CEO Ganteng Suamiku

CEO Ganteng Suamiku
Bab 46


__ADS_3

Mereka pulang saat sudah hampir tengah malam tepatnya pukul setengah dua belas malam Randy dan Putri baru saja sampai di pelataran rumahnya di sambut bi Sumi yang memang menunggu kepulangan mereka karena ada sesuatu yang ingin ia sampaikan pada Randy dan Putri, namun karena mereka baru saj pulang dan tampak Putri sudah sangat kelelahan akhirnya bi Sumi menundanya hingga esok hari.


Randy dan Putri segera beranjak ke kamar dan langsung membersihkan diri, karena Putri sudah sangat lelah ia akhirnya tertidur lebih dulu tanpa menunggu suaminya yang masih berada di kamar mandi. Saat Randy kembali ia melihat istrinya sudah tertidur nyenyak ia pun tersenyum dan menghampiri istrinya lalu mengecup kening dan perut Putri sambil mengusapnya pelan.


"Good night kesayangan-kesayangan papah," kafa Randy tersenyum lalu bangkit dan mengenakan baju yang telah di siapkan Putri.


Saat Randy hendak beristirahat ponsel Putri berdering, awalnya Randy mengabaikan panggilannya dan hanya mensilent dering nya saja namun karena ponsel Putri terus berdering dan takut membangunkan Putri akhirnya Randy menjawab ponsel Putri yang ternyata dari Thania.


"Halo Thania, Putrinya sudah tidur besok lagi saja ya," kata Randy malas.


"Halo a Randy maaf mengganggu aku hanya ingin mengabarkan bahwa Lira meninggal a dan sekarang aku sedang di perjalanan menuju ke rumah Lira," kata Thania dengan suara parau.


"Lira sahabat Putri? Kenapa?" tanya Randy.


"Betul a yang waktu kemarin datang bersamaku ke rumah a Randy dia sakit kanker a," jawab Thania dengan isakan tangisnya.

__ADS_1


"Innalillahiwainnailaihi raji'un... Emm Thania saya dan Putri akan kesana namun kami akan berangkat besok pagi tidak apa-apa ya soalnya Putri sudah terlihat lelah karena kami baru saja merayakan ulangtahun Putri," jelas Randy.


"Baiklah kalau begitu a nanti aku tunggu di rumah Lira ya salam untuk Putri," kata Thania lalu menutup teleponnya.


Randy pun hanya menatap layar ponsel Putri dengan tatapan yang tidak dapat di artikan dan kembali memandang istrinya yang mungkin sudah masuk ke alam mimoi indahnya, Randy segera menarik selimut hingga pinggangnya lalu tertidur dengan posisi memeluk Putri.


Saat pagi menjelang Putri tiba-tiba menggoncangkan badab Randy di sertai tangisan, Randy yang baru bangun itu pun kaget dan segera terduduk memegang Putri karena ia takut jika kandungan Putri terasa sakit lagi.


"Sayang perutmu sakit lagi?" tanya Randy panik.


"Ah iya aku lupa memberitahumu semalam Thania menelponmu dan mengabarkan Lira meninggal padaku namun karena kamu telah tertidur sangat nyenyak aku tidak tega membangunkanmu," jawab Randy yang malah membuat Putri semakin menangis kencang.


Melihat itu Randy segera memeluk Putri untuk menenangkannya,


"Yasudah sekarang kita siap-siap untuk ke rumah sahabatmu yuk biar dapat mengantarkannya ke tempat peristirahatan terakhirnya," kata Randy mengusap pucuk kepala Putri.

__ADS_1


Mendengar itu Putri pun membersihkan air matanya lalu menatap suaminya yang sedang menatapnya sendu lalu tersenyum padanya. Akhirnya Putri beranjak turun dari tempat tidurnya menuju kamar mandi dan Randy menatap punggung istrinya itu, saat Putri i kamar mandi Randy membereskan kembali tempat tidurnya lalu menyiapkan baju untuknya dan Putri serta membawa beberapa helai pakaian untuk di bawa ke rumah sahabat Putri karena Randy yakin Putri pasti ingin menginap disana serta untuk mempersingkat waktu agar mereka bisa segera berangkat.


Setelah beberapa menit akhirnya Putri keluar dari kamar mandi dengan wajah sembabnya membuat Randy semakin tidak tega dengan istrinya, ia menghampiri Putri yang tengah duduk di meja rias lalu memegang pundaknya dan menatap Putri pada pantulan cermin.


"Sayang aku mengerti perasaanmu tapi kamu harus ingat juga janin yang ada di perutmu jangan sampai ia juga ikut bersedih, sekarang dirimu memiliki dua jiwa yang pastinya saling mengikat dengan apa yang kamu rasakan," kata Randy yang membuat Putri tertunduk dan mengusap perutnya.


"Tiga puluh menit lagi kita berangkat ya dan aku akan meminta bi Sumi untuk menyiapkan bekal sarapan untuk kita di perjalanan, kamu mau makan apa?" tanya Randy.


"Aku mau bolu cake red velvet," jawab Putri seketika.


"Baiklah kalau itu nanti kita beli saja di toko kue ya kalau begitu aku mandi dulu sebentar, kamu bersiaplah," kata Randy meninggalkan Putri ke kamar mandi.


Saat Randy berada di kamar mandi ponsel Putri berdering dan itu dari Thania yang menanyakan keberadaannya karena Lira akan segera di kebumikan, Putri kembali menangis dan meminta Thania dan ibu Lira untuk menunda dulu prosesi pemakaman sebelum ia datang karena Putri ingin ikut mengantar Lira ke peristirahatan terakhirnya dan Thania pun menyetujui keinginan Putri yang juga pasti ingin bertemu terlebih dahulu dengan Lira.


Sepuluh menit kemudian Randy keluar danmelihat Putri telah berpakaian rapi namun masih termenung di depan meja rias dengan menatap layar ponsel nya, tanpa ingin menegur Randy segera mengenakan baju nya dan menghampiri Putri mengajaknya untuk segera turun. Sambil mendorong koper kecilnya Randy berjalan merangkul Putri yang semakin tidak berdaya karena kehilangan sahabarn tercintanya yang sudah ia anggap seperti saudarnya sendiri bahkan Lira adalah sahabat yang tidak pernah berdebat dengan Putri dan bahkan selalu mengalah jika di antara mereka terjadi selisih paham, Lira adalah sahabat yang selalu menjadi penengah diantara Putri dan Thania jika mereka sedang berseteru bahkan Lira yang senantiasa berada di sampingnya di saat Putri kehilangan kedua orangtuanya dulu karena Thania sibuk dengan pekerjaannya. Saking seringnya ia bersama Lira dan terkadang menginap di rumah nya sehingga membuat ibu Lira pun menganggap Putri sebagai anaknya sendiri hingga Putri mendapat pekerjaan di kota Bandung dan harus meninggalkan Lira dan ibunya yang hanya dapat berkomunikasi melalui video call saja. Yang Putri sesali saat ini ialah ia tidak ada di samping Lira saat Lira harus berjuang melawan sakitnya bahkan ia tidak dapat memberi semangat secara langsung untuk Lira karena kondisinya yang sedang mengandung bahkan Randy yang selalu over protektif dan tidak pernah membiarkan Putri pergi sendiri tanpa di dampingi olehnya. Lira juga selalu menanyakan kabar calon keponakannya dan selaku mengingatkan Putri untuk memakan makanan sehat dan mengingatkan untuk selalu minum vitamin yang terkadang Putri lupa untuk meminumnya.

__ADS_1


Putri semakin terisak ketika ia mengingat keinginan terakhir Lira dua hari lalu bahwa dia ingin berkumpul bersama mereka dan menghabiskan waktu, rencana Putri saat itu ia mengundang kedua sahabatnya untuk hadir di acara empat bulanan Putri dan meminta mereka untuk menginap disana beberapa hari dan sudah di setujui ketiganya, namun sebelum itu semua terjadi Allah telah lebih dulu mengambil Lira.


__ADS_2