
"Begitu saja marah..! Iya, masakan kamu memang enak." Puji Zein dengan wajah datar lalu meninggalkan meja makan menuju ruang kerjanya.
"Dia sedang memujiku atau mengejekku? kenapa wajahnya selalu saja datar dan kaku? ah, nggak ada manis-manisnya sama sekali." Gumam Alika, Ia tersenyum tipis dan akhirnya muncul ide di dalam otaknya untuk mencairkan kebekuan Zein.
Alika mengambil piring bekas diatas meja makan lalu mencucinya di wastafel.
Drrtt, drrtt, drrtt!
Suara ponsel Alika membuat Alika mempercepat cuci piringnya, setelah selesai, Ia berjalan menuju meja makan dan mengambil ponselnya.
"Dirga." Gumamnya tapi Alika tidak ingin mengangkatnya.
Drrt, drrtt, drrtt!
Suara ponsel Alika kembali berdering beberapa kali. Alika hanya duduk di kursi meja makan sambil melihat ponselnya. Zein yang keluar dari ruang kerjanya berhenti saat melihat Alika sedang menatap ponselnya berdering tanpa henti.
"Siapa yang menelponnya? kenapa dia ragu-ragu mengangkat telponnya? apa itu pacarnya? atau Sander? kenapa juga aku penasaran?" Batin Zein curiga.
Alika bosan mendengar suara ponselnya tidak berhenti berbunyi. Dengan kesal ia menggeser tombol hijau di ponsenya.
"[Apa lagi?]" Kesal Alika.
"[Alika sayang...! kita perlu bicara.]" Suara melas Dirga dibalik telpon.
"[Dasar pria brengsek! Mau ngomong apa lagi? kita sudah nggak ada urusan.]" Ketus Alika.
Mendengar Alika marah, Zein mengernyitkan keningnya makin penasaran, siapa yang menghubungi Alika.
"[Ayolah sayang, aku akan menjelaskannya.]" Bujuk Dirga.
"[Mau jelaskan apa lagi? aku melihat kalian berdua di kamar hotel, kalian hanya memakai pakaian dalam. Apa itu kurang menjelaskan semuanya? apa kamu pikir aku bodoh?]" Geram Alika.
"[Kejadiannya tidak seperti yang kamu pikirkan, aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang kamu dimana? aku akan menjemputmu.]" Bujuk Dirga.
"[Tidak perlu jelaskan, aku tidak mau bertemu denganmu lagi. Aku ingin kita putus!]" Geram Alika.
"[Aku tetap akan menjemputmu. Tunggu aku di lobi apartemen kamu.]" Ujar Dirga.
__ADS_1
"[Dari mana kamu tahu aku di apartemen Venesia?]" Tanya Alika.
Dirga tersenyum puas pancingannya berhasil, Dirga hanya menebak Alika tinggal di apartemen, tapi Alika malah terpancing dan mengatakan nama apartemennya.
"[Itu nggak penting! Sekarang juga aku kesana.]" Jawab Dirga dengan penuh semangat.
Dirga berharap dapat membujuk Alika dan kembali padanya. Dia bahkan rela memutuskan hubungannya dengan Vanesa jika Alika bersedia memaafkan kembali padanya.
"[Aku tidak mau. Kita sudah putus! Mulai sekarang tidak usah mencariku lagi.]" Geram Alika.
"[Aku tidak perduli, aku akan menghubungimu jika sudah sampai di apartemen, jika kamu tidak turun di lobi, maka aku akan naik dan mencarimu.]" Ancam Dirga lalu menutup telponnya.
Alika meletakkan ponselnya di meja makan dengan kasar. Ia menundukkan kepalanya lalu bertumpu pada kedua tangannya yang terlipat diatas meja makan.
"Hikss, hikss." Tangisannya pecah saat itu juga, hatinya kembali sakit mendengar suara Dirga. Suara yang sudah tidak ingin dia dengar lagi. Suara tangis Alika semakin lama semakin pilu mengingat kenangan saat bersama Dirga.
Dulu Dirga sangat mencintai dan memperhatikan dirinya, semua yang Alika inginkan Dirga akan usahakan untuknya. Karena terlalu besarnya cinta Dirga untuknya, Dirga rela berubah dari pria playboy menjadi pria yang lebih baik lagi, bertanggung jawab dan meninggalkan kebiasaan buruknya. Tapi sekarang semuanya kembali. Dirga menghianatinya dan kembali bermain wanita. Seandainya dia tidak bertunangan dengan Zein malam itu, mungkin sampai sekarangpun ia tidak tahu apa yang di lakukan Dirga di belakangnya.
Zein yang melihatnya ikut sedih, dia semakin yakin, apa yang dirasakan Alika sama persis dengan yang Ia rasakan saat ini. Bedanya jika Alika meluapkan rasa sakitnya dengan menangis, sedangkan Zein dengan diamnya. Dia ingin membujuk Alika tapi rasanya begitu berat. Alika dan dirinya tidak cukup dekat untuk saling menghibur. Ia memutuskan untuk tetap berada di depan pintu ruang kerjanya sambil mengirimkan pesan pada Ramon.
Drrtt, drrtt drrtt!
Suara ponsel Alika kembali bergetar. Alika menghapus air matanya lalu melihat siapa yang menghubunginya.
"Mau apa lagi? aku tidak mau bertemu denganmu." Kesal Alika setelah mengangkat telponnya.
"Aku sudah di lobi, cepat turun! jika tidak! maka kamu tahu sendiri kan apa yang akan aku lakukan?" Ancam Dirga.
"Brengsek!" Geram Alika langsung menutup teleponnya. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menghindari Dirga.
Alika langsung berdiri, saat ia berbalik ingin menuju kamar. Ia melihat Zein sedang duduk manatapnya. Alika berhenti sejenak, Ia menghela napas dalam. Dia sangat yakin Zein melihat dan mendengar semuanya. Tidak ingin berdebat dengannya, Ia memutuskan untuk meminta ijin keluar meskipun Ia belum yakin Zein akan mengijinkannya.
"Aku keluar sebentar ada urusan penting, Aku janji tidak akan lama." Ujar Alika.
Zein hanya mengangguk lalu keluar menuju kamarnya. Saat di depan Alika. Alika menghentikan kursi roda Zein dengan kedua tangannya.
"Zein mana ponsel kamu?"
__ADS_1
"Untuk apa? kamu jangan macam-macam ya?"
"Berikan saja, aku janji tidak akan macam-macam."
Zein mengambil ponselnya di saku celana lalu memberinya pada Alika.
"Pasword-nya."
Alika kembali menyodorkan ponsel di hadapan Zein. Zein menurut lalu Alika menghubungi ponselnya. Setelah ponselnya berbunyi, Alika kembali menutup panggilannya.
"Ini!" Alika mengembalikan ponsel Zein.
"..."
Zein hanya diam mengambil ponselnya.
"Apa dia benar-benar akan menemui pria itu? Mungkin itu lebih baik agar urusan mereka selesai." Batin Zein.
"Itu nomor ponselku, jika kamu butuh apa-apa, jangan ragu untuk menghubungi aku." Ujar Alika lalu masuk kedalam kamar mengambil sling bagnya.
"Apa dia bilang? jika aku butuh apa-apa? apa dia pikir aku butuh bantuannya?" Kesal Zein dalam hati.
"Aku pergi Zein. Kamu jangan khawatir, aku janji tidak akan lama." Ujar Alika saat melihat Zein masih mematung melihat dirinya. Alika yakin Zein sangat menghawatirkan dirinya karena melihatnya menangis.
Sebenarnya Zein sangat khawatir dengan keadaan Alika. Seandainya saja ia bisa berjalan, ia akan mengikuti Alika saat itu juga. Ia kembali memukul kursi rodanya dengan kesal.
Alika segera keluar dari pintu menuju lift. Saat sampai di lobi ia melihat mobil Dirga sudah terparkir di depan pintu masuk. Alika menghela napas panjang lalu menghembuskannya dengan kasar. Ia sudah yakin akan mengakhiri hubungannya dengan Dirga apapun yang terjadi. Salah atau tidak Dirga, ia tetap harus mengakhiri semuanya. Meskipun Ia mempertahankan hubungannya dengan Dirga, semua akan percuma dan sia-sia. Toh dia juga sudah bertunangan. Pernikahannya juga akan segera dilaksanakan, tinggal menunggu waktu dan kapan keputusan Hutama.
Dirga menyambut kedatangan Alika dengan senyum manisnya, senyum yang dapat membuat Alika dulu terpesona dan jatuh cinta. Tapi sekarang senyum itu membuatnya eneg dan ingin muntah di depan Dirga.
Tanpa membalas senyum Dirga, Alika langsung masuk ke dalam mobil saat Dirga membuka pintu mobil untuknya.
.
.
Bersambung....
__ADS_1