CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Rejeki Tak Kemana


__ADS_3

Saat sedang menunggu ponsel Randy berdering tertera "My Wife"


"Halo sayang ini aku lagi nunggu makanannya dulu sebentar ya," jawab Randy cepat.


"Lama banget sayang aku udah laper banget, kamu beli dimana?"


"Ini di seberang rumah sakit sayang, sebentar lagi aku kesana ya," kata Randy menutup teleponnya.


"Bang bisa bawa yang udah jadi dulu? Nanti sisa nya di bawa sama teman saya," kata Randy pada penjual.


"Ko nanti lo bawain ya sekalian bayarin juga, sebagian bawa aja buat lo terserah mau ambil berapa," pesan Randy.


"Oke lo duluan aja kasian Putri nunggu terlalu lama,"


Randy pun berlalu pergi membawa bungkusan besar menuju ke ruang perawatan Putri, sepanjang jalan banyak pengunjung rumah sakit, perawat maupun dokter wanita yang terpesona dengan ketampanan Randy apalagi ia membawa kantong berukuran besar membuat mereka semakin kagum kepada Randy tak sedikit dari mereka yang melempar senyum manis mereka kepada Randy meskipun tak diidahkan oleh Randy.


Saat Randy masuk ke kamar Putri ternyata bi Sumi dan mang Ujang sedang berada disana dan langsung di ajak makan bersama Randy dan Putri, baik bi Sumi, mang Ujang dan Putri sangat kaget saat melihat Randy membawa kantong berukuran besar di tangannya dan saat di buka kantong itu berisi banyak ayam bakar, nasi liwet dan jus mangga pesanan istrinya tapi Putri tidak menyangka bahwa Randy akan membeli pesanan nya sebanyak itu,


"Sayang, kenapa banyak sekali?" kata Putri terpaku.


"Biar kamu dan bayi kita kenyang sayang, nanti masih ada sebagian lagi," kata Randy tenang.


"Apa! ada lagi?" kaget Putri.


"Iya, udah makan aja ya jangan banyak protes!" sergah Randy.


Putri pun menatap bi Sumi dan mang Ujang yang juga sedang menatap nya tak percaya dengan yang dilakukan Randy.


"Ayo makan! kenapa pada bengong?" tanya Randy lagi menyadarkan ketiganya.


Akhirnya mereka pun makan bersama termasuk Randy yang juga makan dengan sangat lahap karena ia juga merasa sangat lapar setelah marah-marah di kantor tadi. Pintu kamar Putri tiba-tiba terbuka lebar yang ternyata Chiko bersama sepuluh karyawan ayam bakar mengantar sisa pesanan Randy yang kantong nya jauh lebih besar dari pada kantong yang di bawa Randy tadi tentu membuat Putri, bi Sumi dan mang Ujang semakin melongo.


"Simpan disitu aja," tunjuk Randy.


"Ko makan bareng sini," sambung Randy.


Chiko yang mengerti dengan ekspresi ketiganya itu langsung mengangkat bahu nya pertanda ia tidak tahu apa-apa dengan yang dilakukan Randy itu lalu duduk di sebelah Randy membuka bungkusan yang ada di depan nya.

__ADS_1


"Sayang! Maaf bukannya aku tidak bersyukur tapi aku rasa ini terlalu berlebihan bahkan jika kita berlima makan ini pun tidak akan sanggup untuk menghabiskan itu semua, dari pada jadi mubazir lebih baik sebagian lagi kita bagikan saja," kata Putri yang membuat Randy tidak bisa berbuat apa-apa jika istrinya itu sudah memberi perintah.


"Yasudah terserah kamu saja," jawab Randy lalu melanjutkan lagi makanannya.


"Bi nanti bawa sebagian untuk orang rumah ya, termasuk boduguard di rumah, a Chiko nanti balik lagi ke kantor gak?"


"Ah iya Put masih ada kerjaan juga," jawab Chiko.


"Yasudah nanti bawa untuk orang kantor juga,"


"Mang Ujang nanti tolong bagikan untuk orang-orang di rumah sakit ini ya, jika masih ada sisa bagikan sama orang-orang yang ada di jalanan," perintah Putri.


"Anggap saja ini syukuran atas kehamilanku," kata Putri menatap Randy, namun yang di tatap malah asyik makan hingga Chiko menepuk lengan Randy dan memberi kode dengan matanya.


Randy pun menatap Putri dan tersenyum


"Jadinya berkah kan sayang semuanya jadi ikut kebagian gak hanya kita aja yang makan enak," kata Randy dengan mulut penuhnya.


"Yasudah sering-sering saja biar rejeki kamu juga semakin mengalir," kata Putri tersenyum.


Mereka pun segera menyelesaikan makanan mereka lalu membersihkan sisa-sisa makanannya dan melaksanakan perintah Putri tadi, namun sebelum Chiko beranjak pergi Randy terlebih dahuly mengajaknya berbicara yang sebelumnya sempat tertunda karena Putri ngidam.


Randy dan Chiko duduk di bangku depan kamar Putri dan disana mereka berbicara serius mengenai kondisi perusahaan Randy dan keuangan nya termasuk kehamilan Putri.


"Gue bingung sekarang, Ko! kata Randy tertunduk lesu.


"Gue paham maksud lo Ran makanya tadi kedatangan gue kesini selain untuk mengjenguk istri lo gue juga mau minta ijin sama lo untuk menerima kerja sama dengan perusahaan yang ada di Turkey yang sempat tertunda sebelum kita kecelakaan dulu, tadi siang pemilik perusahaan itu kembali menghubungi mengenai kontrak kerjasama yang sempat tertunda beberapa bulan lalu itu karena perusahaan nya juga saat ini sedang tidak stabil dan beliau menyatakan membutuhkan perusahaan kita untuk ikut berkontribusi dalam perusahaan nya karena memang produk dari perusahaan kita lebih banyak peminatnya disana bahkan banyak dari mereka menanyakan kapan produk kita dirilis disana karena beliau pernah memasarkan produk kita sebelumnya dan karena kita kecelakaan mereka terpaksa menunda perilisan produk kita disana," jelas Chiko.


"Alhamdulillah, yasudah gue serahin semuanya sama lo gue percaya sama lo dan terimakasih banyak selalu bantu gue apalagi di masa-masa sulit gue!" kata Randy menepuk pundak Chiko.


"Oke bro tenang aja semoga dengan ini perusahaan lo kembali pulih lagi, gue tau perjuangan lo membangun perusahaan ini seperti apa jadi gue juga gak akan rela jika perusahaan lo harus gulung tikar begitu saja dan pasti banyak karyawan kita yang terdampak jika itu sampai terjadi, jadi jangan khawatir lagi sekarang lo fokus aja sama istri dan calon anak lo yang sangat membutuhkan peran lo masalah perusahaan sementara gue handle dulu sampai kondisi istri lo betul-betul pulih paling gue akan minta persetujuan-persetujuan lo aja," kata Chiko.


"Oke terimakasih ya bro! gak salah gue pilih lo sebagai asisten gue!"


"Hahaha baru nyadar ya lo keahlian gue seperti apa!" kata Chiko menepuk dadanya.


"Kali ini gue akui lo bisa gue andalkan bro!" kata Randy menepuk-nepuk bahu Chiko.

__ADS_1


"Kalau begitu gue balik kantor dulu untuk persiapan presentasi nanti dan menghubungi pimpinan Turkey,"


"Lo hubungi sekarang aja! Biar gue yang bicara," pinta Randy.


"Ok bentar," Chiko mengotak atik ponsel nya dan menekan tombol hijau yang baru terdengar suara dering saja. Hingga beberapa saat mereka menunggu akhirnya panggilan nya di terima,


"Halo selamat siang, apa benar ini dengan pak Afnan? " kata Chiko.


"Iya betul, ini dengan asistannya pak Randy ya?" tanya Afnan.


"Iya betul pak, begini pak tadi saya sudah berbicara dengan pak Randy dan beliau setuju dengan kerjasama yang bapak ajukan tadi pagi," jelas Chiko.


"Benarkah? Alhamdulillah jika beliau sudah menyetujui, bagaimana jika besok pagi pak Randy beserta pak Chiko ke Turkey sekalian mengenalkan produk pak Randy? Seluruh biaya transportasi dan penginapan saya yang tanggung pak,"


"Kalau begitu bapak bisa berbicara dengan pak Randy nya langsung ya kebetulan saya sedang bersama beliau," kata Chiko lalu memberikan ponselnya kepada Randy.


"Halo selamat siang pak Afnan," kata Randy.


"Selamat siang pak Randy! Sebelumnya saya ingin mengucapkan terimakasih karena bapak sudah menyetujui kerjasama ini dan kalau bapak berkenan besok pagi bapak dan asistan bapak saya undang untuk ke Turkey sekalian memperkenalkan produk-produk pak Randy, apa bapak bisa hadir?" tanya pak Afnan.


Randy berpikir sejenak karena kondisi Putri yang masih terbaring di rumah sakit dan pasti sangat membutubkan dirinya disisi Putri tapi di satu sisi Randy juga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mempertahankan perusahaannya dan nasib para karyawan yang memang sebentar lagi tanggal gajian mereka.


"Halo pak Randy?" tanya Afnan lagi.


"Ah iya pak Afnan saya dan asistan saya akan berangakat besok pagi, terimakasih karena sudah percaya dengan produk dari perusahaan kami semoga tidak mengecewakan bapak," jawab Randy tegas.


"Baik pak sama-sama sampai bertemu disini ya pak! Assalamualaikum," kata pak Afnan.


"Waalaikumsalam," jawab Randy lalu memberikan ponselmya kepada Chiko.


"Lo yakin mau berangkat besok pagi?" tanya Chiko.


"Nanti gue bicara sama Putri mengenai ini meskipun gue gak tega ninggalin Putri tapi karyawan juga perlu di gaji bro, kalau gue gak pergi takutnya pak Afnan tidak respect lagi dengan perusahaan gue," jelas Randy.


"Yasudah gue ngikut lo aja, kalau begitu gue balik kantor dulu ya bro biar gue siapin buat besok lo terima jadi aja, lo fokus sama Putri dulu aja disini," kata Chiko.


"Thankyou bro," kata Randy menepuk bahu Chiko dan hanya dijawab dengan anggukan dan mengacungkan satu jempolnya lalu Chiko segera meninggalakan Randy.

__ADS_1


__ADS_2