
"Put... aku harap kmu bisa kembali ceria seperti dulu, aku yakin kamu wanita yang kuat dan bisa melalui ini semua dengan baik aku tau ini tidak mudah untuk kamu tapi aku yakin Allah memberikan ujian demi ujian ini kepadamu karena Allah tahu bahwa kamu mampu, bahagialah kembali bersama suamimu," sambung Thania merangkul pundak Putri.
"Terimakasih ya Than kamu selalu ada untuk aku, aku sadar bahwa kebahagiaanku saat ini karena kamu dan suamiku tanpa kalian aku tidak akan kembali berdiri seperti sekarang meskipun hati kecilku masih belum betul-betul menerima kepergian calon anakku tapi sedikit demi sedikit kehadiran kalian mengobati rasa sedihku dan memang hidupku masih harus tetap berlanjut bersama suamiku," kata Putri tertunduk.
"Aku doakan kamu segera diberi kepercayaan lagi untuk mengandung ya Put biar kebahagiaan kalian semakin lengkap," kata Thania menyemangati sahabatnya itu.
"Iya Than aku jug berharap seperti itu," jawab Putri tersenyum.
"Nah gitu dong senyum kan cantik," goda Thania lagi yang berhasil membuat Putri kembali tertawa.
"Eeehhhhh tunggu-tunggu kamu tau dari mana kalau aku ada di kamar Chiko?" tanya Thania menghentikan tawa mereka.
"Ah iya aku sampai lupa tujuanku datang ke kamar Chiko, tadi aku hendak membeli makan tapi saat aku cari-cari kamu di luar kamu tidak berada disana akhirnya pak Sam menghampiriku dan memberitahu bahwa kamu sedang berada di kamar Chiko lagian aku juga belum menjenguknya selama disini," jelas Putri.
"Oh begitu, baiklah kalau begitu kita cari makan dulu yuk kebetulan perutku juga sudah meronta minta di isi," kata Thania mengusap-usap perutnya.
Mereka pun berjalan menuju pintu keluar rumah sakit diiringi senda gurau yang biasa mereka lakukan ketika sedang bersama, namun sayangnya tak ada Lira di tengah-tengah mereka sehingga terasa kurang lengkap karena di antara mereka bertiga Lira-lah yang paling sering mengeluarkan lelucon receh nya dan membuat mereka semua tertawa tanpa henti. Setelah kepergian Lira memang terasa hampa untuk keduanya apalagi Lira pergi tanpa pesan apapun pada mereka meski begitu baik Thania maupun Putri telah mengikhlaskan kepergiannya terlebih saat ini Lira tidak merasakan rasa sakit lagi.
Langkah mereka pun tak luput dari pengawan anak buah pak Sam tanpa lengah sedikitpun karena jika itu terjadi habislah mereka oleh amukan pak Sam apalagi Randy bisa saja mereka tidak akanada lagi di dunia jika terjadi sesuatu pada Putri dan sahabatnya itu.
Tak lama Putri dan Thania berhenti di restaurant khusus makanan Indonesia yang memang sudah tak asing dengan lidah keduanya terutama Putri yang tidak terlalu menyukai makanan luar. Putri memesan beberapa porsi nasi liwet beserta lauknya untuk ia bagikan juga kepada pak Sam dan anak buahnya tak lupa ia juga memesan teh dan kopi kemasan untuk pak Sam dan anak buahnya. Ya, itulah kebiasaan baik Putri yang tidak suka makan sendirian jika ia membeli makanan ia juga asti akan membelikan makanan untuk orang-orang di sekitarnya jiwa sosialnya selalu tergugah ketika melihat orang-orang sekitarnya yang swnantiasa bekerja keras tanpa meminta imbalan apapun apalagi orang-orang yang kini bekerja dengan suaminya sudah ia anggap sebagai keluarganya sehingga Putri selalu memperlakukan mereka dengan baik. Hal yang sama juga Putri lakukan ketika ia bertemu dengan orang-orang yang kehidupan nya kurang beruntung ia pun selalu menyisihkan rejeki untuk mereka karena Putri sadar dulu ia pun berasal dari keluarga yang bisa di bilang kurang beruntung namun ia di besarkan dengan didikan dan kasih sayang dari kedua orangtuanya sehingga ketika Putri menikah dengan Randy yang sangat bergelimang harta ia tak pernah menyia-nyiakan uang yang di berikan suaminya itu. Hingga saat ini uang bulanan Putri tidak pernah di pakainya meski Randy sering memintanya untuk menggunkan uang tersebut namun Putri sering kali menolak jika memang bukan kebutuhan yang sangat mendesak.
Meski begitu Randy tetap memberikan uang bulanan Putri meski uang yang ia berikan tidak pernah digunakan karena sudah menjadi bagian dari kewajibannya untuk menafkahi Putri.
Setelah selesai memesan beberapa menu khas Indonesia akhirnya mereka pun bergegas kembali ke rumah sakit membawa beberapa kantong di lengan keduanya.
"Put yakin ini gak kebnyakan?" tanya Thania karena ia merasa Putri membeli makanan sangat banyak.
"Tentu Than jika memang terlalu banyak bisa kita bagikan ke petugas tumah sakit atau keluarga yang sedng menunggu disana juga," jawab Putri tersenyum.
"Baiklah jika itu maumu aku ikut saja," kata Thania kembali memepercepat langkahnya.
Sesampainya di rumah sakit Putri segera menghampiri pak Sam terlebih dahulu memberikan makanan yang baru saja ia beli untuk di bagikan kepada anak buahnya dan sebagian ia bawa untuk ia makan bersama Randy sedangkan Thania sudah berjalan menuju kamar Chiko.
"Nona apa tidak salah membeli makanan sebanyak ini?" tanya pak Sam heran.
__ADS_1
"Benarkah? Yasudah ambil secukupnya untuk bapak dan yang lain sisa nya bisa bapak bagikan kepada orang-orang sekitar atau petugas rumah sakit," kata Putri tersenyum.
"Baiklah terimakasih nona," jawab pak Sam membungkukan badannya.
"Iya pak, kalau begitu saya ke kamar Randy dulu ya," kata Putri dan berlalu menuju kamar Randy.
Putri membuka pintu kamar Randy secara perlahan dan tampaklah Randy sedang memainkan ponselnya ia pun segera masuk ketika Randy menoleh ke arah nya dengan senyuman manisnya.
"Sayang kenapa lama?" tanya Randy memanyunkan bibirnya.
"Maaf sayanf tadi aku mencari Thania terlebih dahulu," jawab Putri meletakkan makanannya.
"Memangnya Thania dari mana?" tanya Randy.
"Dia berada di kamar Chiko sayang," kata Putri sambil membuka satu-persatu makanan tersebut yang membuat Randy menghentikan pertanyaannya mengenai Thania karena wangi dari nasi liwet tersebut yang telah menusuk hidungnya.
"Waaah wangi sekali sayang, kamu beli apa?" tanya Randy.
"Aku beli nasi liwet sayang kebetulan di dekat rumah sakit ini ada restauran yang menjual makanan khas Indonesia salah satunya ini, kamu mau sayang?" tanya Putri mengambil sendok di atas nakas.
"Tidak perlu duduk sayang tiduran dula saja ya makannya aku suapin," cegah Putri yang hanya menambahkan bantal di kepala Randy agar sedikit lebih tinggi.
"Tapi aku ingin duduk sayang," kata Randy.
"Sudah jangan so jagoan aku tau kepalamu masih sakit kan jika duduk? Nurut saja ya sama aku," jawab Putri tegas. yang berhasil membuat Randy terdiam menuruti apa kata Putri.
"Nih buka mulutnya sayang," kata Putri membetikan satu suapan pada Randy.
Seketika Randy membuka mulutnya dan segera melahap makanan tersebut lalu mengunyahnya namun reaksi Randy yang melotot membuat Putri terperanjat kaget dan segera berdiri.
"Sayang kenapa? Tenggorokanmu sakit?" kata Putri panik.
"Ini nasi terbaik yang pernah aku rasain sayang, enak banget!" jawab Randy yang berhasil membuat Putri menyubit pelan lengannya.
"Kamu tuh ya ngagetin aja aku pikir kamu keselek atau apa gitu!" jawab Putri kembali mendudukkan pantatnya keras.
__ADS_1
"Hahaha maaf sayang, tapi ini memang enak baru kali ini aku coba makann ini," jawab Ramdy santai sambil mengunyah makanannya.
"Yakin kamu baru makan nasi ini?" tanya Putri heran.
"Iya sayang, aku gak tau ini makanan Indonesia bagian mana," jawab Randy polos.
"Astaga sayang kamu tinggal lama di Bandung dan jadi pengusaha sukses belum pernah mencoba nasi liwet?" tanya Putri sambil kembali menyuapi Randy yang hanya di jawab anggukan oleh Randy.
"Ini tuh makanan khas Jawa Barat sayang bahkan di Bandung banyak makanan seperti ini aku juga dulu sering membuat ini di kosan," kata Putri menyuapkan nasi untuknya.
"Benarkah sayang? Kenapa aku baru mencobanya sekarang ya lagian bi Sumi juga gak pernah masak seperti ini untukku, lalu kenapa kamu tidak pernah memasak ini untukku?" tanya Randy.
"Bukankah kamu yang selalu melarangku untuk memasak?" tanya Putri balik.
"Aku tidak ingin kamu cape sayang, tapi nanti kamu masak ini untukku ya," kata Randy antusias.
"Baiklah sesuai permintaan suamiku tercinta," jawab Putri mengedipkan matanya membuat Randy mencubit hidung Putri.
"Sejak kapan kamu jadi genit seperti ini sayang?" tanya Randy gemas.
"Sejak barusan," jawab Putri santai kembali menyuapi Randy.
"Jika saja kita tidak sedng di rumah sakit aku sudah memakanmu sayang," kata Randy mencubit gemas pipi Putri.
"Apaan sih kamu mesum deh," jawab Putri.
"Mesum sama istri sendiri kan gak di larang sayang," kata Randy tak mau kalah.
"Baiklah baiklah aku selalu kalah jika sudah berdebat denganmu sayang," kata Putri.
"Ko ngambek sayang?" tanya Randy menarik dagu Putri.
"Sudah kita habiskn dulu makanan ini lalu kamuvminum kembali obatnya ya biar cepet sembuh," jawab Putri yang kembali menyuapi Randy tanpa satu patah katapun.
Setelah selesai menghabiskan seluruh makanannya Putri pun kembali membersihkan sisa-sisa makanan lalu membuangnya ke tempat sampah dan mengambilkan obat untuk Randy. Dengan telaten Putri merawat Randy memandikan Randy dan mengganti pakaian nya, setelah selesai semuanya barulah Putri melaksanakan shalat bersama Randy. Putri bersyukur ia dapat kembali shalat berjamaah bersama Randy meski Randy harus melaksanakan shalat di atas tempat tidur namun ia sangat bersyukur Allah masih begitu baik padanya dengan adanya Randy di samping nya saat ini.
__ADS_1