CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 54


__ADS_3

Ibu Lira dan Thania segera menghampiri Putri dengan tergesa-gesa, Putri pun duduk di atas kursi roda yang di bantu perawat sambil terus menangis.


"Nak Putri apa yang terjadi?" tanya ibu Lira.


"Iya Put apa yang terjadi? Dan.. dan ini siapa?" sambung Thania melihat ke arah gendongan Putri.


"Ini anakku Than, aku keguguran," jawab Putri bergetar.


"Innalillahiwainnailaihi raji'un ayo.. ayo.. nak kita masuk dulu," jawab ibu Lira dan menggantikan mendorong kursi roda Putri dari perawat.


Randy yang baru saja sampai ikut turun bersama Chiko di sampingnya, dengan langkah gontai Randy dan Chiko masuk ke dalam rumah ibu Lira yang ternyta Putri tengah duduk di kursi ruang tamu di temani ibu Lira dan Thania, hati Randy semakin tersayat ketika ia melihat orang-orang yang sangat ia cintai harus menderita karena kesalahannya ia pun melirik ke arah Chiko meminta pendapat darinya dan seketika Chiko menganggukan kepalanya pertanda bahwa Randy harus menghampiri Putri. Dengan pelan Randy berjalan ke arah Putri di ijuti Chiko di belakangnya, Thania yang menyadari kehadiran Randy pun segera berdiri dan memberikan ruang untuk Randy daat menenangkan Putri.


"Sayang..." ucap Randy merangkul pundak Putri.


Tak ada jawaban dari Putri ia hanya terus menatap anaknya sambil mengusap-usapnya, Randy melirik ke arah Chiko untuk segera mengurus pemakaman anaknya di temani Thania sedangkan ibu Lira dan Randy menyiapkan persiapan lainnya di rumah. Sesekali Randy melirik ke arah Putri yang masih terus saja menangis ia tidak tau lagi harus membayarnya dengan cara apa dan jika ia bisa ia rela mengorbankan nyawanya untuk bisa mengembalikan anaknya itu. Di saat yang bersamaan Randy sekilas melihat sosok almarhum ibunya yang sedang tersenyum padanya membuat ia semakin hanyut dalam kesedihan yang mendalam tak bisa ia pungkiri bahwa ia sangat merindukan sosok kedua orangtuanya yang selalu memberikan semangat ketika ia terjatuh dan merasa putus asa, tanpa di sadari ia pun pingsan membentur ujung kursi yang sedang ia bereskan tadi.


Ibu Lira yang melihat itu berteriak kencang sehingga menarik perhatian Putri yang duduk tak jauh dari mereka, matanya melotor saat melihat Randy tergeletak di lantai dengan darah di dahinya.


Putri turun dari kursi roda nya menghampiri suaminya yang tengah di bantu ibu Lira dan mendudukan nya di pangkuan Putri, ibu Lira berlalu keluar rumah untuk meminta bantuan warga namun terhenti saat pak Sam sudah berada di ambang pintu rumahnya dengan segera ibu Lira meminta pak Sam untuk memindahkan Randy ke kamar dan memanggil dokter ke rumahnya untuk mengobati luka Randy karena takut terjadi hal serius pada Randy melihat wajahnya yang sangat pucat. Dengan segera pak Sam memangku Randy ke dalam kamar di ikuti Putri yang masih menggendong anaknya, ia semakin menangis melihat kondisi Randy yang sangat memprihatinkan. Setelah membaringkan Randy di tempat tidur pak Sam berlalu memanggil dokter terdekat untuk memeriksa kondisi Randy, Putri pun mendekat ke arah Randy memegang wajahnya.


"A Randy bangun," kata Putri disertai tangisnya.


"Kenapa a Randy jadi kaya gini?" sambung Putri.


"Nak Putri dedeknya biar ibu yang gendong saja ya biar nak Putri bisa mengobati luka di dahi nak Randy ini kotak P3K-nya," kata ibu Lira tiba-tiba.


Putri pun memberikan anaknya ke dalam gendongan ibu Lira dan mengambil kotak P3K dari tangan ibu Lira lalu membersihkan darah di dahi Randy dengan cairan alkohol, dengan telaten Putri mengobati luka Randy yang tak lama kemudian pak Sam datang bersama seorang dokter Putri pun segera berdiri di samping suaminya. Dokter segera memeriksa kondisi Randy dan luka di dahinya yang telah di bersihkan oleh Putri namun belum sempat ia tutup.

__ADS_1


"Bagaimana kondisi suami saya dok?" tanya Putri.


"Sepertinya suami ibu sedang mengalami tekanan dan trauma yang mendalam bu, apa beliau sedang ada masalah?" tanya dokter itu.


"Beliau baru saja kehilangan calon anaknya dok, saya baru saja mengalami keguguran," jawab Putri.


"Baikhlah jika itu permasalahannya sebaiknya beliau jangan di tinggalkan sendiri dan terus memberikannya semangat, mengenai lukanya memang sangat dalam dan saya harus melakukan penjahitan di keningnya agar tidak menimbulkan infeksi," jelas dokter.


"Baiklah dok lakukan yang terbaik untuk suami saya," jawab Putri.


Putri membiarkan dokter melakukan penjahitan di kening Randy, ia menunggu dan duduk di kursi yang di bawakan pak Sam untuknya. Putri menarik nafas panjang karena di satu sisi ia masih marah dan kecewa dengan suaminya itu namun di satu sisi lagi ia tidak tega dengan kondisi suaminya sehingga harus mengalami tekanan dan trauma yang mendalam karena telah kehilangan calon anaknya itu.


"Pak Sam..." panggil Putri.


"Iya non saya disini," jawab Pak Sam.


"Belum non ada apa?" tanya pak Sam lagi.


"Tidak nanti saja kalau Chiko dan Thania sudah kembali beritahu saya," jawab Putri.


"Baik non," kata pak Sam dan menjauh kembali dari Putri


Setelah menunggu tiga puluh menit dokter pun selesai menjahit kening Randy dan menutupnya dengan perban lalu memberikan resep untuk Randy.


Karena pengaruh obat bius Putri harus menunggu Randy sadar dalam waktu ke depan. Putri memberikan resep kepada pak Sam untuk membelinya ke apotik terdekat, setelah kepergian pak Sam Putri beranjak keluar untuk melihat kondisi di luar dan melihat anaknya.


Di saat yang bersamaan Randy dan Thania telah kembali dari pemakaman dan memberitahukan semuanya jika anaknya dapat segera di makamkan saat ini, namun karena kondisi Randy yang belum sadar Putri meminta untuk menunggu hingga Randy sadar baru ia akan memakamkan anaknya.

__ADS_1


"A Chiko bisakah kita berbicara di luar sebentar?" tanya Putri.


"Bisa Put, mari," jawab Chiko dan berlalu keluar.


Setelah berada di pelataran rumah ibu Lira Putri pun membuka percakapannya sebelum Chiko bertanya apa yang ingin Putri bicarakan.


"Apa Randy pernah mengalami trauma di masa lalu?" tanya Putri tanpa melihat ke arah Chiko.


"Trauma? Maksudmu?" tanya Chiko yang tidak mengerti pertanyaan Putri.


"Dokter bilang Randy sedang dalam tekanan dan trauma yang mendalam, apa Randy pernah mengalami sesuatu buruk di masa lalu?" tanya Putri.


"Setauku Randy tidak punya trauma lain selain saat ia kehilangan kedua orangtuanya yang membuatnya selalu mengurung diri dan lebih tertutup selama beberapa bulan," jelas Chiko.


Putri menghela nafas panjang dan menundukkan kepalanya, "Jujur aku sudah tidak sanggup bersama Randy lagi a," kata Putri mengeluarkan air matanya dan tentu saja membuat Chiko membelalakan matanya.


"Apa yang terjadi Put?" tanya Chiko agar tidak mendengar dari satu pihak saja.


"Aku lelah menghadapi sikap arogan Randy dan selalu mengedepankan amarah dan egonya, beberapa bulan aku bersabar menghadapi sikapnya dan selalu memaafkannya dan berulang-ulang dia berjanji untuk berubah namun semuanya tetap sama hingga akhirnya aku harus keguguran karena berusaha menahannya untuk tidak pergi, aku faham apa yang dia lakukan semata-mata karena dia begitu mencintaiku tapi aku juga ingin dia bersikap lebih sabar tanpa selalu mementingkan ego dan amarahnya," jelas Putri yang mulai menangis deras.


Chiko menghela nafas panjang sambil memegang ponselnya,


"Maaf Put bukannya aku ikut campur dengan rumah tanggamu dan Randy tapi aku harap kamu bisa memberikan Randy kesempatan sekali lagi untuk Randy bisa betul-betul berubah, karena aku lihat Randy sangat-sangat menyesali perbuatannya kali ini bahkan aku yang bertahun-tahun ikut dengan Randy tidak pernah melihat Randy menangis dan merendahkan harga dirinya di depan umum seperti tadi, aku rasa Randy juga sangat kehilangan anaknya dan kembali membuka luka saat ia dulu kehilangan orangtuanya terlebih dia juga melihat sikapmu yang tidak memperdulikannya semakin membuatnya terpukul dan mungkin itulah sebabnya dokter bilang bahwa Randy sedang dalam tekanan dan trauma yang mendalam," jelas Chiko.


"Randy juga bilang bahwa dia sangat takut untuk kehilanganmu Put, aku harap kamu memikirkan kembali keputusanmu di saat pikiran dan hatimu sudah betul-betul merasa tenang," sambung Chiko.


Perkataan Chiko membuat Putri terdiam sejenak dan kembali memikirkan keputusannya untuk meninggalkan Randy.

__ADS_1


__ADS_2