Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Mengungkapkan Perasaan


__ADS_3

Manik Alika seketika berbinar, ia menepuk pipinya dua kali karena menganggap dirinya sedang bermimpi. Alika tersenyum, kali ini ia tidak bermimpi. Sekarang Zein nyata sedang berdiri dihadapannya.


"Zein..! aku tidak mimpi kan?"


"Tidak sayang..! aku disini." Zein mengusap puncak kepala Alika dengan lembut.


Alika segera bangun merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Zein dengan erat. Setelah beberapa menit melepas kerinduan, Alika melepaskan tangannya, duduk bersandar pada bantal sambil memperhatikan penampilan Zein yang sangat berbeda dari aslinya.


"Tunggu, kenapa penampilanmu seperti ini? kalau mau menghiburku tidak usah berlebihan, hahaha.... wajah kamu sangat lucu Zein, menggelikan!" Ejek Alika sambil tertawa hingga memegang perutnya.


"Jika aku tidak seperti ini, aku tidak akan bisa menemuimu." Batin Zein kemudian membiarkan Alika terawa, "Sudah puas tertawanya?"


"Hehehe.. sudah! perutku sampai sakit Zein."


"Aku senang bisa melihatmu tertawa seperti ini."


"Tapi kau jahat! kenapa baru menemuiku? apa pekerjaanmu lebih penting dariku?"


Alika mengeluarkan kekesalannya. Terlalu banyak pertanyaan di dalam otaknya yang harus ia keluarkan.


"Tidak sayang..! aku sering kesini, hanya saja di depan kamar ada dua pengawal yang sedang berjaga. Bagiku kau yang paling penting dalam hidupku. Maaf, karena baru bisa menjengukmu. Apa kau baik-baik saja? atau masih ada yang sakit?" Tanya Zein sambil memperhatikan tubuh Alika mungkin masih ada yang sakit.


Alika menggelengkan kepalanya, "Tidak, aku sudah sembuh, mungkin besok sudah bisa pulang. Kita akan kembali ke perkebunan kan?" Semangat Alika.


Zein menggenggam tangan Alika, Netranya yang hazel menatap sendu mata Alika. "Maaf Alika, Om Hendrik telah memutuskan pertunangan kita. Dia sangat marah padaku karena tidak bisa menjagamu dengan baik." Ungkap Zein.


Alika terkejut, menarik tangan yang di genggam oleh Zein. Ia baru sadar jika selama ini kedua orang tuanya sengaja menjauhkan dirinya dari Zein karena kesalahan yang ia buat dengan keluar dari rumah tanpa pamit.


"Jadi, karena itu kau tidak pernah datang menjenguk ku Zein? Papa memutuskan pertunangan kita dan kamu melepasku begitu saja? Aku sungguh kecewa, kau tidak berusaha mempertahankan aku? atau memang kau ingin kita berakhir?"


Zein mengambil tangan Alika, menggenggamnya kemudian menciumnya dengan lembut. "Tidak Alika..! Aku akan melakukan apa saja agar kita kembali bersama. Untuk sementara kamu harus kembali ke Milan bersama mereka. Om Hendrik sedang marah besar dan butuh waktu untuk tenang. Jika aku memaksa maka semuanya akan sia-sia. Aku janji akan menyusul setelah urusanku disini beres, setelah itu membujuk Om Hendrik agar kembali merestui hubungan kita. Kamu mau menungguku kan?" Bujuk Zein.


"Kenapa aku harus menunggumu?" Selidik Alika.


Mata mereka kembali bertemu, mereka hampir lupa jika disana ada dua suster yang sedang pura-pura melihat layar ponselnya.

__ADS_1


"Karena.. aku mencintaimu, Alika." Gugup Zein. Masih belum yakin untuk mengatakannya pada Alika. Tapi dia harus mengungkapkan isi hatinya saat ini karena Alika akan pergi bersama kedua orang tuanya.


Deg!


"Apa kamu bilang?" Alika pura-pura mendekatkan telinganya ke wajah Zein.


"Jangan pura-pura tidak dengar. Aku tidak akan mengulangnya dua kali." Jawab Zein dengan wajah datarnya.


"Dasar batu, mengatakan cinta aja sangat kaku, nggak ada romantis-romantisnya." Batin Alika,


"Aku juga cinta kamu Zein." Balas Alika dengan jujur dengan senyuman manis di bibirnya yang mungil.


Deg!


Zein hanya diam menatap Alika, mulutnya terkunci rapat-rapat tidak percaya. Ia langsung menarik tubuh Alika lalu memeluknya.


"Aku sangat mencintaimu, aku tidak ingin kehilanganmu! Kamu harus janji, apapun yang terjadi kau akan menungguku. Aku akan berjuang untuk cinta kita. Sabarlah! aku akan meluluhkan hati Om Hendrik kembali dan kita akan tetap menikah bulan depan sesuai janjiku padamu."


Alika mengangguk, Bunga yang sudah layu di dalam hatinya kembali mekar. Perasaannya sangat lega karena ternyata cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Jika Zein tidak mengatakannya lebih dulu, mungkin perasaan itu akan ia simpan dalam hati.


"Hmm."


"Pelukanmu terlalu kencang, aku tidak bernapas." Canda Alika.


"Maaf, sayang..! aku terlalu senang." Zein melepaskan pelukannya, "Mulai sekarang kau milikku, jangan coba-coba mendekati pria lain atau aku akan membunuhnya dihadapanmu."


"Ihh, sadis banget!"


"Aku tidak suka milikku disentuh pria lain. Jadi, kamu harus jaga jarak jika berhadapan dengan Dirga dan Frans, mengerti?"


"Apa kamu sedang cemburu Zein."


"Tentu saja."


"Kenapa tidak mengakui sejak dulu?"

__ADS_1


"Ah, sudahlah." Zein melihat jam di pergelangan tangannya. Sudah hampir satu jam ia berada di dalam. Pasti Belinda sudah selesai menelpon, "Aku harus pergi, hubungi aku jika sudah memegang handphone." Zein beranjak. Mencium kening Alika kemudian melirik suster di sofa. Mereka masih sibuk dengan permainan gamenya tapi tetap memasang telinga dengan baik.


Zein mengambil kesempatan mengecup bibir Alika sekilas. Sebenarnya ia masih ingin berlama-lama tapi takut jika Belinda tiba-tiba masuk.


"Sudah, aku pergi, jaga dirimu baik-baik." Zein mengelus kepala Alika.


Alika segera memeluk Zein sebelum ia pergi. "Terimakasih sudah menolongku dan berada bersamaku melewati semuanya. Jika tidak ada kamu, mungkin aku sudah...."


"Ssttt... jangan bicara lagi." Zein mengeratkan pelukannya.


"Aku akan menunggumu Zein."


Tak terasa air mata Alika menetes bagai aliran sungai, mengingat kejadian yang hampir saja mengambil nyawanya. Sebenarnya saat terjatuh di dalam air, Alika masih sempat berusaha untuk berenang, hanya saja waktu itu kakinya tersangkut dan tidak bisa lepas. Akhirnya ia sudah pasrah dan mengira dirinya akan benar-benar mati disana.


Zein menghapus air mata Alika kemudian memanggil suster ikut keluar bersamanya. Beruntung di luar tidak ada Belinda karena ia ke kantin membeli minuman. Hanya ada dua penjaga yang berdiri bagai patung memandang ke depan. Mereka sama sekali tidak curiga pada Zein.


Zein menghela napas lega. Keluar dari ruangan Alika dengan raut wajah berbinar. Rasa rindunya sudah terobati dengan bertemu Alika dan melihat keadaannya. Perasaannya juga sudah tenang karena telah mengungkapkan isi hatinya yang sebenarnya. Dan yang lebih membahagiakannya lagi karena Alika membalas cintanya. Mengikat hati Alika sudah dia dapatkan, sekarang tinggal mendekati Hendrik kembali agar merestui hubungannya. Zein mulai berpikir, siapa yang bisa membantunya? tiba-tiba muncul ide di kepalanya kemudian tersenyum, ia akan memanfaatkan Hutama untuk mendapatkan restu kedua orang tua Alika.


Zein menelusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dokter yang telah membantunya. Setelah berterima kasih dan berpamitan, ia langsung masuk ke dalam lift menuju basement. Saat melihat Ramon yang sedang berdiri di samping mobil sambil mengusap rokok di tangannya, ia langsung memeluknya dengan erat.


"Ramon, Besok kau ambil cek di kantor dan isi sendiri berapapun yang kau mau. Itu bonus untukmu karena membantuku bertemu Alika." Ucap Zein yang hatinya sedang berbunga-bunga.


"Hah?! yang bener Zein?"


Ramon sangat kegirangan, kini pelukannya lebih erat dari Zein. Perasaannya lebih bahagia dibandingkan dengan Zein. Siapa yang tidak senang jika di kasi bonus yang nilainya tak terhingga? seandainya saja ada, Author juga mau.


.


.


Bersambung...


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2