CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Randy Murka


__ADS_3

Selang beberapa menit akhirnya Randy dan Putri telah selesai sarapan dan Putri segera membereskan sisa piring ke dapur sedangkan Randy bergegas menghampiri Chiko yang sudah sangat kusut karena terlalu lama menunggunya.


Sambil menunggu Putri yang tengah membereskan piring di dapur Randy mengambil secarik kertas yang di berikan Putri semalam dan memberikannya pada Chiko.


"Apa ini Ran?" tanya Chiko.


"Ini rencana masukan dari Putri untuk mengetahui siapa saja di balik kecurangan ini," jawab Randy sambil duduk di samping Chiko.


Chiko membaca dan mempelajari rencana tersebut dan mengangguk-anggukan kepalanya seraya berkata, "Ini rencana yang paling cemerlang sih menurut gue dan sepertinya gak perlu butuh waktu yang lama untuk menangkap mereka semua kalau pakai cara ini," kata Chiko mengangkat kepalanya dan menoleh ke arah Randy.


"Gue juga berpikir hal sama seperti lo setelah mempelajari ini!" kata Randy tersenyum dan menatap lurus kedepan sambil menyatukan tangannya.


"Ok kalau begitu kita langsung saja Ran jangan berlama-lama lagi!" ucap Chiko sambil berdiri.


"Kalian sudah akan berangkat sekarang?" kata Putri tiba-tiba.


"Ah iya Put ide yamg kamu berikan sangat cemerlang jadi aku tidak sabar untuk segera melaksanakan idemu biar mereka segera tertangkap!" kata Chiko bersemangat.


"Iya sayang kita berangkat sekarang ya tanganku sudah sangat gatal ingin segera bergerak!" sambung Randy mengepalkan tangannya.


"Baiklah sayang semoga rencananya berjalan dengan lancar ya, dan ingat kalau memang pelaku nya sudah tertangkap jangan tersulut emosi apapun dan serahkan semuanya ke pihak berwajib terutama kamu sayang!" kata Putri memegang tangan Randy.


"Oke sayang semoga aku bisa mengendalikan emosiku nanti," jawab Randy tersenyum.


"Harus!" jawab Putri tegas.


"Iya-iya sayang, kalau begitu kita pergi ya sayang," pamit Randy seraya mencium kening Putri dan di sambut Putri mencium punggung tangan Randy sambil tersenyum.


"Hati-hati sayang," imbuh Putri.


Randy dan Chiko pun segera keluar di ikuti Putri yang mengantarkan kepergian mereka hingga mobil yang di naiki Randy dan Chiko menghilang dari pandangan nya.


Saat Putri hendak kembali ke kamar nya ia berapapasan dengan bi Sumi yang hendak ke dapur,


"Eh non, maaf tadi bibi ketiduran," kata bi Sumi cepat.


"Iya gak apa-apa ko bi memang sudah waktunya tidur siang makanya tadi sengaja aku bersihkan kembali sisa makanku dan mas Randy," jawab Putri tersenyum.


"Ya ampun non kenapa tidak di simpan saja biar bibi yang bereskan nanti? Maafin bibi ya non," kata bi Sumi tidak enak.


"Tidak apa-apa ko bi lagian cuman sedikit cucian nya, aku ke atas dulu ya bi mau lanjut istirahat soalnya masih sedikit lelah," kata Putri.


"Oh iya non mau bibi buatkan jus?" tanya bi Sumi.

__ADS_1


"Tidak bi nanti saja kalau ada perlu apa-apa aku panggil bibi ya," kata Putri tersenyum.


"Baik non," kata bi Sumi cepat.


Putri pun segera naik ke kamar nya dan sesampainya di kamar ia kembali menjatuhkan badannya di kasur karena memang seluruh badannya terasa lelah dan sakit, dengan posisi telungkup Putri merasakan perut bagian bawahnya terasa nyeri dan kram hingga ia sedikit meringis dan memegang perutnya erat.


"Ya Allah kenapa tiba-tiba perutku sakit sekali," ucap Putri menekan perutnya.


Ia berusaha memejamkan matanya untuk kembali tertidur namun tidak bisa karena rasa sakit nya yang hilang timbul, ia segera bangun karena memang rasa sakit nya yang tak kunjung hilang dan mengambil minum serta obat pereda sakit di dalam laci nya lalu segera meminum nya lalu kembali ke tempat tidur dengan posisi setengah duduk.


"Tidak biasanya perutku sakit seperti ini, semoga obatnya berfungsi dengan baik dan sakit nya tidak timbul kembali," kata Putri mengusap-usap perutnya.


Sambil menunggu obatnya bereaksi Putri menyalakan televisi nya dan mencari siaran yang menarik dan setelah ia mengotak atik remote nya namun menurutnya tidak ada acara yang menarik akhirnya ia kembali mematikan televisi nya lalu kembali membaringkan badan nya dengan sedikit miring agar tidak terlalu terasa rasa sakitnya hingga beberapa saat ia dalam posisi itu akhirnya Putri pun kembali terlelap dengan posisi tangan masih berada di perutnya.


Di sisi lain Randy dan Chiko baru saja sampai di kantornya dan di sambut dengan berbagai macam ekspresi dari seluruh karyawan nya tentunya ada yang bahagia melihat kedatangan mereka lagi dan menyambut mereka dengan sumringah ada pula yang tampak kesal dengan kedatangan mereka, tentunya Randy dan Chiko sangat menyadari sikap seluruh karyawan di kantornya itu namun mereka tetap terlihat acuh namun mata mereka sangat tajam melihat berbagai tatapan karyawan nya itu.


Saat di dalm lift Chiko menggerutu kepada Randy yang berada di sampingnya.


"Hah apa-apaan mereka itu tadi? Lo liat kan tadi ada sebagian karyawan nmyang menatap kita dengan tatapan tidak senang?" tanya Chiko menggebu-gebu.


"Gue tau maka dari itu begitu sampai nanti kita langsung lancarkan rencana kita!" perintah Randy dan langsung di angguki Chiko.


Ting ! Pintu lift terbuka..


Randy dan Chiko segera keluar dan beberapa karyawan disana tampak sangat kaget dengan kedatangan mereka yang secara tiba-tiba.


Situasi kantor yang awalnya tenang menjadi riuh apalagi Randy meminta meeting dadakan dengan seluruh manager dari berbagai divisi dalan waktu sepuluh menit membuat mereka kelabakan mempersiapkan semuanya, beda cerita dengan Randy dan Chiko yang sudah siap di kursi mereka dan Randy sudah mulai mengeluarkan taring nya sehingga siapapun yang berbuat salah saat meeting tentunya akan mendapatkan semprotan tajam dari Randy.


Sepuluh menit berlalu dan satu per satu manager dari berbagai divisi sudah mulai memasuki ruang meeting tentunya dengan wajah-wajah cemas mereka meski di tutupi dengan senyuman namun Randy tetap dapat membaca kondisi mereka saat ini.


"Oke karena semua sudah kumpul dan tidak perlu berlama-lama lagi saya minta laporan dari seluruh divisi dari saat saya tidak ada di kantor!" kata Randy tegas.


Chiko pun mengambil seluruh berkas dan memberikan nya kepada Randy.


Sambil memeriksa berkas, "Apa ada problem selama saya tidak ada?" tanya Randy yang tidak ada jawaban apapun dari mereka.


"Apa kalian tidak mendengar pertanyaan saya!" teriak Randy menatap tajam mereka satu per satu.


"T..ti..dak ada pak!" jawab salah satu manager produksi.


"Yang lain?" tanya Randy kembali tegas.


Namun tidak da lagi yang menjawab pertanyaan Randy dan hanya tertunduk bisu hingga membuat Randy kehilangan kesabaran dan menggebrak meja dengan sangat keras membuat semua yang berada disana sangat kaget dan ketakutan.

__ADS_1


"Apa kalian semua bisu!" teriak Randy membuat ruangan meeting bergema bahkan teriakannya terdengar hingga keluar ruang meeting membuat semua yang ada di lantai 14 saling pandang dan ketakutan.


"Saya tanya berulang kali hanya satu yang menjawab? Apa kalian tidak punya mulut?!" bentak Randy lagi.


"Ma..maaf pak." ucap pak Ahmad.


"Baiklah kalian semua saya pecat!" kata Randy dengan suara tinggi.


"To..tolong jangan pecat saya pak, saya sangat menbutuhkan pekerjaan ini demi menghidupi keluarga saya," sahut pak Aldo sang manager produksi.


"I..iya pak tolong jangan pecat saya, saya tidak tahu kesalahan kami apasehingga bapak memecat kami semua," sambung pak Heri.


Randy hanya menatap mereka semua dengan tatapan dingin dengan rahang yang mengeras ia memperhatikan satu persatu wajah para manager perusahaannya itu dan fokus dengan tatapan pak Aldo yang menatap pak Heri dan pak Ahmad dengan ekspresi kemarahan lalu menatap Randy yang juga sedang menatapnya tajam.


"Ada yang ingin Anda katakan pak Aldo?" tanya Randy tegas.


Semua di ruangan itu menatap pak Aldo terutama pak Ahmad dan pak Heri yang sudah mulai cemas.


"I...itu pak sebetulnya," ucapan pak Aldo terhenti saat ia menatap pak Ahmad sedang menatapnya tajam juga.


"Jika tidak ada yang ingin kamu katakan silahkan ambil surat pemecatan ini," ucap Randy melemparkan beberapa amplop coklat di atas meja.


Sungguh hal itu semakin membuat pak Aldo dan yang lainnya putus asa sehingga pak Aldo memberanikan diri mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk berbicara jujur kepada Randy.


Pak Aldo menarik nafas panjang, "sebetulnya selama pak Randy dan pak Chiko di rumah sakit situasi di kantor sangat kacau pak apalagi pak Ahmad dan pak Heri yang bertindak seolah-olah menggantikan posisi bapak dan pak Randy bahkan mereka memperlakukan kami semena-mena dan sangat arogan bahkan banyak dari kami yang mereka pecat tanpa alasan yang jelas, mereka juga memotong sepuluh persen dari gaji kami dengan alasan untuk membantu biaya rumah sakit pak Randy karena perusahaanpun akan bangkrut untuk membiayai biaya rumah sakit pak Randy dan pak Chiko," kata pak Aldo tanpa melihat pak Ahmad dan pak Heri yang sudah mengeratkan giginya karena berani membongkar kelakuannya di depan Randy.


"Anda jangan asal bicara pak Aldo! Kapan saya melakukan hal-hal yang Anda sebutkan tadi? Selama ini saya bekerja dengan sangat baik disini!" jawab pak Aldo tak terima.


"Iya! Anda jangan sembarangan bicara fitnah saya yang tidak-tidak!" sambung pak Heri.


"Jika bapak tidak percaya, bapak bisa mengonfirmasi kepada karyawan lain," jawab pak Aldo mantap.


Pengakuan pak Aldo tentu saja membuat Randy semakin murka kepada pak Ahmad dan pak Heri sehingga membuat keduanya sangat ketakutan.


"Baiklah karena Anda sudah berkata jujur Anda boleh keluar sekarang dan lanjutkan pekerjaan Anda!" kata Randy dengan suara tegasnya.


"Baik pak terimakasih banyak," jawab pak Aldo bersemangat dan segera meninggalkan ruangan yang panas tersebut.


Kepergianpak Aldo sungguh sangat membuat manager yang lain iri mereka tidak ingin berbasib naas karena harus di pecat oleh Randy karena dosa yang tidak pernah mereka lakukan, jika memang dengan kejujuran membongkar semua kebusukan pak Ahmad dan pak Heri membuat mereka selamat merekapun memberanikan diri untuk membuka kebusukan pak Ahmad dan pak Heri, satu persatu dari mereka memberikan pengakuan yang mereka ketahui bahkan salah satu dari mereka memberitahukan bahwa pak Ahmad dan pak Heri menggunakan uang perusahan untuk kepentingan pribadi mereka yang tentunya membuat Randy semakin murka dengan tangan yang sudah di kepal di atas meja dan rahang sudah semakin mengeras tentu saja akan segera meledak ketika salah satu dari mereka berkata satu patah katapun.


Suasana di dalam ruangan itu semakin panas bercampur dingin dari suhu AC merek sangat ketakutan dengan ekspresi Randy yang sudah sangat murka dan matanya sudah sangat merah, untuk pertama kalinya mereka melihat ekspresi Randy yang sangat menakutkan.


"Ekhem begini pak..." ucap pak Ahmad memecah keheningan dan segera terhenti saat Randy sudah menatapnya tajam.

__ADS_1


"Kalian semua boleh keluar dan lanjutkan pekerjaan kalian kecuali pak Ahmad dan pak Heri!" kata Randy tegas.


Mereka pun akhirnya keluar dengan tergesa dengan perasaan senang namun juga khawatir dengan nasib mereka berdua apalagi Randy yang sudah sangat murka.


__ADS_2