CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
One Moment


__ADS_3

"Asal kalian tau perjuangan almarhum papa saya untuk mendirikan perusahaan ini dari nol itu tidak mudah banyak hal yang di korbankan beliau dan sangat berat juga perjuangan saya untuk tetap menjaga peninggalan beliau sehingga bisa menjadi besar seperti saat ini dan kalian berdua dengan mudahnya merusak peninggalan almarhum papa saya seperti ini? Kalian tau? Kalian sama saja melempar kotoran ke muka saya dan almarhum papa saya! Selama ini saya mempercayai kalian untuk bersama-sama menjaga perusahaan ini dengan baik bahkan saya selalu memberikan bonus lebih kepada kalian melebihi manager lain! Apa itu semua kurang untuk kalian hah? Sampai-sampai kalian berbuat hal busuk di perusahaan saya!" kata Randy dengan nada tinggi dan tatapan membunuh.


"Maaf pak tapi sungguh kami tidak bermaksud untuk membuat perusahaan bapak jatuh," jawab pak Ahmad gemetar.


"Lalu apa! Kamu tau perbuatan kamu itu sudah sangat merugikan perusahaan! Kamu tau berapa ratusjuta yang kalian pakai dari dana perusahaan selama saya berada di rumah sakit? Kamu pikir uang sebanyak itu mudah di dapatkan? Meskipun ini perusahaan besar tapi jika uang itu di manfaatkan bisa untuk gaji karyawan di perusahaan ini! Dan dari cerita manager lain tadi saya betul-betul tidak menyangka kalian bisa berbuat keji seperti itu!" teriak Randy.


"Tindakan kalian sudah sangat merugikan saya, perusahaan dan karyawan di perusahaan ini! Mulai detik ini kalian berdua saya pecat secara tidak hormat dan kalian harus mengembalikan uang yang sudah kalian pakai!" tegas Randy.


"Pak tolong pak jangan pecat kami, beri kami kesempatan satu kali lagi kami berjanji akan menyicil uang yang sudah kami pakai dan kami berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kami," ucap pak Heri mengiba.


"Iya pak ampuni kami," sambung pak Ahmad memegang tangan Randy.


Tok....tok...tok....


"Masuk!" ucap Chiko.


"Selamat siang pak Randy kami dari kepolisian," kata komandan polisi.


"Bawa mereka paka!" perintah Randy.


Melihat kedatangan polisi dan ucapan Randy tentu saja membuat pak Ahmad dan pak Heri semakin ketakutan dan mencoba untuk membujuk Randy agar tidak di bawa ke kantor polisi namun sayangnya Randy tidak menghiraukan permohonan mereka dan malah menepis tangan pak Ahmad agar tidak kembali memegang tangannya. Mereka berduapun kini telah di bawa ke kantor polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatan nya yang tentunya mereka terus meracau kepada Randy agar tidak memenjarakannya sehingga menjadi perhatian serta perbincangan hangat katyawan-karyawan disana bahkan banyak dari mereka yang merasa bersyukur akhirnya kebusukan mereka bisa ketauan oleh Randy.


"Kerja bagus Ran," ucap Chiko setelah mereka keluar.


Tak banyak yang Randy katakan dan hanya di balas senyuman tipis.


"Lo kenapa?" tanya Chiko.


"Gue inget almarhum papa, gue ngerasa gagal karena hampir membuat peninggalannya bangkrut," ucap Randy tertunduk.


"Ini bukan salah lo Ran semua udah ada yang atur ambil hikmahnya aja, sekarang kita pikirin lagi cara agar perusahaan ini tetap berdiri kokoh seperti sebelumnya gue janji bakal selalu bantu lo untuk kembali membangun perusahaan ini," ucap Chiko menepuk pundak Randy.


"Thankyou bro!" jawab Randy pelan.


"Udah lo gak usah sedih lagi kasian bokap lo ikutan sedih juga masa bos yang biasanya tegas, dingin dan menakutkan tiba-tiba jadi melow lembek kaya gini kan gak lucu!" hibur Chiko sambil menyenggol lengan Randy.


"Sialan lo bilang gue lembek!" ucap Randy mendelikan matanya.


"Hahaha," tawa Chiko menggelegar yang berhasil membuat Randy melengos meninggalkan Chiko di ruang meeting sendiri.


"Eh eh mau kemana?" tanya Chiko tanpa dihiraukan Randy.


"Lah malah ditinggal," gerutu Chiko.


Ia pun membereskan berkas yang berserakan di atas meja lalu keluar menuju keruangan nya.

__ADS_1


**Putri baru saja terbangun dari tidurnya ia kembali merasakan sakit di bagian perut bawahnya kali ini sakit yang semakin hebat sehingga membuatnya meringis, tiba-tiba ponsel Putri berdering yang ternyata dari suaminya. Segera ia menekan tombol hijau,


"Halo mas," jawab Putri dengan suara pelan.


"Halo sayang kenapa lemes gitu? Kamu sakit?" tanya Randy.


"Iya mas perutku sejak kamu berangkat tadi sakit," jawab Putri.


"Astaga kenapa kamu gak cepet nelepon aku? Kamu dimana sekarang?" tanya Randy panik.


"Aku di kamar mas tadi aku minum obat pereda sakit lalu tidur tapi pas aku bangun sakit perutku semakin menjadi," kata Putri terbata.


"tunggu!" Ucap Randy lalu menutup teleponnya.


Ia segera menelpon bi Sumi untuk segera mengantar Putri ke rumah sakit dan ia akan menyusul dari kantor karena jika ia yang pulang lebih dulu kerumah tentu akan memakan waktu dan suara Putri di telepontadi sepertinya sudah sangat menahan rasa sakit.


Tok..tok...tok...


"Non Putri!" teriak bi Sumi.


Tanpa pikir panjang bi Sumi segera menekan knop pintu kamar Putri sebelum dibukakan oleh Putri. Dan benar saja bi Sumi sudah melihat Putri sudah tak sadarkan diri dengan wajah yang sangat pucat.


"Astagfirullah non! Mang Ujang! Mang!" teriak bi Sumi meminta bantuan.


"Ada apa bi?" tanya mang Ujang dengan nafas terengah.


"Astagfirullah apa yang terjadi bi?" tanya mang Ujang menghampiri Putri dan mengangkatnya.


Ponsel Putri kembali berdering dan bi Sumi segera meraih ponsel Putri sambil berjalan mengikuti mang Ujang.


"Halo Den maaf bibi yang menjawab," kata bi Sumi yang merasa lancang menjawab telepon Putri.


"Mana Putri bi?" tanya Randy.


"Itu Den tadi waktu bibi masuk ke kamar non Putri sudah pingsan wajahnya sangat pucat," jawan bi Sumi cepat.


"Terus gimana sekarang? Udah di bawa ke rumah sakitkan?"tanya Randy panik.


"Ini di perjalan menuju rumah sakit Kasih Bunda Den?" jawab bi Sumi.


"Yasudah saya tunggu di rumah sakit!" ucap Randy cepat.


Dengan pikiran yang sangat kacau Randy kembali melajukan mobilnya menuju rumah sakit, dalam hatinya ia tak henti-hentinya berdoa untuk keselamatan Putri.


Lima belas menit kemudian Randy telah sampai di rumah sakit dengan langkah panjang Randy segera menuju ke Instalasi Gawat Darurat dan ternyata Putri belum sampai disana, segera ia meraih ponsel di saku jas nya berniat untuk menghubungi Putri namun ia sudah melihat mobil yang membawa Putri baru saja masuk ke pelataran rumah sakit dan dengan cepat Randy membuka pintu mobil dan segera memangku Putri menuju ruang perawatan.

__ADS_1


"Sus tolong istri saya!" ucap Randy cepat saat bertemu dengan salah satu perawat disana.


"Baik pak silahkan ibu nya di baringkan di bad sana," jawab perawat menunjuk salah satu bad.


"Ibu nya sakit apa pak?" tanya perawat.


"Istri saya tadi mengeluh sakit perut bagian bawah nya sus katanya udah minum obat pereda nyeri tapi sakit nya semakin menjadi dan langsung tak sadarkan diri seperti ini," jawab Randy cepat.


"Baik pak tunggu sebentar ya saya panggilkan dokter dulu, silahkan bapak melakukan registrasi terlebih dahulu," ucap perawat itu ramah.


"Bi tolong urus administrasi nya ya ini kartu identitas nya dan ini kartu untuk pembayarannya," pinta Randy.


"Tapi Den saya tidak tau cara menggunakannya," jawab bi Sumi jujur.


"Yasudah bibi isi data-datanya dulu saja nanti saya menyusul," jawab Randy lagi.


Bi Sumi pun menganggukan kepalanya dan segera menuju ke bagian administrasi sedangkan Randy masih menatap sedih Putri yang masih belum sadarkan diri, ia terus memegang erat telapak tangan Putri dan sesekali mengusap pelan kepalanya sambil terus berdoa semoga tidak terjadi apa-apa dengan istrinya itu.


"Selamat siang pak," ucap dokter tiba-tiba.


"Ah iya selamat siang dok," jawab Randy lalu berdiri sedikit menjauh dari Putri untuk mempersilahkan dokter memeriksa Putri.


"Sebelumnya pernah mengalami sakit yang sama pak?" tanya dokter.


"Setau saya baru kali ini dok," jawab Randy yang lalu mengernyitkan dahinya melihat dokter yang tersenyum.


"Ada apa dok?" tanya Randy lagi.


"Apa bapak tau istri bapak sedang hamil?" tanya dokter dengan senyum mengembangnya.


"Apa dok, hamil?" tanya Randy memastikan.


"Iya pak, dari pemeriksaan saya sepertinya istri bapak sedang hamil rasa sakit yang di rasakan sepertinya berasal dari kehamilan itu," jawab dokter.


"Alhamdulillah, tapi kenapa istri saya sampai merasakan sakit yang begitu hebat hingga tak sadarkan diri dok?" tanya Randy.


"Untuk lebih memastikan nanti saya akan merujuk istri bapak ke obgyn dan melakukan tes darah, karena tadi istri bapak sempat meminum obat pereda nyeri yang di takutkan kandungan obat pereda nyeri itu lah yang membuat sakitnya semakin menjadi," jelas dokter.


"Baik dok lakukan yang terbaik untuk istri saya," jawab Randy.


Dokter pun meninggalkan Randy dan Putri yang tentu saja Randy segera memeluk Putri dan mnmengecup kening nya serta mengusap pelan perut rata Putri.


"Alhamdulillah kamu hamil lagi sayang," ucap Randy senang.


"Permisi Den, Den Randy di tunggu untuk menyelesaikan administrasinya," kata bi Sumi tiba-tiba.

__ADS_1


Randy pun menoleh dengan senyuman, "baik bi tolong tunggu disini ya," jawab Randy sumringah membuat bi Sumi keheranan.


__ADS_2