
Malam telah tiba semilir angin semakin menusuk ke dalam ruangan kecil yang di isi beberapa orang manusia yang saling menghangatkan satu sama lain dengan selimut tebal yang di berikan ibu Lira pada ketiga anak muda itu.
Baik Putri, Randy dan Thania terlihat kembali hangat saat ibu Lira menyelimuti selimut tebal itu dengan senyuman yang menghiasi wajah rentanya.
Kehadiran ketiganya mampu mengobati rasa rindu dan sepinya setelah harta satu-satunya yang ia miliki pergi menghadap sang kuasa.
Ibu Lira kembali bangkit dari duduknya dan berlalu kamar mandi untuk mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat malam, sebuah kegiatan yang selalu ia lakukan beberapa bulan terkahir ini untuk mendoakan kesembuhan putrinya, namun ternyata Allah lebih menyayangi anaknya yang sudah menanggung rasa sakit selama bertahun-tahun. Tentu saja membuat ibu Lira merasakan kehilangan yang amat sangat namun ia bersyukur masih ada sahabat-sahabat Lira yang mampu menemaninya saat ini, ia juga kembali teringat dengan tawaran Randy dan Putri yang memintanya untuk tinggal bersama mereka di Bandung meski ibu Lira sudah menganggapnya seperti anak sendiri ia tetap tidak enak dan takut merepotkan jika ia tinggal bersama Putri dan Randy. Di sisi lain jika ia berada di rumah yang penuh kenangan dengan Lira dan suaminya dulu semakin membuatnya sakit dan terus merasakan kehilangan yang amat sangat, di dalam setiap sujudnya ibu Lira senantiasa berdoa yang terbaik untuk hidupnya kedepannya tidak lupa juga ia berdoa untuk anak dan suaminya yang sudah lebih dulu meninggalakannya agar di berikan tempat terbaik di sisi-Nya juga tak lupa ibu Lira berdoa untuk Randy, Putri dan Thania agar kehidupan mereka selalu diberikan kebahagiaan dan rejeki yang berlimpah.
Setelah melaksanakan shalat malamnya ibu Lira pun kembali berbaring bersama Thania, Putri dan Randy hingga tak buutuh waktu lama ibu Lira langsung terlelap karen ia pun merasa sangat lelah.
Menit demi menit berlalu matahari telah menampakkan sinarnya suara ayam pun kembali membangunkan seluruh umat manusia dan kembali ke aktivitas seperti biasanya. Randy terlebih dulu bangun dan melihat ke sampir kirinya yang ternyata masih terlelap sangat nyenyak, karena tidak tega membangunkan ketiganya akhirnya Randy memutuskan untuk mandi terlebih dahulu sebelum ia membeli sarapan di sekitar rumah ibu Lira. Setelah sepuluh menit berlalu Randy keluar dengan wajah segarnya dan pakaian kaos putih polos dipadukan celana levis selutut dan sendal japit biasa yang tetap memberikan kesan tampan untuknya, ia pun segera keluar untuk membeli sarapan keempatnya. Tidak lama setelah kepergian Randy Putri pun tebangun menyipitkan matanya ke samping kanan nya yang ternyata suaminya tidak ada disana Putri pun segera bangkit mencari suaminya.
Disisi lain Randy yang sedang berjalan dengan santai nya sambil melihat ke kanan dan kiri mencari pedagang makanan yang siap makan, tak lama ia melihat penjual bubur ayam dan naso kuning yang sedang ramai pembeli Randy pun tersenyum dan segera menghampiri pedagang itu dengn langkah panjang. Tiba-tiba dari kejauhan sepasang mata telngah memperhatikannya dan mengambil sesuatu di tangannya lalu berjalan ke arah Randy saat ia hendak melancarkan aksinya,
"Brugghhh!"
Randy seketika melnoleh kebelakang yang ternyata disana ada pak Sam dan Dika yang terduduk lesu sambil memegang tangannya karena mendapat tendangan hebat di tangannya dari pak Sam.
"Maaf tuan dia baru saja hendak memukul kepala tuan dengan kayu itu," kata pak Sam menunjukkan kayu yang berada tidak jauh dari mereka.
Randy pu menatap Dika tajam yang membuat Dika semakin takut dengan Randy yang semakin mendekat padanya.
__ADS_1
"Kau! Lagi-lagi ingin menikamku hah? Apa kau sudah bosan hidup?" kata Randy mencengkram kerah baju Dika.
"Sa.. Sa.. Saya," jawab Dika hendak menjawab.
"Sayang!" teriak Putri.
Randy pun melepaskan cengkramannya dan melirik pak Sam dengan tatapan membunuh.
"Sayang apa yang kau lakukan pada kak Dika?" tanya Putri.
"Di baru saja hendak memukul tuan Randy non dan beruntung saya segera mencegahnya, jika tidai mungkin saat ini tuan Randy kembali terluka lagi seperti dulu," jelas pak Sam.
"Maaf Put kakak hanya cemburu dengan dia yang selalu mesra denganmu," jawab Dika lesu.
"Tapi bukan berarti kakak harus mencelaki suami Putri, kakak tau kan saat ini Putri sedang mengndung anak dari suami Putri jika kakak mencelakainya kasian anak Putri," jawab Putri yng hendak menangis.
"Kakak akan bertanggung jawab dengan bayi yang kamu kandung Put," jawab Dika yang tentunya mendapatkan salam dari tangan kiri Randy hingga membutnya tersungkur.
"Berani-beraninya kau berbicara seperti itu pada istri dan anakku! Dengar baik-baik! Saya tidak akan membiarkan siapapun mengusik kehidupan keluarga kecil saya dan tidak akan membiarkan siapapun menyentuh atau mendekati istri saya termasuk kau! Jadi jangan berharap kau bisa memiliki istriku atau kau akan tau akibatnya!" jawab Randy berapi-api.
"Astagfirullah nak! Lepaskan tanganmu dari anak saya!" perintah wanita itu.
__ADS_1
Randy menoleh dengan tatapan malas dan menjauh dari Dika lalu menghampiri wanita paruh baya itu,
"Tolong didik anak Anda agar tidak mengganggu rumah tangga saya jika tidak ingin menyesal di kemudian hari," ucap Randy pada wanita paruh baya itu yang tentu nya di dengar oleh warga yang sejak tadi menonton mereka.
"Kau! Berani-beraninya kau berbicara tidak sopan seperti itu padaku hah!" jawab wanita itu mengangkat tangannya yang langsung di tepis Randy.
Dengan senyum melecehkan Randy menepis tangan bu Feny dengan sekuat tenaga membuat ibu Feny meringis kesakitan, "Sebelum Anda menampar saya sebaiknya Anda dulu yang Anda tampar agar ia tidak mendekati wanita yang sudah bersuami! Apa anak Anda tidak laku dengan wanita lain sehingga harus mengejar-ngejar istri saya?" jawab Randy yang membuat orang-orang di sekitar san saling berbisik membuat ibu Feny merasa malu dan berusaha melepaskan cengkraman Randy di tangannya dan segera membantu anaknya berdiri dan berlalu pergi.
"Tunggu pembalasanku anak muda!" kata ibu Feny menatap tajam Randy dan Putri.
Putri yang mendengar kata-kata terakhir bu Fenny membuatnya merasa takut dengan cepat Randy menenangkan Putri dalam pelukannya,
"Hai bukankah kamu sahbatnya Lira ya," kata wanita paruh baya lain.
"Iya bu saya Putri," jawab Putri tersenyum.
"Hih gak tau malu ya si Dika ngejar-ngejar wanita yang sudah bersuami, cantik sih emang wanitanya tapi gak gitu juga kali! Eh ibu-ibu kita lapor pak RT yuk biar di tindak lanjuti tuh si Dika di kampung kita kan aturannya gak boleh ada orang yang ngerusak nama baik kampung ini apalagi dia udah jadi pebinor malu-maluin kampung kita aja deh,"
"Iya bener yuk kita ke rumah pak RT," jawab ibu-ibu lain dan pergi meninggalkan Randy dan Putri.
Randy pun mengajak Putri untuk membeli sarapan yang belum sempat ia beli tadi karena ulah Dika, tak lupa Randy membelikannya untuk pak Sam yang sedari tadi menungguinya.
__ADS_1