnya saja sudah sangat jelas."
Ramon menyeringai melirik Richard, berusaha menurunkan amarahnya yang sempat meledak. Ia menghela napas kasar karena tidak menyangka jika sahabatnya akan melepaskan Zaskia untuknya. Dulu memang ia suka dengan Zaskia, namun setelah mengatakan isi hatinya pada Zaskia, Zaskia hanya menganggapnya sebagai kakak dan hatinya hanya untuk Richard.
"Kamu salah paham." Ujar Ramon dengan intonasi rendah, "Aku akui dulu memang aku suka padanya, tapi sekarang sudah tidak. Hatinya hanya buat lo. Seharusnya lo senang dan bersyukur, diusia yang masih remaja dia sudah memikiki rasa cinta yang besar buat lo. Dan sekarang lo menyakitinya. Bagaimana jika Zein tau, lo melukai hati adiknya?" Jelas Ramon.
Kini giliran Richard yang diam. Menyesalkan sudah tidak ada gunanya. Zaskia telah memutuskan hubungan dengannya, bahkan sebelum mereka jadian.
"Jika lo sayang padanya, kejar dan pertahankan dia." Ujar Ramon.
"Aku merasa tidak pantas dengannya. Aku hanya seorang dokter, Sedangkan dia..."
"Astaga... gw pikir lo pintar Rich, ternyata otak lo dangkal. Tuan Prayoga bukan tipe orang tua yang membedakan status ekonomi dan sosial. Berjuanglah! buat diri lo pantas untuk Zaskia."
Richard menunduk kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
"Ramon benar Rich. Meskipun gw nggak suka lo deketin adik gw, tapi cinta memang harus diperjuangkan." Sela Zein membuat kedua sahabatnya langsung berbalik ke arahnya.
"Ada yang curhat nih!" Ejek Ramon.
"Emang itu kenyataannya. Ya.. meskipun gw belum berhasil tapi gw nggak akan menyerah." Ujar Zein.
"Kenapa lo nggak suka gw?"
"Hah..., Jadi sahabat aja lo sangat menyebalkan apalagi jadi adik ipar." Jawab Zein dengan menghela napas berat.
"Sialan lo, emang gw cowok apaan?"
"Hahaha..." Mereka tertawa bersama. Tapi, tidak ada yang tahu jika hati Ramon sedang sakit. Ia sudah bertekad untuk mengubur perasaannya untuk Zaskia demi persahabatan mereka.
Setelah setengah jam bercanda, saling mengejek, dan tertawa, Zein dan Ramon kembali masuk ke dalam ruangan Hutama. Sedangkan Richard kembali keruangannya.
Ramon membuka pintu ruangan dengan perlahan kemudian masuk bersama Zein.
__ADS_1
"Dari mana saja kalian?" Tanya Prayoga.
"Dari taman Pah." Jawab Zein sambil duduk di sofa. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Alika namun ponsel Alika tidak aktif.
"Zein ada yang ingin Papa omongin."
"Hm." Jawab Zein dengan cuek, Tangannya tidak berhenti mengirim pesan pada Alika tapi tak satupun di balasnya, bahkan membacanya saja tidak.
"Besok siang Alika tunangan di hotel Del Centurio, Dan kita sekeluarga diundang." Ujar Prayoga.
Deg!
Bagaikan anak panah yang menancap di jantungnya yang paling dalam. Ponsel yang digenggan Zein langsung jatuh ke lantai. Zein mematung bagai menekin yang terpasang di toko pakaian. Sungguh hatinya sangat hancur mendengar gadis yang sangat dicintainya akan bertunangan dengan Pria lain. Pantas Alika tidak menjawab satupun pesan yang dikirimnya. Mungkin Hendrik sedang mengurungnya dan mengambil ponselnya.
Ramon menepuk pundaknya hingga kesadarannya kembali. Melirik satu persatu anggota keluarganya di ruangan itu. Zein beranjak menghampiri brankar. Ia mengambil tangan Hutama lalu menciumnya.
"Kek, aku pergi dulu. Doakan aku agar bisa membawa Alika bersama denganku."
Hutama hanya mengangguk dan memberikan dukungan pada Zein.
Mendengar kenekatan Zein. Prayoga angkat bicara. "Jangan melakukan apapun Zein. Kau tidak akan mampu melawan Om Hendrik."
"Aku juga tidak bisa diam aja Pah! aku tidak bisa melihat calon istriku bertunangan dengan Pria lain." Tegas Zein.
Baru saja ia bahagia karena Hutama telah melewati masa kritisnya, sekarang ia harus mendengar berita buruk yang membuat hatinya hancur.
"Biar Mama yang bicara dengan Tante Belinda, nak." Ujar Feronica.
Ramon segera mengikuti Zein dengan langkah cepat, mensejajarkan tubuhnya dengan Zein yang terus melihat kedepan dengan tatapan tajam.
"Zein, tenangkan dirimu dulu." Bujuk Ramon memegang pundak Zein.
"Gw nggak bisa tenang!"
Saat sampai di parkiran rumah sakit, Ramon membuka untuk Zein dikursi belakang, kemudian ia duduk dikursi kemudi.
"Dimana mereka?" Tanya Zein.
Ramon nelpon anak buahnya mencari keberadaan Alika. Setelah mendapatkan informasi, iapun memutuskan sambungan telepon dengan anak buahnya.
"Di hotel Del Centurio kamar VVIP 203 dan 204." Jawab Ramon sambil menyalakan mesin mobilnya.
"Kita kesana." Perintah Zein.
Ramon segera melajukan mobilnya, sesekali melihat kaca spion untuk melihat keadaan Zein.
"Hahh... cinta memang gila. Bisa membuat orang melakukan hal di luar nalar." Ramon geleng-geleng kepala dan itu tidak terlepas dari pandangan Zein.
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Alika dikamar yang mana?"
__ADS_1
"Kamar 203, tapi ada pengawal 2 orang yang berjaga di depan pintu kamarnya."
"Bereskan saja mereka. Suruh anak buah kita yang menggantikan mereka sebelum aku masuk."
"Siap bos!" Ramon menaikkan tangannya memberi hormat, kemudian mengirim pesan pada anak buahnya, "Lo nggak akan berbuat macam-macam pada Alika di dalam kamar kan Zein?"
"Itu bukan urusan lo."
"Memang bukan urusan gw, tapi Om Hendrik akan bertambah marah jika lo melakukan hal yang tidak-tidak pada Alika, Zein! Kalian belum halal." Tegur Ramon.
"Dasar otak mesum! emangnya gw mau ngapain? gw cuma mau bicara. "
"Tapi kenapa gw nggak yakin ya?"
Tidak lama kemudian ponsel Ramon berdering. Anak buahnya melaporkan jika mereka keluar menuju restoran hotel dan bertemu dengan Andrew dan keluarganya.
"Brengsek! ternyata dokter itu tidak mendengar peringatanku. Aku akan buat perhitungan dengannya setelah bertemu Alika dan Hendrik." Kesal Zein.
Tidak lama kemudian mereka tiba basement hotel. Mereka langsung keluar menuju lift. Selah berdiri di dalam lift Ramon menekan tombol dua puluh lima dimana lantai kamar Alika berada.
Ting!
Lift terbuka kemudian mereka keluar dan langsung menuju kamar Alika. Didepan kamar pengawal Hendrik sudah menghilang digantikan dua orang pengawal Zein yang postur tubuhnya sama agar Hendrik tidak curiga. Ramon memasukkan kartu ajaib yang bisa membuka kamar hotel manapun yang ia mau. Setelah itu, Zein masuk kedalam menunggu kedatangan Alika, sedangkan Ramon segera pergi ke lobi.
Pertemuan dengan keluarga Andrew berjalan dengan baik. Kali ini Alika tidak banyak bicara, ia hanya diam karena tidak bisa membantah orang tuanya. Setelah makan malam selesai, akhirnya Andrew dan keluarganya pergi meninggalkan restoran, sedangkan Hendrik, Belinda dan Alika masuk ke dalam lift menuju lantai dua puluh lima.
"Papa Jahat! aku tidak mau tunangan dengannya Pah." Alika masih berusaha memohon. Tapi Hendrik hanya diam seribu bahasa karena tidak ingin berdebat dengan anak kesayangannya.
Mereka berpisah di depan kamar masing-masing. Hendrik sempat melirik anak buahnya yang berdiri di depan kamar Alika, tapi sayang tidak terlalu memperhatikan wajahnya karena hanya melihatnya dari samping.
"Istirahatlah, besok pagi MUA akan datang meriasmu." Ujar Belinda kemudian menggenggam tangan Alika untuk memberikan kekuatan.
"Mah.."
"Masuk!" Bentak Hendrik.
Alika menatap kedua orang tuanya secara bergantian, mengapa mereka tiba-tiba berubah padanya. Padahal selama ini kedua orangtuanya selalu menuruti apa saja keinginan Alika.
Alika menghentakkan kakinya dengan kasar menuju kamarnya, Ia melirik dua pengawal di depan kamarnya, kenapa wajah mereka berbeda? tapi dia tidak mau ambil pusing. Mungkin mereka bergantian berjaga pikirnya.
Alika memasukkan kartu dipintu kemudian masuk setelah kunci terbuka. Ia duduk di sisi tempat tidur king size hotel kemudian membuka high heels dan membuangnya ke sembarang arah.
Air matanya kembali berlinang, ia menjatuhkan tubuhnya diatas tempat tidur kemudian menatap langit-langit.
"Seandainya kau ada di sini Zein. Mungkin semuanya akan berbeda. Aku merindukanmu." Lirih Alika.
.
.
__ADS_1
Bersambung..