Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Hotel


__ADS_3

Tidak lama kemudian mereka tiba di hotel. Meriska menuju resepsionis untuk chek-in tapi ternyata semua kamar sudah full.


"Malam ini aku tidur dimana jika semua kamar full. A... mending aku dikamar Alika aja deh." Semangat Meriska kemudian menarik kopernya menuju lift di ikuti Ramon.


Ting!


Lift terbuka kemudian mereka masuk. Suasana menjadi sunyi karena hanya mereka berdua di dalam.


"Khemm! kamu yakin mau tidur bersama Alika?" Tanya Ramon.


"Tentu saja, Alika pasti akan senang."


"Kamu mau tidur bertiga?"


"Maksudnya?"


"Tidur bertiga bareng Zein. Mereka sedang bersama dan kamu mau ikut bergabung?" Tanya Ramon kembali.


Meriska berpikir sejenak hingga pintu lift terbuka, dia masih saja mematung, sedangkan Ramon sudah keluar lebih dulu.


Melihat meriska tidak bergerak, Ramon kembali masuk ke dalam lift.


Tuk!


Ramon menyentil dahi Meriska agar sadar dari lamunannya.


"Aw... sakit." Ringis Meriska sambil memegang bekas sentilan Ramon.


"Ayo, kamu mau tidur di dalam lift?" Tanya Ramon.


"Aku tidur dimana? Dikamar Alika kan ada Zein." Meriska balik bertanya.


"Dikamarku." Jawab Ramon dengan santai tetap melangkah menuju kamarnya.


"Hah?!"


Meriska berpikir sejenak, ia tidak mungkin berada satu kamar dengan Ramon. Tapi, jika menurut dia tidak tahu harus tidur dimana lagi.


Ramon mendekati anak buahnya, berbicara sebentar kemudian mengambil kartu dari tangan anak buahnya. Setelah pintu kamar terbuka ia masuk kedalam sementara Meriska masih berdiri di depan pintu sambil memegang kopernya yang besar.


"Mau masuk nggak? kalau nggak mau, aku tutup pintunya." Tanya Ramon. Tangannya sudah hampir menutup pintu tapi Meriska langsung menahannya dengan satu tangan.


"Oke, tapi kamu jangan berbuat macam-macam ya?" Pasrah Meriska karena sebenarnya dirinya juga sudah sangat lelah dan ingin segera beristirahat.


"Nggak janji." Ujar Ramon kemudian duduk disisi tempat tidur, membuka sepatu dan kaos kakinya lalu berbaring. Ramon memejamkan mata tanpa memperdulikan kehadiran Meriska. Menurutnya lebih baik ia segera tidur dari pada nanti memikirkan sesuatu yang diluar batas. Apalagi melihat penampilan Meriska saat duduk di mobil tadi membuat ungrybirdnya ikut menegang.


"Ramon, jika kamu tidur disitu, aku tidur dimana?" Tanya Meriska sambil menggerakkan kaki Ramon.


"Mmmhhh.. Di sofa aja." Jawab Ramon masih menutup mata.


"Masa aku tidur disofa sedangkan kamu tidur disini. Itu namanya nggak adil. Gimana kalau kamu aja yang tidur di sofa dan aku ditempat tidur?" Ide Meriska.


Ramon mengangkat kepala, mengernyitkan keningnya mendengar ide Meriska. Sekilas matanya melihat kearah sofa yang berukuran sedang.

__ADS_1


"Sofanya nggak muat untuk kakiku yang panjang." Tolak Ramon.


"Trus gimana dong? masa aku di sofa..Nggak mau ah! tubuhku bisa sakit semua, Ramon." Tolak Meriska kembali.


Melihat Ramon tidak ada pergerakan dan suara mendengkurnya terdengar halus, Meriska sangat yakin jika Ramon sudah tidur.


Meriska terus mencari ide, kebetulan tempat tidur hotel ukuran King zise membuat Meriska seketika tersenyum. Alika mengambil bantal guling lalu meletakkannya di tengah sebagai perantara antara dirinya dan Ramon. Setelah itu ia ke kamar mandi membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.


Beberapa menit kemudian keluar dari kamar mandi kemudian ikut berbaring di samping Ramon.


Meriska menghela napas lega saat menarik selimut. Sebelum menutup mata, ia melirik Ramon yang tidur dengan tenang seolah tanpa beban.


"Baru kali ini aku melihatmu sangat sabar. Tidak cerewet, tidak jahil dan menggemaskan. Coba kamu seperti ini terus, kan dunia ini jadinya damai dan tenang." Monolog Meriska.


Meriska menutup matanya perlahan hingga tidak sadar sudah memasuki alam mimpi menyusul Ramon.


.................


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Zein bangun dari tidurnya, membuka mata dengan perlahan kemudian melepaskan pelukannya.


Cup!


Zein mengecup kening Alika hingga berkali-kali membuat Alika menggeliat dan ikut terbangun.


"Sayang kamu sudah bangun?" Tanya Zein.


Alika tersenyum malu, mengingat apa yang baru saja mereka lakukan sepanjang malam.


"Zein, sebaiknya kamu pergi. Aku takut Papa datang dan melihat kita seperti ini." Ujar Alika.


Alika diam kemudian beranjak menuju kamar mandi.


"Mau kemana?" Tanya Zein.


"Buang air kecil, jangan bilang kamu juga mau ikut, Zein!" Ujar Alika yang sudah tau sikap jahil Zein.


"Emang boleh?" Zein ikut beranjak memakai pakaiannya dengan asal kemudian mendekati Alika yang sedang membuka pintu kamar mandi.


Semalam mereka memang tidur bersama, tapi Zein tidak membobol pertahanan Alika karena Zein ingin melakukannya setelah Alika sudah sah menjadi miliknya.


Tok.. tok.. tok..


Suara ketukan pintu membuat keduanya serentak berbalik. Zein mendengus kesal, siapa yang pagi-pagi sudah mengganggu suasana romantisnya.


Tok.. tok.. tok..


Dengan kesal Zein menuju pintu, mengarahkan satu matanya lewat lubang kecil untuk melihat siapa disana.


Ramon memberikan senyuman termanisnya, Ia tahu setelah ini, pasti dia akan mendapatkan makan dari Zein.


Zein membuka pintu, rambutnya masih berantakan dan pakaiannya masih kusut tidak berbentuk.


Ramon memegang mulutnya menahan tawa, keadaan Zein saat ini sangat memprihatinkan.

__ADS_1


"Ngapain kamu ke sini? ini masih pagi."


"Ingat bos! ini bukan waktunya untuk bersenang-senang. Kita harus menemui Andrew sebelum dia dan keluarnya datang ke hotel." Ujar Ramon.


"Arghh! kau mengganggu kesenanganku saja, tunggu disini. Aku pamit pada Alika."


"Zein, ini."


Ramon memberikan paper bag pada Zein.


Zein mengambilnya dan kembali menutup pintu, kemudian menuju kamar mandi.


"Aku mandi duluan ya? Ramon sudah menungguku diluar." Ujar Zein setelah Alika keluar dari kamar mandi.


Zein membersihkan diri beberapa menit kemudian keluar dari kamar manddan memakai pakaiannya.


Alika menutup mata saat Zein membuka handuk di hadapannya. Seandainya saja Zein tidak buru-buru, ia pasti akan menjahili Alika yang wajahnya kini memerah tanpa memakai blush-on.


Setelah berpakaian rapi Zein memeluk pinggang Alik dengan posesif, mendekatkan wajahnya di pundak Alika kemudian mencium pundaknya.


"Sayang aku pergi dulu ya? ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Ingat, turuti saja keinginan Om Hendrik, sisanya biar aku yang selesaikan. Oiya, aku minta surat identitas kamu, aku akan mendaftarkan pernikahan kita di catatan sipil." Ujar Zein di depan pintu uang setengah terbuka.


Alika mengambil tasnya diatas nakas, mengeluarkan apa yang Zein minta kemudian memberikannya pada Zein.


Setelah itu Zein pergi.


"Tunggu, ada yang kelupaan." Ujar Zein menghentikan langkahnya saat menghampiri pintu kamar hotel.


"Apa." Tanya Alika kemudian mengedarkan pandangannya mencari barang-barang milik Zein.


"Ini." Zein memeluk Alika dan mencium keningnya.


Alika tersenyum perhatian kecil Zein seperti inilah yang membuatnya cepat move on dari Dirga.


......................


Setelah sepuluh menit kepergian Zein, Meriska mengetuk pintu kamar hotel Alika.


"Zein, kenapa kamu kembali la...." Ucapan Alika terhenti saat melihat wajah cantik Meriska sedang tersenyum padanya.


"Meris! sejak kapan kamu tiba? kok nggak bilang-bilang sih!" Cecar Alika sambil membuka lebar pintu kamarnya.


Meriska masuk, menarik koper besarnya dengan susah payah kemudian duduk di sofa.


"Semalem." Singkat Meriska.


"Trus, kenapa kamu nggak nelpon? kan aku bisa jemput kamu dibandara." Ujar Alika sambil duduk di samping Meriska.


"Ponsel kamu nggak aktif. Untung ada Ramon yang jemput." Kesal Meriska.


"Hah?! Ramon? Tunggu, tunggu, kok Ramon yang jemput kamu?" Alika mengernyitkan keningnya.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2