
Mobil Chiko sampai lebih dulu dari mobil pak Sam dan polisi, saat Chiko melihat ke sekeliling terlihat vila tersebut masih tampak sepi dan tidak ada tanda-tanda kehidupan disana Chiko pun menatap Randy yang juga sedang menatapnya.
"Ran apa lo memkirkan apa yang gue pikirkan?" kata Chiko.
"Ya ini jebakan mereka tidak ada disini terlihat jelas jika vila ini kosong tak berpenghuni," kata Randy.
"Lo bener bro lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Chiko.
"Sebentar gue telepon pak Sam," jawab Randy.
"Halo pak Sam masih dimana?" kata Randy.
"Pak maaf tadi saya sudah sampai di lokasi dan mereka tau kedatangan saya dan polisi sehingga mereka berhasil membawa pergi nona Putri dan hanya supir taksi saja yang selamat," jawab pak Sam cemas.
"Apa! Kenapa bisa lolos pak lalu sekarang Putri dimana?" kata Randy berteriak.
"Kami masih melakukan pengejaran pak sepertinya mereka akan membawa nona Putri ke arah kota Jakarta," kata pak Sam.
"Tidak bisakah kalian memotong laju kendaraan orang-orang itu? Jumlah kalian jauh lebih banyak dari mereka kenapa tidak ada yang bisa mengurus ini hah!" kata Randy dengan nada tinggi membuat Chiko yang berada di sebelahnya tersentak kaget.
"Saya tidak mau tau Putri harus segera bersama kalian dan kalau sampai Putri kenapa-kenapa kalian akan tau akibatnya!" kata Randy lalu menutup teleponnya.
"Jalan lagi ke arah Jakarta," kata Randy tanpa melihat ke arah Chiko.
Chiko pun segera menancap gas kembali mengikuti arahan Randy dan ia tidak ingin berkata apapun lagi pada Randy karena ia tahu jika ia berbicara pasti ia yang akan kena amarah Randy akhirnya selama di perjalanan menuju Jakarta tidak ada percakapan di antara mereka hanya sesekali Chiko melirik ke arah Randy yang tampak cemas dan penuh amarah. Saat itu cuaca pun hujan deras dan penglihatan pun buram karena di luar sangat berkabut sehingga Chiko hanya bisa mengemudikan mobilnya dengan pelan yang membuat Randy semakin kesal dan membentak Chiko untuk mempercepat laju kendaraan nya karena ia semakin cemas dengan kondisi istrinya.
__ADS_1
"Ko bisa gak lo percepat mobil nya gue khawatir dengan keadaan Putri!" bentak Randy pada Chiko.
"Kondisi di luar sangat berkabut Ran kita juga harus pikirkan keselamatan kita," kata Chiko.
"Tapi kalau Putri kenapa-kenapa gimana Ko apa lo mau tanggung jawab hah kalau lo gak bisa bawa mobil dengan cepat biar gue aja yang bawa. Minggir lo sekarang!" kata Randy.
"Gak bisa Ran gue gak mau berakhir konyol gara-gara lo," jawab Chiko tenang.
"Ko minggir!" teriak Randy.
Chiko yang tidak tahan dengan sikap Randy pun membentak Randy dengan nada yang tidak kalah tingginya dengan Randy yang membuat Randy diam.
"Ran stop! Kalau lo bawa mobil kecepatan tinggi lo gak bakalan pernah nemuin Putri lagi yang ada kita yang celaka dan bisa jadi ga ada lalu siapa yang mau tolong Putri kalau kita ga ada? Sadar bro ini ujian buat lo, lo gak bisa kaya gini lebih baik lo berdoa buat keselamatan Putri," kata Chiko memelankan suaranya.
"Astaga apa itu Randy yang datang?" kata Putri.
Tiba-tiba Putri mendengar pintunya di dobrak oleh seseorang,
"Ya Allah non Putri apa non baik-baik saja?" tanya pa Sam sembari melepaskan ikatan Putri dan penutup matanya.
"Pak Sam bapak bersama siapa? Apa ada Randy juga?" tanya Putri lemah.
"Pak Randy masih di perjalanan non mungkin sebetar lagi sampai mari non kita keluar dari sini," ajak pak Sam.
"Baik pak terimakasih lalu bagaimana dengan para pria itu?" tanya Putri.
__ADS_1
"Mereka sudah di tangani polisi non," kata pak Sam.
Saat Putri keluar dari kamar dengan ukuran kecil itu tiba-tiba seorang pria memanggilnya dan seketika Putri menoleh sambil menangis mendengar suara yang sangat ia rindukan itu.
"Sayang," kata Putri menghambur ke pelukan Randy.
"Sayang syukurlah kamu bisa ditemukan apa kamu baik-baik saja sayang? Apa mereka menyakitimu?" tanya Randy mengusap punggung Putri.
"Tidak sayang hanya sebuah tamparan saja karena aku yang terus memberontak sehingga membuat mereka marah," jawab Putri dengan sesenggukan.
Seketika Randy pun melepas pelukannya dan melihat wajah istrinya yang terdapat darah yang sudah mengering di sudut bibirnya sehingga membuat Randy naik pitam dan mengepalkan tangan kirinya.
"Sayang," kata Putri memegang wajah Randy.
"Ah iya sayang maaf sebaiknya kita kembali ke mobil dan aku akan mengobati lukamu," ajak Randy sambil merangkul istrinya
Randy dan Putri berhenti saat ada polisi yang menghampiri mereka.
"Selamat sore pak saya dari kepolisian kota Bogor akan meminta ibu dan bapak untuk ikut kami ke kantor guna sebagai saksi dalam kasus ini," kata polisi itu tegas.
"Baik pak kami akan mengikuti mobil bapak di belakang," jawab Randy.
"Baik pak terimakasih atas kerjasama nya," sambung polisi tadi.
Randy dan Putri pun segera masuk ke dalam mobil bersama Chiko dan pak Sam selama di perjalanan Randy membersihkan darah di sudut bibir Putri dan mengobati nya, betapa sakit hati Randy melihat kondisi Putri saat ini dan ia juga mengingat kembali kejadian di Paris yang pernah menampar Putri hingga wajah Putri membengkak lalu air mata Randy juga kembali menetes namun Putri tidak menyadari nya jika suaminya itu menangis saat mengobatinya karena ia tertidur di pangkuan Randy karena terlalu lelah dan badan nya terasa sakit semua sehingga saat Randy menyuruhnya untuk tidur di pangkuannya ia pun langsung terlelap dan Randy segera menyelimuti Putri dengan jas yang selalu ia bawa di dalam mobilnya.
__ADS_1