
"Aku juga merindukanmu sayang..!"
"Tuh kan, aku makin halu, bukan hanya bayangan Zein yang selalu datang di hadapanku, sekarang suaranya juga terdengar." Monolog Alika.
Alika memejamkan matanya. Membayangkan wajah Zein yang sedang tersenyum menatapnya. Air matanya mengalir kepelipis, membasahi seprei yang berwarna putih.
"Hikss, hikss, Andai kau ada disini. Mungkin aku akan baik-baik saja. Hatiku hampa tanpamu, Zein. Maafkan aku membuatmu kecewa, aku terpaksa mengikuti keinginan Papa, rasanya ingin mati saja. Aku tidak tau bagaimana hidupku kedepannya. Aku hanya berharap suatu saat kita bertemu dalam keadaan sama-sama bahagia. I love you, Zein." Lirih Alika sambil menangis.
"I love yo too.. sayang. Buka matamu." Jawab Zein yang masin berbaring menutupi seluruh tubuhnya dibalik selimut.
"Aku nggak mau," Alika masih menutup mata sambil menggelengkan kepalanya, "Jika aku buka mata, kamu pasti menghilang. Tetaplah temani aku disini walau hanya dalam mimpi dan bayanganku." Monolog Alika kembali.
Zein membuka selimut, mensejajarkan dirinya dengan Alika. Ia menangkap wajah Alika dan menghapus air matanya.
Alika menggeliat, merasa apa yang di rasakannya begitu nyata, tapi enggan untuk membuka mata karena tidak ingin kehilangan bayangan Zein.
Zein menyampirkan rambut Alika ke belakang telinga, mengusap lembut sisi wajahnya kemudian mencium keningnya. Tapi Alika masih belum sadar jika Zein benar-benar dihadapannya. Ia merasa dirinya sedang bermimpi membuat Zein semakin gemas. Zein mencium bibir Alika dengan lembut, tangannya mulai menyentuh paha mulus Alika yang hanya memakai dress diatas lutut.
"Mmhh.." Alika melenguh membalas ciuman Zein dan membuka mulutnya, membiarkan Zein mendominan dan saling menyesap. Pikiran Alika mulai sadar, Ia mulai meraba dada Zein dari atas ke bawah. Ini nyata dan bukan mimpi. Ia kemudian membuka matanya, menatap netra hitam yang beberapa hari ini selalu dirindukannya.
Zein melepaskan bibirnya, tersenyum manis pada pujaan hatinya yang sedang memperlihatkan wajah lucu dan menggemaskan karena kaget antara percaya dengan tidak.
"Kenapa?"
"Zein, kau beneran di sini?" Tanya Alika seketika bangun dan duduk di sisi tempat tidur. Begitupun dengan Zein, kini mereka duduk berdampingan dan saling memandang.
Zein tersenyum memperlihatkan deretan giginya yang rata. "Apa kau pikir aku ini hantu?" Ujar Zein.
"Tapi, bagaimana bisa? di depan ada pengawal dam masih ada saat aku masuk."
"Hehehe... itu pengawal aku sayang. Kamu merindukan aku ya?" Tanya Zein.
Alika tersenyum wajahnya memerah karena malu.
"Gemmess.." Zein mencubit pipi Alik dengan satu tangan.
Alika langsung memeluk Zein posesif, tanpa sadar tindakannya telah membangunkan sesuatu dibawah sana yang sempat ditahan Zein saat mereka berciuman.
__ADS_1
"Aku takut berpisah denganmu, Zein."
"Jangan takut, sekarang aku disini."
"Tapi besok aku..."
"Ssstt..." Zein menutup mulut Alika dengan jari telunjuknya, "tidak akan kubiarkan semua itu terjadi."
"Maksudnya?"
"Mmmm... kasi tau nggak ya?" Zein pura-pura berpikir.
"Ihh.. kamu nyebelin! Jawab."
"Dengar," Zein menangkup wajah Alika, "agama melarang ada lamaran diatas lamaran. Apalagi aku sudah mempersiapkan semuanya untuk masa depan kita. Aku tidak pernah memutuskan pertunangan kita begitu juga denganmu."
"Tapi Papa.."
Tuk!
"Sekarang jangan dipikirkan lagi. Kamu harus tanggung jawab karena membangunkan Juni yang sedang tidur." Ujar Zein.
"Ju.. Juni?" Gumam Alika dimana setelah beberapa menit kemudian, ia baru sadar tangan Zein perlahan merambat menurunkan resleting gaun yang dipakainya, "Tu.. tunggu!" cegah Alika dengan mendorong Zein, tapi sepertinya percuma, tidaknada yang bisa mencegah Zein jika menginginkan sesuatu, "Kamu belum menjawab." Ujar Alika gugup. Ia belum pernah melakukan hal sejauh ini dengan siapapun termasuk dengan Dirga.
Zein menghentikan gerakan tangannya dibalik punggung Alika, kemudian menatap netra hitamnya dengan pandangan mulai berkabut. "Junior sayang..! burung kaka tua aku." Jawabnya sambil melihat kebawah.
Alika melotot, ia dapat melihat dengan jelas burung kaka tua itu sedang berusaha untuk keluar dari sangkarnya. Wajahnya berubah memerah, dengan gerakan cepat ia menutup matanya agar pikirannya tidak kemana-mana.
"Kenapa tutup mata? sebentar lagi kamu juga akan bertemu dengannya." Tanya Zein jahil.
"Dasar kaku mesum!" Kesal Alika memukul dada Zein tanpa menyadari kini posisinya sangat berbahaya. Alika mendorong tubuh Zein berbaring sedangkan dirinya diatas Zein.
Zein memutar posisi tubuh Alika dibawahnya, mengunci kedua tangannya dengan tatapan memuja. Zein mendekatkan wajahnya namun tangan Alika menahannya.
"Tunggu Zein."
"Apa lagi sayang..?"
__ADS_1
"Aku ingin tau, apa yang akan kau lakukan bes..."
Seketika mulut Alika terbungkam oleh bibir Zein dan tak bisa melanjutkan kata-katanya. Zein menciumnya tanpa menutup mata. Bahkan menatapnya memuja dan penuh mendamba. Membuat wajah Alika memanas dan memerah.
Zein menarik kepala sehingga tautan bibirnya terlepas dari bibir Alika. Henbusan napas pun menerpa wajah cantik Alika dimana hembusan napas Zein juga menerpa wajahnya.
"Aku akan membuat calon tunangan berumu tidak hadir di acara besok. Jika masih ada pertanyaan, aku akan menjawabnya setelah menjadikanmu seutuhnya milikku, mengesahkan dimata hukum menjadi wanitaku, istriku, dan ibu dari anak-anakku kelak." Jawab Zein.
Tak dapat diungkapkan bagaimana perasaan Alika saat ini. Wajahnya semakin memerah karena rasa malu dan terharu disaat yang bersamaan. Tak terasa air matanya menetes begitu saja. "Makasih ya Zein."
"Makasih untuk..?"
"Untuk semua perhatian yang kau berikan." Jawab Alika seraya mengangkat kedua tangannya menangkup wajah Zein, menariknya dan memberikan ciuman hangat penuh perasaan.
Tautan bibir mereka terus berlanjut dimana tangan Zein pun tidak tinggal diam menanggalkan pakaiannya dan pakaian Alika. Sampai pada akhirnya pakaian mereka berhamburan di lantai dan *******-******* tertahan terdengar lolos dari mulut keduanya.
.....................
Di tempat lain, tepatnya di lobi hotel, Ramon sedang sibuk berbicara dengan anak buahnya untuk mengurus sesuatu yang perintahkan oleh Zein. Setelah semuanya beres, ia melihat jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah tiga jam Zein didalam kamar Alika namun sampai sekarang belum juga ada tanda-tanda akan keluar.
Ramon mendengus kesal, mengusap wajahnya denga kasar. Pikirannya jadi tidak tenang mengingat apa yang sedang Zein lakukan diatas sana sementara disini dirinya sedang sibuk.
"Dasar bos tidak ada akhlak!" Gumam Ramon kemudian menunju resepsionis.
Ramon ikut chek-in, mengambil kunci kamar yang berhadapan dengan kamar Alika. Dia juga butuh istirahat untuk mengumpulkan tenaganya besok. Setelah mengambil kunci ia menuju lift kemudian masuk kedalam lalu menekan lantai dua puluh lima.
Saat sampai di depan pintu kamar, ia mendekati anak buahnya yang berjaga.
"Jika Tuan keluar, bilang Aku didalam." Perintah Ramon kemudian menunjuk pintu kamarnya. Ia sangat yakin jika Zein masih lama. Makanya ia memutuskan untuk menunggu Zein sambil istirahat.
Ramon membuang tubuhnya diatas tempat tidur, berbaring menatap langit-langit sambil menekan pelipisnya yang sedikit pening. Sungguh ia sangat lelah, masalah cinta segitiganya dengan Zaskia dan Richard sudah selesai, dan dia lebih memilih mundur agar keduanya bahagia. Tapi masalah percintaan bosnya belum selesai. Besok adalah puncak dari perjuangan Zein untuk mendapatkan kembali calon istrinya.
Ramon menghela napas berat. Mencoba menutup mata u tuk menghilangkan rasa penat dipalanya. Baru beberapa menit kesadarannya menghilang, ponselnya tiba-tiba berdering.
Ramon mengernyitkan keningnya saat melihat nama perempuan yang menelponnya. Sudah beberapa hari mereka tidak berdebat baik secara langsung maupun lewat telepon. Dengan malas ia menggeser tombol hijau diponsenya.
"[Halo..]"
__ADS_1