
Setelah kepergian Thania dan Chiko bi Sumi pun pamit keluar untuk menemui pak Ujang dan membiarkan Randy dan Putri menyelesaikan masalahnya Putri pun hanya menganggukan kepalanya dan kembali menatap layar ponselnya. Randy yang merasa di acuhkan oleh Putri pun segera mengambil ponsel Putri dan menyimpannya di meja jauh dari Putri membuat Putri hanya menatap sinis suaminya dan berbaring membelakangi Randy.
Randy yang merasa semakin di acuhkan oleh Putri hanya bernafas kasar lalu menghampiri Putri dan duduk di sebelahnya.
"Sayang kau masih marah padaku?" kata Randy namun tidak ada jawaban dari Putri.
"Sayang..," kata Randy lagi memegang pundak Putri.
"Aku lelah dan ingin istirahat," jawab Putri singkat.
"Baiklah istirahat saja sayang aku akan menunggumu," jawab Randy lalu mengusap kepala Putri dan beranjak turun menuju sofa dan berbaring di sana.
Sambil menunggu Putri bangun Randy mengecek email melalui ponsel nya lalu mengirim pesan pada seseorang, setelah mendapat balasan dari orang tersebut Randy tersenyum sinis dan menyimpan ponsel nya di meja. Karena merasa dirinya sangat lengket Randy pun mencari bi Sumi di luar untuk menunggu Putri karena ia hendak mandi terlebih dahulu, saat bi Sumi datang Randy segera berlalu ke kamar mandi namun tiba-tiba Putri terbangun membuat bi Sumi kaget segera Putri menyimpan telunjuk nya di bibir tanda bahwa bi Sumi jangan berbicara apapun membuat bi Sumi bungkam tak bersuara apapun.
"Bi tolong ambilkan ponsel Randy disana," bisik Putri dan segera di laksanakan oleh bi Sumi.
"Ini non," kata bi Sumi memberikan ponsel Randy.
"Makasih bi."
Putri swgera mengecek ponsel Randy karena ia dari tadi memang belum tidur dan samar-samar mengintip Randy yang duduk di sofa sambil memegang ponsel dan tersenyum sinis membutmat Putri penasaran ap yang di lakukan suaminya, namun semuanya tidak sesuai harapan karena Randy sudah menghapus percakapannya dengan seseorang itu sehingga Putri tidak menemukan apa-apa di ponsel Randy membuat ia mengerucutkan bibirnya.
"Randy sembunyiin apa ya dariku?" batin Putri.
Tiba-tiba Randy keluar dari kamar mandi sambil bersiul membuat Putri terperanjat kaget lalu memberikan ponsel itu pada bi Sumi dan memintanya untuk menyimpan kembali di meja dan ia pura-pura tertidur kembali membuat bi Sumi yang melihatnya tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepala karena tingkah Putri. Saat Randy sampai di dekat Putri ia melihat bi Sumi sedang senyum-senyum sendiri sambil membereskan sisa makanan di meja.
"Bibi kenapa senyum-senyum sendiri?" kata Randy tiba-tiba.
Putri dan bi Sumu pun terperanjat kaget dan tidak tau harus menjawab apa namun bi Sumi melihat ke arah Putri yang sedang menyimpan telunjuknya di bibir tanda jangan memberitahu Randy apa yang sudah ia lakukan, bi Sumi pun paham maksud Putri, "Oh.. emm... tidak apa-apa den bibi lagi keinget ocehan pak Ujang saja tadi makanya bibi senyum-senyum sendiri," kata bi Sumi menggaruk tengkuknya.
"Oh yasudah kalau begitu bibi masih mau menunggu Putri disini kan?" tanya Randy sambil mengambil jasnya.
"Tentu den memangnya den Randy mau kemana?" kata bi Sumi.
__ADS_1
"Saya ada urusan dulu sebentar nanti kalau saya hendak pulang saya kabari bibi ya," kata Randy mendapat anggukan dari bi Sumi.
"Ikut," kata Putri yang tiba-tiba bangun membuat Randy membalikkan badannya seketika.
"Kamu tidak tidur?" kata Randy.
"Aku mau ikut sama kamu," kata Putri manja.
"Aku ada urusan dulu sebentar sayang nanti aku segera pulang ko kalau semuanya sudah selesai," bujuk Randy menghampiri Putri.
"Pokoknya aku mau ikut aku bosan disini terus," rengek Putri lagi.
"Kamu masih belum pulih sayang nanti setelah kamu sudah di perbolehkan pulang sama dokter kita langsung jalan-jalan ke luar kota ya biar kamu gak bosan," bujuk Randy lagi.
"Kemana?" kata Putri antusias.
"Kemana aja yang kamu mau aku turuti," jawab Randy.
"Ke Bali?" tanya Putri memajukan wajahnya sambil tersenyum membuat Randy gemas.
"Yeayyyyy makasih sayang," kata Putri bertepuk tangan sambil memeluk Randy.
"Iya sayang kalau begitu bolehkah aku pergi sekarang?" tanya Randy lagi mengusap kepala Putri.
"Yasudah tapi pulangnya bawa pempek sama sota ayam ya," kata Putri memohon.
"Iya nanti aku belikan sayang, tapi kalau aku pulang larut malam aku minta pak Ujang saja yang belikan ya" jawab Randy.
"Aku gak mau! Mau nya di beliin sama kamu kan kamu ayahnya bukan pak Ujang," rengek Putri lagi.
"Baiklah sayang sudah jangan ngambek lagi aku usahakan satu jam lagi aku kembali ya, sambil menunggu kamu ngemil dulu makanan yang ada yang setelah itu istirahat oke," kata Randy dan mencium kening Putri.
"Aku berangkat ya sayang jangan ngambek-ngambek lagi," sambung Randy dan berlalu meninggalkan Putri.
__ADS_1
Randy pun segera keluar kamar menuju lift yang langsung membawanya ke lantai dasar dan langsung di sambut pak Sam yang sudah menungguny sejak tadi, mereka pun meluncur ke tempat dimana tidak ada orang lain yang tau dimana tempat tersebut terletak di sebuah perkampungan yang memang sudah tidak berpenghuni dan selalu di gunakan Randy untuk memberi balasan untuk orang yang sudah mengusik hidupnya apalagi mengusik orang yang ia sayangi.
Setelah menempuh waktu tiga puluh menit mereka pun sampai di tempat tersebut yang sudah di jaga oleh beberapa orang kepercayaannya dan segera membukakan pintu untuk Randy, Randy pun segera turun menuju rumah tersebut di ikuti pak Sam. Saat ia masuk tampak seorang perempuan tengah tertidur di sebuah kursi tua, melihat itu Randy meminta pak Sam untuk menyiramkan air ke atas kepalanya sehingga membuat wanita itu terperanjat kaget dan melihat ke sekitar dan kembali memasang wajah takut saat melihat Randy berada di hadapannya yang memberikan senyuman maut untuknya.
"Ran aku mohon lepaskan aku, aku minta maaf," kata Sefti dengan wajah memelas.
"Hahaha maaf katamu? Setelah kamu hampir membuat perusahaanku bangkrut dan sudah mencelakai istriku kamu bilang maaf?" kata Randy dengan nada tinggi.
"Aku khilaf Ran aku hanya ingin membuatmu melihatku bahwa aku disini menyukaimu sejak kita sekolah dulu," jawab Sefti menyesal.
"Suka katamu? Ini bukan suka namanya tapi gila! Kamu tau seberapa sulitnya aku membangun perusahaan papaku dari nol hingga saat ini? Dan sekarang kamu mau menghancurkannya begitu saja? Bahkan aku sama sekali tidak pernah mengusik hidupmu atau perusahaan papamu dan Kamu tau betapa berharganya istriku untuk hidupku apalagi dia sedang mengandung darah dagingku dan jika terjadi apa-apa dengan anak dan istriku jangan harap kamu masih bisa melihat dunia lagi!" kata Randy dengan suara tinggi memenuhi ruangan itu.
"Aku mohon Ran lepaskan aku, aku janji akan pergi jauh dari kehidupanmu dan istrimu, tolong Ran kita berteman sejak lama masa kamu mau menyakiti temanmu sendiri?" kata Sefti lirih.
"Apa kamu memikirkan itu juga sebelum kamu bertindak kemarin?" kata Randy yang membuat Sefti terdiam sempurna.
"Ternyata selama ini aku berteman dengan orang yang salah bahkan aku selama ini berteman dengan seorang serigala berbulu domba," sambung Randy dengan senyuman meremehkan.
"Maaf Ran," jawab Sefti tertunduk.
"Aku akan memaafkanmu tapi setelah kamu merasakan imbalannya dariku lalu setelah itu kamu saya jebloskan ke dalam jeruji besi," kata Randy lalu memerintahkan sesuatu kepada pak Sam dan Randy segera keluar.
"Rand tolong jangan pergi Rand lepasin aku," kata Sefti berteriak.
Randy tak menghiraukan teriakan Sefti dan berlalu keluar meninggalkan Sefti dengan pak Sam dan anak buahnya lalu kembali ke dalam mobil kembali ke rumah sakit namun sebelumnya ia membelikan makanan yang di pesan Putri tadi tak lupa ia mampir ke supermarket untuk membeli makanan kesukaan Putri dan segera keluar dan menjalankan kembali mobilnya, selama di perjalanan ponsel Randy terus berdering yang ternyata dari Putri.
"Halo sayang," kata Randy.
"Kamu masih lama sayang? Aku sudah sangat lapar," jawab Putri di seberang sana.
"Aku masih dijalan sayang sebentar lagi aku sampai sabar ya sayang," kata Randy.
"Iya sudah jangan lama-lama ya sayang," jawab Putri lagi.
__ADS_1
"iya sayang," jawab Randy lalu mematikan ponselnya.
Randy pun segera menancap gas menuju rumah sakit karena tidak ingin Putri terlalu lama menunggu sehingga yang seharusnya perjalanan memakan waktu tiga puluh menit menjadi lima belas menit saja dan itu menjadi keahlian Randy sejak jaman ia sekolah dulu yang selalu membuat almarhum ibunya spot jantung karena khawatir dengan keadaan Randy beda cerita nya dengan almarhum ayah Randy yang selalu mendukungnya apapun yang Randy lakukan termasuk menjadi seorang pembalap.