CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 58


__ADS_3

Beberapa jam kemudian pesawat yang mereka tumpangipun akhirnya sampai Putri yang masih terjaga karena terus mengingat suaminya membangunkan sahabatnya yang masih tertidur lelap ia memukul pelan tangan Thania agar sahabatnya itu bangun, setelah beberapa kali membangunkan Thania akhirnya ia terbangun.


"Kenapa Put?" tanya Thania dengan suara serak.


"Kita sudah sampai Tha, ayo kita turun," jawab Putri.


"Hmmm baiklah," kata Thania mengucek kedua matanya.


Mereka pun turun dari pesawat masih memakai masker, kacamata hitam dan topi milik bodyguardnya, Putri dan Thania berjalan mengikuti kedua anak buah pak Sam yang berjalan lebih dulu di depan mereka dan dua orang lagi di belakang mereka untuk berjaga. Dengan langkah cepat mereka melangkah menuju mobil yang sudah disiapkan pak Sam untuk menjemput mereka, butuh waktu sekitar datu jam lagi menuju rumah sakit tempat Randy di rawat. Dengan perasaan bahagia Putri memerhatikan jalan menuju rumah sakit akhirnya ia bisa segera berjumpa dengan suami yang sangat ia cintai itu, ia berharap kedatangannya mampu menjadi kekutan untuk Randy agar dapat melewati masa kritisnya.


Thania yang duduk di sebelah Putri terus memperhatikan gerak gerik sahabatnya terutama wajah lelah Putri namun bibirnya masih tetap menebar senyum selam di perjalanan.


"Put apa kamu semalam tidak tidur?" tanya Thania yang melihat kantung mata Putri.


"Tidak Than aku tidak bisa tidur," jawab Putri menatap mata Thania.


"Kenapa? Apa kamu sakit?" tanya Thania.


"Tidak ko, aku hanya merindukan suamiku saja," jawab Putri.


"Tapi kamu butuh istirahat Put, jika Randy lihat kondisimu seperti ini ia pasti akan sangat sedih," kata Thania.


"Iya nanti aku akan istriahat disana setelah melihat keadaan Randy," jawab Putri santai.


"Baiklah jika itu maumu, perjalanan masih jauh lebih baik kamu tidur saja nanti kalau sudah samoai aku akan membangunkanmu" kata Thania.


"Baiklah kalau begitu," jawab Putri lalu membenarkan posisi duduknya untuk lebih nyaman.


Tidak berselang lama Putri pun terlelap Thania hanya tersenyum tipis melihat sahabatnya yang sudah terlelap karena ia tau betapa lelahnya Putri namun mencoba untuk tetap terjaga karena ia masih khawatir dengan keadaan Randy. Saat Thania memainkan ponselnya dering telepon salah satu anak buah pak Sam pun berbunyi.


"Halo bos," katanya.

__ADS_1


"Kalian masih dimana?" tanya pak Sam.


"Kami baru saja menaiki mobil bos, mungkin sekitar empat puluh lima menit lagi kami akan sampai," jawabnya.


"Cepatlah keadaan tuan Randy semakin kritis, cepat bawa non Putri kemari," jawab pak Sam dengan nada panik.


Anak buah pak Sam sekilas melihat ke arah Putri yang terlelap ia pun segera mematikan ponselnya dan meminta supir untuk memepercepat laju kendaraannya, menyadari ada yang tidak beres Thania pun bertanya pada anak buah pak Sam apa yang sedang terjadi.


"Pak ada apa? Apa mereka baik-baik saja?" tanya Thania.


"Emm itu mbak em.. kondisi pak Randy semakin kritis," jawabnya gugup.


"Apa!" jawab Thania dengan nada sangat tinggi sehingga membuat Putri terbangun.


"Ada apa Than? Kenapa kamu berteriak seperti itu?" tanya Putri membuat Thania dan anak buah pak Sam gugup.


"Ah tidak apa-apa ko Put, kamu tidur lagi saja ya," jawab Thania.


Mereka tidak tau harus menjawab apa karena khawatir Putri akan semakin khawatir dan kembali membuatnya drop, karena tidak ada jawaban dari keduanya ia pun berinisiatif menelpon pak Sam.


"Halo pak apa Randy baik-baik saja?" tanya Putri to the point.


"Maaf non tuan Randy... tuan Randy..." jawab pak Sam gugup.


"Apa yang terjadi pak?" jawab Putri dengan nada sedikit tinggi.


"Tuan Randy semakin kritis non dokter sedang berusaha agar tuan Randy masih tetap bertahan," jawab pak Sam pelan.


Mendengar kalimat pak Sam Putri tak kuasa melontarkan perkataan apa-apa lagi seketika tubuhnya kembali melemah ponsel yang ia pegang pun terjatuh pipinya kembali basah dengan air matanya, hati Putri kembali tak menentu namun ia tetap memanjatkan doa kepada sang pencipta agar Randy bisa terselamatkan. Thania segera menangkup tubuh Putri memeluknya erat.


"Sabat ya Put aku yakin Randy kuat, ia pasti selamat," kata Thania menenangkan Putri.

__ADS_1


"Pak apa kita masih lama?" kata Putri pelan.


"Sebentar lagi kita sampai non rumah sakitnya di depan," jawab sang supir.


Lima menit berlalu akhirnya mereka sampai di parkiran rumah sakit Putri dan Thania bergegas turun di bantu anak buah pak Sam yang melihat Putri berjalan gontay ia pun mengambilkan kursi roda untuk Putri. Setelah mendudukan Putri di kursi roda ia segera mendorong kursi rodanya menuju ruang ICU di ikuti Thania dan anak buah pak Sam yang lain, dari kejauhan terlihat pak Sam berjalan kesana kemari menunggu tindakan dokter yang masih berusaha menyelamatkan Randy saat menyadari Putri tengah berjalan mendekat padanya pak Sam pun mengambil alih mendorong kursi roda Putri membawanya ke depan ruangan Randy. Dari balik kaca terlihat para dokter sedang berusaha membuat detak jantung Randy kembli stabil, melihat kondisi Randy dengan berbagai alat di sekujur tubuhnya membuat hati Putri kembali hancur air matanya mengalir semakin deras ia pun memegang kaca membayangkan tengah memegang suaminya.


"Sayang aku datang, aku mohon bertahanlah kamu berjanji untuk pulang dengan selamat, aku masih sangat membutuhkanmu tolong jangan pergi menyusul anak kita sayang aku sangay mencintaimu.. aku mohon bertahanlah, " batin Putri.


Saat Putri menatap suaminya ia melihat salah satu dokter berjalan keluar dan membuk pintu ruang ICU, ia pun segera berdiri.


"Dokter bagaimana keadaan suami saya?" tanya Putri.


Dokter mengehela nafas panjang dan menggelengkan kepalanya pelan "Kemungkinan untuk hidup masih sangat kecil bu pendarahan di otaknya sangat parah, hanya mukjizat saja yang dapat menyelamatkan pak Randy saat ini," jelas dokter.


"Dok bolehkah saya masuk ke dalam?" tanya Putri.


Setelah terdiam beberapa detik akhirnya dokter mengijinkan Putri masuk dan memintanya untuk memaki pakaian steril terlebih dahulu. Setelah siap Putri pun berjaln pelan mendekati suaminya yang sudah tidak berdaya dengan bebagai alat di tubuhnya, ia berdiri di samping suaminya mengecup pelan pipi suaminya itu dengan bergetar lalu memegang telapak tangan suaminya.


"Sayang... aku datang kamu jangan terlalu lama tertidur aku disini sangat merindukanmu sayang, aku menunggumu kabarmu berhari-hari tapi kamu tak kunjung menjemputku sampai akhirnya pak Sam memberi kabar bahwa kamu mengalami kecelakan, maafkan aku sayang aku terlambat mengetahui kabar ini aku tau kamu sangat menyayangi anak kita tapi aku juga sangat membutuhkanmu disini untuk menguatkanku kembali, aku sangat mencintaimu sayang.. kembalilah dan tepati janjimu untuk berubah dan terus menemaniku hingga akhir hayat kita nanti," kata Putri di sertai tangisannya.


"Aku tau kamu pria yang kuat sayang, aku yakin kamu bisa melawan semuanya untuk kembali pulang," sambung Putri.


Tanpa di sangka sudut mata Randy mengeluarkan air mata dan tentunya membuat Putri terperanjat dan tersenyum memegang kepala Randy.


"Sayang kamu mendengar ucapanku? Kamu menyadari kehadiranku? Bangunlah sayang kita pulang sama-sama ke Bandung dan memulai semuanya dari awal lagi," kata Putri.


Tiba-tiba Randy menggerakkan jari-jarinya yang tentunya Putri dapat merasakan gerakan jari Randy di genggaman tangannya, ia pun menggenggam erat tangan Randy dan tersenyum senang.


"Sayang.... Alhamdulillah aku senang kamu merespon ucapanku,"


Ia pun menoleh ke belakang mengisyaratkan pak Sam untuk memanggil dokter yang langsung di angguki pak Sam, ia tidak ingin meninggalkan Randy dan ingin terus menggenggam tangan suaminya hingga ia sadar.

__ADS_1


__ADS_2