CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Kepulangan Randy


__ADS_3

Selesai melaksanakan shalat tak lupa Putri berdoa dan mencium punggung tangan suaminya ia berharap Allah segera mengangkat rasa sakit yang di alami suaminya sehingga suaminya dapat segera pulih dan kembali beraktifitas seperti biasanya.


Ketika mereka sedang asyik bercengkrama ponsel Putri berbunyi tanpa dari nomor tak di kenal awalnya Putri menganbaikan telepon tersebut namun karena kembali menelpon akhirnya Putri pun menekan tombol hijau pada ponselnya.


"Assalamualikum," kata Putri.


"Waalaikumsalam Put, apa kabar?" tanya seseorang di seberang sana.


"Alhamdulillah baik, maaf ini siapa ya?" tanya Putri balik.


"Aku Reyhan Put teman kuliah kamu," jawab Reyhan.


"Oh iya ada apa ya menghubungiku malam-malam?" jawab Putri melirik suaminya.


"Ah tidak Put aku hanya khawatir saja sudah beberapa minggu tidak melihatmu di kampus, apa terjadi sesuatu?" kata Reyhan yang memang belum mengetahui Putri sudah menikah.


"Ah iya aku ada urusan," jawab Putri singkat.


"Urusan apa Put? Apakah ada yang bisa aku bantu?" tanya Reyhan lagi.


"Tidak ada, terimakasih. Kalau begitu sudah dulu ya, assalamualaikum." jawab Putri menutup teleponnya.


"Siapa sayang?" tanya Randy.


"Teman kuliahku sayang, katanya sudah lama tidak melihatku," jawab jujur Putri.


"Oh perempuan?" selidik Randy.


"Bukan sayang laki-laki," kata Putri.


"Wah perhatian sekali temanmu sampai-sampai menanyakan hal itu padamu," kata Randy tak enak hati.


"Aku sendiri tidak mengetahui siapa dia sayang wajahnya pun aku tidak mengetahuinya," jawab Putri.

__ADS_1


"Hmm kalau kamu tahu wajahnya apakah kamu akan berpaling padanya?" tanya Randy sinis.


"Apaan sih kamu sayang, ya gak lah aku kan sudah punya kamu," jawab Putri cepat.


"Lalu kenapa kamu tidak memberitahunya jika kamu sudah menikah? Kenapa malah menutup teleponnya?" jawab Randy sedikit emosi.


"Sudahlah sayang aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, ini pegang saja ponselku jika kamu tidak mempercayaiku," kata Putri lalu berdiri.


"Aku akan keluar sebentar," kata Putri dan berlalu keluar tanpa mendapat persetujuan suaminya.


"Sayang aku belum mengijinkanmu keluar," cegah Randy.


Putri pun menghentikkan langkahnya dan berbalik, "Aku sedang tidak ingin berdebat denganmu, dari nada bicaramu saja sudah tidak selembut sebelumnya jadi biarkan kita menenangkan diri terlebih dahulu," jawab Putri lalu pergi.


"Sayang tunggu!" seru Randy.


Putri keluar hanya untuk menenangkan hatinya karena nyatanya keegoisan Randy dan cemburunya masih menggebu ia tidak ingin terluka lagi oleh Randy sehingga ia lebih memilih menghindarinya.


Di sisi lain Randy kembali merenungi perbuatannya yang memang belum bisa sepenuhnya mengontrol emosi nya apalagi berkaitan dengan pria lin yang mendekati istrinya meski ia tahu istrinya tidak akan mungkin menghianatinya namun tetap saja ia selalu cemburu jika Putri dekat dengan pria lain apalagi hatus menelponnya semalam ini dan memberikan perhatian pada Putri.


Randy pun membuka ponsel Putri mencari nomor yang baru saja menghubungi Putri tanpa berpikir panjang Randy menulis pesan singkat untuk teman Putri tersebut dan memintanya untuk tidak lagi mengganggu Putri apalagi memberikan perhatian padanya, tak lupa Randy juga memberitahu pria tersebut jika Putri telag menikah agar ia tidak lagi menghubungi istrinya lagi.


Setelah menulis pesan tersebut dan mengirimnya Randy menguubungi pak Sam untuk membawa Putri kembali masuk ke kamarnya.


Ia pun kembali mengecek email yang masuk melalui ponselnya mengenai perkembangan di kantor pusat selama ia tidak berada disana. Banyak sekali laporan-laporan yang janggal namun ia belum menegur pegawai-pegawainya dan masih membiarkannya sampai ia pulang dan akan segera langsung menindaklanjutinya.


Lama Randy menunggu Putri namun istrinya itu masih belum juga tiba di kamar nya, perasaan Randy pun kembali tidak enak karena takut terjadi sesuatu pada Putri akhirnya ia memutuskan untuk kembali menghubungi pak Sam.


"Halo pak maaf saya dan yang lain masih mencari keberadaan non Putri karena kami sama sekali tidak mengetahui non Putri keluar dari bapak dan pergi entah kemana, sekali lagi saya mohon maaf pak." jelas pak Sam bergetar.


"Saya tidak mau tahu dalam waktu lima menit istri saya sudah kembali ke kamar saya atau kamu tahu sendiri akibatnya," jawab Randy menutup teleponnya.


Tiba-tiba pintu kamar Randy terbuka nampaklah Putri berjalan menuju ke arah nya.

__ADS_1


"Sayang kamu dari mana saja?" tanya Randy.


"Kenap kamu senang sekali mengancam anak buahmu?" kata Putri duduk di samping Randy.


"Bukan begitu sayang aku menghawatirkanmu," kata Randy.


"Tapi aku tidak suka jika kamu seperti itu, kenapa tidak bicara baik-baik saja toh mereka juga sudah mengerti apa yang harus mereka perbuat," jawab Putri ketus.


"Maaf sayang aku tidak lagi mengulanginya, kamu juga jangan pergi lagi sebelum aku mengijinkanmu pergi," jawab Randy tersenyum.


"Baiklah kalau begitu lebih baik kamu istirahat saja, aku juga akan tidur di sofa sana," kata Putri menunjuk sofa di depan Randy.


"Iya sayang istirahatlalah kamu pasti sangat lelah," kata Randy mengusap kepala Putri.


Putri tersenyum dan menganggukan kepalanya lalu beranjak menuju ke sofa untuk mengistirahatkan badannya karena ia memang merasa sangat lelah, Putri segera membaringkan badannya dan tak lama ia pun tertidur. Randy yang melihat itu merasa iba pada Putri karena akhir-akhir ini Putri harus di sibukkan merawatnya dengan telaten bahkan ia rela menyita banyk waktu istirahatnya


untuk sekedar menemaninya. Randy beruntung di masa sulit seperti ini Putri tidak meninggalkan nya dan masih sabar merawatnya, ia harap ia segera pulih dan segera sembuh agar ia cepat keluar dari rumah sakit dan kembali lagi dengan rutinitas nya yang paling penting ia ingin membawa Putri untuk berlibur agar istrinya itu tidak penat.


Dua Minggu Kemudian


Pagi-pagi sekali Putri sedang membereskan barang-barang Randy dari lemari khusus pasien karena semalam dokter bilang jika kondisi Randy sudah sangat membaik dan seluruh hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Randy sudah betul-betul sehat sehingga dokter mengijinkannya untuk pulang, rasa bahagiapun tak luput dari raut wajah Randy dan Putri karena akhirnya Randy sudah di ijinkan pulang oleh dokter setelah Chiko yang empat hari lalu sudah pulang lebih dulu karena kondisinya yang memang tidak separah Randy.


Ketika Putri tengah di sibukkan dengan pakaian-pakaian Randy tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang.


"Sayang kenapa kamu harus repot-repot membereskannya sepagi ini? Kan nanti pak Sam akan membereskannya," kata Randy.


"Sayang kamu bikin aku kaget saja," kata Putri.


"Dari pada kamu repot-repot membereskan ini lebih baik kamu temani aku tidur, biar ini jadi tanggungjawab pak Sam saja," kata Randy menarik lengan Putri.


"Sayang tanggung sedikit lagi selesai ko lagian tidak baik menunda pekerjaan selama aku masih bisa melakukannya kenapa harus mengandalkan pak Sam," jawab Putri kembali mengambil pakaian Randy.


"Iya tapi ini masih gelap sayang lihatlah masih pukul 03.40 dini hari, sebaiknya kita istirahat dulu," jawab Randy.

__ADS_1


"Iya sayang sebentar lagi aku tidur kembali ko hanya tinggal beberapa helai saja," jawab Putri.


Akhirnya Randy pun membantu istrinya membereskan pakaian dan barang-barang Randy agar lebih cepat selesai meskipun Putri sudah melarangnya namun Randy tidak ingin Putri menyelesaikan itu sendiri. Akhirnya pukul 04.00 mereka baru selesai membereskannya lalu mereka mengambil air wudhu dan menunggu adzan berkumandang untuo melaksanakan shalat subuh.


__ADS_2