Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Kembali


__ADS_3

.............


Di tempat lain Hendrik mendapatkan Lapor dari anak buahnya jika Zein sedang berada di hutan mencari Alika.


"Tuan, Zein dan anak buahnya sudah menemukan Nona Alika. Sekarang mereka sudah disana." Lapor anak buah Hendrik.


"Dimana?" Tanya Hendrik.


"Di tengah hutan, tepatnya di Mansion milik Alexis."


"Alexis? jadi dia mencuri anak dan istriku?"


"Benar Tuan."


"Brengsek! apa yang anak muda itu lakukan? apa dia tidak takut berhadapan denganku!" Geram Hendrik.


Tidak lama kemudian bel rumah berbunyi. Titin yang sedang berada di dapur segera berjalan menuju pintu.


"Nyonya?!" Titin sangat kaget begitu melihat Belinda berdiri di depan pintu. Ia kemudian segera berbalik ke ruang kerja Hendrik untuk memanggilnya.


Tok.. tok.. tok..


"Tuan, Nyonya sudah pulang?" Teriak Titin.


Hendrik dan anak buahnya saling melirik kemudian segera keluar menemui Belinda.


"Sayang..! kamu pulang? Dimana Alika?" Tanya Hendrik kemudian memeluk Belinda dengan erat.


"Hikss... Alika Pah, Mereka menyandera Alika."


Suara Belinda bergetar, rasanya sangat sulit mengeluarkan kata-kata dari mulutnya karena masih syok.


"Sudah, jangan menangis sayang..! Zein sudah di sana, Papa yakin Dia akan membawa Alika pulang untuk kita. Anak buahku juga sudah menyusulnya, jadi kamu tenanglah! jangan dipikirkan lagi." Hendrik berusaha menenangkan istrinya meskipun sebenarnya dia sendiri merasa khawatir.


"Tapi, mereka menyuruhnya menghancurkan sepuluh perusahaan sekaligus. Apa anak kita mampu melakukan itu?" Tanya Belinda yang tidak tahu kemampuan Alika sebagai seorang hacker handal.


"Sudahlah, lebih baik kamu istirahat. Alika tidak akan mungkin tega melakukan itu, mungkin mereka salah menangkap orang." Bujuk Hendrik tetap menutupi keahlian Alika.


"Aku tidak akan tenang sebelum melihat Alika di rumah ini Pah, aku khawatir."


"Ia, aku tau sayang, biarkan itu menjadi urusanku dan Zein."


Hendrik kemudian membawa Belinda menuju kamar. Ia juga meminta Titin membawakan makanan untuknya. Setelah itu kembali ke ruang kerjanya.


Hendrik terus memantau pergerakan Zein. Anak buahnya sengaja membiarkan Zein masuk ke dalam Mansion. Mereka hanya mengawasi dari luar. Jika Zein kalah, barulah mereka bertindak sesuai dengan perintah Hendrik.


Satu jam Mereka menunggu, akhirnya mereka menghela napas lega. Mobil yang di kendarai Ramon dan anak buahnya keluar dari Mansion bersama dengan Zein dan Alika. Mereka kemudian mengabari Hendrik jika Zein telah berhasil menyelamatkan Alika dari tangan Alexis.


.................

__ADS_1


Beberapa hari telah berlalu.


Zein kembali ke Roma karena urusan penting yang harus ia selesaikan. Salah satu pesawat miliknya mengalami kecelakaan di bandara Roma saat hendak lending. Beruntung tidak ada korban jiwa, tapi para penumpang terluka akibat benturan di dalam pesawat.


Zein menanganinya dengan cepat dengan membawa penumpang ke rumah sakit dan membayar semua biayanya serta memberikan asuransi kepada mereka sebesar delapan ratus juta perorang. Bayangkan berapa banyak uang dikeluarkan oleh Zein jika penumpang pesawat mencapai seratus tiga puluh orang. Benar-benar seorang milyader kan?


Setelah urusan selesai dan semua korban menerimanya, Zein bernapas dengan lega. Ia kemudian kembali ke Mansion orang tuanya diantar oleh Ramon.


"Zein, kamu sudah pulang? bagaimana dengan korban? apa mereka tidak memperpanjang masalah?" Tanya Feronica khawatir.


"Tidak Mah, semuanya susah beres." Jawab Zein. "Tunggu Mah, kenapa Mama bawa koper? Mama mau kemana?" Tanya Zein.


"Kita harus ke rumah sakit sayang, Kakek kamu kritis." Sela Prayoga.


"Kritis? kenapa nggak ada yang bilang jika Kakek masuk rumah sakit?" Kesal Zein.


"Kami tidak ingin membuatmu khawatir nak. Kamu sedang banyak masalah sekarang, mulai dari masalah Om Hendrik, pesawat yang kecelakaan, dan sekarang Kakek." Jawan Feronica.


"Tapi kesehatan Kakek juga prioritas Zein Mah. Mama dan Papa duluan aja, aku akan menyusul bersama Ramon. Oiya, apa Om he dan dan Tante Belinda sudah tahu?" Tanya Zein.


"Sudah sayang, mereka akan datang menjenguk Kakek." Jawab Feronica.


"Baiklah, Mah, Pah! Zein mandi dulu, badan Zein lengket semua, gerah. Xein akan menyusul secepatnya." Pamit Zein mencium tangan Feronica dan Prayoga kemudian berjalan menuju kamarnya.


Saat di kamar, Zein mengambil ponselnya kemudian menghubungi Ramon untuk menjemputnya. Mereka akan kerumah sakit dekat perkebunan untuk menjenguk Kakek Hutama.


Setelah menutup telpon, Zein segera mandi. Tidak butuh waktu lama Zein selesai mandi. Masih menggunakan handuk sebatas pinggang, ia duduk di sisi tempat tidur. Ia mengambil ponselnya kemudian menghubungi Alika.


"[Kamu masih dikantor? jam segini?]" Tanya Zein kesal saat melihat wallpaper ruangan dibelakang Alika.


"[Hehehe... ia sayang, tapi sebentar laginjyga selesai.]" Alika menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"[Nggak, aku nggak mau tau, sekarang juga kamu pulang bersama Meriska. Nggak ada acara lembur-lemburan.]" Perintah Zein.


"[Ia deh... tapi kamu pakai baju dulu baru nelpon. Kamu menodai mata suciku ini.]" Ujar Alika dengan wajah bersemu merah.


"[Latihan sayang.. nanti juga kamu lihat semuanya.]"


Meriska yang mendengar ucapan Alika seketika matanya membola, ia melihat layar laptopnya tapi telinganya fokus mendengar percakapan Alika dan Zein yang absurd.


"[Ihh.. sudah ah. Oiya, bagaimana dengan penumpang dipesawat, apa mereka baik-baik saja?]"


"[Ia sayang, semuanya sudah beres, hanya saja pesawatnya harus diganti. Aku sudah memesan pesawat yang baru, tapi baru beroperasi tiga bulan kedepan karena harus melewati beberapa proses.]" Jelas Zein.


"[Syukurlah jika seperti itu. Aku doain semoga urusan kamu berjalan lancar.]"


"[Iya sayang, makasih.]"


"[Makasih apanya?]"

__ADS_1


"[Makasih doanya sayang..! makin cinta deh..]" Goda Zein.


"[Sama-sama. Sudah dulu ya? aku mau pulang.]" Ujar Alika, Jika dilanjutkan terus obrolannya dengan Zein, bisa-bisa dia semalam tinggal di kantor.


"Eh.. tunggu dulu sayang, Aku mau berangkat ke rumah sakit, Kakek kritis."


"Hah? Kakek kritis?" Alika kaget mendengar Hutama masuk rumah sakit. Dalam hati ia ingin menjenguk Hutama, tapi sebelumnya ia harus menyelesaikan pekerjaannya.


"Hei.. kok bengong?"


"Mmm.. aku akan usahakan ke sana setelah pekerjaanku selesai. Salam buat Kakek, Om Prayoga dan Tante Feronica ya? Babay.. sayang..!"


"Eh, kiss dulu dong!"


"Kamu ya, malu ada Meriska disini." Ujar Alika berbisik.


"Nggak apa-apa, dia pasti ngerti kok. Ayo dong sayang..! kalau kamu nggak mau, aku juga nggak akan tutup telponnya."


Alika melirik Meriska yang masih fokus menatap laptop sementara jari-jarinya menekan keybord. Tapi satu hal yang Alika tidak tahu jika Meriska sedang memasang kuping mendengar pembicaraan mereka.


"Mmuachhh.. sudah ah!"


"Masa cuma satu kali, nggak terasa sayang. Sekali lagi dong..!" Zein memelas.


"Mmuachhh.. Mmuachhh.. Mmuachhh."


Alika menutup telponnya tanpa memberikan kesempatan Zein untuk membalasnya, ia tersenyum kemudian kembali bekerja bersama Meriska.


"Ciee.. ciee.. ciee.. yang baru telponan sama pacar. Rasanya berbunga-bunga banget ya?" Ejek Meriska.


Plak


"Ihh, apaan sih!" Alika memukul pelan bahu Meriska. Wajahnya memerah karena malu di ejek Meriska.


"Sudah ah! Ayo kita harus selesaikan malam ini, Meris. Kakek masuk rumah sakit dan aku ingin menjenguknya." Ujar Alika.


"Kakek Hutama sakit apa?"


"Jantung."


"Oke, ini juga tinggal sedikit lagi."


"Oke, semangat." Ujar Alika menaikkan kepalan tangan menyemati dirinya.


Alika berusaha keras untuk mengembalikan data perusahaan yang telah ia sebotase. Beruntung masih ada Meriska yang selalu menemaninya kerja lembur hingga semuanya kembali normal.


"Hah... akhirnya selesai juga. Aku sangat bersyukur memiliki kamu Meris, kamu memang selalu bisa aku andalkan. Makasih bantuannya besti.." Alika memeluk Meriska setelah menutup laptopnya. Baru hari ini ia dapat bernapas dengan lega.


Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Para karyawan yang bekerja lembur juga sudah pulang. Hanya tinggal mereka berdua di dalam kantor.

__ADS_1


"Sebaiknya kita pulang, aku sudah sangat lapar." Ujar Meriska sambil memegang perutnya yang sudah berbunyi.


__ADS_2