Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Rumah Sakit


__ADS_3

Alika segera masuk ke dalam kamarnya, ia mengambil sling bag dan handphone yang berada di depan lemari hias. Memperhatikan penampilannya sebentar, memakai bedak tipis dan lip balm, lalu berputar tubuhnya kekiri dan kekanan sambil melihat ke cermin. "Kenapa aku sangat senang Zein mengajakku pergi. Padahal perginya hanya ke rumah sakit. bukan makan malam." Batin Alika.


Merasa penampilannya sudah sempurna, Alika segera keluar kamar. Zein dan Ramon sudah keluar lebih dulu. Mereka menunggu Alika di depan lift. Setelah Alika datang, mereka sama-sama memasuki lift menuju basement.


Setelah keluar dari dalam lift, Ramon membuka pintu mobil untuk Alika dan Zein. Kali ini Zein tidak perlu lagi bantuan Ramon untuk pindah.


Setelah Zein duduk di samping Alika, Ramon menuju kemudi, ia memasang seat beltnya lalu melajukan mobilnya membelah jalanan kota yang padat.


Tidak butuh waktu lama, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Mereka langsung mencari dokter yang telah di rekomendasikan oleh Richard.


Zein menjalani beberapa pemeriksaan di dalam ruangan dokter di temani oleh Ramon, sedangkan Alika menunggu di luar.


.....


Diluar, Alika sedang menerima telpon dari Sander.


"[Halo]" Jawab Alika.


"[Halo Alika, Apa kamu ada waktu? aku ingin minta maaf soal semalam. Aku tidak sengaja minum banyak dan tidak mengantarmu pulang.]" Ujar Sander.


"[Ah, Tidak masalah.]"


"[Kamu dimana?]"


"[Di rumah sakit.]"


"Ngapain? apa kamu sakit?" khawatir Sander.


"[Bukan aku, tapi aku temenin Zein kontrol.]" Jawab Alika dengan jujur.


Alika berpikir tidak perlu lagi menutupi hubungannya dengan Zein dari Sander. Bukti sudah ada di tangannya dan dia tidak membutuhkan Sander lagi. Yang dia inginkan sekarang ini hanyalah memasukkan Sander dan Monika ke dalam penjara selama-lamanya karena telah menghilangkan nyawa Kakak yang sangat ia sayangi.


"[Zein?]" Singkat Sander pura-pura tidak tahu. Untung saja Roby sudah mengatakan padanya, hingga Sander tidak kaget dengan kejujuran Alika.


"[Iya, Zein adalah tunanganku.]" Jawab Alika.


"[Aku pikir kamu baru putus dari Dirga, kenapa sekarang kamu bilang sudah tunangan? ini maksudnya apa Alika! Apa kau sedang mempermainkan Aku?]" Kesal Sander merasa di bohongi oleh Alika.


"[Aku tidak mempermainkanmu, aku hanya tidak mengatakannya.]" Sergah Alika


"[Kenapa tidak mengatakan sebelumnya kalo kau sudah bertunangan?]"

__ADS_1


"[Aku rasa, aku tidak perlu mengumumkan ke semua orang kalau aku sudah tunangan. Kau hanya bertanya apa aku punya pacar, ya aku jawab tidak! karena aku memang baru putus. Dan aku juga nggak pacaran dengan Zein. Sudah dulu ya, aku harus ketemu dokter.]" Jelas Alika lalu menggeser tombol merah di ponselnya.


Sander marah, baru kali ini ia dipermainkan oleh seorang wanita, biasanya dialah yang mempermainkan perasaan mereka dan meninggalkannya jika sudah bosan. Tapi Alika sebaliknya, Sander ditinggalkan sebelum ia memulai.


"Kurang ajar! aku tidak terima kau memperlakukan aku seperti ini Alika. Jika dengan cara baik-baik aku tidak bisa mendapatkanmu, maka kau akan lihat apa yang akan aku lakukan padamu." Monolog Sander dengan seringai licik di wajahnya. Sander kemudian mencari nama seseorang di kontak ponselnya lalu menghubungi orang itu untuk membantunya melancarkan rencananya.


..............


Setelah menutup telponnya, Alika di kagetkan oleh seseorang yang memakai jas putih dan langsung duduk di sampingnya.


"Alika! kamu dari mana aja? beberapa bulan menghilang bagai di telan bumi dan sekarang muncul tiba-tiba di hadapanku. Aku pikir aku halu melihatmu di sini ternyata kamu nyata. Apa kau sedang mencariku?" Tanya Frans sambil bercanda.


"Kepedean! kalau nanya tuh satu-satu biar nggak pusing jawabnya." Alika memperlihatkan wajah cemberutnya.


"Hehehe." Kekeh Frans.


Frans adalah teman kuliah Alika yang sudah lama menaruh hati pada Alika. Tapi Alika hanya menganggapnya sebagai sahabat karena tidak ingin persahabatan mereka hancur jika suatu saat nanti mereka pacaran lalu putus. Frans akhirnya menerima keputusan Alika. Dia harus mengubur dalam-dalam rasa kasih dan sayangnya pada Alika. Sekarang Frans sedang pacaran dengan temannya sesama dokter, tapi prakteknya di rumah sakit lain.


"Aku lagi tunggu seseorang di dalam." Alika menunjuk ruangan salah satu dokter.


"Siapa yang sakit?" Tanya Frans dengan wajah mulai serius.


Alika baru ingin menjawabnya, tapi Zein dan Ramon keluar dari ruang pemeriksaan. Alika segera berdiri lalu menghampiri Zein.


Zein tidak menjawab, netranya tertuju pada dokter laki-laki tampan yang sedang duduk di samping Alika dengan wajah datar dan dinginnya.


"Hei, kamu kenapa? aku nanya apa kata dokter?" Tanya Alika kembali.


"Semuanya sudah semakin membaik, tinggal melatih otot-ototnya dan minim obat." Jawab Zein tanpa mengalihkan pandangannya.


Alika menghela napas lega. "Syukurlah kalau seperti itu. Aku sangat senang mendengarnya." Ujar Alika.


"Ayo kita pulang." Ajak Zein langsung menggenggam tangan Alika lalu meletakkan di pundaknya. Ia tahu sejak tadi dokter Frans terus memperhatikan Alika.


"Alika, dia siapa?" Tanya dokter Frans penasaran karena Alika membiarkan Zein menggenggam tangannya.


"Oiya, kenalkan ini Zein dan ini Ramon. Zein, ini dokter Frans sahabat aku yang bertugas di rumah sakit ini." Alika memperkenalkan mereka.


"Saya Zein, calon suami Alika." Tegas Zein mengulurkan tangannya.


Frans membalasnya, lalu berbalik melihat Alika meminta penjelasan. Yang Frans tahu, Alika pacaran dengan Dirga dan hubungan mereka sangat serius. Kenapa tiba-tiba ada laki-laki lain yang mengaku calon suaminya. Sementara Alika tidak pernah mengatakan apapun padanya.

__ADS_1


"Apa itu benar Alika?" Tanya Frans meminta penjelasan.


"Ceritanya panjang, lain aja aku jelaskan! Frans, kami harus pergi. Sampai jumpa." Alika melambaikan tangannya lalu mendorong kursi roda Zein.


Mereka menuju parkiran rumah sakit lalu masuk ke dalam mobil. Sebelum Ramon menginjak gas, ia mengambil ponselnya lalu memesan satu tongkat yang paling bagus untuk Zein. Setelah beres, ia meletakkan ponselnya di samping lalu melajukan mobilnya.


"Ramon, kita ke perusahaan Om Hendrik. " Perintah Zein lalu menutup matanya untuk istirahat sejenak.


Alika yang duduk di sampingnya sontak menoleh. Ia tidak menyangka Zein akan bergerak lebih cepat dari perkiraannya.


"Zein." Panggil Alika.


"Hmm." Sahut Zein.


"Apa kita akan membahas masalah Sander?" Tanya Alika memastikan.


"Iya, aku juga akan membahas masalah pernikahan, emangnya kenapa? apa kau tidak setuju?" Tanya Zein melirik Alika.


"Ah, sudahlah, terserah kau saja." Pasrah Alika.


Percuma saja membantah Zein untuk sekarang ini. Entah kenapa Alika merasa sikap Zein berubah setelah bertemu dengan Frans di rumah sakit.


"Frans sahabat aku saat kuliah. Dulu aku, Frans, dan Meriska bertemu di salah satu kegiatan sosial kampus. Pada saat itulah kami mulai berteman hingga sekarang ini." Jelas Alika.


"Hanya teman? nggak ada cerita yang lain? Ramon, apa menurutmu wanita dan laki-laki bisa berteman tanpa memiliki perasaan?"


"Gawat! Zein melibatkan aku lagi? Cemburu.. bilang bos!" Batin Ramon. "Tidak mungkin bos."


"Kenapa tidak mungkin? Buktinya aku, Frans dan Meriska bersahabat sudah bertahun-tahun. Nggak ada masalah dengan itu. Justru kami saling bantu dan melengkapi." Sergah Alika.


"Kamu nggak liat cara dia melihatku tadi? dia sedang cemburu Alika." Ujar Zein.


"Kalau dia cemburu, apa masalahnya? Aku nggak bisa mengatur perasaan orang lain. Mau dia cemburu atau senang itu hak dia. Kenapa seolah aku yang salah." Kesal Alika sambil melipat tangannya di depan dada.


"Yang cemburu itu Zein Alika, Zein..! masa kamu nggak peka." Batin Ramon.


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2