CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Kepergian Randy


__ADS_3

Putri menatap punggung Randy hingga menutup pintu, ia merasa tidak enak hati lagi saat mengingat besok Randy akan pergi jauh darinya lagi ia takut terjadi hal buruk pada Randy meski ia sudah berusaha setenang mungkin namun tetap saja ingatan beberapa minggu lalu saat Randy kecelakaan di negeri orang membuat nya kembali merasakan ketakutan yang mendalam apalagi saat ini ia sedang mengandung kembali ia memang sangat ingin bersama terus-menerus bersama suaminya namun Aw saja ia tidak bisa egois karena Randy memiliki tanggungjawab besar atas pekerjaan nya.


Putri menatap suaminya saat Randy keluar dari kamar mandi.


"Sayang kamu kenapa menatapku seperti itu?" tanya Randy sambil mengeringkan rambutnya.


"Kamu jadi berangkat besok pagi sayang?" tanya Putri.


"Jadi dong sayang tiket nya sudah di klaim juga sama Chiko, kalau saja kondisimu sangat baik aku pasti ajak kamu kesana," kata Randy duduk di ranjang Putri.


"Aku... khawatir terjadi apa-apa lagi padamu sayang," kata Putri tertunduk lesu.


"Sayang.... doakan saja suamimu ini baik-baik saja dan kembali lagi kesini dengan keadaan selamat ya, aku janji akan menjemputmu di rumah Thania nanti," jawab Randy membawa Putri ke dalam pelukannya.


"Kamu harus janji ya sayang akan menjemputku," kata Putri menatap suaminya.


"Aku janji sayang, kamu jangan khawatir lagi ya nanti selama aku di sana kamu bersama pak Sam kalau kamu mau pergi kemanapun harus di antar pak Sam sekalipun itu bersama Thania," pungkas Randy.


Putri hanya menganggukan kepalanya sambil memeluk Randy erat tanpa mengeluarkan satu patah katapun, Randy sangat mengerti ketakutan Putri tapi apa boleh buat demi nasib perusahaan dan juga kebahagiaan Putri dan calon anak nya kedepannya ia tidak ingin istri dan calon anak nya merasakan kesusahan apalagi memang keuangan menurun semenjak Randy dan Chiko masuk rumah sakit sehingga tidak ada yang mengendalikan perusahaan hingga beberapa investor pun menarik sahamnya karena pendapatan yang selalu merugi.


Randy mengusap pelan pucuk kepala Putri sambil menatap kedepan, seandainya saja perusahaan nya baik-baik saja mungkin ia tidak akan meninggalkan Putri dalam keadaan seperti ini ia pasti akan meminta Chiko untuk mewakilinya pergi kesana.


"Sayang nanti setelah aku pulang kita pergi liburan ke puncak ya," kata Randy tiba-tiba.


Putri pun melepaskan pelukannya, "Pokoknya kamu kembali dulu kesini dengan selamat baru kita pikirkan planning liburan setelag kamu sampai disini," jawab Putri.


"Iya sayang kalau begitu kita makan dan istirahat agar besok pagi kita berdua bangun dalam keadaan bugar,oke!" kata Randy mengambil nasi yg sudah di beli nya sambil menyuapi Putri dengan lahap.


Beberapa menit setelah mereka makan Randy dan Putri berbicara santai dan sesekali mengajak ngobrol bayi dalam kandungan Putri hingga tanpa sadar Randy tidur lebih dahulu di samping Putri sambil memegangi perutnya dan itu membuat senyum Putri sedikit mengembang karena hari ini Randy cepat sekali untuk tidur tanpa harus mengerjainha terlebih dahulu, tapi di sisi lain ia menyadari ada yang tidak beres dengan suaminya karena Randy cepat sekali tidur dan sesekali ia tampak kebingungan dan sering melamun setelah kepulangan nya dari kantor tadi. Putri memandangi wajah suami tampan nya yang terlihat sangat lelah,


"Apa terjadi sesuatu yang tidak aku ketahui sehingga A Randy melakukan hal-hal yang berat di belakangku? tidak biasanya ia terlihat sangat lelah seperti ini meski baru pulang kantor wajahnya tidak pernah selesu ini," batin Putri.


Putri hendak mengambil ponselnya di atas meja namun tangan Randy menahan nya,


"Tidurlah sayang jangan main ponsel lagi sudah malam, kamu harus banyak istirahat agar cepat pulih," kata Randy dengan suara pelan.


"Sayang sebentar saja," sergah Putri karena ia ingin menghubungi Chiko.


Tanpa berkata apapun Randy pun segera duduk dan menidurkan Putri lalu memeluknya erat agar Putri segera tertidur, dengan posisi yang seperti ini justru membuat Putri sulit bergerak sehingga mau tidak mau ia pun ikut tertidur di samping Randy.

__ADS_1


Beberapa jam kemudian ponsel Randy berdering tanda alarm yang ia setel berbunyi dengan sigap Randy segera mematikan alarm agar tidak membangunkan Putri lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan menunaikan shalat subuh, saat selesai shalat ternyata Putri sudah terbangun dan hendak menuju kamar mandi sambil mendorong tiang infusan.


"Sayang kamu mau ke kamar mandi, sini aku bantu," kata Randy membantu mendorong tiang infus.


"Sayang bantu aku untuk mandi sebentar ya, badanku sangat lengket," pinta Putri.


"Kamu yakin mau aku mandiin?" tanya Randy dengan tatapan penuh arti.


"Jangan bilang kamu mau memakanku, sebentar lagi kan kamu berangkat sayang," kata Putri melotot.


"Ya perpisahan sayang!" jawab Randy sambil membuka kancing baju Putri.


"Aku gak yakin kamu akan melakukan cepat, sudah bantu aku mandi saja sayang!" pinta Putri.


"Sebentar aku ambil bajumu dulu," kata Randy segera keluar kamar mandi.


Putri pun berusaha membuka baju dengan satu tangan nya hingga tak lama Randy masuj membawa perlengkapan baju Putri dan beserta perlengkapan mandi yang biasa Putri gunakan.


"Sini aku bantu buka lagi,"


Dengan cepat Randy memandikan Putri dan memakaikan baju untuk Putri dengan keringat yang mengucur di dahinya membuat Putri kebingungan karena udara di kamar mandi saat itu sangat dingin terlebih Randy pun sudah mandi lebih dahulu tentu ia pasti merasakan hal yang sama seperti dirinya, namun ternyata tidak keringat Randy justru semakin mengucur di dahi nya dan Randy tampak bergerak lebih cepat saat memakaikan Putri baju.


"Ah..eh tidak sayang, oke sudah selesai!" ucap Randy cepat dan ia segera berdiri sempurna dan mengalihkan pandangan dari Putri.


Putri menyadari sesuatu saat Randy berdiri tegak tadi ternyata ia sedang menahan bi*ahi selama memandikan Putri tadi sehingga keringatnya sangat bercucuran.


"Sayang kamu yakin akan keluar dengan itu?" tanya Putri sambil menunjuk ke bawah pusar Randy.


Randy mengikuti arah telunjuk Putri dan malah mengusap-usap nya, "Gimana lagi, dia tidak bisa berbohong sayang!" jawab Randy cepat.


Saat Randy hendak keluar Putri segera menarik cepat lengan Randy sambil membisikkan di telinganya, "Kamu hanya punya waktu lima belas menit sayang!"


Mendengar itu Randy segera membalikkan badan Putri dan sebisa mungkin melakukan nya dengan cepat, karena mereka melakukan di kamar mandi rumah sakit tentu suara Putri dan Randy sangat tertahan dengan sebisa mungkin mereka menahan agar suara kenikmatan itu tidak keluar dan di ganti dengan suara air keran yang mereka nyalakan agar orang yang masuk ke kamar Putri tidak curiga.


Di lobi rumah sakit Chiko dan Thania baru saja sampai dan datang bersamaan karena Thania hari ini mengambil cuti untuk menemani Putri selama di rumah sakit agar sahabatnya itu tidak merasa kesepian, mereka membawa beberapa makanan untuk sarapan agar tidak kesiangan namun saat masuk ke dalam kamar Putri baik Randy maupun Putro tidak berada di sana dan hanya terdengar suara keran di kamar mandi saja.


"Mungkin mereka sedang di kamar mandi sayang!" kata Chiko sambil menyimpan makanan yang ia bawa.


Thania hanya menganggukan kepalanya dan segera menata makanan nya di atas meja.

__ADS_1


Di dalam kamar mandi Randy sedang berjuang untuk menyelesaikannya dengan cepat sehingga cara bermain nya kali ini sedikit kasar dan terburu-buru membuat Putri yang mengerang nikmat pelan mendengar itu Randy semakin bersemangat untuk terus memaju-mundurkan miliknya hingga akhirnya ia mencapai puncak dan mengeluarkan nya di dalam sambil mencengkram keras d*d* Putri.


Kegiatan itu tentu membuat Randy kembali berkeringat dan ia kembali mandi dengan cepat dan Putri keluar lebih dahulu karena takut ada suster masuk ke dalam kamar nya.


"Lho kalian sudah datang?" tanya Putri saat keluar dari kamar mandi.


"Iya sekitar lima menit yang lalu, kamu habis mandi, Put?" tanya Thania.


"Iya, badanku terasa sangat lengket saat bangun tadi," kata Putri sambil menyimpan handuk dan perlengkapan mandinya.


"Randy mana?" tanya Chiko.


"Dia sedang mandi, sebentar lagi juga keluar," jawab Putri tersenyum.


"Kalian mandi bareng?" tanya Thania polos.


"Sayang!" sergah Chiko yang tidak enak dengan pertanyaan Thania.


"Tadi A Randy membantuku mandi karena aku tidak bisa mandi sendiri dengan kondisi tanganku yang seperti ini," kata Putri memperlihatkan tangan infusnya.


Keduanya hanya mengangguk pelan di barengi Randy yang baru keluar dari kamar mandi.


"Lo udah dateng, Ko!" tanya Randy sambil menggosok kepalanya.


"Iya bro, sarapan dulu sini sepuluh menit lagi kita berangkat," ajak Chiko.


Randy segera memakai dasi nya dan menghampiri Putri yang sudah lebih dulu duduk di samping Thania.


"Than nanti titip istri gue ya katanya dia mau nginep di rumah lo selama gue pergi, nanti pak Sam yang akan menemani kalian kalau kalian mau pergi kemanapun!" ucap Randy sambil mengambil roti yang Chiko bawa.


"Kamu mau nginep di rumahku?" tanya Thania dengan antusias.


"Iya Than, boleh kan?"


"Boleh dong Put udah lama kamu gak nginep di rumahku! Lo tenang aja Ran, Putri aman sama gue!" jawab Thania senang.


Mereka pun dengan cepat menyelesaikan sarapan nya dan waktunya Randy dan Chiko pamit kepada pasangan mereka masing-masing dan tak lupa meminta doa untuk keselamatan mereka hingga pulang nanti. Putri dan Thania mengantar Randy dan Chiko hingga ke depan pintu kamar dan melambaikan tangan nya.


"Hati-hati sayang!" ucap kedua wanita itu.

__ADS_1


Mereka pun melepas kepergian sang kesayangan dengan penuh haru berharap keduanya akan kembali menemui mereka dengan keadaan selamat.


__ADS_2