
Putri berjalan pelan ke arah suaminya dengan mata yang berkaca-kaca namun senyuman indah mengembang di bibir mungilnya pandangannya tak lepas dari sosok tampan yang terbaring lemah dan tersenyum ke arahnya, senyuman yang begitu ia rindukan selama beberapa hari ini.
"Sayang...." kata Putri mencium punggung tangan suaminya dengan gemetar.
"Alhamdulillah Allah mendengarkan doaku dan aku masih bisa melihatmu tersenyum seperti ini padaku," sambung Putri mulai meneteskan ait matanya.
Randy memegang pipi Putri dan mengusap air matanya.
"Terimakasih sudah menjadi penyemangatku untuk bertahan hidup dan kembali lagi kehadapanmu sayang," kata Randy pelan.
"Berjanjilah untuk tidak lagi meninggalkanku sayang," jawab Putri memegang erat tangan Randy.
"Tentu sayang aku akan selalu berada di sampingmu hingga tua nanti hingga kita memiliki banyak cucu dan cicit," kata Randy di sertai senyumnya.
"Aku mencintaimu sayang," kata Putri menatap mata suaminya.
"Aku juga mencintaimu istri cantikku, sudah jangan menangis lagi sayang kau terlihat sangat jelek jika seperti itu," canda Randy.
Putri hanya terkekeh sambil menghapus air matanya "Habisnya kamu kenapa lama sekali tidurnya? Aku sangat mengkhawatirkanmu, baru saja kita kehilangan calon buah hati kita dan sekarang aku harus menerima kenyataan bahwa suamiku juga kecelakaan dan dalam kondisi kritis bagaimana aku tidak menangis?" kata Putri mengelus pipi suaminya.
"Maaf sayang semuanya di luar kehendakku, seandainya aku tau bahwa hari itu adalah hari yang membahayakan untukku dan Chiko mungkin aku tidak akan menaiki mobil sewaan tersebut," jawab Randy menerawang.
"Apa yang terjadi saat itu sayang?" tanya Putri penasaran.
"Aku tidak tau pasti sayang yang jelas saat aku dan Chiko masuk ke dalam mobil semuanya masih biasa-biasa saja sampai akhirnya ada dua motor yang menghalangi laju mobil yang ku tumpangi dan sopirnya pun sudah berusaha untuk menghindari dua motor itu dengan membanting setir ke arah kanan namun tiba-tiba ada sebuah minibus dengan kecepatan tinggi hampir menabrak kami dan sopir menghindari itu dengan membanting setir sekaligus dan dari situ aku tidak ingat apa-apa lagi," kata Randy menerawang.
"Apa kau disini memiliki musuh sayang?" tanya Putri.
"Entahlah sayang aku tidak pernah menganggap musuh kepada semua kolegaku namun aku tidak tau jika di antara mereka memiliki dendam terhadapku karena persaingan bisnis," jawab Randy.
__ADS_1
"Apakah pak Sam sudah menyelidiki kasus ini?" tanya Randy.
"Aku belum tau pasti sayang," kata Putri lalu melihat ke belakang mencari keberadaan pak Sam.
Thania yang melihat Putri mencari seseorang pun memberikan kode lewat tatapan matanya dan Putri segera menyebut nama pak Sam yang langsung di angguki Thania, ia segera mencari keberadaan pak Sam yang sedang berbicara dengan salah satu anak buahnya.
"Permisi pak, Anda di cari Putri," kata Thania.
"Baik terimakasih," jawab pak Sam berlalu pergi.
Thania pun berlalu menuju kamar Chiko karena ia juga sangat khawatir dengan keadaan Chiko dan belum sempat ia menengoknya karena ingin menemani Putri terlebih dahulu. Begitu Thania masuk ke dalam ia melihat Chiko sedang memainkan ponselnya dengan leher memakai penyangga dan kepala di perban, ia begitu kaget dengan kondisi Chiko yang juga sangat parah. Thania memberanikan diri untuk menyapa Chiko karena ia masih belum menyadari kehadiran Thania disana.
"Ehem bagaimana keadaanmu sekarang?" tanya Thania.
Chiko seketika kaget dengan keberadaan Thania yang tiba-tiba karena ia mengira yang tadi masuk adalah perawat yang hendak memeriksanya.
"Ah tidak apa-apa ko, sejak kapan kamu disini?" tanya Chiko.
"Baru saja, maaf aku mengganggu istirahatmu ya? Kalau begitu aku akan keluar," kata Thania dan membalikan badannya.
"Tunggu! Kamu tidak mengangguku ko aku sangat senang kamu menjengukku kesini," jawab Chiko cepat yang membuat Thania tersenyum dan menunduk malu.
Thania pun kembali menyembunyikan ketersipuannya dan menoleh ke arag Chiko yang sedang menatapnya sendu.
"Kemarilah," kata Chiko tersenyum.
Thania pun menghampiri Chiko dengan perasaan yang tak menentu semakin ia mendekati Chiko jantungnya semakin berdebar apalagi Chiko yang terus menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa di artikan. Thania semakin grogi saat ia duduk tepat di samping Chiko dan berusaha memberanikan diri untui tersenyum ke arah Chiko untuk menyembunyikan rasa grogi nya.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Thania memecah keheningan.
__ADS_1
"Beginilah.. Masih terasa sakit jika efek obat yang ku minum sudah mulai hilang, tapi semenjak kamu kesini rasa sakitku hilang semua," kata Chiko tersenyum.
Mendengar perkataan Chiko berhasil membuat pipi Thania pun merona merah yang tentunya membuat Chiko semakin gemas dengan Thania.
Ya, saat pertemuannya dengan Thania di rumah sakit Chiko sudah menaruh perasaan terhadap Thania karena menurutnya Thania adalah sosok yang tidak banyak neko dan wanita yang anggun karena pakaiannya yang selalu terlihat sopan meski ia tidak berhijab, Chiko tidak pernah melihat Thania memakai pakaian ketat yang menampilkan lekuk tubuhnya terlebih kedekatan Thania dengan kedua sahabatnya membuat Chiko semakin ingin mengenal Thania lebih jauh dan kehadirannnya berhasil membuat hidup Chiko kembali berwarna bahkan sebelum kecelakaan terjadi Chiko sempat mengirimkan pesan singkat kepada Thania namun belum sempat ia melihat jawaban dari Thania.
"Oh ya apakah kamu sudah membaca pesanku beberapa hari lalu?" tanya Chiko.
"Pesan? Pesan apa?" jawab Thania heran karena ia tidak pernah menerima pesan apapun dari Chiko.
"Beberapa hari lalu aku mengirimkan pesan singkat namun sebelum kamu membacanya mobil yang ku tumpangi kecelakaan," jelas Chiko.
Thania pun terdiam sejenak memikirkan apa yang Chiko bicarakan dan membuatnya terperanjat kaget karena saat itu ia sedang bersama pacarnya dan mungkin saja yang menerima pesan dari Chiko adalah pacarnya.
"Kamu mengirimkan pesan apa?" tanya Thania.
"Apa pesan itu tidak sampai ke ponselmu?" tanya Chiko heran.
"Ah mungkin saat kamu mengirim pesan ponselku sedang aku restart ulang sehingga pesanmu kembali terhapus," jawab Thania sekenanya membuat Chiko mengernyitkan dahinya.
"Apa isi pesanmu?" sambung Thania.
"Aku.... aku.... aku..." jawab Chiko gugup.
"Aku apa?" tanya Thania lagi.
"Aku ingin mengenalmu lebih jauh Than, aku baru menyadari kalau aku memiliki perasaan lebih terhadapmu, bolehkah aku mengenalmu lebih jauh?" tanya Chiko.
Jawaban Chiko seketika membuat Thania terperanjat kaget pantas saja saat itu Renaldy melemparkan ponselnya dan menuduhnya selingkuh ternyata Renaldy telah menerima pesan dari Chiko yang tentunya sejak saat kejadian itu membuat hubungannya dengan Renaldy berakhir, terlebih Renaldy sempat berbuat kasar padanya hingga Thania jatuh dan lengan kanan nya mengenai sudut meja hingga menyebabkan memar sampai saat ini. Thania yang sudah merasa jengah dengan sikap Renaldy pun akhirnya memilih untuk mengakhiri hubungannya dari pada ia semakin mendapatkan perlakuan kasar dari Renaldy.
__ADS_1