
Sore menjelang Randy, Putri dan Thania sedang menyiapkan untuk acara tahlilan Lira tetangga sekitar pun ada yang ikut membantu mempersiapkan menata makanan serta tenda untuk para tamu yang ikut mendoakan Lira. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan yang tidak dapat di artikan.
Ibu Lira yang baru saja datang dari pasar melihat seseorang itu yang swdang memperhatikan rumahnya.
"Nak Dika kenapa disitu? Ayo masuk," kata ibu Lira yang sontak membuat Dika terkejut.
"Ah iya bu, emm bu maaf apa Putri dan suaminya akn menginap disini?" kata Dika saat berjalan dengan ibu Lira.
"Ibu kurang tau nak karena ibu belum sempat bertanya kepada mereka, memangnya ada apa nak?" kata ibu Lira mengernyitkan dahinya.
"Hehe tidak apa-apa bu hanya ingin tau saja, oh ya apa yang bisa Dika bantu bu?" jawab Dika menghindari pertanyaan lain dari ibu Lira.
"Sepertinya nak Randy sedang membutuhkan bantuan," kata ibu Lira menunjuk ke arah Randy yang sedang mengangkat sebuah kursi besar.
Seketika Dika melotot karena ia sedang tidak ingin berurusan dengan Randy namun karena ia sudah terlanjur menawarkan bantuan kepada ibu Lira akhirnya dengan terpaksa Dika tersenyum mengangguk ke arah ibu Lira dan menghampiri Randy tanpa mengeluarkan kata-kata apapun dan membantu Randy memindahkan beberapa kursi keluar.
Putri dan Thania yang melihat Randy dan Dika sedang bersama itu pun hanya memperhatikan nya dari jauh dengan perasaan Putri harap-harap cemas takut jika Randy tersulut emosi lagi dan mengacaukan semuanya, namun semuanya di luar dugaan Randy tampak tetap tenang saat Dika membantunya membuat Putri heran sekaligus senang karena Randy dapat mengontrol emosinya.
Setelah selesai memindahkan kursi keluar Randy segera berlalu tanpa mengucapkan kalimat apapun pada Dika dan menghampiri Putri yang sedang membantu ibu Lira menyiapakan kue yang hendak di hidangkan kepada para tamu, Randy tersenyum ke arah Putri dan membantu mereka menata makanan. Putri merasa kagum dengan suaminya yang sudah banyak berubah bahkan ia tidak segan untuk melakukan hal-hal yang tidak pernah ia lakukan sebelumnya karena Randy selalu mengandalkan tenaga bawahannya saja.
__ADS_1
Putri pun tersenyum simpul pada suaminy yang membuat Randy mengernyitkan dahinya.
"Nak Randy dimana nak Dika?" tanya ibu lira tiba-tiba.
"Saya tidak tau bu karena tadi saya langsung kemari membantu ibu dan Putri," jawab Randy malas.
Ibu Lira meliarkan pandangan nya dan ternyata Dika sedang duduk di luar memperhatikan mereka dengan segera ibu Lira memanggilnya dan meminta Dika untuk duduk bersama dengan mereka sambil membantunya, Randy yang mendengar itu pun menatap Dika malas dan hendak pergi namun tertahan oleh Putri yang juga menatapnya sambil menggelengkan kepalanya dengan berat hati Randy kembali duduk dengan wajah masamnya.
Selama menata makanan tidak ada satu katapun yang keluar dari mulut Randy meski ibu Lira, Dika, Putri dan Thania berbincang hangat, karena Randy sudah merasa muak berada dekat dengan Dika akhirnya ia meninggalakan mereka dan berdalih hendak menelpon asistennya. Putri yang melihat suaminya pergi pun hanya menatap punggung Randy hingga menghilang di balik pintu, Thania yang mengerti dengan tatapan Putri pada suaminya itu pun menyuruh Putri untuk menyusulnya. Ibu Lira pun mengerti dan menitipkan makanan untuk Randy dan Putri agar dapat beristirahat terlebih dahulu karena sejak mereka datang ibu Lira belum melihat mereka memakan apapun apalagi Putri sedang mengandung, Putri pun tersenyum dan berlalu meninggalkan mereka yang menatapnya dengan senyuman terkecuali Dika yang memasang wajah tak suka nya setiap kali Putri dekat dengan Randy.
Saat Putri meliarkan pandangannya ternyata Randy memang sedang menelpon seseorang ia pun segera menghampiri suaminya dan memegang tangan suaminya sambil tersenyum.
"Telepon siapa?" tanya Putri.
"Chiko sayang, aku mengabarinya bahwa aku tidak ke kantor hingga besok dan memintanya untuk menghandle pekerjaanku selama aku tidak ada," jelas Randy.
"Oh gitu, emm ini imtadi ibu memberikan ini untuk kita dan meminta kita untuk istirahat dulu, lagi pula kamu belum makan kan dari tadi," tanya Putri.
"Kamu juga belum makan sayang, ayo kita makan sama-sama ya," kata Randy sambil membawa Putri berjalan mencari tempat duduk.
__ADS_1
Setelah dapat tempat duduk mereka pun makan bersama dengan saling suap di selingi canda tawa mereka, meski makanan yang mereka makan terbilang sangat sederhana hanya dengan sayur dan tahu tempe namun mereka tetap merasakan kenikmatan karena makan bersama orang terkasih.
Di sisi lain Dika tampak sudah menahan amarahnya yang sudah menggebu melihat Randy dan Putri yang selalu terlihat mesra ia pun segera pergi dengan tangan yang masih terkepal.
Matahari sudah mulai tenggelam saatnya jiwa kembali pulang dari penatnya hari serta masalah kini saatnya jiwa beristirahat untuk hari esok agar jauh lebih bugar kembali, tidak sama halnya dengan yang di lakukan Putri dan Randy yang masih disibukkan untuk acara tahlilan Lira yang sebentar lagi hendak di mulai, tamu pun mulai berdatangan untuk mendoakan Lira sedangkan ibu Lira kembali termenung memeluk foto mendiang anak satu-satunya itu dan tak terasa air matanya pun kembali mengalir rindu akan sosok anaknya yang selalu saja masih menampakkan senyumnya sekalipun ia sedang merasakan sakit yang begitu hebat, Thania menghampiri Putri dan menunjuk ke arah ibu Lira yang kembali menangis lalu Putri mengjampiri ibu Lira dan memeluknya erat.
"Bu.. ibu kangen sama almarhum ya," kata Putri mengusap air mata ibu Lira.
Ibu Lira hanya menganggukan kepalanya dan Putri segera memeluk ibu Lira serta mengusap punggungnya, setelah semua tamu hadir acara tahlilnya pun sudah mulai diaman sesepuh disana yang menjadi pemimpin tahlil saat itu. Satu jam kemudian acara tahlil telah selesai dan ibu Lira bersyukur banyak sekali yang menyayangi Lira hingga rumah kecilnya tidak dapat menampung para tamu untuk mendoakannya bahkan banyak sekali yang mengatakan jika Lira adalah gadis yang suka memabantu dan terkenal begitu baik bahkan ibu Lira pun tidak pernah mengetahui kebaikan-kebaikan anaknya kepada orang lain, tangis harupun kembali menyelimuti hati ibu Lira karena didikan yang ayahnya dulu selalu terapkan pada Lira dapat menjadikannya wanita shalehah.
"Nak Putri, nak Thania, nak Randy.. Apa malam ini kalian menginap di rumah ibu?" tanya ibu Lira tiba-tiba.
"Tentu bu kami akan menginap disini menemani ibu ya," jawab Putri tersenyum.
"Nak Randy apa tidak keberatan tidur di rumah kecil seperti ini?" tanya ibu Lira.
"Tentu tidak bu, saya justru senang karena suasana di rumah ini sangat hangat apalagi kehadiran ibu mengingatkan saya pada almarhum ibu saya yang telah beberapa tahun lalu meninggal karena kecelakaan," jawab Randy tersenyum lalu menundukan kepalanya.
"Jika nak Randy mau, nak Randy dapat menganggap ibu sebagai ibu nak Randy seperti halnya nak Putri," kata ibu Lira menatap Randy nanar.
__ADS_1
"Terimakasih bu," jawab Randy.