Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Menemukan


__ADS_3

Saat itu juga rombongan Ramon menemukan mereka. Mereka menghampiri kemudian hanya diam melihat Zein sedang menolong Alika.


Zein mulai memberi tindakan CPR, Ia meletakkan bagian bawah pergelangan salah satu tangannya di tengah dada Alika, kemudian meletakkan satu tangannya lagi diatasnya. Mulai menekan tangannya sekitar lima senti meter ke bawah. Melakukan tiga puluh kali kompresi dada dengan laju seratus kali kompresi per menit atau lebih. Ia kemudian membiarkan dada Alika naik sepenuhnya kemudian kembali memberikan tekanan. Setelah itu, Zein memeriksa kembali pernapasan dan reaksi Alika tapi Alika belum juga bernapas.


"Ayo sayang... kamu harus hidup. Bangunlah demi aku." Lirih Zein.


Zein Kemudian melirik Ramon dan Lucas yang hanya diam, mereka tau apa yang harus Zein lakukan untuk menyelamatkan nyawa Alika.


Merasa Zein akan melakukan sesuatu yang tidak seharusnya mereka lihat. Semuanya segera berbalik membelakangi Zein dan Alika. Sambil membuat tandu untuk mengangkat Alika nantinya.


Tanpa berpikir panjang lagi, Zein menjepit hidung Alika, menyatukan bibir mereka dalam posisi terkatup, kemudian mengambil napas seperti biasa dan meniupkan udara secara perlahan ke dalam mulut Alika selama satu hingga dua detik. Zein melakukannya selama dua kali namun Alika belum juga sadar.


Karena Alika belum juga bernapas, Zein kembali melanjutkan tiga puluh kali kompresi dada kemudian memberi napas buatan. Terus mengulanginya hingga Alika bernapas dan mengeluarkan batuk.


Zein bernapas dengan lega, memiringkan tubuh Alika hingga cairan keluar dari mulutnya. Tanpa sadar menarik tubuh Alika dalam pelukannya, Ia kembali meneteskan air mata kebahagiaan, segera menghapusnya agar tidak seorang pun yang melihatnya.


"Terimakasih Tuhan, kau masih berikan kami kesempatan untuk bersama." Batin Zein.


Alika kembali pingsan dalam pelukan Zein karena tubuhnya lemah dan tidak bertenaga.


"Alika." Panggil Zein sedikit mengguncang tubuh Alika.


"Ramon, bantu aku membawanya kita harus naik sekarang." Perintah Zein.


Ramon mengangguk, kemudian mereka membawa Alika menuju titik dimana mereka turun dengan menggunakan tandu. Saat sampai di titik awal, Lucas mengikat tubuh Alika dengan Zein kemudian mereka mulia memanjat. Ramon sudah menawarkan diri untuk membawa Alika namun Zein tidak membiarkannya. Jadilah Alika memeluk Zein dari belakang, memasang tali webbing agar Alika tidak terjatuh. Zein


Hari sudah mulai gelap, matahari sudah tenggelam, proses evakuasi berjalan lancar. Tidak ingin membuang-buang waktu lagi, Zein langsung membawa Alika ke rumah sakit terdekat. Masih memakai pakaian basah, mereka masuk ke dalam mobil.


Tiga mobil jalan beriringan, Zein mengambil baju kaos dan jasnya yang ada dimobil kemudian membuka baju basah Alika lalu membungkusnya dengan Jas untuk menghangatkan tubuhnya.


Butuh waktu tiga puluh menit, akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Zein langsung mengangkat Alika menuju IGD, suster yang sedang bertugas segera membantu Zein membaringkan Alika diatas brankar kemudian mendorongnya masuk ke dalam ruangan IGD.


Sambil menunggu dokter melakukan tindakan, Ramon meminta Zein mengganti pakaiannya di mobil, setelah itu kembali masuk dan menunggu di depan ruang IGD.


Zein hanya bisa mondar-mandir di depan pintu sambil menunggu sang dokter untuk segera keluar. Mengusap wajah dan menekan hidungnya beberapa kali sambil berdoa dalam hati.

__ADS_1


Hatinya sangat cemas dan gelisah, siapa pun yang melihatnya pasti akan tahu apa yang sedang ia pikirkan untuk saat ini.


Belum ada keluarga yang mengetahui keadaan Alika untuk saat ini termasuk Hutama. Ia harus memastikan keadaan Alika terlebih dahulu baru menghubungi keluarganya.


"Zein tenanglah!" Ujar Lucas.


"Ia Zein, Alika akan baik-baik saja." Lanjut Ramon.


"Aku tidak bisa tenang sampai melihatnya baik-baik saja." Ujar Zein berjalan sambil berkacak pinggang kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.


"Duduklah! tenangkan pikiranmu! apa kau tidak capek mondar-mandir kayak setrika?" Bujuk Lucas.


"Aku tidak bisa! Bagaimana aku bisa tenang jika Alika sedang berjuang melawan maut di dalam sana?" Ujar Zein mempertahankan intonasi suaranya tapi penuh penekanan.


"Apa kau sudah mencintainya Zein?" Selidik Lucas.


Zein hanya diam menatap tajam Lucas bergantian Ramon. Kali ini pertanyaan Lucas menusuk langsung tepat ke jantung hatinya.


"Benarkan?" Tanya Lucas kembali.


Zein tidak menjawab, Ia hanya tersenyum menaikkan ujung bibirnya. Tidak ingin mengakui di hadapan teman-temannya, tapi tindakannya sangat terlihat jelas kalau dirinya sudah benar-benar mencintai Alika.


"Berhentilah bercanda Lucas, aku sedang tidak ingin!" Lirih Zein sambil mengarahkan pandangannya ke pintu IGD.


Setelah dua jam, Dokter keluar dari pintu IGD. Zein segera menghampiri dan menanyakan keadaan Alika.


"Dokter bagaimana keadaannya?" Tanya Zein.


"Sudah melewati masa kritisnya, tapi pasien masih memerlukan intubasi dan ventilasi mekanik, maka dari itu ia akan dirawat di ruang ICU." Jelas Dokter.


"Lakukan apapun yang terbaik untuknya dokter. Saya tidak perduli dengan biayanya asalkan calon istri saya bisa selamat." Mohon Zein


"Baiklah." Dokter mengangguk.


"Dok, apa saya boleh memindahkannya ke rumah sakit pusat kota? saya ingin memberikan perawatan yang lebih lengkap untuknya."

__ADS_1


"Boleh saja, tapi untuk sekarang ini sepertinya kita harus menunggu sampai dia sadar. Kami tidak berani mengambil resiko, peralatan di sini saya rasa cukup untuk membantu perawatannya, ya meskipun tidak selengkap rumah sakit pusat."


"Baik dokter, saya akan menunggu sampai dia sadar. Boleh saya menemuinya dokter?"


"Boleh, tapi hanya sebentar sebelum di pindahkan ke ruang ICU."


Dokter kembali masuk ke dalam ruang IGD diikuti Zein di belakangnya.


Langkah Zein terhenti saat melihat keadaan Alika yang tubuhnya terpasang beberapa alat medis. Jarum suntik di tangan, nebulizer yang menempel di hidung, serta pacemaker yang menempel di dada. Matanya tertutup dan wajahnya pucat. Hanya bunyi detak jantung Alika di layar monitor yang terdengar.


Zein menggenggam tangan Alika untuk memberikan kehangatan, mulutnya terkunci tidak sanggup untuk berkata-kata lagi. Mengusap puncak kepala Alika seolah memberikan kekuatan dan semangat untuk bertahan.


Zein mengecup kening Alika kemudian menoleh memperhatikan detak jantung Alika yang lemah lewat layar monitor. "Tetaplah bertahan untukku, Aku menunggumu di sini." Bisik Zein meneteskan air mata. Kesedihannya tidak dapat Ia sembunyikan lagi. Rasanya begitu sakit melihat orang yang ia cintai terbaring lemah diatas brankar dengan bantuan alat medis. Sungguh pemandangan yang sangat mengiris hatinya. Jika ia bisa bertukar, ia akan memilih dirinya yang terbaring disana, bukan Alika.


"Detak jantungnya belum normal dan masih memerlukan perawatan lainnya karena air sudah masuk ke dalam paru-parunya. Maka dari itu kita pindahkan ke ruang ICU. Berdoalah mudah-mudahan ia bisa melewatinya dan cepat sadar." Ujar Dokter.


"Iya dokter." Zein menghapus air matanya. Ia bahkan tidak perduli lagi jika dokter menganggapnya cengeng atau lemah.


Setelah bicara dengan dokter, ia kembali mengecup kening Alika sebelum pergi. "Sayang..! aku di luar menunggumu." Bisik Zein kemudian keluar dari IGD karena sebentar lagi Alika akan dipindahkan.


"Bagaimana keadaannya Zein?" Tanya Ramon dan Lucas mendekati Zein yang tampak tidak bersemangat.


Zein menghela napas berat, masih sangat sulit untuk menerima keadaan Alika seperti itu. Ia tidak sanggup menjelaskan seperti apa kondisi Alika saat ini.


"Tunggu sebentar lagi, Alika akan dipindahkan ke ICU, kalian akan liat sendiri bagaimana keadaannya." Jawab Zein kemudian menuju kursi, bersandar pada dinding sambil mengangkat kepalanya melihat langit-langit rumah sakit.


"Apa kau sudah menghubungi orang tuanya?" Tanya Lucas.


"Itu yang sedang aku pikirkan sekarang, bagaimana aku akan menjelaskannya pada Om Hendrik?"


.


.


Bersambung....

__ADS_1


Sahabat Author yang baik ❤️


Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏


__ADS_2