
"Nggak!" Serentak keduanya.
Frans menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bungkusnya jangan banyak-banyak nanti aku bangkrut gara-gara kalian." Canda Frans.
"Hehehe, mumpung gratis! ya dimanfaatin lah..! lagian kau tidak akan bangkrut jika hanya membelikanku makanan. Uang kamu kan banyak, beli Cafe ini aja bisa, jadi tidak usah pura-pura miskin di hadapanku." Ujar Meriska lalu memanggil pelayan untuk membungkus satu porsi makanan untuknya.
"Nggak tau malu!" Rutuk Alika.
"Biarin, kalau sama kalian sih malu ku sudah aku buang jauh-jauh." Jelas Meriska.
................
## Di dalam ruangan VVIP.
Zein langsung duduk di kursi, sedangkan Monika langsung memeluknya dari belakang. Diciumnya tengkuk Zein dengan begitu lembut hingga ke daun telinga, membuat mata Zein terpejam dan ikut menikmatinya. Sebagai pria normal dan tidak pernah lagi mendapatkan sentuhan selama ia sakit dan Monika pergi, tentu saja Zein sangat membutuhkannya. Entah mengapa Zein langsung teringat saat mencium bibir lembut Alika, matanya yang terpejam sontak terbuka dan mendorong Monika menjauh darinya.
Zein menghela napas berat, dia sudah yakin Monika akan melakukan segala cara untuk membujuknya kembali bersama. Tapi Zein sudah tidak menginginkannya setelah mengetahui bagaimana sifat Monika yang sebenarnya. Ia bersedia bertemu dengan Monika hanya ingin mendengar langsung dari mulutnya, jika dialah yang membunuh Alan.
"Cepat bicara, waktuku tidak banyak!" Ujar Zein sambil melihat jam tangan vacheron constantin yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
"Kamu ini kenapa sih? Ayolah sayang, kita nikmati waktu kita di sini. Apa kau tidak merindukan belaianku?" Tangan Monika sudah mulai membuka kancing baju Zein satu persatu.
"Lepaskan Monika!" Tolak Zein saat dua kancing bajunya telah terlepas.
"Ayolah Zein! aku merindukanmu? aku tau kau juga menginginkannya, atau kau ingin kita melakukan lebih di hotel?" Tawar Monika.
"Tidak." Singkat Zein menjauhkan tangan Monika dari tubuhnya.
"Kenapa sikapmu berubah Zein? apa kau tidak ingin bertemu denganku? kau tidak mencintaiku lagi? atau kau sudah memiliki yang lain? tapi itu tidak mungkin karena kamu hanya mencintaiku kan?" Tanya Monika kesal karena Zein menolaknya.
"Kenapa tidak mungkin? jika sudah tidak ada komunikasi diantara kita, hati bisa saja berpaling seiring berjalannya waktu. Untuk apa bertemu jika semuanya sudah usai Monika? yang ada hanya penyesalan yang akan membuat hati semakin sakit dan hancur. Aku tau kau sudah lama kembali tapi sengaja menghindar dariku. Apa yang kau lakukan di luar sana, aku sudah tau semuanya. Jadi tidak usah berpura-pura baik di hadapanku. Kau wanita munafik yang pernah aku temui. Aku menyesal pernah mencintai wanita sepertimu." Jelas Zein.
"Zein! tidak seperti itu sayang..! oke aku akui aku sudah lama kembali, tapi aku ingin menyelesaikan semua pekerjaanku dulu lalu fokus pada kesembuhanmu. Sekarang aku sudah tidak terikat kontrak kerja lagi, jadi aku memutuskan untuk merawat dan menjagamu." Ungkap Monika.
"Percuma, aku sudah tidak membutuhkannya lagi. Kau bisa liat sendiri, aku bisa berjalan tanpamu. Seseorang merawatku dengan baik dan dia sekarang adalah calon istriku. Dia datang disaat aku butuh tidak sepertimu yang pergi bersenang-senang dengan laki-laki lain saat aku jatuh sakit. Jadi lupakan niatmu untuk bersamaku lagi." Tolak Zein.
"Zein! apa maksud kamu? calon istri? kau tidak bercanda kan sayang?" Selidik monika. "Aku tidak pergi bersenang-senang, aku pergi murni untuk kerja." Sergah Monika.
__ADS_1
"Apa kau kira aku ini bodoh? dapat kau tipu dengan kecantikanmu itu? Sander selalu bersamamu, kalian tinggal di kamar hotel yang sama. Tidak mungkin kalian tidak melakukan apa-apa dalam kamar berdua. Tidak usah mengelak lagi, aku sudah tau semuanya. Termasuk masalah pembunuhan Alan yang sebenarnya." Tegas Zein.
Monika tersentak lalu diam, ia tidak menyangka Zein akan tau semua perbuatannya. Dalam hati ia mengumpat kebodohan Sander. Ia berpikir orang suruhan sanderlah yang membocorkan rahasianya.
"Tidak sayang, itu bukan aku yang melakukannya." Sergah Monika.
"Bukan kamu? kapan aku bilang kamu? apa kau sedang mengakui perbuatanmu, Monika?" Geram Zein mengepalkan kedua tangannya, netranya yang tajam menatap alika dengan sangar.
"A.. aku.." Monika gugup mulai ketakutan.
"Kenapa? kamu kaget aku mengetahui semuanya? Kau dan Sander berencana untuk memeras hartaku bukan? pemikiran picik! Kau tau bagaimana perasaanku saat mengetahui perbuatanmu? aku seperti laki-laki yang tidak memiliki harga diri karena kau injak-injak." Kesal Zein.
Monika menggelengkan kepalanya, isakan tangisnya semakin kencang mendengar segala tuduhan Zein yang benar adanya.
"Sudahlah, berhenti menangis di hadapanku karena semuanya tidak bisa mengubah apapun. Apa kau sadar dengan menghilangkan nyawa Alan kau sudah bertindak kriminal?" Tanya Zein.
"Hikss, maafkan aku Zein, aku melakukannya karena aku nggak mau kehilangan kamu. Aku sangat mencintaimu, aku memang bersama Sander tapi hatiku hanya padamu." Bujuk Monika menggenggam tangan Zein.
Zein segera menarik tangannya lalu menghapus jejak tangan Monika.
"Terima kasih karena sudah mengakui perbuatanmu Monika. Ini akan menjadi bukti di pengadilan. Semoga harimu menyenangkan di penjara nantinya." Zein memperlihatkan ponselnya pada Monika.
"Kau salah menilai aku Monika, sama seperti aku salah menilaimu. Aku tidak akan membiarkan pembunuh sahabatku hidup tenang di luar sana setelah aku mengetahui pelakunya. Siapa pun itu termasuk, kau! Kau juga harus tau kalau Alan adalah Kakak dari calon istriku." Tegas Zein penuh penekanan.
"Tidak mungkin kamu memiliki calon istri kan Zein? kau hanya mencintaiku, aku hanya pergi beberapa bulan, kenapa kamu tega mencari wanita lain." Sergah Monika tidak percaya.
"Kenapa aku tidak tega, sedangkan kamu tega pergi dengan Sander dan menikmati uangku di negara lain." Kesal sander.
"Hikss, hikss.. Aku tetap tidak percaya, jika ia siapa dia Zein? apa aku mengenalnya?" Monika semakin menangis .
"Kamu ingin tahu wanita seperti apa yang akan menjadi istriku? Dia wanita yang baik, jujur, mandiri, sayang dengan keluargaku, menerima aku apa adanya dan menemaniku disaat aku sakit. Jika kamu penasaran dengannya, sekarang buka ponsel kamu. Kamu akan tahu setelah melihatnya sendiri." Ungkap Zein.
Sekarang di media sosial, berita pertunangan Zein dan Alika sedang menjadi trending topik. Pertunangan mereka di gelar di sebuah hotel mewah yang ada di Roma. Pertunangan hanya dihadiri oleh keluarga besar dan beberapa kolega bisnis keluarga mereka.
Ramon yang sedang duduk diluar baru saja mengunggahnya saat duduk menunggu di Cafe. Sebelum mereka masuk ke dalam Cafe, Zein sempat memerintahkan Ramon untuk mengpublikasikan pertunangannya.
Para wartawan yang ikut hadir dalam acara itu pun sudah menyiarkan di TV dan menjadi berita besar. Meskipun beritanya terlambat tapi masih saja heboh dan meramaikan dunia maya. Bagaimana tidak ramai jika pertunangan seorang Milyader muda dan pebisnis sukses telah di gelar. Yang menjadi bahan perbincangan adalah siapakah wanita cantik yang beruntung mendapatkan Milyader muda itu, dan mengapa baru sekarang pertunangan mereka dipublikasikan.
__ADS_1
Berbagai opini publik pun muncul, ada yang mengatakan jika Alika menjebak Zein, ada yang bilang mereka dipaksa tunangan, dijodohkan, mereka menikah karena cinta, dan masih banyak lagi opini yang mereka keluarkan.
Monika menggelengkan kepalanya tidak percaya, tangan kanannya memegang ponsel dan tangan kirinya menutup mulutnya. Pandangannya berganti dari ponselnya ke wajah Zein yang datar dan dingin. Tidak ada lagi Zein yang hangat dan penuh kasih dimatanya, Zein yang selalu tersenyum dan memberinya cinta. Kini Monika benar-benar menyesal telah pergi meninggalkan Zein.
"Tidak!" Teriak Monika sambil mengambil gelas diatas meja lalu membantingnya ke lantai.
.
.
.
Bersambung....
Author mau ngasih visual dulu ya...
Visual Alika
Visual Zein
Visual Ramon
Visual Meriska
Visual Monika
Sahabat Author yang baik ❤️
__ADS_1
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏