
Setelah memastikan bahwa Putri dan calon anaknya baik-baik saja Randy di temani suster kembali ke ruang perawatan, selama perjalanan menuju ruang perawatan banyak hal yang berkecambuk di hati Randy dimana ketika Allah memberikannya kepercayaan sebagai calon papa dan di saat itu pula Allah memberikannya ujian perusahaan yang hampir bangkrut yang tentu saja keuangan nya saat ini tidak stabil seperti dulu terlebih biaya pengobatan selama Randy di rumah sakit pun sangatlah besar ia tidak ingin istri dan calon anaknya itu merasakan kesusahan apalagi sang jabang bayi yang paling ia tunggu-tunggu selama pernikahannya dengan Putri, Randy terus memutar otaknya bagaimana cara mengembalikan perusahaan seperti semula.
Tanpa ia sadari Putri sejak tadi menatapnya lekat terlihat wajah murung di raut wajah suaminya itu, sesampainya di ruang perawatan Putri segera di pangku oleh Randy menuju tempat tidurnya di ikuti suster yang kembali memasang selang infusan di tangan Putri tentu saja di iringi senyuman Randy yang menatapnya dengan hangat,
"Sayang aku perhatiin kamu semenjak di ruang USG sampai perjalanan kesini diam terus, kamu gak bahagia ya dengan kehamilanku?" tanya Putri setelah suster meninggalakan mereka.
Randy kaget dengan pertanyaan Putri yang ternyata sejak tadi memperhatikannya, "tentu saja aku sangat bahagia sayang mendengar kabar kehamilanmu kan itu tujuanku sering lembur sama kamu tiap malam," jawab Randy antusias sambil mengecup bibir Putri.
"Terus kenapa wajahmu murung?" tanya Putri lagi.
"Gak papa ko sayang speechless aja ternyata Allah kembali memberikan kita kepercayaan lagi setelah kehilangan anak pertama kita," kata Randy tersenyum.
"Kamu gak bohong kan?" tanya Putri menatap manik mata Randy.
"Tidak sayangku!" jawab Randy mencubit pipi kiri Putri.
"Udah pokoknya mulai sekarang kamu jangan capek-capek lagi biar bi Sumi aja yang kerjain semuanya termasuk siapin sarapan untuk aku kalau kamu bosan di rumah kamu boleh samperin aku ke kantor kapanpun kamu mau atau kamu boleh pergi kemanapun yang kamu mau dengan catatan harus ijin dulu sama aku dan perginya harus sama aku juga, ngerti?" sambungnya.
"Iya-iya sayang kali ini aku akan betul-betul menjaga nya dengan baik," kata Putri mengelus perutnya yng masih rata.
"Harus!" jawab Randy tegas.
"Oh iya gimana tadi di kantor? Udah selesai?" tanya Putri tiba-tiba.
"Udah ko sayang tadi waktu aku hubungi kamu tadinya ingin mengucapkan terimakasih sama kamu, karena ide-mu aku dan Chiko jadi lebih cepat menangkap pelakunya, makasih ya sayang," kata Randy mencium kening Putri.
"Sama-sama sayang kalau ada masalah apapun bilang sama aku ya siapa tau aku bisa kasih kamu masukan lagi," kata Putri.
"Tentu sayang!" kata Randy tersenyum.
Tok.. tok.. tok..
"Masuk!" saut Randy.
Chiko pun memasukkan setengah kepalanya membuat Randy terkejut karena dari tempat duduknya hanya terlihat kedua bola matanya saja.
"Astaga Chiko! lo bikin gue kaget aja! Kenapa lo gak langsung masuk aja sih pake ngintip segala!" kata Randy dengan wajah kagetnya.
__ADS_1
"Hehe sorry bro gue takut salah kamar makanya gue ngintip dulu," jawab Chiko sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Lo mau apa kesini?" tanya Randy ketus.
"Gue mau nengok istri lo lah sambil bawain buah-buahan segar kan ibu hamil harus banyak makan buah," jawab Chiko meletakkan parcel buah nya di atas meja.
"Makasih ya a Chiko," kata Putri tersenyum.
"Dari mana lo tau istri gue hamil? Kan gue belum kasih tau lo!" kata Randy ketus.
"Dari bi Sumi tadi gue ke rumah lo bentar ambil berkas yang ketinggalan di kursi, by the way selamat ya bro jadi calon papa lagi kali ini di jaga baik-baik ya gak usah cemburu-cemburu lagi sama bini lo, " jawab Chiko polos.
Perkataan Chiko kali ini justru malah mendapat tatapan tajam dari Randy yang kembali membahas masa lalu yang membuat Putri keguguran, tentu saja perkataan Chiko juga membuat Putri menatap suaminya yang pasti akan menghardik Chiko.
"Ehem udah gak papa ko mungkin Allah menilai aku dan mas Randy belum siap ketika diberikan kepercayaan makanya Allah ambil lagi, tapi insyaAllah sekarang aku dan mas Randy sudah sangat siap untuk jadi orangtua jadi Allah kasih lagi minta doanya ya a Chiko biar kehamilanku yang sekarang bisa lancar sampai melahirkan nanti," jelas Putri memegang tangan Randy.
"Hehe i.. iya Put kalau masalah doa mah gak perlu kamu minta lagi pasti aku doain yang terbaik untuk keluarga kecil kalian," kata Chiko terbata melihat tatapan Randy.
"Oh ya nanti malem sepulang kerja Thania mau kesini juga nengokin kamu katanya udah kangen banget sama kamu," sambungnya.
"Oh ya? Ahhh seneng banget bilangin sama Thania cepet-cepet kesini ya a Chiko aku juga kangen banget sama dia!" jawab Putri dengan tawa riang nya.
"Ko ikut gue bentar ada yang mau gue bahas sama lo! Sayang sebentar ya aku sama Chiko keluar dulu," kata Randy cepat mengecup pipi Putri.
"Masalah kerjaan?" tanya Putri.
"Iya sayang, mau nitip sesuatu?" tanya Randy.
"Laper sayang pengen makan ayam bakar sama nasi liwet sama jus mangga," jawab Putri memegang perutnya.
"Yasudah aku cari dulu ya!"
"Jangan lama-lama!" jawab Putri.
"Iya sayang kalau ada apa-apa hubungi aku ya," kata Randy berlalu meninggalkan Putri.
Sesampainya di luar Chiko menghampiri Randy menanyakan alasan Randy mengajaknya bicara di luar, namun bukannya menjawab pertanyaan Chiko ia justru berlalu meninggalkan Chiko membuat Chiko mengejar langkah Randy.
__ADS_1
"Bantu gue dulu cari ayam bakar, nasi liwet sama jus mangga! Istri gue kelaperan dari tadi belum makan!" kata Randy tanpa menengok ke arah Chiko.
"Astaga jadi lo manggil gue keluar buat bantuin lo nyari makanan buat ibu hamil? kenapa gak bilang di dalem aja sih Ran kan gue gak bakalan panik kaya tadi," gerutu Chiko.
Randy pun menghentikan langkahnya membuat Chiko menabrak Randy. BRUKK!
"Kenapa lagi sih Ran? tadi kata lo di suruh cepet sekarang malah berhenti tiba-tiba! "
"Lo bisa diem gak? Gak usah ngomel-ngomel terus berisik kalau lo gak mau bantuin gue lo bisa pulang sekarang!" kata Randy lalu membalikkan lagi badannya mempercepat langkahnya.
"Kenapa sih si Randy sensi mulu sama gue!" gerutu Chiko yang masih terdengar oleh Randy.
"Lo yang bikin gue sensi Chiko! teriak Randy yang berhasil membuat Chiko mengatupkan bibirnya sambil memukul kecil mulutnya.
"Denger aja lo gue ngomong," gerutu Chiko lagi yang di balas dengan delikan tajam oleh Randy.
Sesampainya di parkiran Randy melihat ke sekeliling mecari restauran terdekat namun masih belum terlihat ia pun kembali berjalan dan bertemu dengan seorang satpam yang baru saja membeli makanan.
"Permisi pak, maaf disini yang menjual ayam bakar dan nasi liwet dimana ya? Istri saya sedang ngidam,"
"Oh di sebelah sana pak, mau saya belikan?" kata satpam itu menawari Randy.
"Ah tidak perlu pak, terimakasih biar saya saja bapak tunjukkan saja tempatnya,"
Setelah di tunjukkan arahnya Randy segera bergegas ke tempat itu di ikuti Chiko dari belakang sambil berlari kecil.
"Ni orang jalannya cepet banget cape gue ngikutin dia dari tadi, perasaan dia punya anak buah kenapa harus dia yang cape-cape nyari makanan itu! Gak habis pikir gue!" kata Chiko dengan nafas ngos-ngosan.
Randy pun sampai di tempat ayam bakar itu dan segera memesan makanan yang di pesan Putri bukan hanya satu yang ia pesan tapi ia borong juga semua ayam bakar itu agar Putri dan anaknya kenyang makan ini semua, Chiko yang baru saja datang terkejut dengan tingkah Randy yang memborong ayam bakar segitu banyaknya untuk Putri.
"Bro lo yakin beli itu semua buat istri lo?" tanya Chiko menatap ke arah tumpukan ayam di atas panggangan.
"Yakinlah biar istri dan anak gue kenyang!" jawab Randy percaya diri.
"Bro perut istri lo kan kecil mana bisa makan ayam dan nasi sebegitu banyaknya, itu mah cukup untuk makan serumah sakit!" jawab Chiko.
"Sekarang kan istri gue berdua makannya sama anak yang di perutnya berarti makannya juga pasti banyak kan," kata Randy lagi tak mau kalah.
__ADS_1
"Okelah terserah lo aja kan lo suaminya!" kata Chiko yang enggan berdebat lagi dengan Randy.