
Hari sudah hampir menjelang malam Putri dan Randy masih saja tertidur hingga bi Sumi dan pak Ujang datang untuk merengok Putri dengan langkah pelan bi Sumi menghampiri Putri yang masih terlelap dan pak Ujang duduk di seberang tempat Randy tidur. Sambil menunggu Putri dan Randy bangun bi Sumi berinisitif untuk menghangatkan makanan yang ia bawa lalu menghidangkannya di meja makan, Putri yang mendengar samar aktivitas di dapur pun ia akhirny bangun dan melihat ke sekitar yang ternyata di sana ada pak Ujang sedang membereskan pakaian Randy.
"Pak Ujang sejak kapan disini?" tanya Putri tiba-tiba.
"Non sudah bangun? Sekitar tiga puluh menit yang lalu non," kata pak Ujang tersenyum.
"Bapak sama siapa kesini?" tanya Putri lagi.
"Sama bi Sumi non sekarang bi Sumi nya sedang menyiapkan makanan di dapur," kata pak Ujang.
"Benarkah? Aku rindu sekali dengn bi Sumi," kata Putri antusias.
Mendengar teriakan Putri bi Sumi pun menghampiri Putri dan memeluknya erat, "Non sudah bangun?" kata bi Sumi mengusap pelan punggung Putri.
"Sudah bi, Putri rindu sama bibi Putri ingin makan masakan bibi boleh?" kata Putri.
"Tentu boleh non, bibi sudah menyiapkan makanan kesukaan non di dapur, sebentar bibi ambilkan kemari ya," kata bi Sumi lalu melepaskan pelukan nya dan berlalu ke dapur.
Randy pun terbangun karena terdengar ramai sekali dan melihat ke sekeliling ternyata Putri sedang duduk dan melihat ke arah dapur sedangkan pak Ujang sedang mengambil barang yang tertinggal di mobil.
"Sayang di dapur ada siapa?" kata Randy dengan suara serak.
"Oh itu bi Sumi sayang dia sedang membawakan makanan untukku karena aku sangat merindukan masakannya," kata Putri antusias.
Randy pun tersenyum dan menghampiri Putri, "Apa kau sedang mengidam sayang?" tanya Randy mengelus rambut Putri dan langsung mendapat anggukan dari Putri.
Tanpa sadar bi Sumi mendengar percakapan Randy dan langsung menghampiri mereka, "Non Putri hamil?" tanya bi Sumi dengan senyum mengembang.
__ADS_1
"Iya bi alhamdulillah," jawab Putri tersenyum.
"Alhamdulillah non selamat ya akhirnya penantian bibi dan semuanya terjawab sudah den Randy akhirnya jadi calon ayah sekarang," kata bi Sumi berkaca-kaca lalu mengusap punggung Randy dan Putri.
"Makasih ya bi karena bibi dan yang lainnya selalu mendoakan yang terbaik untuk Putri dan Randy," kata Putri memeluk bi Sumi.
"Sama-sama non bibi juga sangat bahagia mendengarnya, oh ya sudah berapa bulan non?" tanya bi sumi mengelus perut Putri.
"Baru satu bulan bi doain kehamilan Putri lancar sampai persalinan nanti ya bi," jawab Putri tersenyum.
"Pasti non bibi selalu berdoa setiap hari untuk non Putri dan den Randy, sehat-sehat selalu ya non," kata bi Sumi.
"Aamiin terimakasih ya bi," jawab Putri dan Randy.
"Yasudah ini tadi bibi sengaja masak di rumah untuk non Putri dan den Randy kalin pasti belum makan kan?" kata bi Sumi memberikan piring untuk Putri dan Randy.
"Tentu boleh non sini bibi suapi, den Randy makan dulu saja ya," kata bi Sumi lalu mengambil piring Putri dan mulai menyuapinya.
Randy pun makan di meja sofa di temani pak Ujang karena Randy memaksanya untuk menemaninya makan tanpa bisa menolak lagi akhirnya pak Ujang pun ikut makan meskipun perutnya sudah sangat begah karena tadi sebelum ke rumah sakit pak Ujang sudah makan terlebih dahulu dengan yang lainnya. Namun karena takut kena marah Randy akhirnya pak Ujang pun memaksakan diri untuk makan sedangkan bi Sumi dengan telaten menyuapi Putri hingga makanan nya habis dan Putri pun sangat menikmati makanan yang bi Sumi masak untuknya hingga ia makan dengan begitu lahap. Setelah selesai menyuapi Putri bi Sumi pun segera mengambilkan minun dan mebawa piring sisa makan ke dapur lalu mencucinya kembali.
Putri yang sudah menganggap bi Sumi orangtuanya pun meminta bi Sumi untuk memandikannya karena badannya sudah sangat lengket dan dengan senang hati bi Sumi membantu Putri menuju kamar mandi dan memandikannya. Di sisi lain Randy yang sudah selesai makan pun di bantu pak Ujang membereskan kembali sisa makan mereka dan pak Ujang memcuci piring sisa makannya lalu Randy berlalu kembali dan duduk di sofa dan membuka laptop nya untuk mengecek email yang di kirim Chiko. Awalnya semua berjalan dengan lancar hingga akhirnya saat Randy mengecek harga pasar perusahaan nya tiba-tiba merosot sangat jauh yang membuat dirinya terperanjat kaget dan segera menghubungi Chiko. Namun beberapa kali Randy menghubungi Chiko tidak juga mendapat respon darinya sehingga membuat Randy semakin kesal dan tidak bisa berdiam diri di rumah sakit, Randy pun segera bersiap-siap untuk pergi ke kantor bertepatan dengan Putri yang baru saja keluar dari kamar mandi di bimbing bi Sumi.
"Sayang mau kemana?" tanya Putri yang meliht suminya sudah memakai jas.
"Sayang aku harus ke kantor dulu ya karena ada masalah di kantor Chiko juga tidak bisa di hubungi, bi tolong temani dulu Putri disini ya saya akan meminta pak Ujang untuk menemani saya ke kantor," jelas Randy cepat.
"Masalah apa sayang?" tanya Putri.
__ADS_1
"Nanti aku jelaskan padamu karena sekarang aku harus segera ke kantor," jawab Randy terburu-buru dan Putri pun hanya mengangguk dan mencium punggung tangan suaminya.
"Hati-hati sayang kabari aku kalau terjadi apa-apa," kata Putri menatap punggung suaminya.
"Sudah non sebaiknya non kembli beristirahat ya jangan memikirkan yang tidak-tidak pikirkan kesehatan non dan janin yang ada di perut non, semuanya pasti baik-baik saja ko," kata bi Sumi menenangkan Putri.
"Baiklah bi tapi aku ingin menonton televisi bi," kata Putri.
Bi Sumi pun segera menyalakan televisi dan ia pun mencari siaran yang bisa ia tonton namun terhenti saat perusahaan Randy menjadi trending topik disana dimana disebutkan bahwa seseorang telah menggunakan nama perusahaan Randy sebagai tameng agar ia dapat kepercayaan dari client dan telah melakukan penipuan terhadap beberapa client Randy dengan menjanjikan harga saham mereka akan melambung empat kali lipat di bandingkan biasanya dan lebih kagetnya ternyata yang melakukan itu semua adalah Sefti teman Randy yang masih buron, mendengar hal tersebut Putri pun segera menelpon Randy berulan-ulang kali namun tidak mendapatkan respon dari Randy, lalu tidak lama ponsel Putri pun kembali berdering dan itu dari Thania.
"Halo Put apa kamu sudah melihat berita saat ini?" kata Thania cepat.
"Ya aku baru saja menontonnya," jawab Putri sambil matanya masih tertuju layar televisi.
"Apa itu semua benar Put?" tanya Thania.
"Aku tidak tau Than karena baru saja Randy berangkat ke kantor katanya ada masalah disana namun ia tidak cerita masalah apa itu," jelas Putri.
"Astaga semoga semuanya tidak berdampak buruk ke perusahaan suamimu ya Put dan tetap baik-baik saja," kata Thania dan tidak mendapatkan respon dari Putri.
"Put apa kamu masih disana?" kata Thania lagi.
"Eh iya Than maaf aku masih fokus dengan berita di televisi, oh ya aku belum mengabarimu aku sekarang sedang berada di rumah sakit," tanya Putri yang sontak membuat Thania terperanjat kaget.
"Apa! Kamu kenapa Put? Rumah sakit mana?" jawab Thania.
"Di rumah sakit dekat rumahku dulu Than aku.."
__ADS_1
Perkataan Putri terhenti karena Thania memotong nya dan akan segera menemui Putri ke rumah sakit tanpa mendengar jawaban Putri dan langsung mematikannya membuat Putri menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu yang selalu menjadi yng terdepan jika mendengar Putri sakit atau membutuhkan pertolongan. Namun Putri bersyukur memiliki sahabat yang begitu loyal padanya sehingga ia tidak pernah merasa sendiri di saat dirinya terjatuh.