CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 21


__ADS_3

Setelah Putri dan Chiko masuk, Putri segera mendekati suaminya. Betapa hancur hati Putri saat melihat suaminya terbaring tak berdaya seketika air mata Putri pun luruh,


"Sayang maaf karena aku kamu jadi seperti ini," kata Putri mengusap kepala suaminya.


Putri semakin menangis tersedu menggenggam erat tangan suaminya, Chiko yang tidak tega segera menghampiri Putri,


"Put sudahlah ini bukan salahmu, semuanya sudah di atur oleh Allah," kata Chiko.


"Laki-laki mana yang tidak akan marah jika istrinya di peluk pria lain, kalau aku ada di posisi Randy juga aku akan melakukan hal yang sama Put. Jadi berhenti menyalahkan diri kamu karena Randy juga pasti akan sedih jika melihatmu seperti ini, lebih baik sekarang kamu doakan Randy agar dia cepet sadar dan pulih kembali," kata Chiko menenangkan.


Putri hanya mengangguk sambil terus menatap Randy yang masih belum sadarkan diri, tiba-tiba Putri ingat jika besok dia dan Randy harus menemui para keluarga korban kebakaran. Namun dengan kondisi Randy saat ini Randy tidak akan mungkin menemui para keluarga korban,


"A Chiko bukankah besok Randy sudah ada janji dengan keluarga korban?" tanya Putri.


"Betul Put tapi jika kondisi Randy seperti ini lebih baik aku menundanya hingga Randy pulih," jawab Chiko.


"Tidak perlu A, jika terus menunda pertemuan ini aku takut keluarga korban akan semakin menuntut Randy," kata Putri.


"Lalu bagaimana Put? Kita tidak mungkin memaksa Randy untuk menemui mereka saat kondisi nya seperti ini," kata Chiko.


"Aku yang akan menemui mereka mewakili Randy," kata Putri tegas.


Jawaban Putri seketika membuat Chiko menatap tajam Putri.


"Kemarin Randy sudah memintaku untuk menemani nya saat pertemuan dengan keluarga korban, karena kondisi Randy seperti ini aku yang akan mewakilinya," kata Putri yang mengerti dengan tatapan Chiko.


"Baiklah jika Randy sudah memintamu, aku akan menemanimu besok," kata Chiko tersenyum.


"Tidak perlu, A Chiko temani Randy saja biar Putri di temani pengacara saja," kata Putri.


"Baiklah jika itu maumu aku akan menelponnya," jawab Chiko.


Putri hanya menganggukan kepalanya dan menatap Randy yang masih terpejam,


"Aku akan berusaha meyakinkan keluarga korban agar mereka tidak menuntutmu sayang, aku juga akan berjuang untuk mengembalikan nama baikmu dan perusahaan," batin Putri.


Waktu semakin berlalu, Putri yang merasa sangat lelah pun tertidur yang hanya bertumpu pada lengan kanan nya sedangkan tangan kiri nya menggenggam erat tangan Randy dan Chiko atas permintaan Putri telah pulang ke rumah yang sebelumnya dia mampir ke rumah Randy untuk memberitahu bi Sumi agar membawakan pakaian ganti untuk Putri dan menemaninya. Saat waktu menunjukkan pukul sembilan malam jari Randy bergerak dan di rasakan oleh Putri, ia pun segera bangun dan menatap suaminya.


"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Putri senang.


Randy pun mulai membuka mata nya pelan dan melihat ke arah Putri tersenyum,


"Sayang," kata Randy dengan suara berat.


"Iya sayang, bagian mana yang sakit?" tanya Putri panik.


"Aku baik-baik saja sayang jangan khawatirkan aku," jawab Randy tersenyum.


"Maafkan aku sayang," kata Putri meneteskan air matanya.

__ADS_1


"Ssst sudahlah sayang ini bukan salahmu, yang penting aku baik-baik saja sekarang," jawab Randy mengusap punggung tangan Putri.


"Tapi sayang...," kata Putri terpotong.


"Sayang sudah tidak perlu menyalahkan dirimu seperti ini, aku jauh merasa sakit jika melihatmu seperti ini," jawab Randy.


"Baiklah tapi kamu harus janji padaku untuk segera pulih sayang, jika kamu merasa sakit kamu beritahu aku," kata Putri.


"Tentu sayang aku akan memberitahumu," jawab Randy tersenyum.


"Kalau begitu aku panggil dokter dulu ya untuk memberitahu bahwa kamu sudah sadar," kata Putri dan berlalu keluar.


"Tenang saja sayang aku akan membalas perbuatan temanmu itu, akan ku pastikan dia membayar apa yang telah dia lakukan terlebih dia sudah berani memelukmu di depanku," batin Randy menatap punggung Putri.


Beberapa menit berlalu Putri pun kembali bersama dokter dan suster, dokterpun segera memeriksa keadaan Randy dan tersenyum.


"Alhamdulillah kondisi pak Randy sudah membaik namun pak Randy masih harus di rawat disini hingga kondisi nya betul-betul pulih," kata dokter itu tersenyum.


"Alhamdulillah, apakah ada makanan yang tidak boleh di makan untuk suami saya dok?" tanya Putri.


"Untuk saat ini lebih pak Randy memakan makanan yang mengandung banyak protein seperti daging, sayur dan buah-buahan agar luka jahitan nya segera pulih," jawab dokter tersebut.


"Baiklah dokter terimakasih banyak," kata Putri tersenyum.


"Sama-sama bu, kalau begitu saya kembali ke ruangan jika ada apa-apa panggil saya," jawab dokter tersebut dan berlalu keluar.


"Sayang aku senang karena kondisimu sudah mulai membaik, semoga kamu bisa segera pulih dan kembali ke rumah," kata Putri.


"Iya sayang aku juga senang mendengarnya, apa kamu sudah makan sayang?" tanya Randy.


"Belum aku tidak ingin meninggalkanmu sendiri sayang," kata Putri menggelengkan kepalanya.


"Apa kamu tidak memberitahu Chiko atau bi Sumi? Sehingga kamu harus melewatkan jam makanmu," tanya Randy.


"Tadi A Chiko kesini menunggumu dia juga menawarkan aku makan namun aku menolaknya," jawab Putri.


"Astaga sayang, lalu kemana Chiko sekarang?" tanya Randy.


"Dia sudah aku suruh pulang karena aku lihat dia sangat lelah," jawab Putri.


"Mana ponsel ku!" tanya Randy tegas.


"Mau apa sayang? Kamu baru saja sadar," kata Putri.


"Sudahlah kemarikan saja," jawab Randy.


"Baiklah," jawab Putri dan memberikan ponsel Randy.


Randy pun segera menekan tombol dan menelpon seseorang.

__ADS_1


"Hallo, cepat bawakan makan kemari sekarang juga," kata Randy tegas.


"Ran lo sudah sadar?" tanya Chiko.


"Sudah, cepat bawakan makanan kesini," jawab Randy cuek.


"Oke bro gue segera ke rumah sakit sekarang," jawab Chiko dan Randy segera menutup teleponnya.


"Kamu telepon siapa?" tanya Putri.


"Chiko," jawab Randy singkat.


"Astaga sayang kenapa menyuruhnya kesini lagi? Aku bisa membelikanmu makanan ke bawah," jawab Putri merasa tidak enak karena mungkin Chiko baru saja sampai di rumahnya.


"Dia aku gaji untuk menuruti perintahku dan menjagamu bukan untuk menelantarkanmu," jawab Randy.


"Tapi sayang aku yang memintanya," kata Putri


"Sudahlah nurut saja apa kataku!" jawab Randy tegas.


Jawaban Randy membuat Putri terdiam karena seperti apapun Putri berdebat dengannya itu tidak akan membuat Randy luluh.


"Sayang," panggil Putri.


"Apa?" jawab Randy memainkan ponselnya.


"Bolehkah aku menemui keluarga korban besok bersama pengacara?" tanya Putri membuat Randy melihat ke arahnya.


"Aku tidak akan mengijinkanmu pergi tanpa aku," jawab Randy.


"Tapi sayang dengan kondisimu yang seperti ini kamu tidak mungkin melakukan pertemuan dengan mereka besok," jawab Putri.


"Kita bisa memundurkan waktu nya sampai aku benar-benar pulih," kata Randy.


"Itu tidak mungkin sayang, jika kamu kembali menundanya keluarga korban tidak akan terima dan seperti di permainkan aku tidak ingin kamu di tuntut sayang, biarkan aku menemui mereka besok aku janji akan menjaga diriku baik-baik," jelas Putri dan membuat Randy terdiam sejenak.


"Baiklah tapi kamu pergi bersama Chiko," jawab Randy.


"Tidak, A Chiko akan menemanimu disini dan aku akan di temani pengacara saja besok," jawab Putri.


"Tapi aku akan lebih tenang jika kamu bersama Chiko."


"Aku jauh lebih tenang jika Chiko menjagamu disini, tolong kali ini dengarkan kataku," jawab Putri tegas.


"Baiklah tapi pakai earphone agar aku bisa tau keadaanmu."


"Baiklah sayang."


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2