Calon Istri Milyader

Calon Istri Milyader
Khawatir


__ADS_3

"Nggak! siapa juga yang cemburu dengan gadis barbar sepertimu." Sergah Zein salah tingkah sambil mengalihkan pandangannya.


Alika mendekatkan wajahnya menatap Zein. Netranya mencari kejujuran didalam mata Zein, tapi tiba-tiba saja Zein menyentil dahinya.


"Aww, sakit Zein..!" Alika mengusap dahinya sambil mengerucutkan bibirnya, "ngaku aja kenapa? buktinya kamu cemas dan menghawatirkan aku kan? tuh, wajah kamu aja memerah." Jahil Alika menunjuk wajah Zein.


Zein langsung memegang wajahnya lalu memukul telunjuk Alika yang berada di depan matanya. "Kenapa jadi begini? harusnya aku marah padanya kan? kenapa aku tidak bisa memarahinya? ah, dia sangat pandai memutar balik keadaan." Batin Zein kesal karena Alika berhasil menjahilinya.


"Sorry Zein, aku nggak bermaksud membuatmu membenci Monika atau memisahkan kalian. Tapi Dia juga salah pada Kak Alan, bagiku Kak Alan segalanya dan Aku tidak akan tinggal diam untuk itu. Aku nggak tahu hubunganmu dan Monika seperti apa saat ini, aku hanya ingin keadilan untuk Kakakku. Sekali lagi maaf karena aku harus melaporkan Monika dan Sander ke pihak yang berwajib. Aku ingin mereka mempertanggung jawabkan perbuatannya. Kejahatan mereka sudah menghilangkan nyawa Kak Alan, Hikss, hikss.." Ujar Alika mulai mengeluarkan air matanya. Ia sudah tidak sanggup menahannya karena kehilangan saudara satu-satunya yang ia miliki.


Zein mendekati Alika lalu bangkit dari kursi rodanya. Ia pindah ke sofa lalu duduk di samping Alika. Zein menghapus air mata Alika dengan perlahan dan lembut. Ia sangat tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayangi. Dengan perlahan ia memeluk Alika memberikan kehangatan dan ketenangan.


Alika hanya diam mendapatkan perlakuan manis Zein. Ia merasa pelukan Zein sama seperti pelukan Alan. Jika Alika sedang sedih atau marah, hanya Alan yang mampu menghibur dan menenangkannya.


"Jangan menangis lagi. Lakukan saja apa yang ingin kau lakukan, aku akan mendukung dan membantumu. Jangan pikirkan perasaanku pada Monika. Kami sudah putus! Aku baru sadar kenapa Tuhan memberiku kelumpuhan. Ini semua karena Tuhan ingin mengujiku dan menunjukkan siapa Monika yang sebenarnya sebelum kami menikah. Sudahlah, aku tidak akan marah jika kamu memberikan hukuman padanya." Ungkap Zein masih memeluk Alika.


"Zein..!"


"Hmm."


"Aku sesak! pelukanmu terlalu kenceng. Aku nggak bisa gerak."


"Oh, maaf."


Zein langsung melepaskan pelukannya. Ia sangat nyaman memeluk Alika hingga tidak sadar pelukannya terlalu erat. Sebenarnya hatinya juga sedih karena Monika, tapi dengan memeluk Alika, hatinya jadi tenang. Ada perasaan aneh yang tidak bisa ia gambaran dihatinya. Jika Alika sedih, dia juga ikut sedih. Jika alika dalam bahaya, maka dia akan khawatir.


Zein bersandar disofa kemudian menarik tubuh Alika bersandar di dadanya. Ia mengelus ujung kepala Alika dengan lembut. Lagi-lagi Alika terdiam karena Alan juga sering melakukan itu padanya.

__ADS_1


"Kenapa sikap Zein hampir sama dengan Kak Alan? Kak, aku merindukanmu!" Batin Alika.


"Kapan kamu bicara dengan kedua orang tuamu?"


"Aku harus bicara dengan Papa terlebih dahulu. Aku takut Mama akan syok dan pingsan jika mendengarnya."


"Baiklah, aku akan menemanimu."


"Tidak perlu, aku bisa sendiri."


"Jangan membantahku, Aku hanya menemanimu bertemu dengan Om Hendrik, sekalian membicarakan pernikahan kita."


Alika menutup mata sebelum Zein mengucapkan kalimat terakhirnya, Ia sangat menikmati elusan tangan Zein di kepalanya. Dalam tidur ia bermimpi Alan sedang tersenyum dan mengelus kepalanya. Tidak lama kemudian suara dengkuran halus keluar dari mulutnya.


"Kebiasaan! kenapa setiap aku elus dia selalu tertidur? apa dia merasa nyaman di perlakuan seperti ini?" Monolog Zein.


Di depan pintu apartemen, Ramon memencet bel berkali-kali namun Zein dan Alika tidak keluar membuka pintu untuknya. Sebenarnya Ramon juga tahu pasword apartemen Zein. Ia merasa tidak sopan jika langsung masuk sementara Alika juga berada di sana. Merasa kesal bercampur khawatir karena terlalu lama menunggu, akhirnya Ramon mengeluarkan jurus terakhirnya, memasukkan pasword lalu membuka pintu sendiri.


"Ah, persetan dengan kemarahan Zein! siapa suruh nggak bukain pintu. Apa dia pikir menunggu itu enak? bagaimana jika mereka sedang perang dunia. Bisa gawat kalau aku nggak segera masuk!" Monolog Ramon menghawatirkan keadaan Zein dan Alika di dalam.


Ramon masuk sambil mengedarkan pemandangannya. Seluruh ruangan tampak rapi dan bersih. Ramon menghela napas lega karena apa yang ada di pikirannya tidak benar-benar terjadi.


"Untunglah Zein tidak menghancurkan barang-barang disini. Tapi, mereka kemana ya?" Monolog Ramon menoleh kiri dan kanan.


Melihat keadaan sepi dan tidak ada suara, Ramon memanggil mereka. "Zein, Alika?" Teriak Ramon.


Tidak ada sahutan dari Alika dan Zein. Ramon berpikir Alika sedang istirahat di kamarnya, sedangkan Zein di ruang kerja atau dikamar. Ramon jadi bingung mau mencarinya dimana terlebih dahulu.

__ADS_1


"Sebaiknya aku cek dulu di ruang kerjanya, mungkin Zein disana." Monolog Ramon melihat ruang kerja Zein lebih dekat dari kamarnya.


Ramon berjalan menuju ruang kerja Zein. Ia mengetuk pintu berkali-kali, namun Zein tidak menyuruhnya masuk. Dengan ragu-ragu ia memutar knop pintu. Saat pintu terbuka, Ia tertegun sejenak lalu berubah tersenyum melihat keduanya sedang tertidur. Alika bersandar didada bidang Zein sambil memeluknya, Sedangkan Zein juga ikut memeluk Alika di Sofa.


Ramon geleng-geleng kepala. Karena kekhawatirannya yang terlalu besar pada Zein, Ia meninggalkan pekerjaannya di kantor hanya untuk memastikan keadaan Zein.


"Aku tidak bisa tidur karena memikirkan kalian! ehh, kalian malah enak-enakan tidur sambil peluk-pelukan. Dasar bos tidak berperasaan! Jiwa jombloku langsung meronta pengen di peluk juga. Tapi siapa yang mau meluk aku ya? aku kan nggak punya pacar. Ah, sebaiknya aku juga segera mencari pacar agar tidak iri melihat bos bermesraan." Gumam Ramon.


Ramon kembali keluar lalu menutup pintu dengan pelan-pelan. Ia tidak ingin Alika dan Zein bangun dan merasa malu karena Ramon melihat mereka. Bukan hanya itu saja, Ramon juga takut mendapatkan hukuman dari Zein karena dia telah lancang melihat apa yang dilakukan Zein.


"Gawat! jika Zein tahu aku melihat mereka tidur berpelukan, bisa di congkel mata aku, ihh... sereeemmm."


Ramon bergidik ngeri lalu menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa ia makan. Perutnya sangat lapar karena hanya makan sedikit saat sarapan. Melihat ada makanan di tempat penyimpanan, ia mengambil piring lalu duduk di kursi meja makan.


"Ini pasti Alika yang masak, dia tau aja kalau aku akan datang." Monolog Ramon lalu mulai menikmati makanannya seorang diri.


"Gini nih! nasib jomblo akut seperti aku. Makan sendiri, cuci baju di loundry, pesan makanan di aplikasi, kemana-mana sendiri, urus diri sendiri deh pokoknya! nasib.. nasib." Ujar Ramon sambil menghabiskan makanan di piringnya.


.


.


Bersambung....


Sahabat Author yang baik ❤️


Jika kalian suka dengan cerita ini, Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2