
"Lagian kamu kenapa gak bilang-bilang sih ada disitu?" kata Putri dengan wajah merah nya.
"Gimana mau bilang orang kalian dari tadi tidur terus karena aku nunggu kalian gak bangun-bangun jadinya aku juga tidur di sofa dan terbangun saat kamu marah-marah sama suamimu, tadinya aku berniat menghentikan omelan kamu tapi malah melihat adegan dewasa!" kata Thania lagi.
"Ganggu aja orang lagi enak-enak!" kata Randy yang membuat Putri melotot.
"Sayang!" teriak Putri.
"Apa? Kamu juga kan sedang menikmati juga!" kata Randy lagi membuat Putri mencubit perut Randy dengan kencang.
"Aw sakit sayang!" teriak Randy sambil mengusap perutnya.
"Hihi maaf-maaf deh jadi mengganggu momen mesra kalian! by the way selamat ya Put akhirny di kasih kepercayaan lagi buat mengandung keturunan Randy! Kali ini tolong di jaga baik-baik ya!" kata Thania melirik ke arah Randy.
"Apa? Iyalah pasti gue jaga gak usah di ajarin!" kata Randy so cool.
"Iya deh namanya papah kan harus menjaga calon bayinya," kata Thania lagi.
"Lo lagi ngungkit kesalahan gue yang dulu?" kata Randy yang mulai menatap tajam ke arah Thania.
"Ngga ko hanya mengingatkan saja!" jawab Thania.
"Ih sudah-sudah dong ko malah jadi ribut sih! Sayang udah dong gak papa," kata Putri memegang tangan Randy.
"Jangan pernah lo ungkit lagi kesalahan gue yang dulu kalau lo masih pengen ketemu istri gue!" ancam Randy.
"Sayang udah! maafin sahabatku ya," kata Putri memohon.
Randy melepaskan cengkraman tangan Putri lalu beranjak keluar kamar sedangkan Thania hanya menatap sinis Randy yang masih tersulut emosi.
"Than tolong lah jangan bersikap seperti itu, walau bagaimana pun A Randy suamiku tolong hargai jangan membuatnya marah," pinta Putri.
"Aku hanya mengingatkan saja Put, jangan sampai terulang lagi kamu kehilangan anakmu suami kamu saja yang mudah emosi jadinya baperan!" ujar Thania yang masih kesal dengan sikap Randy.
"Iya tapi tolong jaga sikapmu dengan A Randy jangan sampai karena perkataanmu tadi membut A Randy semakin merasa bersalah," kata Putri lalu mengambil ponselnhmya untuk menghubungi Randy namun tidak di angkat.
Tiba-tiba pesan baru masuk
💌 Aku ke kantor! Kalau temanmu sudah pergi aku akan kembali.
Putri menghela nafas panjang karena suaminya tidak ingin lagi berbicara dengan Thania padahal sebelumnya hubungan mereka baik-baik saja.
"Kenapa?" tanya Thania.
"Engga suamiku mengabari dia sedang perjalanan menuju kantor," kata Putri lesu.
"Ternyata suamimu masih saja bersikap seperti itu!"
"Than udah dong!" kata Putri menyimpan ponselnya.
__ADS_1
"Oke-oke! Oh ya ini aku bawa makanan kesukaanmu," kata Thania memberikan kantong yang berisi makanan.
"Wahhh makasih ya Than sudah lama aku tidak makan kue cubit setengah matang," kata Putri mengambil satu buah kue cubit dan segera melahapnya seketika pikirannya mengenai Randy pun hilang.
"Kamu mau Than?" sambung Putri dengan mulut penuh nya.
"Tidak, kamu saja yang makan!" jawab Thania sambil menggelengkan kepalanya.
"Wah rasanya masih sama seperti dulu ya meskipun kue nya sudah dingin tapi rasanya tetap sama (yum-yum-yum),"
"Iya dong itu kan resep turun-temurun meskipun penjual nya beda tapi rasanya masih tetap sama enaknya,"
Putri mengangguk-anggukan kepalanya.
"Oh ya bagaimana hubunganmu dengan Chiko?" tanya Putri.
"Baik-baik saja ko dia sekarang sibuk dengan pekerjaan nya, suamimu selalu memberikan pekerjaan yang banyak pada Chiko sehingga dia jarang menemuiku!" gerutu Thania memanyunkan bibirnya.
"Hey itu kan tanggung jawab Chiko sebagai asistan Randy jadi ya jangan protes!" bela Putri.
"Iya tapi karena itu aku harus mengurus pesta pernikahanku sendiri!" kata Thania yang segera menutup mulutnya.
"Apa? jadi kamu mau menikah dengan Chiko?" tanya Putri kaget.
"Hehe iya Put, maaf ya tidak memberitahumu soal ini,"
"Hmm jahat banget kamu tidak memberitahu hal sepenting ini padaku!"
"Baiklah! kapan pesta pernikahanmu?"
"Bulan depan Put,"
"Apa yang bisa ku bantu untuk pesta pernikahanmu?"
"Tidak usah Put persiapan nya sudah sembilan puluh persen ko tinggal menyesuaikan fitting baju satu kali lagi dan lainnya hanya tinggal kurang sedikit-sedikit saja," jelas Thania.
"Syukurlah! kalau begitu aku akan mencari gaun terbaik untuk pernikahanmu nanti,"
"Tidak usah Put, aku sudah memersiapkan gaun untukmu dan Randy nanti tinggal kalian coba saja ya, aku akan mengirimkan nya ke rumahmu!"
"Terimakasih banyak ya Than, seharusnya aku lho yang membantu pesta pernikahanmu,"
"Ini sebagai tanda terimakasihku pada kalian yang sudah mempertemukanku dengan Chiko pria yang super duper baik dan bertanggung jawab tanpa kalian aku tidak akan bertemu dengannya," kata Thania sambil senyum manis.
"Ini sudah takdir dari Allah Than aku doakan pernikahanmu berjalan dengan lancar hingga hari nya tiba ya," kata Putri memegang tangan Thania.
"Aamiin terimaksih ya Put, andai saja Lira masih ada pasti dia akan sangat bahagia karena kedua sahabatnya sudah menemukan jodohnya," kata Thania tertunduk sedih.
"Aku yakin dia sudah bahagia melihat kita dari alam sana," jawab Putri tersenyum.
__ADS_1
"Semoga saja seperti itu ya Put,"
Mereka pun melanjutkan perbincangan nya hingga tidak terasa sudah pukul sembilan malam dan Randy masih belum kunjung kembali dan tidak ada menghubungi Putri sama sekali, Thania pun pamit pulang dan berjanji besok pagi akan kembali lagi menemui nya karena tahu Randy dan Chiko akan pergi.
Putri segera mengambil ponsel nya mencoba menghubungi Randy.
"Ya sayang aku di lobi rumah sakit bersama Chiko!"
"Oh ya? Thania baru saja keluar mungkin dia sedang menuju kesana,"
"Baguslah kalau begitu, aku segera naik ke atas ya tunggu aku!" kata Randy menutup ponselnya.
"Bro gue duluan ke atas ya lo tunggu disini aja istri gue bilang Thania baru saja turun!" kata Randy.
"Yasudah kalau begitu, salam untuk Putri ya sorry gue gak pamit langsung," kata Chiko.
"Oke nanti gue sampaikan!"
Randy segera masuk ke dalam lift yang memebawa nya ke atas, dan lift satunga terbuka menampilkan Thania baru saja keluar. Chiko yang melihat calon istrinya itu segera melambaikan tangan nya sambil tersenyum manis membuat Thania sangat bahagia karena akhirnya bisa bertemu dengan Chiko setelah satu minggu ini Chiko tidak pernah menemuinya karena menggantikan Randy yang bertemu klien kesana kemari.
"Sayang aku sangat merindukanmu!" kata Thania memeluk erat Chiko.
"Aku juga sangat merindukanmu sayang, makin cantik saja calon istriku ini!" kata Chiko menangkup wajah Thania dengan gemas.
"Kamu bisa saja," jawab Thania tersipu malu.
"Oh ya Randy baru saja masuk ke dalam lift satunya saat kamu keluar,"
"Oh ya? Baguslah aku tidka bertemu dengannya," kata Thania mengerlingkan matanya.
"Lho kenapa sayang?"
"Dia sangat menyebalkan masa aku hanya mengingatkan dia saja untuk menjaga Putri dan calon anak nya malah marah dan langsung pergi meninggalkan aku dan Putri meski Putri menceghanya untuk pergi," jelas Thania.
"Dia memang sangat sensitif jika itu menyangkut masa lalu nya sayang karena dia merasa sangat bersalah karena sudah menjadi penyebab Putri keguguran maka dari itu setiap ada orang yng menyinggung masa lalu nya pasti dia akan sangat marah, jelas Chiko.
"Ya tapi setidak nya tidak perlu bersikp seperti itu juga kepadaku kan aku hanya mengingatkan dia saja sayang!"
"Sudah sayang, dia memang seperti itu karakternya harap di maklumi saja," kata Chiko menenangkan Thania.
"Mau makan? Laper gak?" sambung Chiko.
"Laper... sayang," jawab Thania manja.
"Yasudah ayo kita cari makan, sudah jangan terlalu di bawa hati dengan sikap Randy nanti juga dia baik sendiri" kata Chiko merangkul pundak Thania dengan erat.
Sedangkan di sisi lain Randy baru saja tiba di kamar Putri.
"Sayang kenapa tidak menghubungi ku dari tadi?" tanya Putri saat Randy menutup pintu kamar.
__ADS_1
"Maaf sayang tadi aku dan Chiko terburu-buru menyiapkan untuk persentasi di Turkey sayang agar cepat selesai, untungnya tadi aku ke kantor jadi bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat," kata Randy.
"Ini aku bawa makanan untukmu, kamu makan dulu ya aku mandi sebentar!" sambungnya sambil mencium pucuk kepala Putri dengan cepat dan berlalu ke kamar mandi.