
Setelah mengantar Alika, Zein kembali masuk ke kamarnya. Ponselnya berdering beberapa kali di dalam kamar karena dia tidak membawanya.
"[Halo.]" Jawab Zein.
"[Zein, rupanya pengacara Tuan Hendrik ingin mengambil alih kasus Calista. Dia telah bicara dengan pengacara kita. Bagaimana menurutmu? apa pengacara kita mundur aja atau kita sama-sama maju?]" Tanya Ramon dibalik ponsel.
"[Ternyata Om Hendrik tidak melupakan kasus Alika.]" Gumam Zein.
"[Iya.]" Ujar Ramon.
"[Mundur aja, biarkan dia sendiri yang menghukum Calista, dengan begitu kau juga tidak perlu repot-repot mengurus kasus ini, dan lebih baik kau urus pekerjaan yang lainnya. Sebenarnya aku tidak tega padanya karena Calista anak sahabat Mama. Jika kasusnya ditangani oleh pengacara Hendrik, maka aku tidak memiliki beban apapun pada Mama.]" Jelas Zein.
"[Baiklah, aku akan serahkan padanya. Sekarang kau dimana? ada berkas yang harus di tanda tangani.]" Ujar Ramon kemudian mengambil berkas-berkas diatas meja yang harus Zein tanda tangani.
"[Di hotel Milano Centro, Aku menunggumu disini.]" Jawab Zein.
"[Baiklah, aku kesana sekarang.]" Uajr Ramon kemudian menutup telponnya.
Ramon keluar dari kantor dengan berkas dan laptop didalam tasnya menuju basement. Masuk ke dalam mobilnya kemudian menuju hotel Milano Centro.
.................
Restoran hotel Milano Centro.
Alika memasuki restoran hotel sambil mengedarkan pandangannya mencari Hendrik. Saat melihatnya ternyata di sana juga ada Belinda dan sepasang suami-istri dan seorang pria yang sedang duduk membelakanginya.
Alika menghela napas berat sebelum benar-benar melangkah semakin mendekat, mentralkan detak jantungnya yang gugup karena pertemuan yang sangat menegangkan baginya. Ia menyapa kedua orang tuanya kemudian berkenalan dengan keluarga besar Alberto. Berusaha menampilkan senyum termanisnya di hadapan semua orang meskipun itu hanya pura-pura.
"Dokter Andrew Alberto, panggil saja Andrew." Ujar Andrew saat berkenalan dengan Alika.
Andrew sangat terpesona pada pandangan pertama. Alika gadis berparas cantik, hidung mancung, bibir tipis, alis tebal, bulu mata yang lentik, kaki yang jenjang serta rambut panjang yang tergerai dengan gulung curly diujungnya. Meskipun hanya menggunakan make-up tipis serta lipbalm tapi Alika tampil dengan sempurna dimata Andrew. Alika bagai magnet yang menarik hatinya walau hanya sekali bertemu.
Alika hanya diam dan tersenyum terpaksa kemudian segera menarik tangannya. Matanya masih memperhatikan pria tampan di depannya, menurutnya dari segi fisik sempurna, tapi masih lebih tampan Zein karena hanya nama itu yang kini ada di dalam hatinya, itulah yang sekarang ada dipikirin Alika. Ia ingin segera mengakhiri pertemuan itu dan kembali bertemu dengan Zein.
"Om, ternyata Alika lebih cantik dari foto yang Om kirim. Iya kan Mah, Pah?" Puji Andrew kemudian meminta persetujuan kedua orang tuanya.
"Iya nak, kamu benar. Mama sampai pangling melihatnya. Terakhir Mama melihatnya saat masih sekolah, sekarang makin cantik." Puji Mama Andrew.
__ADS_1
"Sudah, nanti aja kita ngobrolnya! sekarang, ayo kita makan." Ajak Hendrik kemudian mereka mulai mengambil piring dan menikmati hidangan diatas meja.
"Alika, kegiatan kamu apa sekarang?" Tanya Andrew.
"Nggak ada, hanya bersenang-senang dan menikmati uang Papa aja." Jawab Alika kemudian menyuapi dirinya dengan sesendok makanan.
"Maksudnya, kamu suka shopping dan jalan-jalan?" Tanya Andrew memastikan maksud ucapan Alika.
"Hmm." Jawab Alika acuh.
Hendrik mendelik kearah Alika, tapi Alika segera mengalihkan pandangannya dan fokus dengan makanan di piringnya.
"Hehehe, sama dong! kalau seperti itu nanti kita bisa jalan ke Mall bareng, tapi harus aku sesuaikan dengan jadwalku dulu, boleh ya Om aku ajak Alika pergi?" Ujar Andrew kemudian meminta persetujuan Hendrik.
"Tentu saja boleh. Bukankah itu lebih baik jika kalian sering bersama? kalian bisa saling mengenal dan lebih dekat lagi." Jawab Hendrik.
Hendrik begitu senang melihat Andrew yang berusaha menarik perhatian Alika. Tapi entah mengapa dia merasa jika putrinya sedang tidak nyaman berada di sana.
"Alika, apa kamu suka nonton?" Tanya Andrew.
"Sayang sekali." Lirih Andrew kecewa.
"Tidak apa-apa, kalian bisa jalan-jalan ke tempat yang lain kan?" Sela Hendrik.
"Iya, Om benar! Alika, kamu suka ketempat yang seperti apa?" Tanya Andrew ingin mengetahui tentang Alika lebih dalam lagi.
"Aku suka ke gunung dan danau, panjat tebing dan balapan." Jawab Alika dengan santai membuat Andrew seketika tertawa.
"Hahaha...! bercandaan kamu sangat lucu." Andrew tertawa menganggap hobi Alika tidak masuk akal. Mana mungkin gadis yang terlihat sangat modis dan feminim menyukai hal yang ekstrim seperti itu.
"Kenapa tertawa? Aku tidak lagi bercanda." Tanya Alika mendelik.
"Hahaha, kok kita bisa sama ya? aku juga suka panjat tebing dan balapan, lain kali kita harus mencobanya, bagaimana?" Semangat Andrew dengan mata berbinar. Baru kali ini ia menemukan gadis yang hobinya sama dengannya.
Mata Alika kembali melotot, sama sekali tidak menyangka jika ternyata Andrew juga memiliki hobi yang sama dengannya.
"Kita liat aja nanti." Ujar Alika malas.
__ADS_1
Alika lebih dulu menghabiskan makanannya, meminum segelas air putih kemudian bersendawa dengan nada tinggi membuat semuanya terkejut dengan tingkah absurdnya.
"Alika! nggak sopan." Bentak Belinda merasa dipermalukan dengan anaknya sendiri.
"Mau gimana lagi Mah, nggak bisa ditahan!" Ujar Alika dengan santai tanpa memperdulikan Andrew dan kedua orang tuanya.
"Nggak apa-apa, santai saja. Sebentar lagi kan kita jadi keluarga." Ujar Matheo Papa Andrew.
"Papa benar Tante." Ujar Andrew ikut menimpali.
"Hah?!" Alika menghela napas berat, idenya untuk membuat mereka ilfil gagal total. Pikirannya kembali mencari cara untuk membuat mereka tidak menyukainya. Tapi sepertinya kali ini dewi fortuna tidak berpihak padanya.
"Gimana nak Andrew, apa kamu menerima perjodohan ini?" Tanya Hendrik memastikan rencana perjodohan ini berjalan sesuai keinginannya.
"Dia pasti setuju, buktinya dari tadi dia hanya memperhatikan Alika, bahkan matanya tidak bisa berkedip karenanya." Sela Matheo sambil melirik Andrew.
"Aku setuju Om, aku suka dengan Alika walau hanya sekali bertemu. Dia apa adanya dan tidak jaim seperti wanita lainnya dihadapanku. Tipe wanita seperti dirinyalah yang selama ini aku cari-cari. Aku siap menikah dengannya kapanpun Alika siap." Ungkap Andrew kemudian mengedipkan sebelah matanya ke Alika.
"Gila nih cowok! PD amat aku mau menikah dengannya. Sampai kapanpun aku tidak akan setuju." Batin Alika menjerit, ingin rasanya ia terjun ke dasar laut yang paling dalam agar tidak terlihat oleh Andrew.
"Syukurlah jika kamu setuju. Alika pasti tidak akan menolak, ia kan sayang..?" Tanya Hendrik pada Alika.
"Aku.. aku..." Alika gugup, tidak tahu harus berkata ya atau tidak. Dan Pada saat itu juga Zein datang dengan senyum di bibirnya.
"Selamat malam semuanya..! hai sayang, maaf aku sedikit terlambat." Sapa Zein kemudian mengecup kening Alika di hadapan semua orang membuat mata yang lainnya melotot karena terkejut.
Prakkk!
.
.
Bersambung...
Sahabat Author yang baik ❤️
Jangan lupa, Like, Komen, Hadiah, Dukungan dan Votenya ya! 🙏🙏
__ADS_1