Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Keputusan Sepihak


__ADS_3

Deg!


Zein, Prayoga, dan Feronica seketika tersentak dengan keputusan sepihak Hendrik.


Zein tertegun beberapa menit mencerna dengan baik setiap kata yang keluar dari mulut Hendrik. Sungguh bukan ini yang dia inginkan dan harapkan saat ini.


"Om, maafkan aku! tapi aku tidak akan meninggalkan Alika apapun yang terjadi. Aku juga tidak akan membatalkan perjodohan kami. Aku sudah berjanji padanya untuk menikah bulan depan, dan sekarang Om menginginkan kami berpisah? apa Om setega itu padanya?"


"Om tidak perduli dengan janji atau apapun lagi Zein! sekarang Om akan mengurus kepindahan Alika." Tegas Hendrik.


"Hendrik, kita masih bisa bicarakan ini baik-baik. Tenanglah, Alika pasti baik-baik saja." Sela Prayoga.


"Baik apanya? Kau tidak lihat keadaan anakku di dalam sana? hanya dengan bantuan alat-alat itu, ia masih bisa bertahan hidup, dan kamu menyuruhku untuk tenang?" Hendrik menunjuk ruangan ICU, "Zein tidak sungguh-sungguh menginginkan Alika! Dia sudah membiarkannya menderita, lihat sekarang! karena aku percaya padanya, anakku berada diambang kematian! Maka dari itu, saat ini juga aku akan membawa anakku pergi darinya!" Sentak Hendrik.


"Tidak Om, aku mohon! jangan pisahkan aku dengan Alika. Maafkan aku."


Zein kembali meminta maaf, duduk berlutut di depan Hendrik sambil menutup kedua telapak tangannya di depan dada. Ia akan terus mengucapkan kata 'maaf' walau sampai seratus hingga seribu kali-pun akan ia lakukan asal tidak dipisahkan dengan Alika.


Prayoga dan Feronica hanya diam, mereka juga kaget melihat reaksi Zein yang menurutnya sudah melewati batas. Terlintas pertanyaan di kepala keduanya, apa Zein sudah mencintai Alika? hingga dia rela berlutut di hadapan orang lain dan menjatuhkan harga dirinya yang selama ini ia tidak pernah lakukan.


"Jangan melakukan sesuatunya yang bisa menurunkan harga dirimu Zein! karena Aku tidak akan tersentuh apapun yang kulakukan!"


Hendrik berdiri kemudian menggenggam tangan Belinda menuju bagian administrasi rumah sakit. Sebenarnya pihak rumah sakit tidak berani mengeluarkan Alika, namun Hendrik dengan berani menandatangani surat persetujuan dan bersedia menanggung apapun resiko yang akan dia hadapi.


"Mah, Pah, bantu Zein meyakinkan Om Hendrik. Zein tidak pisah dari Alika." Melas Zein menggenggam tangan Feronica.


Feronica dan Prayoga saling melirik, mereka sangat mengenal Hendrik. Apa yang sudah menjadi keputusannya, maka itu yang akan terjadi. Tapi demi Zein, mereka akan berusaha untuk membantunya.


"Tenanglah Zein, Papa akan bicara dengan Hendrik, tapi biarkan dia membawa Alika pergi dari sini agar perawatannya maksimal. Aku rasa keputusannya sudah benar." Bujuk Prayoga.


Zein hanya mengangguk kemudian kembali berdiri melangkah menuju dinding kaca. Maniknya yang hitam hanya tertuju pada satu titik dimana Alika sedang terbaring.


"Aku akan berjuang untuk mendapatkanmu kembali, tunggu aku Alika, sekali lagi maafkan aku karena membuatmu menderita." Lirih Zein.

__ADS_1


Zein menemui dokter meminta ijin masuk kedalam sebelum Alika di pindahkan ke rumah sakit pusat.


Begitu dokter mengijinkannya, ia segera masuk. Duduk di kursi kemudian menggenggam tangan Alika dan menciumnya berkali-kali.


"Sayang..! Om Hendrik akan membawamu pergi dariku, jujur aku tidak siap berpisah denganmu. Disaat aku mulai membuka hati dan jatuh cinta, kita dipisahkan oleh keadaan. Mungkin kau akan menertawakanku karena terlalu cepat membuka hati dan mengakui perasaanku. Aku juga tidak tau itu mulai kapan! tapi sungguh Aku mencintaimu, Alika, aku sangat mencintaimu. Kembalilah pulih dan berikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku." Zein kembali mencium tangan Alika, "Cepatlah sadar dan kembali sehat. Aku janji perpisahan ini hanya sementara dan aku akan selalu menjagamu dimanapun kamu berada. Aku akan membawamu bersamaku suatu saat nanti. Meskipun Om Hendrik melarangnya, tapi aku akan berjuang untuk cintaku. Bangunlah! dan lihat aku! aku sedang menangis di sini, sendiri, kau suka menertawakanku kan? ayo buka matamu dan tertawalah, ejek aku. Aku merindukanmu."


Setetes air mata Zein menetes tak tertahankan. Ia menghapusnya lalu mengusap wajahnya dengan kasar. Menarik oksigen sebanyak-banyaknya lewat rongga hidung kemudian melepasnya dengan kasar. Hatinya begitu berat melepaskan kepergian Alika. Baru saja ia memanjakan hatinya u tuk Alika namun cobaan tiba-tiba datang menguji cintanya.


Zein mengambil ponselnya, mengambil gambar dirinya sedang mencium tangan Alika sambil melihat ke kamera.


"Ini akan aku simpan sebagai kenangan kita di rumah sakit. Semoga kamu cepat sembuh sayang, dan kita bisa kembali bersama."


Zein beranjak dari kursinya, membelai rambut Alika penuh kasih sayang kemudian mencium keningnya. Tanpa ia sadari empat pasang mata sedang menatapnya di balik kaca.


Hendrik yang baru saja menyelesaikan administrasi segera masuk. Menarik Zein keluar agar dokter segera melakukan tindakan untuk memindahkan peralatan Alika ke dalam ambulans.


Butuh waktu satu jam mengurus semuanya. Kini Alika berada di dalam ambulans.


"Apa yang kau lakukan Zein! Jangan dekati anakku lagi."


"Om, ijinkan aku menemaninya sampai di rumah sakit."


"Tidak! sekarang juga kamu pergi dari sini." Bentak Hendrik. Kemudian menyuruh Belinda masuk ke dalam mobil ambulans.


"Om, please..! kali ini aja biarkan aku disampingnya."


Zein tidak menyadari jika dirinya sekarang ini menjadi pusat perhatian. Ramon dan Lucas yang baru saja tiba, ikut tercengang melihat betapa buruknya keadaan Zein saat ini. Begitupun dengan Prayoga dan Feronica juga beberapa dokter, suster dan orang-orang yang melewati mereka.


"Zein, sudah! ayo kita pulang, kita akan menjenguk Alika di rumah sakit."


"Tidak Pah! aku tidak ingin pulang! aku ingin menemani Alika. Kenapa Papa tidak mengerti posisiku? aku tidak mau pisah dengannya Pah, aku ingin di dekatnya."


Tanpa memperdulikan teriakan Zein yang menggila, Hendrik segera masuk kedalam mobil kemudian pintu di tutup oleh supir ambulans.

__ADS_1


Saat ambulans mulai jalan, Zein berlari mengikutinya sambil mengetuk pintu dari belakang.


"Om, biarkan aku ikut.. Om..!" Teriak Zein, tapi mobil tetap melaju dengan suara sirine yang cukup keras di gendang telinga.


Zein terjatuh di aspal bertumpu pada kedua lutut dan tangannya, mengangkat kepala sambil menatap kepergian Alika seiring semakin menghilangnya suara sirine ambulans.


Zein mengusap wajahnya dengan kasar, gagal membujuk Hendrik membuatnya semakin frustasi. Ia sangat tidak rela Alika pergi meninggalkannya.


Prayoga melirik Ramon dan Lucas, memberi kode agar mereka membawa Zein pergi dari sana.


Ramon menepuk pundak Zein untuk memberikan ketenangan. "Ayo kita pulang Zein! tenanglah, kita akan mencari cara untuk menemui Alika." Bujuk Ramon.


"Kau tidak mengerti Ramon! aku sangat kehilangan Alika." Lirih Zein.


"Kenapa kau jadi lemah? ini bukan Zein yang aku kenal! Zein yang selalu berpikir sebelum bertindak, tidak pernah menyerah, apapun akan dihadapi untuk mencapai tujuannya meskipun harus dengan cara licik! jika Hendrik melarangmu bertemu Alika, kita masih memiliki seribu cara untuk melawan."


"Kau tidak mengenal Hendrik dengan baik Ramon! Dia tahu apa yang ada di kepalaku sebelum aku melakukannya."


"Tapi dia tidak tahu apa yang ada di dalam kepalaku kan? ayo kita pergi."


Ramon dan Lucas menarik tangan Zein untuk berdiri. Mengajaknya masuk ke dalam mobil dan ikut bersama Prayoga kembali ke Roma.


Saat diperjalan, Zein menelpon Hutama, memberi tahu jika dirinya dan Alika kembali ke Roma karena ada urusan mendadak yang harus di kerjakan. Dia tidak ingin Hutama menghawatirkannya dan berujung penyakitnya kambuh. Beruntung Hutama tidak curiga sehingga Zein bisa bernapas dengan lega.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2