
Selang beberapa menit Chiko pun menghampiri mereka karena ia rasa keadaan sudah mulai aman.
"Ran keadaan nya sudah mulai aman segeralah kalian turun ikuti langkah mereka,". kata Chiko menunjuk kepada tiga orang yang berpakaian seperti preman tersebut.
"Baiklah, ayo sayang kita turun," kata Randy kembali menggandeng tangan Putri.
Mereka pun keluar beriringan di ikuti Chiko dan pak Sam di belakang nya sedangkan Randy dan Putri terus menerus mengikuti langkah polisi yang menyamar. Sepuluh menit kemudian mereka pun telah sampai di dalam pesawat dimana tempat duduk Randy dan Putri di apit oleh Chiko, pak Sam dan anak buah nya serta beberapa anggota dari kepolisian meski begitu mereka juga tetap berahti-hati takut masih ada orang yang akan mengancam keselamatan Randy dan Putri.
Tidak lama pesawat pun mulai take off selama di dalam pesawat Putri tidak henti-hentinya berdoa agar ia dan yang lainnya dapat sampai dengan selamat, Randy yang menyadari istrinya sangat gugup pun memegang erat tangan Putri dan tersenyum.
"Sayang tenanglah ada aku disini," kata Randy yang berhasil membaut Putri tersenyum.
"Aku hanya belum terbiasa dengan penerbangan seperti ini sayang," kata Putri.
"Aku mengerti sayang ini tidak akan lama ko hanya dua jam saja, oh ya maaf karena insiden tadi kita tidak jadi membeli oleh-oleh untuk orang rumah," kata Randy.
"Tidak apa-apa sayang yang terpenting kita semua selamat itu sudah lebih dari cukup, lagian aku tidak begitu menginginkannya," jawab Putri tersenyum.
"Tapi nanti setelah sampai di Jakarta kita membeli sesuatu untuk di bawa pulang ke Bandung ya," kata Randy tersenyum.
"Iya sayang aku ikit apa katamu saja," jawab Putri.
Dua Jam Kemudian..
Akhirnya pesawat landing di bandara Soekarno-Hatta Jakarta dengan selamat seluruh penumpang pun mengambil barang bawaan mereka dan mengantri untuk turun, seperti biasa Randy dan Putri tetap dalam penjagaan dan pengawasan pak Sam dan yang lainnya.
Rasa bahagia Randy tidak terpungkiri karena ia dapat kembali menginjakkan kakinya di Jakarta dan akan segera menginjakkan kakinya di kota kelahirannya Bandung, begitupun dengan Putri rasa bahagia nya kembali terpancar karena ia dapat pulang bersama Randy dengan selamat dan kondisi Randy pun sudah dalam keadaan baik-baik saja.
Setelah keluar mereka berjalanan keluar bandara tampak beberapa mobil telah menunggu kedatangan mereka untui mengantarkan mereka ke Bandung, seperti janji Randy sebelum mereka pulng ke Bandung mereka membeli oleh-oleh untuk orang rumah lain halnya dengan Chiko yang membeli barang-barang seserahan untuk ia bawa ke rumah Thania beserta cincin untuk Thania tentunya ia membeli itu semua atas saran Putri dan bantuan Putri untuk memilih barang-barang dan cincin yang cocok untuk sahabatnya Thania.
Setelah selesai berkeliling mereka pun membeli beberapa makanan untuk menemani mereka di perjalanan setelah itu mereka kembali ke dalam mobil menuju kota Bandung.
"Sayang kamu yakin tidak ingin perhiasan juga seperti Thania?" tanya Randy setelh mobil melaju.
"Tidak sayang perhiasan darimu di rumah saja sudah begitu banyak dan aku jaranf memakainya," kata Putri memakan nasi box.
"Apa kamu tidak menyukai perhiasan yang aku beli sayang?" tanya Randy.
"Bukan sayang, aku hanya tidak terbiasa saja memakai perhiasan yang terlalu berlebihan apalagi aku tau perhiasan yang kamu beli itu bukan harga yang murah lagian jika aku memakainya apa tidak mengundang perhatian orang-orang terutama orang jahat dan tentunya akan mencelakaiku juga," jelas Putri.
"Tapi kan kamu tidak pernah keluar sayang, aku ingin kamu memakainya," jawab Randy menatap mata Putri penuh harapan.
"Baiklh sayang aku akan memakainya nanti." kata Putri.
"Terimakasih sayang," kata Randy memeluk Putri.
"Sayang nanti saja peluk nya aku sedang makan!" kata Putri membersihkan nasi yang tumpah karena ulah Randy.
"Hehe lagian kamu makan sendiri saja tidak menawari suamimu ini!" kata Randy merajuk.
"Gimana mau nawarin makan orang kamu berbicara saja dari tadi, yasudah nih aku suapin," kata Putri menyuapi Randy.
Dengan senang hati Randy menerima suapan Putri hingga mereka menghabiskan dua box makanan yang tadi Putri beli, tak berhenti disitu Putri kembali menghabiskan salad buah yang sangat menggugah seleranya membuat Randy tersenyum senang karena melihat nafsu makan Putri kembali, selama di rumah sakit Putri selalu makan dengan porsi sedikit hingga membuatnya semakin kurus.
__ADS_1
"Sayang aku senang kamu bisa makan banyak seperti itu lagi," kata Randy mencubit gemas pipi Putri.
"Apaan sih sayang kamu ngeledek aku ya?" jawab Putri memajukan bibirnya.
"Tidak sayang aku lebih menyukai kamu makan banyak seperti ini biar kamu sehat," kata Randy.
"Baiklah-baiklah kalau begitu aku akan menghabiskan makanan ini," kata Putri tersenyum.
"Makanlah sayang nanti kalau habis kita beli lagi," kata Randy tersenyum geli.
Dan benar saja selama di perjalanan Putri berhasil menghabiskan makanan yang tadi ia beli padahal jumlah nya sangat banyak namun perut Putri mampu menampung seluruh makanan itu hingga ia terkapar kekenyangan dan tertidur pulas, segera Randy membenahkan posisi Putri agar ia dapat tidur dengan nyaman. Baru saja Randy memejamkan matanya ponselnya berdering dan dengan cepat Randy mengambil ponselnya karena takut membangunkan Putri.
"Ada apa kau meneleponku?" tanya Randy.
"Hehe sorry bro nanti kita ke salon dulu ya agar lebih segar ke acara lamarannya," kata Chiko.
"Oke tapi kamu yang bayar biayanya termasuk untuk Putri," jawab Randy santai.
"Kan kamu yang lebih banyak uang Ran," jawab Chiko tak terima.
"Yasudah kalau tidak mau!" kata Randy hendak menutup teleponnya.
"Oke-Oke aku bayarin!" kata Chiko cepat.
"Gitu dong baru aku dan Putri mau," kata Randy tersenyum lebar.
"Dasar bos yang gak ada empatinya sama sekali bawahan mau ngelamar bukannya di biayain malah di suruh bayarin!" gerutu Chiko.
"Ah tidak itu ada kucing kejepit! Baiklah kalau begitu tiga puluh menit lagi kita sampai jangan tidur ya!" perintah Chiko lalu menutup teleponnya.
"Hah siapa dia berani menyuruhku!" gerutu Randy.
Ia tak menghiraukan perkataan Chiko dan tertidur pulas di samping istrinya.
Tiga puluh menit berlalu mobil yang mereka tumpangi kembali terhenti atas instruksi Chiko dan karena tidak ada yang berani membangunkan Randy akhirnya Chiko kembali turun tangan.
"Ran bangun! Kita sudah sampai," kata Chiko mengayunkan tangan Randy.
"Ah iya iya aku bangun," Jawab Randy dengan parau.
"Kau ini baru saja aku tertidur sudah di bangunkan lagi!" sambung Randy.
"Kan tadi sudah kubilang jangan tertidur," kata Chiko tak mau kalah.
"Oke kau masuk saja aku bangunkn Putri dulu," kata Randy.
Chiko pun menuruti perintah Randy dan segera masuk ke tempat perawatan tersebut.
"Sayang bangun, kita ke salon dulu," kata Randy pelan.
"Hmm iya sayang," jawab Putri mengerjapkan matanya berkali-kali.
Ia melihat ke segala arah dan tidak mengenali tempat ini,
__ADS_1
"Sayang kita dimana?" tanya Putri.
"Ini di salon sayang kata Chiko kita perawatan terlaebih dahulu sebelum ke acara agar lebih segar," jawab Randy.
"Baiklah sayang tapi yang juga ikut perawatan kan? Kasian mereka juga pasti lelah.
"Iya sayang semuanya akan perawatan juga," jawab Randy.
Putri pun menuruti Randy lalu turun lebih dulu, ketika masuk ke dalam wangi aromaterapi yang menusuk hidung nya sangatlah menyegarkan dan menenangkan sehingga Putri segera duduk dan pelayan salon pun segera melayani Putri dan yang lainnya.
Satu setengah jam pun berlalu mereka tampak sudah sangat segar dan rapi begitupun Putri yang sudah tampil sangat cantik membuat semua mata tertuju padanya tak terkecuali Randy yang begitu kagum melihat kecantikan Putri yang di balut dengan gaun berwarna merah maroon dengan hijab motif senada dan hells hitam nya wajahnya di poles tipis namun terkesan mewah karena kecantikan Putri. Segera Randy menghampiri istrinya sambil tersenyum manis.
"Sayang kamu sangat cantik sekali," kata Randy.
"Terimakasih sayang," jawab Putri tersenyum.
"Tapi kmu akan terlihat snngat cantik setelah mengenakan ini," kata Randi memberikan cincin dan gelang berlian yang entah kapan ia membelinya.
"Sayang kapan kamu membelinya?" tanya Putri heran.
"Itu tidak penting sayang aku pakaikan ya!" jawab Randy tersenyum.
Setelah memakaikan perhiasan kepada Putri Randy pun mengajak Putri berjalan keluar namun langkahnya kembali terhenti.
"Sayang kamu belum membayarnya," kata Putri.
"Chiko sudah membayarnya sayang," jawab Randy.
Tiba-tiba Chiko menghampiri Randy dan Putri.
"Sudah selesai?" tanya Chiko.
"Sudah, a Chiko betul ini sudah di bayar?" tanya Putri memastikan.
"Iya Put aku sudah membayar semuanya dengan uangku," kata Chiko.
"Lho kenapa bukan Randy yang bayar? Sayang kenapa kamu tidak membayarnya? Kan kamu bos mereka," kata Putri.
"Ini kan acara Chiko sayang masa aku yang harus bayar," jawab Randy.
"Iya tapi kan jumlahnya sangat banyak yang ikut perawatan disini, kamu ganti ya uang yang sudah Chiko pakai untuk membayar ini," kata Putri santai.
Seketika raut wajah Randy berubah masam karena harus mengganti uang Chiko namun lsin halnya dengan Chiko yang tampak begitu sumringah karena pengeluaran hari ini sangat menguras isi dompetnya.
"Makasih ya Put," kata Chiko sambil melirik ke arah Randy dan menaik-naikan halisnya.
Mereka pun keluar setelah Randy mentransfer uang ganti kepada Chiko, kini mereka menuju ke rumah Thania mengantarkan Chiko.
Hanya butuh dua puluh menit saja mereka sampai di pelataran rumah Thania yang telah di dekorasi sangat cantik dengan tema serba merah muda atas permintaan Thania. Kedatangan mereka pun begitu di sambut hangat oleh keluarga Thania terutama Chiko yang kelak akan menjadi bagian dari keluarga mereka, pembawa acara tengah mempersilahkan Chiko dan yang lainnya untuk duduk terlebih dahulu setelah itu pihak keluarga memanggil Thania untui segera menemui Chiko dan yang lainnya.
Tak lama menunggu akhirnya Thania pun keluar dengan sangat anggun dan cantik membuat Chiko begitu terpana, senyum indah senantiasa terukir di bibir keduanya ketika mata mereka saling bertemu.
Acara pun di mulai Chiko pun telah menyampaikan kedatangannya bersama Randy dan Putri sebagai perwakilan keluarga untuk melamar Thania menjadi bagian dari hidupnya dan meminta restu kedua orangtua Thania, setelah Thania menerima lamaran Chiko akhirnya tukar cincin pun mereka sematkan di jari manis masing-masing dan kini secara resmi Chiko dan Thania telah bertunangan dan dalam waktu satu bulan kedepan mereka akan melangsungkan pernikahan. Senyum bahagia terpancar dari seluruh tamu yang hadir terutama dari kedua calon pengantin yang akan memulai hidup baru bersama pasangannya.
__ADS_1