CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 57


__ADS_3

"Permisi.. bapak-bapak ini siapa ya? Dan ada perlu apa?" tanya Thania memberanikan diri.


"Maaf kami di utus pak Sam untuk berjaga disini mba," kata pria kekar tersebut.


"Oh begitu saya kira kalian hendak mencelakai Putri, baiklah terimakasih kalau begitu," jawab Thania tersenyum.


Ia pun kembali masuk ke dalam dan melihat dokter memeriksa Putri yang ternyata dokter telah selesai memeriksa Putri dan tengah menulis resep untuk Putri, ia pun segera menerima resep itu dan kembali mengantarkan dokter ke depan lalu meminta salah satu anak buah pak Sam untuk membeli resep itu ke apotik sedangkan Thania kembali ke kamar Putri dan ibu Lira pergi ke dapur untuk menyiapkan makanan karena ia belum sempat memasak.


Thania pun terduduk di samping Putri dan tiba-tiba Putri menggerakan jarinya lalu membuka mata, ia pun kaget dan beranjak memegang tangan Putri menggenggamnya erat.


"Put kamu sudah sadar?" tanya Thania tersenyum.


"Than suamiku..." ucap Putri tertahan lalu meneteskan air matanya.


"Iya Put aku sudah tau kabar suamimu dan Chiko, kamu yang sabar ya InsyaAllah suamimu kuat dan pasti kembali lagi kesini untuk menjemputmu," jawab Thania tersenyum menguatkan Putri.


"Bagaimana keadaan suamiku disana Than?" tanya Putri.


"Sudah Put sebaiknya kamu jangan dulu memikirkan itu karena kondisimu saat ini sudah sangat lemah, kita serahkan semuanya sam Allah ya," jawab Thania.


"Engga Than aku harus tau keadaan suamiku," jawab Putri mengambil ponselnya.

__ADS_1


Belum sempat ia menekan nomor di ponselnya "Suamimu kritis Put dan Chiko sedang dalam pemulihan pasca operasi di kepalanya," kata Thania membuat Putri diam mematung.


Tubuhnya bagaikan tersambar petir hatinya hancur lebur air matanya pun tak dapat ia bendung lagi, Putri menggeleng-gelengkan kepalanya lalu beranjak turun dari tempat tidurnya tanpa memikirkan kondisinya yang sudah sangat lemah. Melihat itu Thania pun menahan Putri untuk bangun karena ia tidak ingin terjadi sesuatu pada Putri.


"Kamu mau kemana Put? Kondisimu masih sangat lemah," kata Thania.


"Aku harus kesana Than, a Randy sedang membutuhkanku," jawab Putri memberontak.


"Tapi Put kondisimu tidak memungkinkan untuk pergi kesana, tunggu kondisimu pulih baru kita kesana," kata Thania.


"Engga Than aku gak bisa berdiam diri disini sedangkan suamiku disana berhari-hari berjuang untuk hidup, cukup aku kehilangan anakku Than aku tidak ingin kehilangan suamiku juga tolong biarkan aku pergi," kata Putri dengan suara yang semakin pelan karena tak kuasa menahan tangisnya.


"Baiklah aku akan menemanimu, sekarang kamu istirahat dulu aku akan membereskan barang-barangmu dan kita segera ke bandara ya," jawab Thania yang langsung mendapat anggukan dari Putri.


Tiga puluh menit berselang Thania telah selesai memebereskan barang-barang Putri dan sudah meminta anak buah pak Sam untuk menemaninya kesana karena ia takut terjadi sesuatu pada Putri, ia juga telah memesan tiket online dan memilih jadwal tercepat dan ternyata hanya pukul enam sore jadwal yang tersisa tanpa pikir panjang ia pun segera memesan tujuh tiket untuk mereka, tak lupa Thania meminta ijin kepada ibu Lira untuk menyusul Randy ke Malaysia bersama Putri awalnya ibu Lira tidak mengijinkan mereka Pergi namun setelah ia mengetahui alasannya dan Thania juga bilang bahwa mereka di temani anak buah pak Sam akhirnya ibu Lira pun mengijinkan mereka pergi dan menyiapkan makan untuk mereka santap sebelum mereka berangkat tak lupa ibu Lira juga meminta anak buah pak Sam untuk ikut makan bersama mereka meski ibu Lira harus memaksan mereka terlebih dahulu.


Waktu telah menunjukkan pukul empat sore mereka pun segera bergegas menuju bandara menggunakan mobil Thania yang di kendarai salah satu anak buah pak Sam dan satu mobil lagi di isi oleh anak buah pak Sam yang mengikutinya di belakang mobil Thania, karena kondisi jalanan menuju bandara sangat padat akhirnya mereka sampai di bandara pukul lima lewat dua puluh menit mereka pun tergesa-gesa masuk ke dalam bandara karena takut tertinggal pesawat. Akhirnya mereka pun dapat beristirahat sejenak karena masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi untuk menunggu keberangkatan pesawatnya, terdengar di pengeras suara bahwa pesawat menuju Malaysia akan segera berangkat dan mereka segera bergegas naik ke pesawat menggunakan kelas ekonomi agar jauh lebih nyaman karena mereka akan menempuh waktu beberapa jam untuk dapat sampai di Malaysia.


Putri menatap keluar jendela sebelum pesawat lepas landas tidak sabar untuk segera bertemu dengan suaminya dan dapat menguatkan suaminya untuk bisa tetap berjuang hidup.


"Sayang bertahanlah.. tunggu aku datang," batin Putri. "

__ADS_1


Sedangkan di sisi lain salah satu anak buah pak Sam menghubunginya untuk memberitahukan bahwa mereka akan menyusulnya kesana dan meminta alamat rumah sakit tempat Ramdy di rawat.


"Halo bos," katanya.


"Ya kenapa, apa disana baik-baik saja?" tanya pak Sam.


"Masih aman terkendali bos namun saat ini kami sedang di dalam pesawat hendak menyusul kesana karena non Putri yang memksa untuk menemui pak Randy," jawab anak buah pak Sam.


"Apa? Kenapa kamu membiarkannya? Kondisi disini sangat berbahaya untuk non Putri apalagi pelakunya masih belum di temukan," kata pak Sam dengan nada tinggi.


"Maaf bos tapi non Putri memaksa temannya untuk pergi kesana dan sebentar lagi pesawat akan lepas landas," jawabnya.


"Baiklh jika audah terlanjur, pastikan non Putri dan temannya selamat sampai kesini dan pastikan tidak ada satu orangpun yang mengenali mereka! Jika terjadi sesuatu pada non Putri atau temannya kamu akan tau akibatnya!" jawab pak Sam mengakhiri teleponnya.


Anak buah pak Sam pun mengambil topi dan kacamata yang selalu mereka bawa untuk sebuah penyamaran dan menghampiri Putri yang duduk di depannya.


"Maaf non sebaiknya nona-nona memakai ini untuk keselamatan kalian dan jangan di buka sebelum kita bertemu pak Sam," katanya memberikan masker, topi dan kacamata pada Putri dan Thania.


Merek pun segera memakai barang-barang yang di berikan anak buah pak Sam yang tentunya mendapat perhatian dari samg pramugari yang berada tidak jauh dari mereka, Thania yang mengerti dengan tatapan pramugari pun segera menulis catatan pada secarik kertas dan memberikannya kepada pramugari tersebut akhirnya setelah mendapat pesan dari Thania pramugari tersebutpun mengerti dan kembali dengan tugasnya meninggalkan Putri dan Thania.


Pesawat pun sudah mulai lepas landas dan selama di perjalanan Putri masih terjga sambil memandangi foto-foto suaminya dan foto-foto saat pernikahan mereka, senyum mengembang di sudut bibir Thania merindukan momen-momen indah bersama suaminya itu ia juga berdoa agar Allah memberikan keajaiban sehingga suaminya dapat sembuh dan kembali ke pelukannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2